April 24, 2017

Myanmar Water Festival (Thingyan)

Kalau di Bangkok ada Songkran Festival, maka di Myanmar ada Thingyan Festival. Kurang lebih kedua festival ini sama aja, yaitu basah-basahan se-negara. Ini adalah pengalaman saya pertama kali terlibat dalam sebuah festival di negara orang. Saya lumayan bersemangat pada awalnya karena sempat berencana untuk ikutan basah-basahan. Bahkan udah menyiapkan baju ganti segala. Sebelumnya, saya dan teman-teman sudah menyewa mobil selama 3 hari 2 malam termasuk supir dan bensin seharga $500 atau sekitar $100 peorang. Lumayan murah karena kalau sedang festival begini, terkadang banyak jasa sewa mobil menawarkan harga sangat mahal. Saya dan teman-teman sudah berusaha menghubungi beberapa rental mobil dan rata-rata menawarkan harga $100 perorang perhari. Kalau 3 hari disana, berarti $300? Wow! Buat yang mau menyewa mobil di Yangon, bisa ke web myanmartravel.org untuk booking.
Siram terusss!
Kami dijemput di bandara oleh jasa sewa mobil. Bahkan sampai pulang ke Indonesia pun, kami tidak tau nama supirnya, hahaha. Dari pintu kedatangan bandara sampai ke parkiran mobil, kami menggerek koper masing-masing. Tiba-tiba ada orang yang langsung mengangkat koper kita dan dibawa masuk ke mobil. Saya kira yang angkat koper adalah temannya si supir, ternyata malah jasa angkat koper dadakan yang biasa ada di bandara. Pas semua koper udah masuk, dia bilang, "Money, money!" Saya kira dia minta uang sewa mobil $500 itu dan kita semua langsung mempersiapkan uang. Supir bilang, "No, no." Maksudnya bukan uang itu, tapi uang jasa angkat. Berhubung supir nggak bisa bahasa Inggris, jadilah kita pakai bahasa isyarat. Mana kami nggak tau berapa tarif standar jasa angkat koper dan rada bingung dengan rate Myanmar Kyat berapa. Akhirnya kami memberikan 2000 Kyat atau sekitar Rp. 20,000 (keputusan dadakan), hahaha.

Kami cek in The Vibe Inn hotel terlebih dahulu. Terkadang memang kita harus membaca keterangan hotel dengan sangat teliti sewaktu booking via online karena kalau nggak pasti ada yang terlewat contohnya adalah hotel ini nggak punya lift (elevator) dan salah satu kamar berada di lantai 7 (karena cek in terlalu pagi, yang baru siap kamar di lantai 7, sedangkan kamar satu lagi di lantai 1). Mana anak tangganya gede-gede lagi. Gilak, jadi encok naik tangga ke lantai 7. Sampai ke kamar, kami semua langsung tepar. Ini belum kemana-mana aja udah tepar karena naik tangga hotel. Untung aja koper udah diangkatin. Selesai menghela napas sejenak, kami kembali turun tangga lagi ke lobi hotel dan memulai eksplorasi kota Yangon. Pertama kali memang kami pergi ke pagoda, tapi saya belum akan membahas tentang pagoda di postingan kali ini. Nanti akan saya satukan semua tentang pagoda dalam satu postingan. Kali ini saya akan membahas tentang festival basah-basahan se-antero Myanmar. 

Water Festival atau Thingyan adalah festival untuk umat Buddha yang dirayakan selama empat sampai lima hari, yang berpuncak pada Tahun Baru yang dihitung menurut kalender Burma. Tanggal festival ini diperingati sebagai hari libur di seluruh Myanmar, dan merupakan bagian dari liburan musim panas untuk anak sekolah (emang ada liburan musim hujan? haha). Bagian acara ini adalah pelemparan air atau penyiraman satu sama lain dengan menggunakan alat apa pun adalah ciri khas festival ini dan dapat dilakukan pada empat hari pertama festival. Oh ya, Thingyan sebanding dengan perayaan lainnya dibebera negara seperti Songkran di Laos, Songkran di Thailand, Tahun Baru Kamboja, dan Tahun Baru Sinhala.

Sebenarnya air yang digunakan pada festival Thingyan adalah percikan air wangi dalam mangkuk perak dengan menggunakan tangkai Thabyay (Jambul). Cara tradisional seperti ini masih lazim ditemukan di daerah pedesaan di Myanmar. Taburan air dimaksudkan untuk secara metaforis "membasuh" dosa seseorang dari tahun sebelumnya. Di kota-kota besar seperti Yangon, alat yang digunakan untuk memercikkan air lebih beragam (lebih tepatnya 'aneh') seperti selang taman, jarum suntik besar yang terbuat dari bambu, kuningan atau plastik, pistol air, gayung, cangkir, kaleng susu, dan perangkat lain yang bisa digunakan untuk menyiram dan mengguyur orang-orang. Air yang digunakan juga macam-macam. Ada air dari sumur, keran, bahkan air sungai pun ikut berpartisipasi.

Dari hasil pengamatan saya, dalam festival ini ada tim yang menyiram dan tim yang disiram. Kalau penyiram biasanya udah siap di pos dengan tong air super besar, pistol air, selang air dan apa pun yang bisa digunakan untuk menyiram air. Mereka juga memutar musik ajep-ajep dengan volume super keras, bahkan sambil minum bir. Nah, kalau tim yang disiram biasanya akan naik mobil bak terbuka dan rela disiram dari segala penjuru. Kadang mereka bawa speaker besar juga untuk memutar musik ajep ajep dan minum alkohol. Yang mengherankan, seolah-olah di festival ini alkohol jadi legal di konsumsi anak-anak muda. Bahkan yang nyetir mobil aja minum alkohol juga. Walaupun mobil jalannya lambat banget, tapi kan tetap aja seram kalau yang nyetir sambil mabuk. Para orang tua santai aja melihat anak-anaknya minum alkohol dan joget-joget dengan musik ajep-ajep dipinggir jalan. Oh ya, musik boleh ajep-ajep, tapi bahasa Inggris nggak bisa sama sekali. Hadew! Yang anehnya lagi, lagi seru-seruan joget dengan musik ajep-ajep, tiba-tiba ada halilintar dan semuanya berteriak kaget sambil meringkuk atau menutup telinga. Ya elah udah gaya-gayaan, ada petir ngumpet juga, hahahahaha.
Tim yang disiram
Dalam festival ini, para penyiram dilarang untuk menyiram wanita hamil dan para biksu. Ada juga saya lihat anak muda mau mengguyur kakek-kakek tapi dengan cara lemah-lembuh. Mungkin takut kalau disiram kakeknya bisa kaget kali ya, hihihi. Saya dan teman-teman jadi mengurungkan niat mau ikutan festival karena kayaknya agak brutal. Kami yang duduk di dalam mobil aja disiram-siram (padahal nggak akan kena siram karena kaca ditutup), kaca mobil di tepuk-tepuk, bahkan dijilat (ini nggak penting banget kan?). Saya sampai menutup tirai jendela mobil karena males melihat aksi mereka yang menurut saya aneh-aneh banget.
Siram terussss
Trus bagaimana dengan saya dan teman-teman? Kena siram? Sudah pasti!! Hampir semua tempat wisata pasti ada pos penyiram air. Saya minta guide untuk menemani kami agar tidak diguyur. Yang kasihan sih, guidenya diguyur duluan, baru kita, hahaha. Biarin deh, kan dia orang sini, hihihi. Hari pertama saya disiram tapi dengan lemah lembut. Alhasil, baju saya basah, tapi untung ransel nggak. Agak takut kalau kamera yang kebasahan. Kalau handphone kan masi anti air. Hari kedua malah kami semua sampai pakai jas hujan. Memang sih hari itu sedang turun hujan literally, tapi kami pakai jas hujan untuk melindungi diri dari guyuran air. Sewaktu ke Golden Rock Pagoda, kami adalah sasaran empuk penyiraman karena kami terlihat sangat turis. Untung pakai jas hujan. Bahkan sewaktu ada yang menembak kita dengan pistol air, saya khusus men-defend diri saya dengan jas hujan, hahaha. 

Sebenarnya acara ini lumayan seru kalau kita mau ikutan. Tapi lama-lama jadi agak males juga. Males basah-basahan, males jadi sasaran, males juga dengar musik ajep-ajep dan melihat mereka joget seperti orang kesurupan sambil minum bir. Sepatu saya basah, sendal apalagi. Water Festival juga membuat 90% pertokoan di Myanmar tutup. Cafe tutup, toko oleh-oleh tutup, bahkan yang paling mencengangkan Mall juga tutup. Saya kira tutupnya sehari doang seperti di Indonesia Mall hanya tutup di lebaran pertama (itu pun cuma setengah hari). Ternyata Mall disini tutup selama 4 hari. Gile, kayaknya saya nggak akan jadi tenant di Mall Myanmar, kecuali rela rugi karena Mall tutup. Berhubung saya selalu membawakan oleh-oleh, jadi terbatas banget barang yang bisa dibawa. Palingan dijatah satu orang satu barang doang, hahaha. Mungkin semesta mendukung saya yang lagi kere, jadi dikasih tiket murah ke Yangon, terus pas Water Festival yang membuat saya mau nggak mau nggak bisa belanja dan nggak akan tergiur untuk belanja karena semua toko tutup, hihihi.

Baiklah, sekian cerita tentang Water Festival. Selanjutnya adalah tentang pagoda. Sampai jumpa!

2 comments:

MiawGuk mengatakan...

seruuu ya.. coba Muut di bandingin sama songkran di Thai seru yang mana?

Meutia Halida Khairani mengatakan...

@miawguk : gw ga pernah Songkran di Thailand. Seru gitu? Kok menurut gw agak serem jg ni acara. Kita di banjur hahahaha

Categories

adventure (289) Living (245) Restaurant (148) Cafe (140) Hang Out (133) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (84) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (53) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) Bali (8) CEO (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Aceh Barat (3) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) Aceh Jaya (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Banda Aceh (1) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nagan Raya (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)