Februari 26, 2017

Rancupid Travel

Salah satu kesenangan dalam berbisnis adalah ketika kalian bisa membuat hobi menjadi uang. Salah satu hobi saya adalah jalan-jalan. Sejak kuliah, saya memang sudah suka berpetualang kemana pun. Memang sih karena saya cewek, masih ada perasaan agak takut kalau mau jalan-jalan sendirian. Jadi saya selalu mengajak teman minimal satu orang untuk pergi bareng. Lagian, jalan-jalan rame-rame kan lebih seru daripada cuma sendirian. Paling enak juga kalau teman-teman dari Teknik Geologi atau Teknik Geodesi ITB yang ngajak jalan. Karena mereka udah tau medan(daerah)-nya, sehingga saya bisa merasa lebih aman jalan bareng mereka. 
Kalian tau, 90% Jawa Barat sudah saya datangi selama kuliah. Yang belum malah Pantai Pangandaran yang paling populer, ehhh saya nggak kesana. Udah berapa kali rencana mau kesana, tapi mau 'gimana lagi kalau weekend kesana macetnya parah banget. Kawasan Jawa Tengah juga udah 95% saya datangi. Sisanya tinggal Jawa Timur nih. Berhubung punya beberapa usaha di Jawa Timur, saya bakalan sering banget kesana. Tahun lalu aja jumlah kunjungan saya ke Jawa Timur sudah sama dengan jumlah saya ke Bandung. Tahun ini juga tampaknya bakalan sering ke Jawa Timur lagi, khususnya Malang, karena kota yang satu ini paling disorot sama pebisnis di Jakarta. Bahkan teman saya pebinis di Bandung mulai menyoroti Malang juga. Nggak apa-apa deh, kita serbu Malang rame-rame. Yuk deh kita bikin macet kota Malang bareng-bareng, jangan Bandung dan Surabaya aja, hahaha.

Ide membuat Rancupid Travel ketika saya pengen banget bikin Travelling Marketplace yang sama sekali belum ada di Indonesia. Berhubung membeli Marketplace sudah seharga rumah, jadi saya beli e-Commerce saja yang masih lebih murah tapi fiturnya agak terbatas. Saya pengen banget semua orang yang mau booking Open Trip murah versi backpacker bisa langsung melalui website. Karena sampai sekarang kalau mau booking trip, pasti kita harus transfer ke rekening pribadi agen-nya, lalu konfirmasi melalui Whatsapp yang sebenarnya kurang praktis. Belum lagi terkadang nggak ada jaminan uang kembali kalau trip dibatalkan. Hal yang membuat males juga adalah Trip yang ditawarkan murah bangettt, tapi kita tidur aja di lantai atau sekamar berlima sampai berenam, padahal satu kamar seharusnya hanya cukup untuk 2 orang (pengalaman pribadi). Pernah juga kamarnya udah bagus, tapi kamar mandinya beratapkan langit, padahal sedang hujan. Ya udah deh, sekalian aja mandi air hujan, hahaha.
Rancupid Travel berusaha menghindari hal-hal seperti itu. Makanya kita bekerja sama dengan agen terbaik, dengan harga paling pas (tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal), transaksi ke rekening perusahaan PT Rancupid Citra Indonesia, pembayaran dapat dikonfirmasi otomatis melalui website, lalu peserta akan mendapatkan email konfirmasi, dan sebulan sekali Insya Allah saya akan ikut dalam trip. Kalian bisa melihat paket trip "Travelling with the Crew" dimana tim Rancupid akan ikut bersama berekplorasi daerah baru. Nanti nama kru yang ikut akan dicantumkan bersamaan dengan jadwal perjalanan. Insya Allah Maret saya ikut ke Pahawang, dan April ke Myanmar. Semoga tidak ada aral melintang, hahaha. Yang pasti, saya bakalan ikut hanya di paket trip yang destinasinya belum pernah saya datangi sebelumnya.

Sebenarnya Rancupid Mall lebih dulu dibuat daripada Rancupid Travel. Tapi kendala pajak GST yang terus-menerus menjadi bug di website membuat kita harus terus menunda peluncuran websitenya ke publik. Memang Rancupid Mall sudah bisa diakses tapi belum ready untuk melakukan transaksi. Kami sedang berusaha keras untuk menyelesaikan permasalahan teknis untuk website Rancupid Mall, sehingga nanti dalam peluncurannya bisa mendekati sempurna dan tidak ada masalah lagi.
Baiklah, semoga Rancupid Travel bisa memudahkan kalian menemukan paket perjalanan yang bagus, murah, dan nyaman. Let's Explore Indonesia dan The World With Us!

Februari 21, 2017

Menjadi Pengusaha

Postingan kali ini adalah yang paling banyak di request oleh teman-teman saya. Saya juga sempat bingung kalau ditanya alasan tidak pernah menuliskan pengalaman saya selama menjadi pengusaha di blog. Kalau mau kasih alasan 'nggak sempat', eh nulis tentang jalan-jalan sempat-sempat aja, hahaha. Biasanya saya lebih suka ketemu langsung dengan orang-orang yang ingin berbagi ilmu dengan saya, sehingga saya bisa menyerap ilmu juga dari mereka. Tapi semakin terbatasnya waktu dan tempat, sedangkan permintaan bertemu dan mengobrol tentang bisnis semakin banyak, saya memutuskan untuk ditulis saja di dalam blog. Saya akan bercerita dengan gaya yang santai karena saya bukan sedang menuliskan artikel di majalah Business Insider. Mari disimak!

Memulai Karir
Saya sudah kerja kantoran sejak 4 Januari 2010. Kebetulan dulu lulus kuliah agak cepetan sedikit, lalu pulang ke Aceh beberapa bulan sebelum fokus mencari kerja. Dulu saya sangat antusias melihat Papa membuka toko alat tulis dan kantor. Rasanya saya mau jadi penjaga toko aja dan nggak mau cari kerja lagi. Waktu itu saya yakin kalau toko itu saya yang kelola, pasti bakalan laku. Tapi jaman itu pekerjaan menjaga toko nggak keren sama sekali di mata masyarakat. Akhirnya saya kembali ke Bandung (tempat saya kuliah), lalu mencari kerja ke Jakarta. Kalau ada panggilan interview ya naik kereta api dari stasiun Bandung menuju Gambir biar murah.

Jadi karyawan kantoran nggak enak sebenarnya, tapi tetap dijalani dengan ikhlas. Gaji pas-pasan banget, bayar kosan mahal, makan siang beli sendiri, sampai saya bingung kenapa orang-orang suka ngantor? Belum lagi sering banget lembur sampai jam 12 malam. Saya juga masih bingung kenapa dulu itu pemikiran orang-orang kayaknya kalau lembur itu keren banget, yang berarti saya sedang sibuk bekerja. Teman-teman kosan yang berprofesi sebagai auditor malah lebih parah lagi lemburnya. Mereka bisa 2 hari nggak pulang. Auditor masih mending karena mereka mendapatkan uang lembur, saya malah nggak. Untuk menambah uang jajan, saya berjualan buku yang saya tulis sendiri secara online ke teman-teman. Alhamdulillah bukunya laku. Bahkan bisa masuk Gramedia dan ada beberapa orang yang mereviewnya di Goodreads. Walaupun nggak sampai best seller, tapi cukup bisa menambah uang jajan saya dan mengirimkan uang ke adik-adik. Oh ya, untuk pertama kalinya di novel saya mencantumkan logo Rancupid, tapi belum se-keren sekarang ini logonya.

Menjadi penduduk Jakarta juga banyak godaannya. Belanja, nonton bioskop, makan di resto, semuanya saya suka tapi saya nggak bisa sering-sering melakukannya. Ya mungkin karena keterbatasan uang saku. Cuma bisa banyak berdoa supaya Allah ngasih rejeki tiba-tiba. Alhamdulillah doa saya sering dikabulkan Allah. Gara-gara ngeblog, saya sering diundang makan ke Resto mahal seperti Nanny's Pavillon untuk mereview makanan mereka, diundang Blackberry untuk gala dinner di hotel-hotel mahal (padahal dulu saya nggak pakai BB), dan dapat tiket VVIP menonton konser. Makanya saya sayang banget dengan blog ini. Belum lagi iklan di blog yang semakin hari semakin banyak, tapi juga membuat blog saya berantakan dan mengharuskan saya untuk menghentikan semua iklan sampai sekarang.

Nyaris 3 tahun bekerja di perusahaan pertama, saya pindah ke perusahaan kedua. Kalau kalian berpikir tentang pencapaian karir, seperti mungkin dalam 5 tahun bisa jadi manager atau senior manager. Pencapaian karir dalam sudut pandang saya adalah berhasil kerja di perusahaan IT yang termasuk dalam Big Four (4 perusahaan terbaik) di bidang IT. Sebenarnya saya nggak pintar-pintar amat, tapi mungkin saya banyak berdoa apalagi bulan Ramadhan, sehingga sering dapat rejeki yang tak disangka-sangka dari Allah termasuk diterima kerja di Big Four. Gaji naik 2 kali lipat dan membuat kondisi keuangan saya jauh membaik. Saya juga mulai berjualan kosmetik Korea karena tahun 2012 semua orang suka banget sama Korea, artis Korea, Makeup Korea, Drama Korea, alat masak pun Korea. 

Dagangan saya juga laris manis dan saya membuat Fan Pages di Facebook dengan nama Rancupid yang menerima PO Makeup Korea. Kalau ada yang PO, baru saya beli ke suplier di Korea sehingga saya nggak nyetok barang. Tipe saya berjualan ini adalah dropshipping (menjual barang orang lain). Karena berurusan dengan impor barang, saya mencoba berbagai cara mulai dari kirim barang secara manual pakai Korea Post yang membuat ongkos kirim dan biaya bea cukai dari Korea ke Indonesia mahal banget. Saya browsing internet siang dan malam sampai mendapat informasi bisa nebeng ke perusahaan kargo yang mengirimkan barang ke Batam (Batam adalah kota bebas bea dan cukai), lalu dari Batam ke Jakarta pakai JNE biasa. Alhasil, saya bisa tetap berjualan makeup dengan harga murah.

Banyak yang bertanya, kenapa namanya Rancupid? Sebenarnya Cupid itu nama Genk sewaktu SMP dan nama saya di Cupid itu Ran, singkatan dari KhaiRANi. Dulu saya juga suka dengan tokoh Ran, pacarnya Shinici Kudo di Detective Conan, hihihi. Agak aneh sih nama Rancupid, tapi sekarang saya sudah biasa mendengarnya.

Hidup saya seakan adem-adem saja sampai Papa mulai sakit. Rasanya uang untuk obat dan Rumah Sakit terus keluar tiada henti. Disitu saya mulai merasa butuh sangat banyak uang. Belum lagi saya terlalu sering minta ijin sama bos untuk nggak masuk kantor atau pulang cepat demi menjaga Papa sampai saya merasa nggak enak. Untung bos saya baik bangetttt (I love you bos). Alhamdulillah Allah tetap mencukupkan rejeki, tapi ada pertanyaan dalam hati, seandainya punya uang lebih banyak lagi, mungkin bisa begini, mungkin bisa begitu. Sampai Papa meninggal dan saya merasa kurang maksimal membantu Papa. Ada rasa penyesalan di hati sampai sekarang. Seandainya dulu punya banyak uang, mungkin bisa mengajak Papa kesini, kesana, ke mana pun, karena Papa suka jalan-jalan.

Setelah Papa meninggal dan saya masih down berbulan-bulan, sebuah e-Commerce mengajak saya bekerja sama untuk berjualan makeup Korea di situs mereka. Saya merasa hal ini adalah pencapaian pertama dalam dunia Digital Marketing. Saya terima ajakan tersebut, saya datang ke kantor mereka, dan melihat betapa kerennya interior ruang meeting milik perusahaan e-Commerce ini. Semua kursi, meja, dan dinding berwarna-warni. Terbersit dalam hati kalau saya ingin punya perusahaan seperti ini suatu hari. Karena bekerja sama dengan e-Commerce, penjualan saya terus meningkat tajam. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyicil membeli rumah.

Kalian tau? Membeli rumah membuat tabungan saya jadi 0, belum lagi utang kepada Mama menumpuk bagai gunung dan untungnya tanpa bunga. Hal ini nggak bisa dibiarkan. Akhirnya adik saya mengajak berbisnis berjualan di Marketplace internasional karena bayarannya pakai dollar. Berhubung saya butuh duit, ya sudah saya ikutan aja. 3 bulan pertama saya sama sekali nggak menghasilkan penjualan yang berarti. Sampai akhirnya dengan kesabaran dan konsistensi yang saya lakukan, mendaftarkan barang siang malam, tidur jam 12 malam, bangun Shubuh dan nggak tidur lagi, mulailah saya memiliki customer. Hari demi hari customer semakin banyak dan saya alhamdulillah mulai bisa menarik napas lega dengan kondisi keuangan yang semakin membaik.

Mulai merasa diatas awan, saya diundang ke sebuah gala dinner yang pesertanya adalah para CEO Digital Entrepeneur. Semula saya nggak enak mau datang karena nggak ada orang yang saya kenal. Tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk datang. Disana mata saya terbuka, kalau banyak sekali diluar sana orang-orang yang super kaya. Penghasilan mereka perbulan puluhan ribu dollar bahkan ratusan ribu dollar dan mereka mau berbagi ilmu. Berbeda dengan saya yang baru dapat beberapa ratus dollar saja udah merasa diatas awan. Sejak itu saya merasa diperingatkan oleh Allah kalau diatas langit masih ada langit dan nggak boleh sombong.

Setelah gala dinner, saya pulang dengan kepala kepenuhan ide. Saat itu ada Mama dirumah dan saya bercerita banyak hal tentang impian yang saya ingin wujudkan. Selalu minta doa dari Mama agar penjualan saya naik terus sampai akhirnya pernah mencetak rekor. Gaji saya di kantor masih jalan, ditambah lagi uang dari Marketplace lokal dan internasional. Karyawan saya dulu cuma dua orang dan saya membayar mereka sesuai pekerjaan yang mereka lakukan. Kalau rajin ya gajinya gede, kalau malas ya sedikit.

Resign, Fokus, dan Passion
Dengan penjualan terus meningkat, saya memutuskan untuk resign. Awalnya saya merasa bisa tetap ngantor karena senang berkumpul bersama teman-teman, tapi ternyata membuat saya hanya bisa ke luar kota di kala weekend. Belum lagi saya nggak enak kalau harus cuti melulu. Tanggal 1 September 2016 saya menjadi full time entrepreneur dan saya langsung terbang ke Malang untuk membuka peluang bisnis lagi. Bisnis di Malang sudah dimulai, saya terbang ke Makassar untuk mencari peluang bisnis lainnya dan pulang lagi ke Jakarta dengan tangan hampa. Nggak ada bisnis yang bisa saya lakukan di Makassar kecuali membranding kopi. Saya nggak suka kopi, hiks.

Semakin kalian punya banyak uang, kesempatan berbisnis terus datang yang mengharuskan kalian berinvestasi dalam jumlah uang yang sangat besar juga. Saya membeli 2 e-Commerce, dan 1 company website yang membuat duit saya habis lagi. Belum lagi harus bayar paket umroh. Bagaimana dengan waktu luang? Kata siapa menjadi entrepreneur membuat kalian banyak waktu? Justru kalian harus bekerja bisa jadi 20 jam sehari untuk mempertahankan bisnis yang telah kalian bangun tetap berjalan. Disini passion kalian diuji. Kalau kalian passion di bisnis, kalian pasti rela tidur telat dan mencurahkan segala pikiran dan waktu ke bisnis. Kalau kalian melihat saya sering jalan-jalan, itu hanya sebagai hadiah ke diri saya sendiri tentang pencapaian yang saya lakukan dan untuk menenangkan otak yang terlalu sering panas. Belum lagi beberapa bisnis yang tiba-tiba jatuh sehingga saya kehilangan income begitu besar dan mengharuskan saya memutar otak mencari jalan keluar untuk tetap menggaji karyawan dan bertahan hidup. Untungnya saya nggak mengubah gaya hidup, sehingga tetap bisa hidup dengan duit pas-pasan.

Teman dan Relasi Bisnis
Hal ini yang paling penting. Tahun lalu, ntah berapa puluh acara sudah saya ikuti untuk mencari teman dan relasi bisnis. Saya mencoba berteman sama siapa pun, segala umur, kalangan mana pun, dimana pun, dan kapan pun. Sebagai contoh, sewaktu saya ingin belajar tentang Batik, saya datang ke Pekalongan, Cirebon, Surabaya, dan Madura hanya untuk belajar kepada orang yang ahli. Sewaktu saya ingin mempelajari motif songket Aceh, saya minta dikenalkan ke pakar motif, lalu kita mengobrol dan bertukar pikiran. Ketika saya ingin belajar tentang kopi, saya pergi ke Gayo, Makassar, dan Vietnam. Ketika ingin belajar tentang Cafe, ternyata suaminya teman saya adalah konsultan Cafe.

Kalian nggak usah takut, 90% pebisnis mau berbagi ilmunya pada kita. Seorang Barista saja bahkan menyarankan Barista lain untuk menggunakan resep kopinya agar Cafe mereka sama-sama laku. Kalau kalian tipe orang yang nggak enakan bertemu orang baru, bisa memulai relasi dengan teman lama seperti teman masa kecil, teman sekolah, dan lainnya. Berbisnis juga bisa menjadi tali penghubung silaturahmi sehingga menambah rejeki. Setiap saya keluar kota, saya pasti akan mengunjungi teman lama. Sebenarnya yang agak belagu justru orang-orang biasa. Pernah saya janjian dengan seseorang untuk membicarakan bisnis, semua jadwal sudah saya sesuaikan dengan jadwalnya karena saya juga butuh dia, eh tiba-tiba dia malah membatalkan secara sepihak. Pernah juga ada yang minta diajarin berbisnis melalui Whatsapp, tapi kalau ke Jakarta, nggak pernah mau menemui saya secara langsung untuk sekedar minum teh di Cafe. Mengajarkan bisnis melalui Whatsapp kan capek ya ngetiknya. Ada juga yang pernah saya ajakin ketemuan, eh malah saya dikira naksir, hahaha.

Social Media dan Messenger
Saya memang punya hampir semua akun Social Media dan Social Messenger. Saya punya Facebook, Instagram, Google Plus, Pinterest, Blog, Path, dan LinkendIn. Hampir setiap saat saya buka Social Media dan membalas komentar atau message dari setiap orang di semua platform. Jujur aja saya nggak terlalu peduli dengan total followers di Instagram cuma 500an, teman di Path cuma 70, teman Facebook cuma 1400an dan banyak yang saya unfollow apalagi yang suka menebar berita hoax. Saya nggak suka membaca hal yang membangkitkan aura negatif, makanya lebih baik di unfollow saja. Social media bisa jadi tempat mencari relasi bisnis, maka dari itu jangan diabaikan pesan dari orang-orang yang kalian kenal melalui media sosial. Media sosial juga yang membuat saya bisa mendapatkan tiket ke luar negeri super murah, suplier ekspor impor, dan orang-orang hebat lainnya. Media sosial pun sumber inspirasi saya ketika mau membuka Cafe di Banda Aceh. Hampir setiap hari saya dan keluarga membuka Pinterest untuk mencari ide Cafe dari seluruh dunia. Memiliki semua akun social media bukan karena alay juga, asalkan bisa digunakan secara baik, justru sangat bermanfaat.

Bagaimana dengan Social Messenger? Saya memiliki Whatsapp dan Line. Dulu saya pakai BBM (Blackberry Messenger), tapi sudah nggak lagi. Saya dan semua teman-teman di Rancupid adalah orang-orang yang super fast respond di social messenger. Kami hampir nggak pernah men-skip chat kecuali lagi sakit atau sedang tidak ada sinyal. Kami juga rela ngetik panjang-panjang di chat room agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Beberapa pebisnis bilang kalau mereka sangat malas bekerja sama dengan orang yang slow respond. Bisnis mengharuskan kita untuk sangat responsif kecuali kalian mau kehilangan kesempatan bekerja sama dengan calon investor.

Agak bingung dengan orang-orang yang kadang suka males menggunakan media sosial. Bahkan di dunia Digital Entrepeneur, media sosial adalah hal terpenting untuk beriklan. Saya sampai ikutan workshop bersama Facebook, Instagram, dan Line yang berbayar hanya untuk mempelajari fitur-fitur mereka yang tidak bisa di dapatkan ketika kita memakai media sosial untuk update status yang nggak penting. Mungkin pengetahuan kita tentang Facebook dan Instagram hanya sebatas update status atau foto, dan Line untuk chatting. Platform-platform ini bisa melakukan lebih dari itu untuk menghasilkan uang.

Membangun PT
Awalnya saya agak aneh disebut sebagai CEO (Chief Executive Officer), karena bagi saya CEO adalah Direktur Utama sebuah PT. Sebenarnya untuk menjadi seorang CEO, kalian tidak harus memiliki PT. Di dunia Digital Entrepreneur, pengelola sebuah bisnis pasti dinamakan CEO dan pemilik bisnis dinamakan Founder. Tapi ketika saya bertemu dengan beberapa investor, hal yang paling pertama ditanya adalah perusahaan berbadan hukum. Memiliki sebuah perusahaan berbadan hukum adalah cita-cita saya, tapi persyaratannya ribet dan setoran modal awalnya besar. Seolah-olah menjadi CEO secara resmi adalah impian belaka.

Alhamdulillah ternyata ada kebijakan baru untuk pendirian sebuah PT. Kalian bisa menyetor modal 25% dari total minimum modal perusahaan, sehingga kita nggak akan mendadak miskin setelah menyetor modal. Belum lagi perijinan usaha sebuah PT sekarang sudah lebih sederhana dan satu pintu. Hanya dalam 1 minggu, saya bisa mendirikan PT Rancupid Citra Indonesia dan saya secara resmi menjadi CEO. Sekarang perusahaan saya juga memiliki jajaran direksi resmi, email perusahaan, rekening perusahaan, dan pastinya NPWP.

Mau Melakukan Apa Saja
Merintis perusahaan baru bukan berarti kalian nggak ngapa-ngapain karena udah ada karyawan. Justru masih banyak hal yang saya tangani 100% sendiri. Saya memang memiliki teman-teman dekat yang pintar banget di bidang masing-masing dan mereka memiliki posisi Direktur di perusahaan saya. Kata siapa CEO adalah orang paling pintar di perusahaan? Justru CEO itu pintarnya sedikit-sedikit. Di bidang keuangan sedikit, di bidang Marketing dan Operasional sedikit, dan di bidang Human Capital sedikit. Mungkin untuk bidang IT, masih saya tangani 100% dibantu oleh beberapa teman yang sebenarnya tidak begitu mahir juga dalam bidang IT. Walaupun saya lulusan IT, tapi kalau bekerja di bidang digital dan hal yang terlalu teknis masih membuat saya pusing. Insya Allah bulan depan sudah ada Chief Technology Officer (CTO) yang bisa bergabung.

Untuk efisiensi, tidak jarang kami semua ikut turun dalam semua projek. CFO (Chief Financial Officer) juga pernah mengerjakan website, CMO (Chief Marketing Officer) mengerjakan desain kemasan keripik, dan CHRO (Chief Human Resource Officer) mengerjakan peraturan Legal. Kalau kalian ingin menjadi pengusaha, coba tanya pada diri sendiri apakah sanggup pada awalnya harus mengerjakan semua hal sendiri?

Terkadang Harus Cuek
Selama menjadi pengusaha, banyak juga kata-kata orang yang membuat panas di telinga. Contohnya, kadang banyak yang nyeletuk, 
"CEO masih naik kereta?" Duh, Jakarta macetnya setengah mati dan kalau naik mobil, ntah jam berapa sampai tujuan. 
"CEO nggak pakai Macbook?" Pengen sih, cuma saya masih sayang dengan laptop-laptop yang ada di rumah. Kalau mau gaya-gaya doang pakai Macbook, rasanya sayang banget. 
"CEO kok naik ojek?" Cuma bisa geleng-geleng kepala.
"CEO kok nggak pakai luxury branded items?" Duh, harga satu tas branded aja sama seperti satu e-Commerce, dan saya belum sekaya itu.

Dan banyak hal yang menurut saya kurang penting untuk dipertanyakan. Orang yang bertanya hal penting seperti perkembangan bisnis, ide bisnis, jarang mengurusi hal-hal seperti itu. Memang sih kalau mereka ikutan meeting, by default udah pakai luxury branded items tapi jarang nanyain kita pakai baju merk apa, atau tas merk apa. Tak jarang dari mereka naik ojek online untuk meeting di hotel bintang 5 demi menghindari macet. Biasanya orang yang suka nanya macam-macam itu pada sirik sih sama kita, hahaha. Kalau kalian kuat untuk cuek pada hal-hal seperti itu, mungkin kalian sudah bisa menjadi pengusaha.

Memisahkan Urusan Pribadi dan Pekerjaan
Mungkin benar ucapan salah satu cowok super kaya di film Korea, "I don't have time for ego, anger, and jealousy". Awalnya saya sering merasa ego, mengambil semua projek tapi nggak sanggup mengerjakan semuanya, sering marah juga dulu untuk hal-hal yang kadang kurang penting seperti calon klien membatalkan meeting tiba-tiba atau harga yang udah deal eh tiba-tiba berubah. Memang ada masa-masa seperti itu, tapi semakin lama saya jadi semakin bisa mengatur energi untuk marah-marah ke hal yang lebih positif.

Saya juga kadang suka nggak tega memecat karyawan yang udah sering jalan dan main bareng saya. Untung saya punya CHRO yang oke banget untuk memecat dan merekrut orang, hahaha. Biasanya kalau CHRO mau memecat orang, saya udah sibuk main hp. Nggak tega liat mukanya. Apalagi berbisnis dengan sahabat dekat. Wah, kalian harus bisa mengelola emosi karena kalau bisnis hilang, teman juga hilang, hahaha.

Ekplorasi Tanpa Batas
Hal-hal seperti ini jarang kalian temui di kantor. Menjadi pengusaha akan membuat kalian bisa bereksplorasi ide dan menjadi sangat kreatif. Kalian bisa mempelajari banyak hal dalam waktu singkat. Belum lagi karena banyaknya teman dan relasi, otak kalian akan kebanjiran ide baru yang semuanya bisa kalian wujudkan tetapi hanya permasalahannya di waktu yang terlalu sempit. Kalian akan berpikir seandainya satu hari bukan 24 jam, kalian akan bisa melakukan semua hal yang kalian mau dan bereksplorasi jauh lebih banyak lagi. 

Dunia ini adalah gudang ilmu. Ketika di kantor, saya hanya bisa mengasah ilmu sesuai dengan bidang pekerjaan saya yang sebenarnya saya kurang suka. Ketika menjadi pengusaha, kalian akan menemukan banyak hal yang kalian suka. Saya suka fashion, tiba-tiba bisa mengenal pengusaha tekstil, designer, dan penjahit borongan. Saya suka menulis novel, tiba-tiba bertemu desainer anime. Saya mulai suka bercocok tanam, tiba-tiba bisa menemukan lahan untuk dijual tanamannya secara online. Saya suka travelling, banyak orang mengajak saya membuat e-Commerce untuk backpacker, dan sebagainya.

Berdoa dan Introspeksi Diri
Doa bisa mengubah takdir. Mungkin hal ini yang paling sering saya lakukan selama berbisnis. Ditambah lagi doa dari Mama yang saya minta setiap saat. Tidak akan ada gunanya kalau sudah bekerja sekeras mungkin tapi tidak berdoa. Bisa saja Allah tidak meridhai pekerjaan kita dan akhirnya langsung hilanglah nikmat. Ketika saya berumroh, hampir setiap saat saya mendoakan Rancupid agar ditahun 2017 dan tahun-tahun berikutnya bisa berjaya terus, tidak mengalami krisis, dan semua bisnis dilancarkan. Sering-sering introspeksi diri dan beristighfar karena terkadang kita melakukan dosa yang tidak disadari tapi berdampak buruk.

Secara pribadi, saya nggak menyarankan kalian untuk terjun bebas ke dunia bisnis tanpa ada pegangan duit sepeser pun. Paling tidak, jalankan bisnis dulu baru resign dari kantor karena itu yang saya lakukan. Bekerja di kantor membuat saya punya banyak teman dan relasi yang ke depannya akan menguntungkan dalam dunia bisnis. Berhubungan baiklah dengan orang-orang dan sambung kembali tali silaturahmi karena akan mendatangkan rejeki.

Sekian tulisan dari saya. Saya akan memberikan label Entrepreneur di postingan seperti ini karena mungkin saya akan menuliskan beberapa postingan juga tentang hal ini dan yang pasti akan panjang sekali artikelnya. Semoga kalian nggak bosan membacanya ya.

Semoga bermanfaat, sampai jumpa!

Februari 18, 2017

Dataran Tinggi Gayo

Hi semua, sudah satu minggu nggak posting blog karena saya sibuk sekali, dua kali, tiga kali, hahaha. Seminggu kemarin saya seolah-olah masuk kantor lagi dari Senin sampai Jumat dan pulang ke rumah hampir selalu jam 10 malam lebih. Capek sih, tapi saya nikmati saja. Kerja keras tidak akan mengkhianati hasilnya. Alhamdulillah saya nggak sakit. Mungkin karena udah vaksin flu juga ya. Cuma jadi sering ngantuk dan menyiasati dengan tidur di kereta dan di mobil.

Kali ini saya akan membahas sebuah kabupaten yang berada di tengah-tengan provinsi Aceh dengan ibukotanya bernama Takengon. Sejak dulu saya pengen banget ke Takengon tapi nggak pernah sempat. Kebetulan sepulang umroh saya menghabiskan banyak waktu (hampir tiga minggu) di kota Matang Glumpang Dua Kabupaten Bireuen dan kata Mama udah ada jalan baru ke Takengon. Ya sudah, daripada terus diam di rumah karena pemulihan sakit batuk dan hanya sekali-sekali saja keluar rumah, akhirnya kami sekeluarga memutuskan pergi ke Takengon, yeay! 

Kami memulai perjalanan pukul 7 pagi dari rumah dengan mengendarai mobil. Kami masuk ke jalan PT KKA yang baru saja dibuka untuk umum. Jalannya hanya lurusss saja dan udaranya dinginnn!! Suhu di jalan sekitar 18 derajat dan membuat kita jadi sering kebelet pipis. Perjalanan dari Aceh Utara ke Aceh Tengah hanya 3 jam dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Nggak terasa kami sudah sampai ke kota Takengon hanya dengan mengandalkan GPS. Oh ya, kalian akan menemukan beberapa pertigaan yang membuat kita harus bertanya pada masyarakat sekitar atau mengikuti arah GPS. Kalau kalian salah jalan, nanti malah balik lagi ke Kabupaten Bireuen, hihihi.
Pemandangan di sisi jalan
Saya sangat menikmati pemandangan indah sepanjang jalan menuju kota Takengon. Apalagi kalau kalian melihat Danau Laut Tawar yang Subhanallah indahnya. Pemandangan seperti ini pernah saya lihat di New Zealand, tepatnya Lake Wakatipu yang dikelilingi oleh kota. Kalau melihat pemandangan Lake Wakatipu harus dari helikopter, Danau Laut Tawar bisa dilihat hanya dengan memarkir mobil di pinggir jalan dan pemandangan danau yang spektakuler pun di depan mata. Masya Allah!

Rumah Makan Sahabat Baru
Sesampai di kota Takengon, kami memutuskan untuk makan siang dulu. Sebenarnya nggak lapar-lapar amat sih, tapi ketika saya browsing dan membaca tentang sajian ikan depik yang menjadi menu andalan Rumah Makan Sahabat Baru, duh langsung pengeennn. Lokasi Rumah Makan ini berada di antara Pasar Inpres dan tempatnya agak nyempil ke dalam, Kalian bisa parkir mobil di pinggir jalan karena walaupun kita berada di pasar, tapi suasananya nggak crowded.
Selamat makan
Saya, Mama, dan adik-adik masuk ke Rumah Makan ini. Kami duduk dan beberapa saat kemudian semua makanan dan minuman dihidangkan di atas meja yang bisa kita pilih sendiri. Duh, menggiurkan banget semuanya. Saya makan ayam kampung goreng dan ikan depik (ikan kecil yang jumlahnya banyak dalam satu piring). Ditambah dengan kuah gulai yang rasanya mantap banget. Biar komplit, saya minum es timun khas Aceh yang segerrr. Menulis blog tentang rumah makan ini membuat saya lapar lagi, padahal baru aja makan siang.

Sudah sebanyak itu kami makan, total yang harus dibayar hanya Rp. 100rban. Memang harga makanan dan minuman di Aceh masih murah dan rasanya enak banget. Makanya saya betah di Aceh dan nggak pulang-pulang ke Jakarta, hahaha.

Pantan Terong (1,830 mdpl)
Awalnya saya mengetahui tempat ini dari sepupu saya yang memposting foto-foto ketika dia dan keluarganya berlibur ke tempat ini. Saking kerennya pemandangan disini, saya langsung menjadikan tempat ini adalah destinasi wajib untuk setiap orang yang berlibur ke Takengon. Pantan Terong memiliki ketinggian 1.830 meter di atas permukaan laut (mdpl). Awalnya agak ragu untuk menyetir mobil sampai ke puncak, tapi karena jalanannya mulus, alhamdulillah bisa naik juga. Kalian tetap harus hati-hati karena kiri-kanan jurang yang curam dan pendakian seperti ini agak menyulitkan untuk mobil city car biasa. Pokoknya harus pinter-pinter mainin gear di mobil deh.
Selamat Datang
Posisi Pantan Terong di barat dan Danau Lut Tawar di timur. Di utara kelihatan Kabupaten Bener Meriah beserta Burni Telong (gunung kebanggaan daerah itu) dan Burni Gayo yang tampak kecil di selatan. Kalian bisa melihat seluruh Kota Takengon sejauh mata memandang, Subhanallah indahnya. Karena keindahan ini, Pemda Aceh Tengah menjadikan Pantan Terong sebagai Kawasan Ekowisata sejak 17 Agustus 2002, pada masa Bupati Mustafa M Tamy, sebagaimana tercetak pada prasasti di lokasi tersebut.
Danau Laut Tawar dari 1830 mdpl
Narsis dulu
Saya berencana memasukkan Pantan Terong sebagai salah satu destinasi wajib di RancupidTravel.com, situs e-commerce travel yang akan launch dalam minggu ini Insya Allah. Semoga kedepannya Rancupid Travel bisa bekerja sama dengan Pemda Aceh untuk menyelenggarakan pagelaran bertema wisata lingkungan seperti Jazz Gunung yang biasa digelar di Gunung Bromo. Pasti akan menarik turis lokal dan internasional untuk datang ke tempat ini. Lokasinya juga pas karena ada kursi-kursi amphiteatre yang sepertinya memang diperuntukkan untuk penonton sebuah pertunjukan.

Danau Laut Tawar
Sebenarnya saya salah memilih tempat nongkrong di tepi danau, sehingga keindahan danau kurang dapat diabadikan dalam sebuah foto. Mungkin karena kami memang baru pertama kali kesini juga dan nggak tau tempat nongkrong ala Anak Gaul Takengon di pinggir Danau tuh sebelah mana. Udah malas browsing internet juga karena sinyal agak kurang bagus disini. Jadinya pasrah aja duduk di pinggir danau sambil menunggu pesanan Mie Aceh Lobster yang nggk kunjung terhidang. Mana masaknya lama banget lagi, huff! 
Mie Lobster
Walaupun akhirnya Mie datang dan ternyata bukan Mie Aceh, tapi Indomie dengan lobster, tapi ya sudahlah. Udah malas juga berdebat.

ARB Coffee Shop
Apa jadinya jika mengunjungi daerah tempat lumbung kopi Asia yang terkenal dengan kopi terbaik tanpa mencicipi langsung kopinya? Sebenarnya saya nggak suka kopi, dan saya memang nggak tau mana kopi enak atau mana kopi nggak enak. Walaupun saya sudah pergi sampai ke Vietnam untuk mencicipi kopi, ke Makassar dengan kopi Toraja, dan mencicipi berbagai macam kopi buatan para barista kebanggaan Indonesia yang kebetulan teman saya juga, teteuup aja nggak suka kopi. Maafkan saya.
Menu ARB Coffee Shop
Karena berkesempatan menjelajah Takengon, saya tentu penasaran dengan pengalaman minum kopi langsung di warung kopi di sana. Walaupun kalian bisa melihat kebun kopi dan panen raya hampir di sepanjang jalan, dan juga melihat cherry kopi bergelantungan memerah di kebun kopi, namun belum sah rasanya kalau ke Takengon tapi belum mencicipi Kopi Gayo. Teman adik saya menunggu kami sekeluarga di ARB Coffee, salah satu Cafe paling beken di Takengon yang menyediakan berbagai kopi tradisional manual brewing atau dari mesin esspreso (saya tetap tidak tau mana yang enak).
Sanger (sama-sama ngerti)
Orang yang datang ke ARB Coffee Shop ramai banget, padahal hari itu hujan deras. Saya memesan kopi Sanger, berharap tidak terlalu pahit. Lalu adik-adik saya memesan kopi yang berbeda juga. Ketika pesanan datang, saya minum kopi Sanger sedikit demi sedikit karena tetap aja pahit. Adik ipar saya menawarkan saya untuk minum kopi hitam manual brewing. Saya makan gula merah dulu, baru minum kopi yang pahitnya minta ampun. Duh, saya memang nggak suka kopi.
V60 Drip Kecil
Setelah menikmati berbagai macam kopi, kami pun pulang. Banyak orang menyarankan untuk jangan pulang terlalu malam ke Kabupaten Bireuen karena bakalan turun kabut super tebal di jalan lintas Takengon - Bireuen. Benar saja, sepanjang jalan kabutnya tebal banget dan saya sekeluarga nggak ada yang tidur untuk memantau suasana. Mungkin efek kopi juga jadi seger nggak ngantuk. Saya bertugas memantau jalan melalui GPS karena kalau ada jalan berkelok-kelok dengan tebing yang curam bakalan nggak kelihatan kalau kabut tebal. Untung udah download offline maps karena nggak ada sinyal sama sekali di jalan.

Yang paling seram adalah ketika melewati Tajuk Enang-enang, sebuah tebing patahan yang curam banget. Kita harus klakson panjang agar mobil dari arah berlawanan bisa tau keberadaan mobil kita, lalu menyetir super pelan agar tidak tergelincir. Alhamdulillah kita berhasil melewati Inang-inang dengan mulus tapi kecelakaan yang terjadi di tempat ini sudah tidak terhitung jumlahnya. Banyak-banyak berdoa aja selama di perjalanan agar terus berada di dalam lindungan Allah SWT.

Baiklah, sekian perjalanan ke Tanoh (tanah dalam bahasa Aceh) Gayo. Saya nggak nginap di Takengon karena besoknya saya balik ke Banda Aceh dan naik pesawat menuju Jakarta tercinta.

Februari 11, 2017

Dear Masjidil Haram, Sampai Bertemu Lagi

Selama di Mekkah, saya hanya 2 kali berumroh. Pertama Miqat di Bir Ali, yang kedua di Ji'ranah. Adik saya berumroh sampai tiga kali dan yang ketiga bermiqat di Hudaibiyah. Jarak antara umroh pertama dan kedua agak lumayan lama, tapi dari umroh kedua dan ketiga hanya selang sehari. Belum pulih lelah kemarin dan saya harus berumroh lagi jadi kurang sanggup. Belum lagi bekas operasi di telapak kaki sudah cenat-cenut banget dan saya sudah terserang batuk.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anh, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.”
Masjid Ji'ranah
Sebenarnya yang paling berat untuk saya adalah Tawaf (berkeliling Ka'bah berlawanan arah jarum jam) dan Sa'i (berlari kecil antara bukit Safa Marwah) karena harus menapak kaki di lantai dengan hanya beralaskan kaos kaki. Seandainya boleh pakai sepatu olah raga, mungkin saya bakalan sanggup untuk terus-menerus Tawaf dan Sa'i. Ternyata menahan sakit di telapak kaki itu membuat otot betis gampang keram dan terasa sampai paha. Padahal naik gunung sanggup karena pakai sepatu sih. Tapi nggak apa-apa, alhamdulillah semua selesai dengan baik. Di beberapa Tawaf, saya hanya berdua dengan Mama dan tidak ditemani adik saya lagi. Udah mulai berani dan nggak takut hilang, hihihi.

Pernah suatu kali saya dan Mama Tawaf setelah shalat Ashar dimana hari masih terang dan suhu udara lumayan panas. Ketika kami melewati Hijr Ismail, akan terasa angin dingin seperti hembusan AC, bahkan terkadang berbau harum. Padahal jarak dari dalam mesjid yang ber-AC dan Ka'bah sangat jauh jadi tidak mungkin AC bisa sampai ke daerah Hijr Ismail. Mungkin karena biasanya ber-Tawaf malam hari, agak nggak sadar kalau ada udara dingin di Hijr Ismail karena memang Mekkah di malam hari lumayan dingin udaranya. Hijir Ismail merupakan bagian Ka’bah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Bagian ini pun merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa di bawah talang emas. Dalam buku Fi Rihaabil Baitil Haram dikisahkan, bahwa Nabi Ismail pernah mengeluhkan panasnya udara Makkah. Maka Allah berfirman kepadanya: 

"Sekarang aku buka di Hijirmu salah satu pintu surga yang dari pintu itu keluar hawa dingin untuk kamu sampai hari kiamat nanti". Siapa saja yang beruntung, ia akan merasakan angin surga (hawa dingin) sewaktu berthowaf melintasi Hijir Ismail”.

Semoga kami menjadi orang-orang yang beruntung. Pintu masuk ke Hijir Ismail juga selalu dijaga malaikat yang selalu mendoakan ampunan dan kebaikan bagi siapa saja yang melakukan sholat sunnah mutlak didalamnya. Sayangnya karena terlalu ramai disana, agak tidak mungkin saya berdesakan masuk. Ya sudahlah, berdoa dari luarnya saja. Rasanya setiap mengelilingi Ka'bah, karena semua tempat sangat dikabulkannya doa, maka saya terus berdoa juga mendoakan keluarga dan teman-teman saya. 
Doa of the year
Hari terakhir di Mekkah, sebelum kembali ke Jeddah, kami harus Tawaf Wada' (Tawaf perpisahan) dulu. Ustadz menyarankan kami Tawaf setelah sarapan, sedangkan saya, Mama, dan beberapa saudara langsung melakukan Tawaf setelah shalat Shubuh karena masih dingin udaranya. Selesai Tawaf dan shalat sunnah Tawaf, kami minum air Zam-zam. Saya duduk menghadap Ka'bah dengan tatapan sendu dan berdoa supaya saya bisa sering kemari, dikaruniai rejeki yang banyak, dan tetap bisa kesini dengan orang-orang yang saya cintai. Ah, seandainya Papa masih ada, pasti Papa bakalan senang banget karena saya dan adik akhirnya bisa sampai ke Ka'bah.
Setelah selesai Tawaf Wada'
Dear Papa, I miss you

Setelah Tawaf Wada', kami kembali ke hotel untuk sarapan, mandi, dan berkemas. Koper kami bertiga sudah beranak-pinak tapi akhirnya bisa cukup juga barang-barang masuk ke dalam koper dan tas-tas yang mengiringinya. Hampir 3 minggu di Tanah Haram, dengan pekerjaan hanya beribadah saja itu sangat menenangkan. Walaupun internet seadanya, saya jarang buka laptop juga, tapi saya senang aja. Sangat menikmati waktu-waktu beribadah karena mengingat pahalanya seperti beribadah 80 tahun.
Perbatasan kota Mekkah dan Jeddah
Pemandangan di jalan ke Jeddah
Kami kembali ke Jeddah ketika makan siang. Saya tidur di dalam bus kecuali ketika makan siang dibagikan. Setelah makan, tidur lagi, sampai akhirnya tiba di Balad, dimana kalian bisa belanja juga. Saya tetap tidur saja karena ngantuk banget. Setelah dari Balad, kami mampir ke mesjid terapung untuk shalat jamak Zuhur dan Ashar. Nama sebenarnya mesjid ini adalah Masjid Arrahmah tapi orang Indonesia menyebutnya terapung karena memang berada di pinggir pantai. Pemandangan laut disekitar sini sangat indah tapi juga sangat menyilaukan. Anginnya juga kenceng. 
Lagi sok kece
Masjid Terapung
Kami tiba di bandara King Abdul Azis sebelum magrib. Ustadz Hakam mengurusi semua bagasi, sehingga kami tinggal menunggu saja. Kalau kalian membeli kursi yang biasa dipakai di masjid untuk shalat, harus di wrap dulu baru bisa masuk ke bagasi. Oh ya, karena ini adalah penerbangan langsung, kalian bisa memasukkan beberapa botol air Zam-zam di dalam tas kabin. Lumayan banget 'kan? Saya sampai bawa 3 botol aqua kecil air Zam-zam. Kalau saja penerbangannya transit di Kuala Lumpur, udah pasti air Zam-zamnya dibuang. 
Bus selama di Madinah dan Mekkah
Malam itu pesawat delay sekitar 2 jam dan saya menunggu sambil mengobrol dengan beberapa jamaah yang lain. Banyak sekali yang hotelnya jauh dari Masjid dan alhamdulillah hotel saya sangat dekat. Hampir semua jamaah di dalam ruang boarding sudah terserang batuk. Semua pada sakit nih. Kami akhirnya boarding. Kali ini dapat kursi di bagian depan yang seharusnya untuk kelas bisnis tapi sempit banget jadinya. Nggak ada TV lagi. Berhubung udah ngantuk banget, ya sudahlah terima saja. Yang kasihan Mama karena mulai demam. Untung aja ada jamaah yang punya paracetamol sehingga demam Mama bisa turun.

Kami sampai ke Banda Aceh jam 10 pagi dan jam 1 siang berjalan pulang ke Matang Glumpang Dua, kota dimana saya tinggal. Kami naek mobil L300 ke Matang dan supir travel sampai agak syok melihat barang kami banyak banget, hahaha. Rasanya badan capek banget deh. Pengen tidur aja sepanjang jalan. Sampai di rumah saya agak jetlag, jadi mau tidur agak nggak ngantuk. Jadi bermain saja sama keponakan yang udah lebih gendut padahal baru ditinggal beberapa minggu. Adik saya sudah menyiapkan semua obat mulai dari antibiotik, obat batuk, dan flu untuk menyambut saya Mama yang udah pada tepar semua.

Berumrah ini sangat berbeda dengan semua perjalanan yang saya lakukan ke luar negeri. Kalau liburan menentramkan pikiran, tapi berumrah menenangkan batin. Hal yang seumur hidup belum pernah saya rasakan. Semoga semua doa yang saya ucapkan disana dikabulkan Allah SWT. Semoga dapat kembali lagi secepatnya. Aminnn....

Sesungguhnya berumrah menghapuskan dua: dosa dan kefakiran (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Februari 07, 2017

Keseharian di Masjidil Haram

Berhubung sedang berusaha semaksimal mungkin untuk ngeblog di sela-sela kesibukan yang semakin hari semakin mengerikan. Saya sempat sedih karena bulan ini nggak bisa ke Sapporo, padahal udah beli tiket, hiks. Harus ada yang dikorban salah satu. Ke Jepang, atau Tiyuki Kripet (merk keripik milik saya). Berhubung udah pernah ke Jepang, passpor juga udah mau mati, ke kantor imigrasi nggak sempat, permintaan Tiyuki Kripet membludak, dan saya harus ngeblog sebelum saya lupa. Oh ya, nanti saya akan membagikan tulisan tentang berbisnis karena banyak sekali yang minta postingan yang satu itu. Berhubung ilmu adalah pahala jariyah, insya Allah akan saya tuliskan. Ya Allah, lancarkanlah segala urusan...

Saya akan menulis kegiatan saya selama di Masjidil Haram dan sekitarnya yang saya ingat. Kalau ada yang saya lupa, nanti kalau tiba-tiba teringat akan saya update lagi supaya tetap bisa tertulis di blog.

1. Luasnya Masjid
Hal ini paling mengagumkan untuk saya. Saya penasaran tentang seluk-beluk Masjidil Haram sehingga saya jadi ingin bereksplorasi sendiri. Awalnya mau pergi bareng Mama, tapi kasihan nanti kecapek'an karena memang luas banget mesjidnya. Luas keseluruhan masjid ini mencapai 356,800 mdengan kemampuan menampung jamaah sebanyak 820.000 orang ketika musim Haji dan mampu bertambah menjadi dua juta jamaah ketika salat Ied. Beberapa literatur yang saya baca, Masjid ini bahkan bisa menampung 3 juta jamaah (mungkin setelah perluasan).
Menara mesjid
Pertama kalinya saya ke Masjid sendiri adalah ketika shalat Jumat (nanti saya bahas). Setelah itu ketika menjelang Ashar, saya pergi lagi sendiri karena memang mengincar shalat di depan Ka'bah. Agar tidak terlalu kelihatan orang Asia Tenggara, saya pakai Abaya untuk shalat dan menutup muka seperti cadar dengan menggunakan pashmina. Memang agak aneh kalau cewek jalan sendiri di dalam Masjid, jadi mending pakai cadar deh. Sebenarnya yang saya incar adalah foto Zam-zam Tower dan Ka'bah dibawahnya. Alhamdulillah berhasil. Walaupun cuaca panas terik dan menyilaukan (saya sampai pakai kacamata ketika shalat), akhirnya bisa mengambil foto seperti yang saya inginkan hanya dengan kamera hp. Fyi, di dalam Masjidil Haram sebenarnya nggak boleh membawa masuk kamera. Memang ada beberapa orang yang berhasil memotret tanpa ketahuan, tapi sebaiknya jangan coba-coba deh. Karena polisinya galak dan katanya hukumannya bakalan repot nanti nggak boleh berumroh lagi.
Berhasil memotret view ini
Setelah mendapatkan foto, saya berkeliling lagi. Saya takut banget nyasar jadi sepanjang saya berjalan saya mengucap istighfar dan berdoa supaya nggak nyasar terus-menerus. Karena ada bapak-bapak yang udah biasa umroh tetap nyasar dan dia bilang pikirannya bisa tiba-tiba nge-blank ketika di Masjid. Sebagai tindakan preventif, semua gate saya foto juga supaya kalau tiba-tiba nge-blank bisa melihat foto di hp.  
Salah satu Gate yang saya foto
Saya naik ke lantai Sa'i semuanya, naik ke lantai shalat sampai lantai 3, sampai semua Mataf (tempat Tawaf). Kalau capek, tinggal minum air Zam-zam. Yang susah kalau kebelet pipis, karena harus keluar dari Masjid. Akhirnya daripada pipis di toilet Masjid, saya mendingan ke Mall yang berada di sekitaran Masjid. Saya juga sempat shalat di Masjidil Haram Extension yang memiliki interior sangat indah. Suasana juga agak sepi disini dan nggak crowded, tapi dari pelataran Masjid yang biasa saya datangi menuju tempat ini lumayan jauh.
Interior Masjid Extension
2. Mall Zam-zam dan Bin Dawood
Dua tempat jalan-jalan ini letaknya memang sangat dekat dengan Masjidil Haram. Mungkin hanya beberapa puluh meter saja. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Bin Dawood, mungkin seperti ITC di Jakarta dengan tempat yang lebih mewah saja karena terletak dibawah hotel Inter Continental. Disini kalian bisa menemukan berbagai macam oleh-oleh seperti sajadah, kurma, dan sebagainya. Saya sih hanya melihat-lihat saja berhubung lagi kere, hahaha. Lagian, hal yang saya mau seperti baju Abaya dan sajadah sudah dibeli di Madinah. Jadi disini cuma untuk killing time menunggu shalat selanjutnya.

Selanjutnya adalah Zam-zam Tower. Awalnya saya ke Mall ini untuk mencari tumbler Starbucks yang selalu menjadi titipan teman-teman saya. Saya masuk dengan santai ke Starbucks dan ternyata cowok dan cewek tempat nongkrongnya dipisah. Untung nggak salah masuk. Berhubung tumbler nggak ada, yang ada mug doang, ya sudah saya nggak berlama-lama lagi disitu. Hanya berkeliling doang dan mencari dimana toilet. Khusus untuk perempuan, toilet berada di lantai 3. Kalian bisa naik lift aja biar cepat. Overall, Zam-zam Mall ini yang paling mewah dari semua Mall yang ada dan agak mirip Kota Kasablanka di Jakarta. Kalian juga nggak bisa menawar barang disini karena harganya sudah fixed.

3. Shalat Jumat
Shalat Fardhu di Masjidil Haram itu mungkin jamaahnya 100 kali dari Masjid Nabawi dan ketika shalat Jumat bertambah 3 kali lipat. Saya pergi ke Masjid bersama adik, karena Mama sudah duluan dan shalat di Masjidil Haram Extension. Saya gandeng adik saya karena takut hilang saking ramainya orang kesini. Adik mengantarkan saya sampai shaf perempuan, lalu dia menghilang di lautan manusia. Berhubung waktu shalat masih lama, jadi perbanyaklah berdoa dan shalat sunnah disini karena pahalanya 100,000 kali dari masjid biasa. Sewaktu saya sedang berzikir, ada ibu-ibu datang memberikan tasbih dan saya menolak. Duh, saya lupa kenapa saya menolaknya. Yang paling males kalau harus menahan kentut sih, hahaha. Mau wudhu lagi kan jauh.
Multazam
Shalat Jumat berjalan seperti di Masjid Nabawi dengan khutbah berbahasa Arab dan saya tidak mengerti. Hanya diam saja mendengarkan. Setelah shalat selesai, mulailah perjuangan pulang ke hotel. Kebayang seluruh jamaah bubar shalat? Ramaaiii sekali. Karena saya nggak suka berdesakan, saya sabar-sabar aja menunggu orang-orang jalan duluan. Waktu itu eskalator juga sempat mati, tapi alhamdulillah akhirnya bisa jalan. Memang semua orang-orang pada sabar keluar mesjid, nggak berdesakan juga, cuma kalau melihat kerumunan orang se-ramai itu ya saya agak was-was juga.
Masjidil Haram Extension
Alhamdulillah saya sampai ke hotel dengan selamat dan baru membaca sms kalau sebenarnya adik saya menunggu saya di pintu eskalator karena dia khawatir juga kakaknya hilang, hahaha.

4. Senin dan Kamis
Banyak orang berlomba-lomba berpuasa senin-kamis di Tanah Haram, tapi waktu itu saya nggak. Sewaktu mau shalat Magrib, para jamaah mulai sibuk membagikan kurma dan minuman teh jahe ke seluruh jamaah baik yang berpuasa atau pun yang tidak. Kalian nggak akan kelaparan disini ketika berbuka puasa karena memang banyak banget yang membagikan makanan. Saya jadi suka melihat suasana seperti itu. Rindu....
Baca Qur'an super besar
Oh ya, saya teringat waktu itu pernah bertanya pada Mama apa Mama masih hafal doa panjang ketika shalat jenazah karena hafalan saya mulai kebalik-balik. Mama masih hafal sih dan tiba-tiba ada yang membagikan selebaran doa shalat jenazah, sehingga saya bisa membacanya setiap shalat jenazah. Wah, alhamdulillah sekali. Mungkin niat baik langsung dijawab sama Allah.

5. Sujud Sajadah
Sewaktu di Masjid Nabawi, saya belum pernah sujud Sajadah ketika shalat karena memang imam tidak membaca Surat Sajadah. Sewaktu shalat Shubuh di hari Jumat, setelah membaca Al-Fatihah, imam mulai membaca surat yang saya kenal dan ternyata itu Surah Sajadah. Dan sampai pada pertengahan surah, ketika ayat Sajadah, imam bertakbir dan saya sudah meniatkan untuk sujud. Dan saya bersujud, lalu merasa aneh kok saya doang yang sujud ya. Imam bertakbir lagi, lalu melanjutkan surat Sajadah dan saya yakin saya benar.

Seusai shalat, Mama bilang banyak banget jamaah yang ruku' ketika imam bertakbir (Mama shalat sambil duduk, jadi lebih bisa melihat orang yang sujud atau ruku'). Alhamdulillah saya nggak salah.

6. Makanan untuk orang miskin
Setiap habis shalat Shubuh, Zuhur, dan Ashar, kalian akan melihat antrian panjang orang-orang di depan sebuah gerai makanan. Saya kira makanannya enak banget karena antriannya panjang begini sampai saya pernah berniat untuk ikutan mengantri karena pengen mencoba makanannya. Ternyata, gerai makanan itu membagi-bagikan sarapan, makan siang, dan makan malam khusus untuk orang miskin. Wah, saya baru tau.
Antrian bagi-bagi makanan

7. Belanja setelah shalat
Hampir setelah setiap waktu shalat, kalian akan melihat pedagang dadakan membuka lapak di jalan depan Masjid. Harga barangnya murah-murah sih, sekitar 2-10 riyal. Beberapa kali Mama beli barang sama pedagang dadakan itu. Yang kasihan adalah kalau polisi lewat dan mereka bakalan berlarian pontang-panting agar nggak ditangkap. Sama seperti pedagang asongan yang berlarian ketika Satpol PP datang.
Ada bintang dan bulan
Saya dan Mama lebih suka belanja di toko Serba 3 Riyal dan siang hari berubah menjadi Serba 2 Riyal. Paling enak nyari oleh-oleh di toko ini karena murah banget dan bagus. Saya banyak beli magnet kulkas dan gantungan disini.

8. Mengejar Merpati
Nah, ini adalah hobi saya setiap setelah shalat Zuhur dan Ashar. Kadang-kadang saya bisa main bersama merpati sampai 10 menit hanya untuk mengejar-ngejar mereka sampai pada beterbangan. Seru banget sih, hahaha. Tapi terkadang bulu-bulu burungnya bikin bersin-bersin. Walaupun bersin, teutep aja dikejar, hihihi.

Baiklah, mungkin ini dulu cerita dari saya. Nanti saya update lagi kalau saya teringat lagi. Sampai jumpa :)

Februari 02, 2017

Jalan-Jalan di Kota Mekkah

Suhu udara di kota Mekkah lebih panas daripada di Madinah, walaupun setiap shalat Shubuh saya tetap pakai jaket thermal, tapi ketika matahari mulai terbit, harus buru-buru buka jaket. Kota ini dan Masjidil Haramnya membuat saya sangat rindu. Semoga semua rasa rindu bisa saya tuangkan di dalam blog, sehingga apabila suatu hari saya baca lagi, rasa rindu yang sama itu masih bisa terasa.

Ada beberapa tempat yang saya kunjungi ketika berziarah di kota Mekkah. Walaupun ada juga tempat yang terpaksa hanya bisa dilihat dari dalam bus karena memang ditutup kecuali ketika beribadah haji. Semoga bisa sekalian haji nantinya, aminnnn ya Rabb.

1. Jejak Ibadah Haji
Hari itu ustadz mengajak kami untuk melihat-lihat tempat dilaksanakannya ibadah haji (Ya Allah semoga bisa haji). Kami melewati Padang Arafah, Mina, dan Jabal Rahmah. Padang Arafah tempat dilaksanakannya Wuquf tampak agak sepi. Ustadz bilang, kalau sedang musim haji terlihat seperti hamparan putih karena dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berihram. Duh, jadi pengen ngeliat pemandangan itu.
Kemah-kemah Mina
Kami juga melewati terowongan Mina dan kemah-kemah yang dipakai jemaah haji untuk bermalam. Terdapat banyak banget tenda disana, tapi nggak ada orang. Memang semua tenda hanya aktif ketika pelaksanaan ibadah haji. Kebayang bagaimana sibuknya pemerintah Arab Saudi untuk berkemas-kemas sebelum dan sesudah pelaksanaan ibadah haji.

2. Jabal Rahmah
Jabal Rahmah berjarak 12 Km dari Masjidil Haram di Kota Makkah, bagian timur Padang Arafah. Sesuai dengan namanya, Jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Bukit ini diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari surga oleh Allah SWT selama bertahun-tahun karena melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang.
Tugu Jabal Rahmah
Pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa di Padang Arafah ini dapat disebut sebuah kisah cinta abadi, kisah pencarian kasih sayang yang berujung pada kebahagiaan. Padang Arafah menjadi saksi sejarah bagaimana Nabi Adam AS mencari isterinya setelah diusir dari Surga. Itulah monumen cinta pertama peradaban kemanusiaan yang disimbolkan sebuah tugu yang dibangun oleh pemerintah Arab Saudi di Padang Arafah. Menurut yang saya baca, banyak sekali orang menyalahartikan tempat ini. Ada yang mencoret-coret dengan nama-nama, ada yang berdoa menghadap tugu, bahkan ada yang shalat juga untuk minta jodoh. Saya yakin kalau pemerintah Arab Saudi membatasi tugu dengan pagar jaring-jaring, udah ada gembok cinta disitu, hahaha.
Mobil penjual es karim
Saya di Jabal Rahmah hanya beli es karim (bukan es krim), dan berkeliling nyari tempat untuk naik ke tugu tapi karena rame, nggak jadi deh. Saya rasa berdoa bisa dimana aja kalau mau minta jodoh. Sekalian aja di Multazam atau Raudhah.

3. Peternakan Unta
Saya sudah melihat Panda di China, Sakura di Jepang, Gingseng di Korea, dan burung Kiwi di New Zealand. Belum sah ke Arab Saudi kalau tidak melihat flora atau fauna khas disana. Hewan negara padang pasir ini adalah unta. Dia bisa berjalan berkilo-kilo meter tanpa minum air dan sangat tahan panas. Pantas saja tempat peternakan unta ini yang paling menyilaukan menurut saya. Padahal bukan musim panas. Gimana kalau musim panas ya? 
Itu ada unta
Penjual susu dan pipis unta
Banyak sekali unta di peternakan ini dan bau. Saya hanya berfoto saja dan balik lagi ke bus karena bau banget. Kalian bisa membeli susu unta seharga 10 riyal dan pipis unta 30 riyal. Katanya, pipis unta bisa menyembuhkan penyakit mata, tapi menurut saya sekarang sudah tidak berlaku sejak adanya air zam-zam. Kalian harus ingat kalau pipis itu kan najis ya tapi banyak juga yang beli pipis unta. Kenapa lebih mahal? Karena unta itu jarang pengen pipis (kok agak absurd) dan sedikit pulak pipisnya. Sudahlah, tak usah dibahas lebih lanjut.

4. Abraj Al Bait
Nama lainnya adalah Mekkah Clock Tower atau Zamzam Tower ini adalah landmark dan komplek yang masih termasuk baru di kota Mekkah. Bangunan yang paling tinggi di kompleks Abraj Al Bait (Hotel Tower) menjadi struktur tertinggi di Arab Saudi dan kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, terhitung pada tahun 2011 (bertepatan dengan selesainya bagian menara Hotel Tower). Dengan luas area lantai sebesar 1.500.000 m2, bangunan ini merupakan bangunan dengan area lantai yang paling luas didunia. Pada Juli 2013, rekor ini pecah bertepatan dengan selesainya New Century Global Centre, suatu bangunan multifungsi yang ada di Chengdu, China.
Abraj Al-Bait
Ada beberapa alasan dibangunnya Zamzam Tower ini, salah satunya sebagai upaya pemerintah Arab Saudi dalam menetapkan MMT (Mekkah Mean Time). Sebagai umat islam, diyakini bahwa Ka'bah adalah pusat epicentrum dunia (0 derajat) sehingga patokan waktu dunia paling cocok adalah dari Mekkah. Oleh sebab itu, Menara Jam ini dibangun jauh lebih besar dari Big Ben di London, dan juga lebih tinggi, sehingga dapat kita lihat dari jarak 25 km. Sebagai warna negara Indonesia, wacana perpindahan waktu yang dipindah dari Greenwich (GMT) ke Mekkah hanya menggeser waktu di Indonesia saja. Yang tadinya +7 jam GMT untuk WIB, berubah jadi +4 jam MMT.

Bagaimana dengan dunia? Perubahan waktu ini akan berdampak besar pada aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari kegiatan ekonomi, telekomunikasi, hingga penerbangan internasional, karena harus mengubah paradigma dunia internasional yang sudah 126 tahun menggunakan standar waktu GMT. Walaupun demikian, saya sangat mendukung wacana ini. Kalau memang GMT sebenarnya bukan epicentrum dunia, kenapa harus tetap dipertahankan? Semoga suatu hari saya bisa berkontribusi di wacana MMT ini.

5. Exhibition Of The Two Holy Mosque Architecture Museum
Tempat ini disebut juga sebagai Museum Haramain atau Museum Dua Tanah Haram, yang terletak di perbukitan Ummul Joud, Makkah. Museum ini dibangun oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk memamerkan banyak hal tentang Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dari dulu sampai sekarang, bahkan di masa yang akan datang. 
Maqam Ibrahim
Sumur Zam-zam tempo dulu
Tempatnya memang tidak terlalu besar tapi orang yang datang kesini penuh banget. Saya hanya berkeliling, melihat-lihat hal-hal unik dan membaca sejarahnya. Ada sumur Zam-zam tempo dulu, foto-foto Masjid dan perubahannya, pintu Ka'bah, dan berbagai macam lainnya. Setelah puas berfoto, saya keluar. Oh ya, abang sepupu saya sempat membeli buat Tin disini. Ini pertama kalinya saya makan buah yang disebutkan dalam Al-Quran yang rasanya manis banget. Enak sih, cuma tidak disarankan apabila kita sedang batuk.
Alat pemintal kiswah (penutup Ka'bah)
Baiklah, nanti saya akan bercerita kegiatan saya selama di Masjidil Haram. Stay tuned!

Categories

adventure (289) Living (244) Restaurant (148) Cafe (140) Hang Out (133) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (84) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (53) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) Bali (8) CEO (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Aceh Barat (3) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) Aceh Jaya (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Banda Aceh (1) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nagan Raya (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)