April 01, 2017

From Online to Offline

Udah jarang posting blog deh. Bukan karena saya nggak mau, tapi beberapa postingan di tahan dulu. Ada juga beberapa cerita yang nggak boleh di posting. Huff, padahal pengen secepatnya di posting. Oh ya, beberapa bulan ini saya riset banyak tentang media sosial seperti Instagram, Path, dan Facebook. Sebenarnya saya mau memposting hasil riset saya, tapi nanti dulu deh. Postingan seperti itu akan memakan waktu seharian karena harus melampirkan banyak screenshot, penjelasan gambar, dan sebagainya. Berhubung pekerjaan saya sangat menumpuk, jadi saya nggak sempat menuliskannya. Insya Allah lain waktu. Yang pasti, saya menemukan Instagram sangat tidak secure, makanya saya sudah hampir tidak pernah posting Instagram Story atau foto di Instagram. Lebih tepatnya, hampir semua media sosial saya kurangi dan Instagram yang sangat jauuuh saya kurangi. Lagian, buat apa terlalu sibuk di dunia maya karena dunia nyata itu jauh lebih ribet.

Sesuai dari judul postingan saya, saya akan bercerita tentang berjualan secara offline. Mungkin kalian tau kalau perusahaan saya menghimpun dana dari banyak Marketplace dan memiliki beberapa e-commerce. Nah, suatu hari teman saya Mbak Ujha mengajak saya ikutan bazar kecil-kecilan di komplek rumahnya. Konteks kecil-kecilan awalnya saya agak gagal paham, sehingga saya hampir memindahkan seluruh inventory salah satu e-commerce ke lapak bazar. Untung masih diingatkan kalau ini "kecil-kecilan" dan nggak usah terlalu banyak bawa barang. Namanya juga bazar komplek, hahaha. Saya awalnya ragu mau ikut (turun langsung), tapi di satu sisi saya ingin men-challenge diri saya sendiri untuk beneran jualan. Jadilah saya meng-iyakan untuk ikutan berdagang bareng Mbak Ujha.
Dibeli, dibeli!
Berhubung saya suka lupa tanggal dan hari, Mbak Ujha bilang kalau bazarnya hari minggu. Ya udah, saya set up meeting di hari Rabu, Kamis, dan Jumat, mengingat masih ada hari Sabtu untuk beberes bazar dan memberikan label harga. Ternyata, bazarnya Sabtu dan hari Jumat saya meeting sampai malam. OMG! Sempat ragu mau ikutan bazar, tapi udah janji sama Mbak Ujha. Sempat mau batalin meeting tapi meetingnya super penting. Alhasil, jalanin aja deh semua. Sepulang meeting, saya mandi, makan, dan mengecek inventory di e-commerce sampai jam 1 malam. Besoknya bangun pagi jam 5, mandi, sarapan, dan langsung pergi ke komplek Mbak Ujha. Semalam memang beberapa barang dagangan saya udah dikirim ke rumah Mbak Ujha, jadi saya tinggal bawa sedikit lagi.

Hari bazar pun tiba. Saya datang ke rumah Mbak Ujha, membantunya beberes dagangan, menggelar taplak meja, dan menyusun barang dagangan di lapak kami. Jujur saja saya mulai awkward berada di balik meja dagangan. Saya nggak bisa se-santai orang di Pasar Tanah Abang sambil teriak, "Masok kak, masok kak!" Ternyata dalam berdagang offline, mengajak pembeli datang ke lapak itu penting banget. Saya cuma bisa diam aja sambil duduk menunggu pembeli. Kalau ada yang datang ke lapak, itu berarti mereka tertarik dengan barang saya, bukan karena ajakan saya, hahaha. Saya melihat Mbak Ujha jago banget menarik pembeli, mungkin karena dia kenal juga dengan orang-orang yang datang ke bazar. Kadang saya merasa senang karena ada yang tertarik beli dagangan saya. Tapi kemudian kecewa lagi karena mereka nggak jadi beli. Huff PeHaPe!
Salah satu barang dagangan
Yang bikin heboh lagi, karena barang dagangan saya kebanyakan agak mahal, ibu-ibu komplek jarang punya duit cash segitu dan mana ada mesin EDC disini. Biasanya kalau beli online kan tinggal transfer. Nggak semua pembeli bazar mau transfer duit langsung pakai mobile banking karena kadang hp aja nggak dibawa. Mau nyatet no. rekening saya juga nggak bawa pulpen. Saya sampai gemas mau menyuruh mereka transfer via Paypal karena kan gampang diinget kalau cuma alamat email doang. Eh, mereka malah keheranan lagi, "Apa? Paypal? Helloww!" Mbak Ujha sampai ketawa ngakak dengerin saya cerita tentang Paypal. 

Kalau udah mulai mati gaya dalam berjualan, saya keliling ke meja lapak yang lain untuk beli cemilan. Duh, banyak banget makanan enak. Saya malah jadi jajan juga di bazar. Kadang dapat harga lebih murah dari published rate (harga di lapak jualan) karena sesama pedagang, hihihihi.

Karena bazarnya di lapangan, saya juga harus rela berpanas-panasan. Memang ada tenda sih, tapi arah matahari hampir semuanya ke lapak saya. Biasanya kan enak di rumah cuma di depan laptop ngurusin orderan barang. Kalau ada yang beli, tinggal bungkus, dan kirim. Ah, perjuangan banget berjualan secara offline. Mana saya nggak begitu pintar menarik pembeli dengan menceritakan produk saya, walaupun saya tau banget tentang produk yang saya jual. Saya hanya menjawab sedikit-sedikit dan ternyata kalau menarik pembeli nggak boleh begitu. Duh, lelah hayati! Acara bazar cuma 3 jam, tapi capeknya luar biasa sih. Jadi tau kalau orang berjualan di Car Free Day (CFD) ternyata capek juga ya.

Selesai bazar, saya kecapekan dan selonjoran di rumah Mbak Ujha sambil makan Tek Wan, salah satu dagangannya. Ternyata kalau bazar pagi-pagi memang lebih bagus jualan makanan karena orang pada nyari sarapan. Dan ternyata lebih mudah berjualan di dunia maya daripada di dunia nyata. Untuk beriklan tinggal pakai media sosial yang punya fitur advertisement, untuk pembayaran bisa pakai payment gateway, dan nggak usah liat langsung wajah pembeli kalau memang nggak mau beli. Kalau secara online kan orang mampir langsung ke toko kita memang karena mau beli. Kalau pun nggak jadi beli, kita nggak usah lihat wajah mereka.
Tekwan ala Mbak Ujha
Meskipun barang dagangan nggak begitu laku dan tenaga habis terkuras, tapi ternyata seru juga. Justru ini pelajaran baru buat saya untuk tau bagaimana jual beli sebenarnya di dunia nyata. Buat kalian yang terbiasa menjual online, sebaiknya mencoba berjualan offline seperti saya karena tantangannya lebih berat. Nanti Ramadhan ada bazar lagi dan saya terpikir untuk ikutan lagi. Ok, sekian cerita dari saya. Sampai jumpa!

2 comments:

Vivi Mulya Ningsih mengatakan...

wah pengalamannya seru ya mba.. walaupun cuma 3 jam tapi berkesan banget kayaknya XD
btw aku penasaran sama instragram yg mba bilang, ga secure kenapa yaa?
Aku masih sering mainin IG nih soalnya :S

Meutia Halida Khairani mengatakan...

@Vivi : nanti dikasi tau yaa

Categories

adventure (289) Living (244) Restaurant (148) Cafe (140) Hang Out (133) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (84) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (53) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) Bali (8) CEO (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Aceh Barat (3) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) Aceh Jaya (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Banda Aceh (1) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nagan Raya (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)