April 28, 2017

Burmese Pagoda

Salah satu daya tarik Myanmar adalah Pagoda dengan sejarah yang berasosiasi dengan Buddha dan bentuknya yang khas (agak ceper dibawah dan menguncup keatas). Bahkan, negara yang satu ini disebut sebagai Land of Pagoda, saking banyaknya pagoda yang dibangun. Memang masyarakat Burma (Myanmar) 90% menganut agama Buddha sehingga pagoda dibangun dimana-mana untuk beribadah. Bahkan kalian akan sering melihat para biksu berlalu-lalang di setiap sudut kota. 

Saya akan membahas beberapa pagoda yang saya kunjungi di kota Yangon. Mari disimak:

1. Shwedagon Pagoda
Kalian dianggap tidak ke Myanmar apabila belum mengunjungi pagoda yang paling suci di negara ini bernama Shwedagon. Pagoda yang berusia 2500 tahun ini menyimpan banyak peninggalan sejarah dan beberapa helai rambut Buddha. Pagoda Shwedagon ditutupi dengan ratusan pelat emas dan bagian atas stupa bertatahkan dengan 4531 berlian dan yang terbesar adalah berlian 72 karat. Pertama kali kesini, saya dan teman-teman diwajibkan untuk melepas alas kaki, lalu naik ke pelataran pagoda melalui puluhan anak tangga. Kami juga harus membayar tiket masuk sebesar 8000 Kyat (sekitar Rp. 80rban).
Pelataran pagoda
Tiket masuk
Jujur saja saya sangat kagum melihat pagoda sangat besar, berwarna keemasan, dan sangat tinggi. Walaupun Indonesia memiliki Borobudur yang luar biasa megah, tapi tidak bisa dibandingkan dengan stupa yang ada di Shwedagon dan semua pagoda di Myanmar. Kekaguman bertambah lagi karena warnanya keemasan dan berkilauan. Sungguh sebuah karya yang sangat indah. Oh ya, kalian harus berpakaian sopan kalau masuk ke tempat ini. Nggak boleh pakai celana pendek. Teman saya terpaksa beli sarung karena mereka pakai celana pendek. Kalau menurut saya, corak sarungnya biasa banget. Berbeda dengan sarung-sarung super indah dari Indonesia. Jadi pengen bawa oleh-oleh sarung ke orang Burma suatu hari nanti saya ke Mandalay supaya mereka kagum dengan corak dan tenun sarung dari negara kita, hihihi. Atau sekalian aja kita berdagang sarung disini? Pasti laku, hahahaha.
Stupa keemasan

Lihat kaki kita kepanasan
Saya dan teman-teman lalu mencari tempat untuk mengambil foto. Karena cuaca sangat panas, kaki kami terbakar karena pelataran pagoda memiliki lantai yang menyerap panas. Duh, saking panasnya sampai terasa mendidih. Kalau saja lantai agak teduh, maka rasa panasnya agak berkurang. Sayangnya daerah teduh itu jarang banget dan untuk mencapai kesana kaki kami keburu mendidih duluan. Duh, sakit banget deh rasanya seperti berjalan di bara api (emang udah pernah?). Sampai saya jalan dari belakang gedung untuk mencari tempat teduh supaya nggak kepanasan. Jadi teringat Masjid Nabawi dan Masjidil Haram yang walaupun iklim gurun sangat panas, lantai tetap dingin dan sejuk. 
Patung Buddha tidur
Melukis Buddha
Terlepas dari rasa panas pelatarannya, Pagoda Shwedagon adalah gudang warisan terbaik di Myanmar yang mencakup arsitektur, patung dan seni rupa. Pagoda Shwedagon terdiri ratusan kuil, stupa, dan patung berwarna-warni yang mencerminkan era arsitektur yang terbentang hampir 2.500 tahun. Saya juga sempat melihat para pematung sedang melukis wajah Buddha dengan sangat indah. Sungguh karya seni yang luar biasa...

2. Chaukhtatgyi Pagoda
Pintu masuk Pagoda yang satu ini dijaga oleh sangat banyak anjing dan membuat saya teriak ketakutan terus. Karena takut najis, saya membuka alas kaki tepat di depan pintu masuk pagoda dan langsung terkagum-kagum dengan keindahan dan kemegahan patung Buddha tidur super besar berwarna keemasan. Saya terbelalak melihatnya saking besarnya. Pokoknya super besar deh, udah bingung mau mendeskripsikan bagaimana lagi. Panjang Buddha ini adalah 66 meter dan merupakan salah satu yang terpanjang di Myanmar.
Reclining Buddha
Telapak kaki Buddha
Deretan Buddha kecil
Saya sempat berjalan mengelilingi Reclining Buddha dan menemukan banyak patung Buddha dari emas yang berukuran kecil. Ada juga cerita dan sejarah tentang Buddha yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa inggris sehingga kita mudah memahaminya. Saya dan teman-teman tidak terlalu lama berada disini karena kami harus mengunjungi pagoda lainnya. Tempatnya juga kecil, tidak seluas Shwedagon.

3. Ngahtatgyi Pagoda
Tidak jauh dari Chaukhtatgyi Pagoda, kami mampir di Ngahtatgyi Pagoda. Jujur aja saya sangat sulit melafalkan nama pagodanya yang bikin lidah terkilir. Cuma lancar membaca Shwedagon (Swedagon) daripada nama Pagoda yang lain. Baiklah, Myanmar memang memiliki patung Buddha yang luarrr biasa besar dan luarrr biasa megah. Patung Buddha di pagoda yang satu ini duduk dengan anggun setinggi hampir 14 meter. Saya kembali terbelalak melihat betapa besarnya patung ini dibuat.
Patung super besar
Di pagoda ini saya hanya duduk, mengambil foto, dan merekam gambar saja sambil melihat orang-orang bersembahyang. Kami berada disini nggak lebih dari setengah jam, lalu langsung melanjutkan perjalanan ke pagoda selanjutnya. Oh ya, saya melihat banyak biksu bertato disini. Saya tanya pada Kakros yang juga beragama Buddha dan ternyata memang tidak dilarang untuk bertato. Kalau dalam Islam pasti aneh sekali melihat para santri atau ustadz memiliki tato, hihihi.

4. Maha Wizaya Pagoda
Pagoda yang satu ini adalah yang paling sepi dari semua yang telah kami kunjungi. Mungkin karena udah sore juga dan bangunannya kalah tinggi dengan Shwedagon, makanya agak sepi. Maha Wizaya Pagoda dibangun pada tahun 1980, terletak tepat di sebelah selatan Pagoda Shwedagon di Bukit Dhammarakhita. Benda-benda peninggalan yang ada di pagoda ini merupakan sumbangan oleh Raja Nepal, sementara hti (pilar payung) pagoda itu diberikan oleh Ne Win, mantan pemimpin negara tersebut. Saya hanya melihat Bikuni (biksu perempuan) di pagoda ini. Mungkin memang untuk perempuan.
Pagoda
Antimainstream pose
Tidak ada yang istimewa dengan pagoda ini, makanya saya mengajak teman-teman untuk berpose yoga disini, hihihi. Sebenarnya saya terinspirasi dari Kakros yang pernah memposting foto di Instagramnya dengan pose yoga yang menurut saya keren dan antimainstream. Ya sudah, sekalian saya mau cobain juga walaupun agak patah-patah juga deh kaki kita. Yang lucu adalah Willy karena dia salah mempraktekkan gerakan yoga dan pakai sarung lagi, hahaha. Lucu banget deh!

5. Karaweik Palace 
Sebenarnya saya dan teman-teman ingin menikmati matahari terbenam dan makan malam di Karaweik Palace ini. Sayangnya hari tiba-tiba berubah mendung, padahal siang panas banget sampai telapak kaki kita terbakar. Water Festival membuat tempat ini tutup sehingga kita cuma bisa mengambil foto dari jauh aja. Kalau kalian melihat langsung, bangunan Karaweik Palace tidak seindah difoto. Catnya sudah kusam dan terlihat tidak terurus. Memang tempat ini adalah spot terbaik untuk mengambil foto matahari tenggelam karena berada di tengah danau. Tapi kalau kalian lihat lebih dekat, kapal berkepala burung ini nggak semegah pagoda-pagoda yang saya kunjungi.
Karaweik
Disini kita harus memarkir mobil agak jauh dari tempat wisata. Untuk pertama kalinya kami merasa takut keluar dari mobil karena hampir semua orang mencari mangsa untuk diguyur air. Saya udah jalan pelan-pelan, bersembunyi-sembunyi, akhirnya kena guyur juga. Duh, untung yang diguyur bukan ransel. Yang mengherankan, ada acara clubbing yang diselenggarakan oleh Coca-Cola. Yang anehnya lagi, kenapa clubbing sore-sore ya? Seharusnya kan malam. Mungkin karena sekalian dengan Water Festival, jadi nggak diselenggarakan malam.

Selesai berfoto di Karaweik, kami menyudahi acara hari ini dengan mencicipi kuliner di Yangon. Nanti saya akan memposting semua kuliner selama di Myanmar dalam satu postingan saja biar lebih rapi. Kita pulang cepat ke hotel malam itu dan lanjut bekerja. Berhubung yang ikutan trip beberapa adalah kru Rancupid Travel, jadi harus sekalian kerja deh. Oh ya, malam itu kaki saya mulai terasa sakit dan ternyata ada 2 duri yang menancap di dalam daging (duri dalam daging). Mungkin karena nggak pakai sendal setiap berjalan ke pagoda, makanya duri jadi masuk. Kakros dan Nida berhasil mengeluarkan salah satu duri. Yang satu lagi nggak ketemu dan saya kira udah keluar sendiri. Eh nggak taunya malah jadi penyakit sampai tiba di Indonesia, hiks....

Ok, walaupun banyak pagoda di Yangon, saya hanya mengunjungi 5 diantaranya. Nanti saya cerita lagi tentang Pagoda di sisi tebing. Selamat libur panjang :)

1 comments:

Mila Said mengatakan...

mirip di thailand ya

Categories

adventure (275) Living (242) Restaurant (146) Cafe (139) Hang Out (132) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (83) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (49) Event (48) Hotel (36) Islam (36) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) CEO (7) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Myanmar (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) Yangon (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)