April 24, 2017

Myanmar Water Festival (Thingyan)

Kalau di Bangkok ada Songkran Festival, maka di Myanmar ada Thingyan Festival. Kurang lebih kedua festival ini sama aja, yaitu basah-basahan se-negara. Ini adalah pengalaman saya pertama kali terlibat dalam sebuah festival di negara orang. Saya lumayan bersemangat pada awalnya karena sempat berencana untuk ikutan basah-basahan. Bahkan udah menyiapkan baju ganti segala. Sebelumnya, saya dan teman-teman sudah menyewa mobil selama 3 hari 2 malam termasuk supir dan bensin seharga $500 atau sekitar $100 peorang. Lumayan murah karena kalau sedang festival begini, terkadang banyak jasa sewa mobil menawarkan harga sangat mahal. Saya dan teman-teman sudah berusaha menghubungi beberapa rental mobil dan rata-rata menawarkan harga $100 perorang perhari. Kalau 3 hari disana, berarti $300? Wow! Buat yang mau menyewa mobil di Yangon, bisa ke web myanmartravel.org untuk booking.
Siram terusss!
Kami dijemput di bandara oleh jasa sewa mobil. Bahkan sampai pulang ke Indonesia pun, kami tidak tau nama supirnya, hahaha. Dari pintu kedatangan bandara sampai ke parkiran mobil, kami menggerek koper masing-masing. Tiba-tiba ada orang yang langsung mengangkat koper kita dan dibawa masuk ke mobil. Saya kira yang angkat koper adalah temannya si supir, ternyata malah jasa angkat koper dadakan yang biasa ada di bandara. Pas semua koper udah masuk, dia bilang, "Money, money!" Saya kira dia minta uang sewa mobil $500 itu dan kita semua langsung mempersiapkan uang. Supir bilang, "No, no." Maksudnya bukan uang itu, tapi uang jasa angkat. Berhubung supir nggak bisa bahasa Inggris, jadilah kita pakai bahasa isyarat. Mana kami nggak tau berapa tarif standar jasa angkat koper dan rada bingung dengan rate Myanmar Kyat berapa. Akhirnya kami memberikan 2000 Kyat atau sekitar Rp. 20,000 (keputusan dadakan), hahaha.

Kami cek in The Vibe Inn hotel terlebih dahulu. Terkadang memang kita harus membaca keterangan hotel dengan sangat teliti sewaktu booking via online karena kalau nggak pasti ada yang terlewat contohnya adalah hotel ini nggak punya lift (elevator) dan salah satu kamar berada di lantai 7 (karena cek in terlalu pagi, yang baru siap kamar di lantai 7, sedangkan kamar satu lagi di lantai 1). Mana anak tangganya gede-gede lagi. Gilak, jadi encok naik tangga ke lantai 7. Sampai ke kamar, kami semua langsung tepar. Ini belum kemana-mana aja udah tepar karena naik tangga hotel. Untung aja koper udah diangkatin. Selesai menghela napas sejenak, kami kembali turun tangga lagi ke lobi hotel dan memulai eksplorasi kota Yangon. Pertama kali memang kami pergi ke pagoda, tapi saya belum akan membahas tentang pagoda di postingan kali ini. Nanti akan saya satukan semua tentang pagoda dalam satu postingan. Kali ini saya akan membahas tentang festival basah-basahan se-antero Myanmar. 

Water Festival atau Thingyan adalah festival untuk umat Buddha yang dirayakan selama empat sampai lima hari, yang berpuncak pada Tahun Baru yang dihitung menurut kalender Burma. Tanggal festival ini diperingati sebagai hari libur di seluruh Myanmar, dan merupakan bagian dari liburan musim panas untuk anak sekolah (emang ada liburan musim hujan? haha). Bagian acara ini adalah pelemparan air atau penyiraman satu sama lain dengan menggunakan alat apa pun adalah ciri khas festival ini dan dapat dilakukan pada empat hari pertama festival. Oh ya, Thingyan sebanding dengan perayaan lainnya dibebera negara seperti Songkran di Laos, Songkran di Thailand, Tahun Baru Kamboja, dan Tahun Baru Sinhala.

Sebenarnya air yang digunakan pada festival Thingyan adalah percikan air wangi dalam mangkuk perak dengan menggunakan tangkai Thabyay (Jambul). Cara tradisional seperti ini masih lazim ditemukan di daerah pedesaan di Myanmar. Taburan air dimaksudkan untuk secara metaforis "membasuh" dosa seseorang dari tahun sebelumnya. Di kota-kota besar seperti Yangon, alat yang digunakan untuk memercikkan air lebih beragam (lebih tepatnya 'aneh') seperti selang taman, jarum suntik besar yang terbuat dari bambu, kuningan atau plastik, pistol air, gayung, cangkir, kaleng susu, dan perangkat lain yang bisa digunakan untuk menyiram dan mengguyur orang-orang. Air yang digunakan juga macam-macam. Ada air dari sumur, keran, bahkan air sungai pun ikut berpartisipasi.

Dari hasil pengamatan saya, dalam festival ini ada tim yang menyiram dan tim yang disiram. Kalau penyiram biasanya udah siap di pos dengan tong air super besar, pistol air, selang air dan apa pun yang bisa digunakan untuk menyiram air. Mereka juga memutar musik ajep-ajep dengan volume super keras, bahkan sambil minum bir. Nah, kalau tim yang disiram biasanya akan naik mobil bak terbuka dan rela disiram dari segala penjuru. Kadang mereka bawa speaker besar juga untuk memutar musik ajep ajep dan minum alkohol. Yang mengherankan, seolah-olah di festival ini alkohol jadi legal di konsumsi anak-anak muda. Bahkan yang nyetir mobil aja minum alkohol juga. Walaupun mobil jalannya lambat banget, tapi kan tetap aja seram kalau yang nyetir sambil mabuk. Para orang tua santai aja melihat anak-anaknya minum alkohol dan joget-joget dengan musik ajep-ajep dipinggir jalan. Oh ya, musik boleh ajep-ajep, tapi bahasa Inggris nggak bisa sama sekali. Hadew! Yang anehnya lagi, lagi seru-seruan joget dengan musik ajep-ajep, tiba-tiba ada halilintar dan semuanya berteriak kaget sambil meringkuk atau menutup telinga. Ya elah udah gaya-gayaan, ada petir ngumpet juga, hahahahaha.
Tim yang disiram
Dalam festival ini, para penyiram dilarang untuk menyiram wanita hamil dan para biksu. Ada juga saya lihat anak muda mau mengguyur kakek-kakek tapi dengan cara lemah-lembuh. Mungkin takut kalau disiram kakeknya bisa kaget kali ya, hihihi. Saya dan teman-teman jadi mengurungkan niat mau ikutan festival karena kayaknya agak brutal. Kami yang duduk di dalam mobil aja disiram-siram (padahal nggak akan kena siram karena kaca ditutup), kaca mobil di tepuk-tepuk, bahkan dijilat (ini nggak penting banget kan?). Saya sampai menutup tirai jendela mobil karena males melihat aksi mereka yang menurut saya aneh-aneh banget.
Siram terussss
Trus bagaimana dengan saya dan teman-teman? Kena siram? Sudah pasti!! Hampir semua tempat wisata pasti ada pos penyiram air. Saya minta guide untuk menemani kami agar tidak diguyur. Yang kasihan sih, guidenya diguyur duluan, baru kita, hahaha. Biarin deh, kan dia orang sini, hihihi. Hari pertama saya disiram tapi dengan lemah lembut. Alhasil, baju saya basah, tapi untung ransel nggak. Agak takut kalau kamera yang kebasahan. Kalau handphone kan masi anti air. Hari kedua malah kami semua sampai pakai jas hujan. Memang sih hari itu sedang turun hujan literally, tapi kami pakai jas hujan untuk melindungi diri dari guyuran air. Sewaktu ke Golden Rock Pagoda, kami adalah sasaran empuk penyiraman karena kami terlihat sangat turis. Untung pakai jas hujan. Bahkan sewaktu ada yang menembak kita dengan pistol air, saya khusus men-defend diri saya dengan jas hujan, hahaha. 

Sebenarnya acara ini lumayan seru kalau kita mau ikutan. Tapi lama-lama jadi agak males juga. Males basah-basahan, males jadi sasaran, males juga dengar musik ajep-ajep dan melihat mereka joget seperti orang kesurupan sambil minum bir. Sepatu saya basah, sendal apalagi. Water Festival juga membuat 90% pertokoan di Myanmar tutup. Cafe tutup, toko oleh-oleh tutup, bahkan yang paling mencengangkan Mall juga tutup. Saya kira tutupnya sehari doang seperti di Indonesia Mall hanya tutup di lebaran pertama (itu pun cuma setengah hari). Ternyata Mall disini tutup selama 4 hari. Gile, kayaknya saya nggak akan jadi tenant di Mall Myanmar, kecuali rela rugi karena Mall tutup. Berhubung saya selalu membawakan oleh-oleh, jadi terbatas banget barang yang bisa dibawa. Palingan dijatah satu orang satu barang doang, hahaha. Mungkin semesta mendukung saya yang lagi kere, jadi dikasih tiket murah ke Yangon, terus pas Water Festival yang membuat saya mau nggak mau nggak bisa belanja dan nggak akan tergiur untuk belanja karena semua toko tutup, hihihi.

Baiklah, sekian cerita tentang Water Festival. Selanjutnya adalah tentang pagoda. Sampai jumpa!

April 22, 2017

Penerbangan Pagi ke Myanmar

Tidak lengkap rasanya kalau menuliskan sebuah cerita perjalanan itu setengah-setengah. Jadi saya akan menceritakan rentetan kejadian dari sebelum berangkat ke Myanmar. Pesawat saya ke Yangon pagi sekali, yaitu pukul 6.55 AM yang tidak memungkinkan saya untuk pergi ke ke Kuala Lumpur di hari yang sama dari Jakarta karena mana ada penerbangan lebih pagi dari itu. Akhirnya saya pergi sehari sebelumnya. Rombongan saya 4 orang tapi penerbangannya terpisah-pisah. 3 orang naik AirAsia, 1 orang naik Malaysia Airlines. Saya juga sudah meminta pihak hotel menjemput kami jadinya nggak kebingungan.

Pagi itu baru pertama kali saya mencoba ke bandara pakai DAMRI. Mengingat penerbangan pukul 11 siang dan 4 jam sebelumnya (jam 7 pagi) harus udah jalan dari Depok karena takut kena macet. Saya pakai gojek dengan memangku koper ke terminal Depok. Sempat makan Popmie untuk sarapan dan minum teh panas dulu di terminal. Sekarang tarif DAMRI dari Depok ke Bandara Rp. 60,000. Kalau naik taksi online sekitar Rp. 170,000 belum ditambah tol, jadi mungkin total Rp. 200,000. Kalau harus ke bandara pagi buta, saya pasti naik taksi online sih karena agak serem kalau ke terminal bus. Apalagi sewaktu ke New Zealand yang harus membawa koper 30 kg dan kalau naik DAMRI agak repot.

Sepanjang perjalanan saya tidur di DAMRI. Saya memang paling gampang tidur di kendaraan. Alhamdulillah ternyata nggak macet dan saya sampai ke bandara hanya satu jam lima belas menit. Sampai di bandara masih sempat nongkrong dulu di Old Town Cafe untuk bertemu teman saya yang hobinya travelling juga. Dia ntah udah kemana aja berkelana ke negara-negara eksotis dan sering solo travelling. Hmm, saya belum pernah solo travelling untuk mengeksplorasi negara baru karena dalam Islam wanita tidak boleh bepergian jauh kecuali dengan mahram (suami atau keluarga). Lagian, mana enak jalan sendirian? Ada beberapa ulama berpendapat asal bersama teman sesama wanita juga boleh asalkan jangan sendirian. Dulu saya pernah membooking tiket pesawat ke Jepang-Korea berempat, tapi 2 lagi batal. Yang tersisa hanya saya dan teman cowok. Berhubung harga mati nggak boleh berdua aja, saya sampai broadcast di semua media online untuk cari teman dan alhamdulillah ada yang mau ikut. Menurut saya, menjelajahi dunia itu perlu, asalkan tidak melanggar peraturan agama. Alhamdulillah selama ini selalu diingatkan juga sama Mama dan saya selalu patuh.

Setelah cek in bagasi, saya masuk ke ruang tunggu. Sempat bingung karena satu lagi teman saya yang ikut belum kelihatan di ruang tunggu. Berhubung dia adiknya teman saya yang bernama Tommy dan sudah lama tinggal di luar negri, saya cuek aja pasti naik dan turun pesawat udah ngerti deh, hihihi. Nah, yang bingung adalah sewaktu tiba di bandara KLIA2 dan Tommy nggak ada. Whatsapp dan Line nggak punya dan Tommy nggak keliatan dimana-mana. Saya menelepon kakaknya (Kakros) yang juga sudah tiba di KLIA untuk bertanya ciri-ciri adiknya. Kakros menjawab, "Adek gw tinggi, pakai topi. Tapi udah gw kasih tau untuk nunggu di depan CIMB Money Changer." Hah? General banget ciri-cirinya. Saya sampai melihat semua cowok tinggi dan pakai topi juga nggak ketemu yang mana Tommy. Sampai bertanya sama beberapa orang, "Hei, kamu Tommy ya?" Kan niat banget? Mobil penjemputan dari Hotel udah ready di meeting point depan CIMB Money Changer, tapi Tommy belum ketemu. Saya sempat mencarinya dari Arrival Hall 1 sampai 3, bahkan sampai parkiran, nggak ketemu juga. Udah suruh Kakros kirim no. Whatsapp Tommy ke saya tapi belum dikirim. Duh, jadi bingung.

Karena mobil airport transfer sudah penuh dan para penumpang di dalamnya udah agak nggak sabar mau balik hotel (mereka udah celingak-celinguk melihat saya dan Nida yang belum masuk ke mobil), akhirnya saya dan Nida pergi duluan ke hotel. Perjalanan ke Hotel Sri Langit ini agak berkelok-kelok dan ke pelosok. Jadi teringat beberapa kecamatan di Aceh yang jalannya seperti ini. Setelah 15 menit dalam perjalanan, akhirnya sampai juga ke hotel. Kami turun, lalu bertanya pada supir kalau teman saya yang di KLIA sudah dijemput apa belum? Supirnya bilang belum. Saya panik lagi. Saya minta koneksi wifi dan menelepon teman saya via Line. Tommy juga akhirnya Whatsapp dan saya meminta supir untuk menjemput Kakros di KLIA dulu, baru Tommy di KLIA2. Supir pun setuju dan langsung pergi. Selagi menunggu, saya dan Nida jajan dulu di mini market (warung) yang berada di lobi hotel. Masih agak panik juga karena jadi berpencar dengan teman-teman. Alhamdulillah akhirnya semua bisa ngumpul di hotel. 

Setelah mandi, kami berempat mau main ke pusat kota. Karena daerah hotel nggak ada angkutan umum, jadilah kami mencoba memesan Grab. Enaknya Kuala Lumpur udah banyak juga transportasi online. Pihak hotel sendiri menyarankan kami untuk pakai Uber atau Grab karena lebih murah daripada taksi hotel. Dari hotel ke pusat kota kalau pakai Uber/Grab hanya RM 56, sedangkan taksi hotel bisa RM 120. Mahal banget ya. Saya janjian dengan Tina di Sephora Starhill Gallery, tempat biasanya saya belanja makeup. Tahun lalu sudah belanja makeup terlalu banyak dan belum pada habis, jadi saya mencoba menahan diri untuk nggak belanja. Lagi nggak ada duit juga sih, hihihi. Alhamdulillah berhasil nggak belanja karena Tina langsung mengajak makan ke Pavilion. Berhubung dia nggak boleh pulang malam juga. 
Ketemu Tina
Awalnya mau makan di Nando's (favorit saya) tapi jadi pengen makan Dolly Dimsum juga. Tahun lalu kesan saya ketika makan Dolly Dimsum ini enak banget. Lagian, Nando's udah terlalu sering, bahkan hampir setiap ke Kuala Lumpur pasti makan Nando's. Jadi kali ini makan Dolly Dimsum aja deh. Seperti biasa kita pesan banyak banget makanan kalau udah ngumpul. Apalagi setelah itu Willy dan Yudhi juga datang. Kita ngobrol nggak ada habis-habisnya sampai akhirnya Tina pamit pulang duluan karena anaknya udah nungguin. Walaupun pertemuan singkat, tapi lumayan untuk melepas kangen. Fyi, saya memang selalu menghubungi teman-teman untuk ketemuan kalau saya pergi ke kota mereka tinggal atau pada saat mereka berkunjung ke Jakarta. Mempererat silaturahmi itu memperbanyak rejeki lho.
Bersiap nge-dimsum
Setelah makan, saya, Nida, Kakros, Tommy, Yudhi, dan Willy melanjutkan perjalanan ke Twin Tower. Kebetulan saya dan Yudhi pakai tas sama tapi beda harganya jauhhh banget. Saya beli di Kota Kasablanka harganya sejuta lebih, eh Yudhi beli di Kuala Lumpur cuma RM 100an atau sekitar Rp. 300,000an. Sakitnya tuh disini (nunjuk dompet). Saya sarankan kalian belanja di Kuala Lumpur aja untuk produk-produk Bratpack. Eh, pada tau nggak merk ini? hihihi. Mending beli Eiger atau Bodypack aja sekalian kalau harganya udah diatas satu juta rupiah.
Serupa, beda warna, beda harga 😅
Sebenarnya kami ke Twin Tower untuk mengambil foto-foto yang nantinya akan dijadikan Portfolio Rancupid Travel. Sayang, foto-fotonya masih berada di Yudhi dan dia lagi di Jepang. Palingan nanti saya posting lagi ya disini. Setelah mengambil foto di depan dan di belakang Twin Tower, kami memutuskan untuk balik lagi ke hotel. Kami memesan mobil yang sama karena udah janjian dengan supirnya. Kalau pesan Grab lagi secara manual, harganya udah mahal banget. Apalagi KLCC berada di tengah kota, jadi kena tambahan biaya. 

Saya, Nida, Kakros, dan Tommy sampai di hotel sekitar jam 12 malam dan baru tidur 30 menit kemudian. Besoknya bangun jam 4 pagi, mandi, dan memesan Grab lagi ke Bandara. Agak mahal nih Grabnya sekitar RM 50an padahal jaraknya dekat banget. Kalau pesan Uber cuma RM 20an tapi nggak dapat-dapat. Mungkin karena terlalu pagi. 

Kami akhirnya sampai di Bandara jam 5.30. Saya dan Nida cek in bagasi dulu, sedangkan Kakros dan Tommy beli Subway untuk sarapan. Willy sudah menunggu di boarding gate dan dia udah Whatsapp saya terus-menerus bertanya saya udah dimana. Ada sedikit masalah memang. Koper saya dan Nida tiba-tiba melebihi 20 kg, padahal belum belanja sama sekali, sehingga yang satunya harus dibawa ke kabin. Aneh banget, mungkin timbangan di Kuala Lumpur lebih berat daripada di Jakarta. Sewaktu koper Nida ditimbang untuk masuk ke kabin, masih lebih 3 kg dan membuat kita harus mengeluarkan sebagian barang untuk dimasukkan ke ransel. Antrian imigrasi agak panjang ditambah saya kebelet pipis lagi. Mana Willy udah Whatsapp dan bilang kalau pesawat udah boarding. Jadilah kami berempat berlarian menuju boarding gate. Mana susah lari sambil bawa banyak barang, dan barangnya sempat jatuh pulak lagi. Haduwwwh! Alhamdulillah tepat waktu juga bisa ngantri boarding. Jadi olah raga di pagi hari lari-larian ngejar pesawat.

Setelah duduk di pesawat, saya merasa lapar. Sempat ketiduran sebentar sampai makanan pesanan saya dibagikan. Duh, rasanya lapar banget. Mungkin karena capek berlarian mengejar pesawat. Setelah makan dan penerbangan dari Kuala Lumpur ke Yangon memakan waktu 2,5 jam, jadi saya memutuskan untuk tidur lagi. Saya tidur dengan sangat nyenyak sampai-sampai baru terbangun ketika mendarat di Yangon International Airport. Alhamdulillah sampai juga.

Setelah melewati imigrasi, kami semua berencana menukar uang di Money Changer. Yang memusingkan adalah Money Changer hanya menerima uang MYR (Malaysia Ringgit) dan USD (United States Dollar). Kakros yang baru pulang dari Melbourne, uangnya AUD semua dan Tommy yang lama tinggal di Canada dan hanya bawa CAD. Untung aja Willy banyak membawa USD sehingga Kakros dan Tommy bisa minjem dulu, hihihi. Tau gini kan semua pada menukar uang di bandara Kuala Lumpur.

Selama di Yangon, kami menyewa mobil dan supirnya sudah siap menunggu di bandara dengan membawa karton bertuliskan nama saya. Baiklah, mari mengeksplorasi Yangon hari ini. Sampai jumpa!

April 19, 2017

I'm Back From Myanmar

Alhamdulillah berhasil kembali lagi ke Indonesia dengan selamat. Walaupun kaki cedera parah gara-gara ketusuk duri yang membuat saya nggak bisa jalan. Ada dua duri yang sempat masuk ke telapak kaki saya. Yang satu berhasil di operasi sama dua teman saya yang membuat malam itu saya di hotel teriak-teriak. Nah, yang satu lagi nggak bisa dikeluarin. Telapak kaki jadi berdarah dan bernanah karena infeksi dari duri itu, huuuu serem banget. Rasanya di bandara pengen pakai kursi roda saking sakit dan nyut-nyutan banget. Sampai sakit kepala dan nggak bisa tidur. Untung udah berobat ke dokter jadinya nggak tambah luka.
Shwedagon Pagoda
Pilar di Shwedagon Pagoda
Stupa di Shwedagon Pagoda
Kok bisa cedera telapak kakinya? Sabar dulu. Seperti biasa sepulang dari sebuah negara saya akan memposting foto-foto terlebih dahulu karena masih kecapekan untuk berpikir mau menulis apa. Mana kerjaan banyak banget lagi. Alhamdulillah walaupun saya lagi kere, saya bisa mengirit dan menghabiskan uang hanya $145 selama disana sudah termasuk makan mewah di fine dining resto, souvenir, mobil, bensin, sopir, dan tiket masuk pagoda. Semakin penasaran kan 'gimana caranya? Mungkin semesta mendukung saya ketika masih kere dan membuat semuanya jadi murah. Subhanallah!

Baiklah, selamat menikmati foto-foto saya bersama Rancupid Travel :)
Small Reclining Buddha
Melukis Buddha
Komplek Shwedagon Pagoda
Water Festival di siram terussss
Super huge reclining Buddha in Chaukhtatgyi Pagoda
Small Buddha in Chaukhtatgyi Pagoda
Maha Wizaya Pagoda
Karaweik Palace
Kyaiktiyo Pagoda (Golden Rock)
Shwemawdaw Pagoda, The Tallest, The Biggest in Myanmar 
Gayaan dulu di Kuala Lumpur hahaha
Ditunggu postingan berikutnya ya. Selamat untuk gubernur Jakarta terpilih yang sudah saya doakan dari seluruh tempat paling mustajab berdoa. Semoga Siddiq, Amanah, Fathanah, dan Tablig. Amin

April 13, 2017

Sebelum ke Myanmar

Akhirnya setelah tiga bulan, baru bisa memposting persiapan ke suatu negara baru lagi. Alhamdulillah akhirnya jadi juga ke negara antimainstream ini karena apabila postingan ini dirilis berarti saya sudah berada di ruang tunggu bandara dan bersiap untuk take off. Sebenarnya berangkat ke negara di Asia Tenggara nggak membutuhkan banyak persiapan dan postingan ini akan bercerita tentang kegiatan saya selama tiga bulan sebelum berangkat. Sebenarnya saya akan berangkat ke 3 negara sebelum ke Myanmar. Tiket sudah dikantongi tapi tidak jadi berangkat. Memang sih semua tiket itu saya dapatkan dengan harga lumayan murah, bahkan sangat murah. Tapi rasanya nggak berangkat itu sedih banget, apalagi udah janjian sama teman yang ada di negara sana. 

Berawal dari Jepang, tahun ini saya seharusnya melihat Snow Festival di Sapporo. Sudah menghubungi Icha (salah satu sahabat saya yang berkuliah di Kobe) tapi batal. Saya ingin ke Snow Festival sejak tahun lalu, makanya nungguin tiket murah supaya bisa kesana. Sayangnya, tiket murah udah di tangan, tapi nggak jadi berangkat. Bahkan jaket thermal untuk suhu minus 20 sengaja saya beli di New Zealand untuk persiapan berangkat ke Hokkaido. Untung Icha pengertian, jadi dia nggak ngambek. Tapi sedih aja sewaktu dia nanya, "Tia... jadi berangkat? Ini Icha forward voucher hotel Icha ya, jadi Tia bisa menyesuaikan." Dan saya hanya bisa menjawab, "Icha, maaf... Batal." Tiga tahun yang lalu sewaktu saya ke Osaka, saya main bareng Icha karena dia bisa berbicara bahasa Jepang lancar banget. Dua tahun yang lalu sempat janjian sama Icha mau ke Lombok, tapi batal karena Papa meninggal pas di minggu kita mau berangkat. Tahun ini batal lagi Cha... Tahun depan masih di Kobe 'kan?

Lalu Inggris, negara One Direction. Saya pengen ke Inggris sewaktu menonton video clip One Direction Night Change, lalu dikasih rejeki tiket murah sama Allah karena bergabung dengan grup Pemburu Tiket Murah di Facebook. Saya juga udah janjian sama Evita, teman satu kosan sewaktu awal kerja di Jakarta yang sekarang tinggal di Inggris ikut suaminya. Jadi kebayang naik London Eye, berfoto di Stonehenge, main ice skating, jalan-jalan di kota, naik kereta, roadtrip, dan ke Oxford. Lagian, karena saya nggak harus memikirkan cuti, saya bisa berlama-lama disana. Sayangnya, batal lagi. semua keinginan disana harus dihapus, hiks.
Terakhir ke Beijing dan Shanghai. Tiket pulang-pergi juga sudah ditangan. Sebenarnya ke dua kota besar di China ini adalah rencana kami bertujuh dan yang berangkat jadinya cuma tiga orang. Saya kira bakalan bisa berangkat, tapi tetap nggak bisa. Padahal udah pengen banget naik kereta cepat di China yang kabarnya tercepat di dunia, piknik di dekat sungai di Hangzhou, belanja di Beijing, dan semua keinginan itu hilang lagi. Kalian bisa membayangkan betapa sedihnya saya, hiks hiks. Dan kebayang berapa banyak duit yang saya keluarkan sia-sia.

Kenapa nggak jadi berangkat? Penyebab utama adalah perusahaan sedang krisis moneter yang berimbas dengan keuangan saya juga. Pada awalnya saya berlama-lama di Aceh salah satunya karena mau menghindar dari masalah perusahaan. Tapi mau menghindar sampai kapan? Masalah yang dihindari malah berbalik menyerang bertubi-tubi. Saya akhirnya balik ke Jakarta dan berusaha keras untuk mengembalikan kondisi perusahaan ke semula. Sempat stres banget, kurang tidur, dan nggak punya waktu bahkan untuk mengecek media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Path. Palingan kalau mau tidur baru buka media sosial dan baru melihat beberapa postingan udah ketiduran. Bahkan pernah ketiduran dan hp jatuh ke jidat saya dan jadi benjol, huuu huuu sakit. Beberapa teman sempat protes karena saya nggak pernah melihat Instagram Story atau love fotonya, tapi memang kadang nggak sempat banget. Buka Path cuma kalau di tag doang dan Facebook hanya untuk posting blog dan hal yang berhubungan dengan Rancupid. Pernah nggak buka sosmed sama sekali selama seminggu. Jangan ngambek ya teman-teman kalau sosmednya nggak saya lihat. Karena sosmed itu hanya dunia maya dan dunia nyata jauh lebih ribet.

Seseorang sempat bertanya pada saya. Kenapa saya beberapa kali terlihat lebih sering di rumah, nggak kemana-mana, tapi bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tahun lalu karena saya masih kerja, sering meeting, ikut seminar, workshop, dan training, jadi terlihat kerja. Tahun ini semua hasil seminar, workshop, dan training saya aplikasikan sehingga saya lebih sering di rumah. Padahal kerjanya dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam, melebihi orang kantoran. Niat iseng saya timbul. Saya berbisik padanya kalau selama ini saya ngepet, dan saya jaga lilin di rumah. Makanya saya nggak bisa kemana-mana untuk jaga lilin. Teman saya kaget, dan saya juga kaget kenapa dia percaya. "Gile lo, Mut. Masa lo ngepet sih? Siapa babinya?" Dan saya jawab, "Elu sih babinya. Lagian, masa' lo percaya sih kalo gw ngepet? Ckckck." Fyi, babi ngepet itu cara klasik nyuri duit di rumah orang dengan menggunakan mistis. Ada yang jaga lilin, ada yang jadi babi dan berkeliaran mencuri uang, kayak tuyul 'gitu. Detailnya nggak tau juga sih, toh memang nggak ada bakat ngepet, hahahahaha.

Sebenarnya mungkin saya bisa saja pergi ke negara-negara yang saya sebutkan itu dan kembali menghindar dari masalah. Tapi saya nggak tega dengan tim saya di Rancupid yang juga merupakan sahabat-sahabat saya. Kita membangun Rancupid bersama-sama lantas saya pergi begitu saja berlibur dan nggak tau kapan bakal pulang? Mereka begitu banyak mencurahkan hati, pikiran, dan tenaga ke Rancupid yang membuat saya terharu. Kita sama-sama berusaha keras keluar dari krisis moneter dan alhamdulillah sekarang semuanya membuahkan hasil. Bulan ini saya mulai bisa bernapas lega dan tersenyum lebar, makanya bisa ke Myanmar.

Kenapa Myanmar? Nggak ada jawaban yang pasti kenapa Myanmar karena saya memang mau mengkhatamkan Asia Tenggara. Banyak yang menyarankan saya untuk berhati-hati di Myanmar apalagi karena adanya desas-desus di media yang kurang baik. Saya sih tawakkal saja. Selama nggak berniat aneh-aneh, insya Allah semua akan baik-baik saja. Oh ya, sewaktu ulang tahun saya kemarin, saya dapat tiket gratis dari Air Asia karena point yang banyak juga. Saya memilih Laos supaya benar-benar perjalanan saya di Asia Tenggara selesai. Tunggu, masih ada Timor Leste, tapi bagi saya Timor Leste masih Indonesia, hihihi. Insya Allah nanti ke sana juga.

Nggak ada persiapan yang signifikan ke Myanmar. Itinerary udah tersedia di Rancupid Travel, mobil sudah disewa, Hotel sudah di booking, mata uang dollar dan ringgit sudah ditukarkan yang nantinya akan ditukarkan dengan mata uang MMK (Myanmar Kyat). Saya juga membawa mata uang Vietnam Dong (VND) yang dulu masih tersisa. Semua udah terurus dengan baik insya Allah.

Hikmah nggak jadi jalan-jalan ke 3 negara sebelumnya banyak juga sih. Salah satunya jadi terbuka peluang ke Iceland, dimana pesawat transit di Inggris. Lalu ada teman mengajak ke Ulaan Bataar, dimana pesawat transit di Beijing. Memang masih rencana, insya Allah bisa pergi ke dua negara ini. Kayaknya tim New Zealand kemarin pada bersemangat ke Iceland untuk mencari aurora dan saya udah pernah mendapat tiket super murah ke beberapa negara di Eropa. Mari berdoa supaya beneran jadiiiii. Amin! Oh ya, saya juga dapat tiket murah ke Jeddah dan insya Allah bisa ikut umroh lagi tahun ini. Ah, jadi nggak sabar. Rindu banget sama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Well, Allah paling tau deh kenapa kemarin saya belum bisa pergi ke 3 negara itu.

Baiklah, doakan saya selamat pergi dan pulang ya. Kali ini saya pakai passpor baru dan masih kosong banget dan saya akan transit dulu semalam di Kuala Lumpur untuk temu kangen dengan teman-teman saya. Saya selalu berusaha untuk menghubungi teman-teman lama ketika mengunjungi suatu kota atau negara untuk mempererat silaturahmi yang bisa memperbanyak rejeki, hihihi. 
Courtesy : http://lialt.blogspot.co.id/2012/08/serba-serbi-myanmar.html
Happy long weekend. Dear Myanmar, I'm coming.

April 08, 2017

Cerita Cinta Tentang Kau dan Dia

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang sudah dibumbui berjuta penyedap. Silahkan menebak-nebak yang mana yang benar. Selamat menikmati weekend.

***
Namanya Rendi, dan dia pacarku. Kami sudah pacaran lebih dari 2 tahun, dari mulai merintis usaha, sampai sekarang. Agak berbeda denganku, Rendi memang berasal dari keluarga kaya raya. Kami bertemu di sebuah seminar bisnis 3 tahun yang lalu dan pada saat itu aku masih orang kantoran. Dulu, Rendi ingin membuka sebuah Cafe, tapi dia diharuskan menjadi direktur selanjutnya di perusahaan Ayahnya. Kita kenalan karena duduk bersebelahan di seminar yang berlangsung hampir setiap hari sepulang kantor selama seminggu. Disitu kita menjadi dekat, berawal dari membahas bisnis, makanan, tempat nongkrong, sampai memutuskan pacaran.

Banyak hal yang aku pelajari dari Rendi tentang bisnis. Dia bisa menjadi role model yang ideal sebagai pebisnis. Tapi dari awal aku memang tidak pernah mau membuat sebuah bisnis bersamanya karena takutnya berantem dan bisnis jadi kebawa-bawa. Lagian pacaran itu tidak terikat secara hukum, sehingga bakalan aneh banget kedepannya kalau hal buruk terjadi (kita putus). Lain halnya apabila kita adalah suami istri sehingga semua kepentingan berbisnis bisa dibawa ke jalur hukum. Untuk persoalan duit memang harus dipikirin banget ke depannya 'gimana dan Rendi juga setuju dengan hal seperti ini.

Sampai aku mengenal Ardi. Awalnya aku hanya suka melihat Instagramnya saja. Karena dia suka travelling dan kebetulan aku juga suka. Suatu kali kami janjian mau ke Gunung Bromo bersama. Aku sempat mengajak Rendi, tapi jadwal dia jauh lebih padat daripada aku. Berhubung sudah lama nggak jalan-jalan, akhirnya aku ke Bromo bersama Ardi. Rendi nggak masalah kalau aku mau jalan-jalan karena kalau ikut Trip 'kan nggak akan sendiri dan aku tidak secara spesifik bercerita kalau aku akan pergi bersama Ardi.

Mungkin aku mulai jatuh hati pada Ardi sejak pertama kali bertemu dengannya. Orangnya ramah, traveller sejati, baik, bahkan mau menemaniku pulang dari Bromo ke Malang hanya karena mengejar jadwal RUPS. Kami mengobrol banyak hal di perjalanan pergi dan pulang dari Gunung Bromo, dan juga di resto hotel tempatku menginap. Pada saat itu aku senang sekali. Aku bahkan tidak mengangkat telepon dari Rendi. Ketika pulang ke Jakarta, aku jadi tidak bisa melupakan Ardi dan aku berpikir ada yang salah dari diriku. Masa' aku bisa menyukai dua orang sekaligus?

Rendi mengajak aku jalan-jalan ke Australia bersama teman-temannya. Tiket sudah kita beli bahkan dari sebelum aku mengenal Ardi. Rendi sangat antusias dengan liburan kali ini. Dia mempersiapkan itinerary sangat komplit sampai aku kaget juga melihatnya. Biasanya semua keperluan dia sudah ada yang mengurus, berbeda dengan kali ini dia ingin mengurus sendiri. Aku tetap menemani dia dan membantunya mempersiapkan jalan-jalan kali ini, walaupun aku chat dengan Ardi dan bilang kalau aku mau ke Australia bersama teman-temanku.

Sesampai di Australia, kami (aku, Rendi, dan 2 orang temanku) melakukan road trip. Memang dari awal mau menyusuri benua ini pakai mobil dan menginap di beberapa hotel. Kami terus menyetir, menikmati pemandangan dan berhenti untuk berfoto. Pada saat itu sedang musim dingin sehingga nggak usah membawa banyak baju. Aku sangat senang, sejenak bisa melupakan Ardi, atau sebenarnya karena nggak ada internet sehingga nggak bisa chat dengan Ardi. Kalau sudah malam dan kami mampir ke sebuah Motel, baru deh bisa konek internet. Aku memposting beberapa foto di Instagram, tapi nggak ada yang berdua saja dengan Rendi. Kalau bukan foto sendiri, ya foto berempat. Hal ini sebenarnya untuk menjaga privasiku sebagai pemilik perusahaan juga. Terkadang setelah mandi di malam hari, aku langsung masuk selimut dan sibuk dengan hp. Teman-temanku yang lain dan juga Rendi pun begitu, tapi mereka sama sekali nggak curiga kalau aku chat dengan Ardi. Pemandangan disini terlalu indah untuk diceritakan kepada Ardi.
Suatu hari kami mampir di sebuah toko souvenir. Aku memilih beberapa coklat (untuk Ardi) dan Rendi bertanya untuk siapa coklat itu? Aku menjawab kalo ini untuk teman-teman di kantor yang nggak ikut kesini dan Rendi nggak curiga sama sekali. Aku memang sering membeli banyak oleh-oleh, jadi Rendi sama sekali nggak pernah curiga. Tapi aku merasa ada yang salah. Aku tidak pernah begini. Aku cinta Rendi, tapi aku mulai jatuh cinta pada Ardi. Tidak, Ardi hanya datang sebentar dan nggak akan stay lama dibenakku.

Sepulang dari Australia, aku mengirim oleh-oleh kepada Ardi. Setelah itu kami janjian lagi mau ke gunung Semeru. Kali ini aku membawa body guard karena jujur aja aku tidak begitu sanggup mendaki gunung dan aku agak repot kalau harus camping. Secara aku kan bukan traveller sejati. Aku tetap basa-basi mengajak Rendi awalnya, sekalian memantau bisnis di Malang. Tapi untungnya Rendi nggak bisa ikut. Keluargaku juga agak panik ketika mendengar aku akan mendaki gunung Semeru sehingga adikku menyuruh tim SAR untuk berjaga takutnya aku pingsan di puncak gunung. Dan benar saja, aku pingsan karena kekurangan oksigen sampai dilarikan ke sebuah rumah sakit di Malang. Rendi tau aku sakit, tapi dia tidak bisa menjengukku karena sibuk, sedangkan Ardi ada terus disini. Aku jadi berpikir, suatu hari nanti ketika aku dan Rendi sama-sama sibuk, ntah siapa yang akan menjaga siapa nantinya.

Aku sangat bingung jadinya. Di satu sisi aku nggak bisa meninggalkan Rendi dan aku mulai mencintai Ardi. Tapi aku harus mengambil keputusan. Aku harus kembali kepada Rendi. Lagian, aku dan Ardi juga belum ada hubungan apa pun. Mungkin juga sebenarnya Ardi sudah punya pacar dan dia memang memperlakukan semua cewek dengan baik. Mungkin juga dia memang mau mendaki gunung dengan siapa pun asal dia punya teman. Aku mulai berpikir macam-macam yang membuat aku nggak mood berbisnis. Akhirnya aku mengambil keputusan. Aku berhenti meng-update social media agar tidak ada yang dilihat Ardi dan juga meng-unfollow dia di semua social media dan social messenger. Berat rasanya tapi mau bagaimana lagi. Yang paling berat adalah menghapus nomor handphonenya dan nge-block dia supaya nggak pernah bisa meneleponku lagi. Setelah melakukan semua hal itu, pikiranku super kacau dan aku pun memilih untuk tidur.

Sampai suatu ketika aku berpapasan dengan Ardi di bandara setelah sebulan tidak saling berkomunikasi. Saat itu, aku sedang bersama Rendi.

April 04, 2017

Happy Birthday To Me

Alhamdulillah bisa berulang tahun lagi. Sebenarnya ulang tahun itu adalah tanda bahwa umur berkurang setahun. Semoga bisa panjang umur, supaya bisa melakukan banyak hal. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya pasti akan menuliskan keinginan tahun ini dan mereview keinginan tahun lalu. Sebenarnya keinginan saya jarang terlalu muluk-muluk, tapi alhamdulillah dikabulkan keinginannya lebih dari yang saya mau.  Oke, tidak diperpanjang lagi, mari disimak!

Tahun lalu saya sempat berkeinginan ke New Zealand dan Umroh. Alhamdulillah terkabul dengan sangat memuaskan. Ke negara para Hobit bisa sekalian roadtrip sampai naik helikopter. Bermain salju di atas gunung dan mengabadikannya dalam video. Saya bahkan nggak pernah berpikir bakalan bisa sampai segitu liburannya. Mungkin memang rejeki datang dalam keadaan yang tidak disangka-sangka. Apalagi bisa umroh sampai lebih dari 2 minggu di Tanah Suci. Selama di Madinah dan Mekkah juga alhamdulillah aman, tentram, nggak nyasar, nggak ada orang yang gangguin, semuanya lancar. Malahan saya sampai bisa ke Kamboja dan Vietnam juga yang nggak direncanakan. Tidak hentinya mengucap syukur. 
Gaya dulu
Yang belum tercapai ada juga sih, menikah dan punya Cafe. Hmm, kalau menikah, mungkin cobaannya agak berat. Cuma saya nggak mau membahas disini. Satu lagi yang belum tercapai adalah punya Cafe. Insya Allah bisa tahun ini. 

Menurut saya, April 2016 sampai April 2017 ini adalah tahun paling gemilang buat saya. Saya nggak pernah membayangkan bisa membeli beberapa aset di dunia maya (dengan cara yang sederhana) dan di dunia nyata secara berbarengan, juga pergi ke 4 negara sekaligus. Walaupun demikian, tetap aja nggak punya duit cash, hahaha. Uang cash sih nggak ada dan masih kere sampai sekarang tapi santai aja deh. Toh karena saya yang suka santai dan serius, saya jadi awet muda. Wajah masih belum keriput sama sekali, energi malah lebih kuat dari beberapa tahun yang lalu, tubuh masih langsing, dan gaya hidup jadi semakin sehat. Saya memang dari dulu suka perawatan kulit, olah raga, makan sehat (bahkan yang dulu saya nggak suka sama sekali), suka tersenyum, berpikiran positif, lebih jarang marah, dan nggak gampang tersinggung. Mungkin yang masih susah adalah tidur cukup karena saya suka banyak pikiran yang harus diselesaikan dan kalau nggak selesai malah bisa terbawa mimpi, hahaha.
video
Baiklah, keinganan tahun ini masih nggak muluk-muluk:
1. Menikah
2. Ke Iceland tahun baruan (ada yang mau ikut?)
3. Asia Tenggara khatam

Semoga umur saya berkah, sehat, banyak rejeki, dan ilmu bisa bermanfaat. Amin-kan ya :)

April 01, 2017

From Online to Offline

Udah jarang posting blog deh. Bukan karena saya nggak mau, tapi beberapa postingan di tahan dulu. Ada juga beberapa cerita yang nggak boleh di posting. Huff, padahal pengen secepatnya di posting. Oh ya, beberapa bulan ini saya riset banyak tentang media sosial seperti Instagram, Path, dan Facebook. Sebenarnya saya mau memposting hasil riset saya, tapi nanti dulu deh. Postingan seperti itu akan memakan waktu seharian karena harus melampirkan banyak screenshot, penjelasan gambar, dan sebagainya. Berhubung pekerjaan saya sangat menumpuk, jadi saya nggak sempat menuliskannya. Insya Allah lain waktu. Yang pasti, saya menemukan Instagram sangat tidak secure, makanya saya sudah hampir tidak pernah posting Instagram Story atau foto di Instagram. Lebih tepatnya, hampir semua media sosial saya kurangi dan Instagram yang sangat jauuuh saya kurangi. Lagian, buat apa terlalu sibuk di dunia maya karena dunia nyata itu jauh lebih ribet.

Sesuai dari judul postingan saya, saya akan bercerita tentang berjualan secara offline. Mungkin kalian tau kalau perusahaan saya menghimpun dana dari banyak Marketplace dan memiliki beberapa e-commerce. Nah, suatu hari teman saya Mbak Ujha mengajak saya ikutan bazar kecil-kecilan di komplek rumahnya. Konteks kecil-kecilan awalnya saya agak gagal paham, sehingga saya hampir memindahkan seluruh inventory salah satu e-commerce ke lapak bazar. Untung masih diingatkan kalau ini "kecil-kecilan" dan nggak usah terlalu banyak bawa barang. Namanya juga bazar komplek, hahaha. Saya awalnya ragu mau ikut (turun langsung), tapi di satu sisi saya ingin men-challenge diri saya sendiri untuk beneran jualan. Jadilah saya meng-iyakan untuk ikutan berdagang bareng Mbak Ujha.
Dibeli, dibeli!
Berhubung saya suka lupa tanggal dan hari, Mbak Ujha bilang kalau bazarnya hari minggu. Ya udah, saya set up meeting di hari Rabu, Kamis, dan Jumat, mengingat masih ada hari Sabtu untuk beberes bazar dan memberikan label harga. Ternyata, bazarnya Sabtu dan hari Jumat saya meeting sampai malam. OMG! Sempat ragu mau ikutan bazar, tapi udah janji sama Mbak Ujha. Sempat mau batalin meeting tapi meetingnya super penting. Alhasil, jalanin aja deh semua. Sepulang meeting, saya mandi, makan, dan mengecek inventory di e-commerce sampai jam 1 malam. Besoknya bangun pagi jam 5, mandi, sarapan, dan langsung pergi ke komplek Mbak Ujha. Semalam memang beberapa barang dagangan saya udah dikirim ke rumah Mbak Ujha, jadi saya tinggal bawa sedikit lagi.

Hari bazar pun tiba. Saya datang ke rumah Mbak Ujha, membantunya beberes dagangan, menggelar taplak meja, dan menyusun barang dagangan di lapak kami. Jujur saja saya mulai awkward berada di balik meja dagangan. Saya nggak bisa se-santai orang di Pasar Tanah Abang sambil teriak, "Masok kak, masok kak!" Ternyata dalam berdagang offline, mengajak pembeli datang ke lapak itu penting banget. Saya cuma bisa diam aja sambil duduk menunggu pembeli. Kalau ada yang datang ke lapak, itu berarti mereka tertarik dengan barang saya, bukan karena ajakan saya, hahaha. Saya melihat Mbak Ujha jago banget menarik pembeli, mungkin karena dia kenal juga dengan orang-orang yang datang ke bazar. Kadang saya merasa senang karena ada yang tertarik beli dagangan saya. Tapi kemudian kecewa lagi karena mereka nggak jadi beli. Huff PeHaPe!
Salah satu barang dagangan
Yang bikin heboh lagi, karena barang dagangan saya kebanyakan agak mahal, ibu-ibu komplek jarang punya duit cash segitu dan mana ada mesin EDC disini. Biasanya kalau beli online kan tinggal transfer. Nggak semua pembeli bazar mau transfer duit langsung pakai mobile banking karena kadang hp aja nggak dibawa. Mau nyatet no. rekening saya juga nggak bawa pulpen. Saya sampai gemas mau menyuruh mereka transfer via Paypal karena kan gampang diinget kalau cuma alamat email doang. Eh, mereka malah keheranan lagi, "Apa? Paypal? Helloww!" Mbak Ujha sampai ketawa ngakak dengerin saya cerita tentang Paypal. 

Kalau udah mulai mati gaya dalam berjualan, saya keliling ke meja lapak yang lain untuk beli cemilan. Duh, banyak banget makanan enak. Saya malah jadi jajan juga di bazar. Kadang dapat harga lebih murah dari published rate (harga di lapak jualan) karena sesama pedagang, hihihihi.

Karena bazarnya di lapangan, saya juga harus rela berpanas-panasan. Memang ada tenda sih, tapi arah matahari hampir semuanya ke lapak saya. Biasanya kan enak di rumah cuma di depan laptop ngurusin orderan barang. Kalau ada yang beli, tinggal bungkus, dan kirim. Ah, perjuangan banget berjualan secara offline. Mana saya nggak begitu pintar menarik pembeli dengan menceritakan produk saya, walaupun saya tau banget tentang produk yang saya jual. Saya hanya menjawab sedikit-sedikit dan ternyata kalau menarik pembeli nggak boleh begitu. Duh, lelah hayati! Acara bazar cuma 3 jam, tapi capeknya luar biasa sih. Jadi tau kalau orang berjualan di Car Free Day (CFD) ternyata capek juga ya.

Selesai bazar, saya kecapekan dan selonjoran di rumah Mbak Ujha sambil makan Tek Wan, salah satu dagangannya. Ternyata kalau bazar pagi-pagi memang lebih bagus jualan makanan karena orang pada nyari sarapan. Dan ternyata lebih mudah berjualan di dunia maya daripada di dunia nyata. Untuk beriklan tinggal pakai media sosial yang punya fitur advertisement, untuk pembayaran bisa pakai payment gateway, dan nggak usah liat langsung wajah pembeli kalau memang nggak mau beli. Kalau secara online kan orang mampir langsung ke toko kita memang karena mau beli. Kalau pun nggak jadi beli, kita nggak usah lihat wajah mereka.
Tekwan ala Mbak Ujha
Meskipun barang dagangan nggak begitu laku dan tenaga habis terkuras, tapi ternyata seru juga. Justru ini pelajaran baru buat saya untuk tau bagaimana jual beli sebenarnya di dunia nyata. Buat kalian yang terbiasa menjual online, sebaiknya mencoba berjualan offline seperti saya karena tantangannya lebih berat. Nanti Ramadhan ada bazar lagi dan saya terpikir untuk ikutan lagi. Ok, sekian cerita dari saya. Sampai jumpa!

Maret 21, 2017

Mengurus Perpanjangan Passpor di Depok

Hi semua, sudah agak lama nggak posting blog. Sebenarnya saya agak menarik diri dari sosial media beberapa hari ini setelah melakukan beberapa riset tentang Facebook, Instagram, dan Path. Tapi saya tetap akan bersemangat untuk memposting blog. Baiklah, mari disimak.

Kebetulan passpor saya tahun ini sudah habis masa berlaku. Udah berapa kali mencoba membooking tiket pesawat yang meminta data passpor, selalu gagal. Kalau AirAsia dan Garuda Indonesia masih bisa booking tanpa data passpor asalkan langsung dari websitenya. Sempat mau mengurus passpor sewaktu saya sedang berada di Aceh, tapi seperti biasalah kalau udah di rumah ya males kemana-mana. Nggak kepikiran juga kerjaan saya bakalan hectic banget sampai-sampai nggak punya waktu untuk membuat passpor.

Akhirnya saya menyisihkan waktu untuk membuat passpor. Seperti biasa, saya akan googling dulu sebelum beneran datang ke kantor imigrasi untuk mengetahui syarat dokumen yang harus saya persiapkan. Saya sempat bertanya persyaratan dokumen sama Lia, teman saya yang sama-sama dari Aceh, dan dia bilang persyaratannya standar aja. Berikut persyaratannya:
  1. Passpor lama
  2. KTP yang masih berlaku
  3. KK
  4. Akte kelahiran/Ijazah/Surat Nikah
  5. Materai 6000 (di kantor imigrasi tersedia dengan harga Rp. 8000)
Awalnya saya mencoba mengurus perpanjangan passpor secara online, tapi ntah kenapa nggak pernah berhasil. Saya harus datang langsung ke Kantor Imigrasi Kelas II, Jalan Boulevard Raya, Komplek Perkantoran Pemda Depok, Grand Depok City (GDC), Kalimulya, Cilodong, Depok. Kebetulan rumah saya juga di GDC, dan dapat ditempuh hanya 5 menit pakai sepeda motor. Lia sempat bilang, "Kak, datang pagi ya kesana. Karena setiap hari cuma 200 passpor yang dilayani." Ok, menurut saya pagi itu jam 7 sampai jam 9. Saya bangun jam 6.30, langsung mandi dan naik motor ke kantor imigrasi. Saya tiba pukul 7.15, mengambil formulir di loket depan, dan berjalan menuju ruang tunggu. Saya terkejut melihat antrian udah super duper panjang. Belum lagi orang yang duduk di sebuah tempat seperti ampiteater udah penuh juga. Waduh, ini udah 200 belum ya?

Masih positive thinking, saya pura-pura santai mengikuti antrian seraya mengisi formulir. Tepat pukul 7.30, nomor antrian dibagikan. Saya berjalan mengikuti antrian sampai petugas bilang, "Mohon maaf, hari ini kuota 200 passpor sudah penuh. Silahkan datang lagi besok." Saya langsung manyun. Duh, besok harus balik lagi. Sekarang malah bingung mau ngapain, mana udah mandi jam 8 pagi itu rasanya aneh banget. Akhirnya saya beli sarapan dulu, ke bengkel servis motor, lalu pulang ke rumah. Sesampai di rumah, saya isi formulir, lalu mulai bekerja seperti biasa. Kebetulan baru beli modem Bolt dan ternyata nggak bisa dipakai. Jadilah pergi lagi ke Depok Town Square untuk aktivasi modem, lalu mampir ke Hypermart untuk beli roti sebagai bekal antrian besok. Duh, kebayang harus pagi banget kesana. Malesnya....! 

Besoknya, saya bangun jam 4.30 pagi, lalu langsung mandi. Jam 5.15, saya meluncur ke Kanim Depok. Gile,udah kayak mau ke bandara aja. Saya harus pakai jaket karena udara pagi di Depok dingin banget. Mana daerah perkantoran GDC masih gelap. Saya merasa hanya saya doang yang datang ke kantor imigrasi karena sepanjang jalan GDC sepi banget. Baru kaget ketika sampai dimana tempat duduk di ampiteater udah hampir penuh. Saya langsung duduk dan nggak bisa bersandar karena temboknya basah kena hujan. Saya menunggu antrian dari jam 5.30 sampai 7.30 (2 jam) tanpa bersandar dan membuat punggung saya pegal banget. Bekal sarapan udah habis, semua sosial media udah saya buka, udah ketiduran dan kebangun lagi, tetap aja belum mulai pembagian nomer antriannya. Baru setelah tepat pukul 7.30, petugas datang dan membagikan no. antrian kepada lansia terlebih dahulu. Duh, saya sempat takut juga nih nggak kebagian nomor karena hari itu banyak lansia yang datang.
No. antrian
Saya mendapatkan nomor antrian ke 116 untuk pengecekan dokumen. Waduhh, nunggu lagi dong! Baiklah, demi bisa ke luar negeri lagi, saya harus bersabar. Saya duduk di kursi ruang tunggu selama kurang lebih 2 jam lagi. Ya Allah, kenapa saya lupa bawa laptop. Kan bisa sekalian kerja. Setelah nomor pengecekan dokumen saya dipanggil, ternyata saya melakukan 2 kesalahan yaitu mengisi formulir dengan tinta biru (saya suka banget dengan tinta tebal berwarna biru dan hijau biar lebih kelihatan), dan nggak melampirkan fotokopi passpor. Baiklah, saya revisi lagi persyaratan dokumen:
  1. Passpor lama dan fotokopi halaman depan 1 lembar
  2. KTP yang masih berlaku dan fotokopi depan dan belakang kartu dalam 1 halaman (tidak bolak-balik) 1 lembar
  3. KK dan fotokopi 1 lembar
  4. Akte kelahiran/Ijazah/Surat Nikah dan fotokopi 1 lembar
  5. Mengisi formulir dengan tinta hitam dan huruf cetak
  6. Materai 6000 (di kantor imigrasi tersedia dengan harga Rp. 8000)
Setelah mendapatkan map kuning dan nomor antrian foto juga wawancara di nomor A80, lalu saya melihat monitor yang masih menunjukkan nomor A20an. Langsung sakit hati lagi. Masih lama banget giliran saya. Saya pergi dulu ke tempat fotocopi di kantor imigrasi yang antriannya juga mengular naga panjangnya. Hiks, antri lagi. Mungkin saya berdiri mengantri fotocopi selama 45 menit, mana ketemu ibu-ibu yang berjualan MLM lagi. Tapi lumayan sih, beliau ngomong terus menawarkan produk dan saya jadi mendengarkan, saking bosannya mengantri. Tips buat kalian yang jualan MLM, mendingan ngajak kerjasama sama orang yang lagi mengantri, karena mereka pasti mendengarkan presentasi kalian, hahaha.

Selesai mengantri fotocopi, saya masuk lagi ke ruangan pengecekan dokumen untuk duduk. Udah mati bosan nih. Mana internet di hp cuma dapat EDGE, jadi susah banget mau browsing. Cuma bisa celingak-celinguk lihat kiri kanan. Jam 12 kurang, nomor antrian sudah sampai pada A70 dan saya mulai sumringah karena 10 orang lagi adalah giliran saya. Ternyata, jam 12 waktunya istirahat makan siang dan saya bete lagi. Tau gini kan mending pulang aja dulu dari tadi, baru jam 1an datang. Tapi memang sulit diprediksi sih bakalan tiba giliran kita apa nggak.

Saya pulang ke rumah, makan siang, ambil modem, ambil laptop, dan balik lagi ke kantor imigrasi. Kali ini alat tempur saya udah banyak, jadi semoga nggak bosan. Modem WIFI juga berfungsi maksimal, jadi agak tenang. Hanya 15 menit menunggu, giliran saya tiba. Agak heran juga kok tiba-tiba bisa cepat? Mungkin para petugas baru selesai makan, jadinya semua bisa bekerja dengan cepat. Saya masuk ke sebuah ruangan, dan duduk di depan bapak-bapak. Beliau memberi tahu kalau passpor lama nanti dibalikin (kalau nggak dibalikin saya nangis saat itu juga) dan semua dokumen saya di scan. Setelah dari bapak itu, saya dipindahkan ke ibu-ibu untuk di foto dan diambil sidik jari. 

Saya ditanya mau kemana dan ngapain. Saya jawab aja mau ke Myanmar (sebenarnya saya udah beli beberapa tiket tapi ntah kenapa negara Myanmar yang saya jawab). Trus beliau agak heran, "Myanmar? Mau ngapain?" Saya jawab aja liburan. Trus saya bilang mau jalan-jalan ke Kuala Lumpur juga. Ibu itu mencocokkan KTP dan KK saya dan disitu ditemukan kejanggalan. KTP saya alamat Lhokseumawe, KK saya alamatnya di Bireuen, dan rumah saya di Depok. Ibu itu menatap saya tajam, dan saya cengengesan.
"Pe-eR kamu ada 2, kamu harus samain alamat KTP dan KK. Trus minta surat domisili dari RT, RT, dan Kelurahan." Gile, samain alamat berarti harus kirim semua dokumen ke Aceh dong?! OMG! Akhirnya saya gagal bikin passpor hari itu dan pulang lagi.

Saya telepon Mama untuk bertanya persyaratan dokumen bikin KTP baru gimana, lalu mengirimkan KTP dan KK hari itu juga ke Aceh. Untung kantor pos dekat rumah. Walaupun hari itu hujan deras, saya terobos demi mengirimkan dokumen. Pas banget sampai kantor pos jam 3.55 sore dan jam 4 dokumen saya di pick up, huff! 5 hari kemudian, dokumen saya sampai ke rumah di Aceh. Lama juga ya? Ada masalah lainnya. Ternyata blanko e-KTP sedang habis dan hanya diberikan kertas yang hampir sama persis dengang e-KTP. Duh, diterima nggak ya nanti? Ya udah deh, cobain dulu. Proses kirim-kiriman dokumen aja berlangsung 2 minggu. Belum lagi saya harus mengurus surat domisili ke RT dan RW.  
Surat pengganti e-KTP
Setelah dokumen lengkap, saya datang lagi ke imigrasi tapi agak siangan sekitar jam 9. Saya lapor ke petugas kalau saya hanya melengkapi dokumen dan alhamdulillah nggak usah mengantri lagi. Saya dihadapkan dengan ibu yang sama dan beliau masih ingat saya. Beliau mengecek data-data saya di komputer yang ternyata belum terhapus oleh sistem, lalu mengganti alamat rumah saya sesuai dengan KK dan KTP. Ternyata boleh pakai surat pengganti e-KTP itu. Saya jadi lumayan lega. Ibu itu membolak-balikkan dokumen saya, yang asli dan fotokopi disamakan, lalu ada permasalahan lagi. "Lho, mana surat keterangan dari kelurahan? Ini baru RT dan RW doang." Haduwww, pusing pala berbie! Awalnya saya sengaja nggak mau mengurus ke kelurahan karena saya mengira surat dari RT dan RW saja sudah cukup. Dan saya pulang lagi.

Saya tanya ke satpam komplek, persyaratan surat ke kelurahan. Saya harus melampirkan fotokopi KTP, fotokopi  blanko e-KTP, surat dari RT dan RW, pas foto 2x3, fotokopi KK saya dan fotokopi KK tetangga. Nah, ini yang agak membingungkan. Kenapa KK tetangga? Ya udahlah, walaupun masih misteri, saya nggak berusaha memecahkan misteri ini. Saya butuh passpor, dan saya terpaksa mengetuk rumah tetangga untuk pinjem KK. "Tante, nebeng jadi anaknya dulu ya! Sodara se-iman wee~~(dengan logat Sunda)," Dokumen komplit, saya kasih satpam dan minta tolong diurusin karena saya udah pusing banget. Saya tiduran aja di rumah. Sejam kemudian kartu domisili jadi dan ternyata sekarang bentuknya seperti KTP. Baru tau saya kalau ada beginian.
Kartu domisili
Besoknya, saya datang ke kantor imigrasi (lagi) dan menyerahkan fotokopi kartu domisili. Petugas yang duduk di sebelah ibu yang mewawancarai saya sampai hafal dan bertanya, "Kamu kenapa lagi?" Saya hanya tersenyum malu-malu, padahal udah capek. Dengan mengucapkan bismillah, saya berhadapan lagi sama si ibu itu. Kali ini beliau memeriksa ulang dokumen saya, bahkan halaman demi halaman passpor saya diliatin semua dan dibacain satu-persatu Visa dan stempel negara mana saja, sambil menatap mata saya. Kalau dipikir-pikir, seram juga dan lama juga saya harus duduk disitu. Tapi kali ini berhasil, saya bisa bikin passpor. Alhamdulillah. Setelah menerima kertas untuk transfer, saya keluar dengan hati senang dari imigrasi. Saya langsung ke bank BNI untuk setor uang dan semua berakhir lancar.

Hari ini saya ke imigrasi lagi untuk mengambil passpor baru dan passpor lama. Akhirnya bisa ke luar negeri lagi, yeay! Oh ya, saya beberapa kali membaca artikel kalau sekarang memperpanjang passpor atau membuat passpor baru malah dipersulit. Hmm, kalau dari pengalaman yang saya tulis diatas sih, sepertinya memang salah saya karena semua alamat di KK, KTP, dan tempat tinggal beda semua. 5 tahun yang lalu, saya membuat passpor di Lhokseumawe dengan KK dan KTP sama dan memang langsung diterima. 
Passpor lama dan baru
Semoga tulisan ini bermanfaat buat kalian yang ingin mengurus perpanjangan passpor ya. Saya hanya tau di daerah Depok saja, daerah lain kurang tau. Sampai jumpa!

Maret 07, 2017

Pedagang Bakso

Sudah lama nggak memposting sebuah cerita. Kali ini saya akan menceritakan hal yang menurut saya sederhana tapi memusingkan juga, hahaha. Macam mana pulak itu ya? Tentunya ditambahkan bumbu penyedap supaya ceritanya jadi semakin seru. Oke deh, nggak perlu memperpanjang basa-basi lagi. Cekidot!
***

Sudah pukul 21.00 malam itu. Aku masih berkutat dengan laptop dan merasa sangat pusing. Baru teringat kalau aku belum makan malam. Makan siang aja tadi telat. Sudah hampir tidak ada lagi orang di kantor dan aku terpaksa turun sendiri untuk membeli makan. Semula aku hanya ingin beli makanan apa saja, lalu balik kerja lagi. Tapi ketika aku mulai berdiri dan pandanganku mulai hitam, wah nggak bener nih. Aku harus segera istirahat.
Aku menutup laptop, membereskan tas, dan turun dari lantai paling atas gedung menuju lobi. Aku mendengar teman-teman bilang kalau tukang bakso yang berjualan di depan kantor itu enak banget. Sebenarnya aku nggak suka bakso, tapi ya sudahlah mau makan apa lagi jam segini. Aku menghampiri pedagang bakso, duduk di kursi, lalu memesan bakso.
"Masih ada pak?"
"Tinggal baksonya doang neng. Nggak apa-apa?"
Aku mengangguk.
Bapak pedagang bakso tiba-tiba menepuk keningnya. "Duh neng, sisa 2 bakso kecil doang. Maaf neng."
Duh berhubung perutku sudah sangat lapar, ya udah deh pasrah. "Nggak apa-apa deh, Pak!"

Bakso dihidangkan. Aku melihat bapak pedangang bakso mulai beres-beres karena sudah malam dan baksonya laris manis. Aku mau nggak mau jadi buru-buru makan bakso karena takut bapaknya jadi nungguin.
"Nggak apa-apa neng. Nggak usah buru-buru. Bapak cuma beres-beres aja biar enak dipandang mata." Bapak mengambil kursi dan duduk didekatku. "Baru pulang?"
Aku mengangguk, seraya menghabiskan bakso yang cuma 2 biji. Aku mengambil dompet, lalu baru sadar kalau aku nggak punya uang sama sekali. Aku celingak-celinguk mencari ATM terdekat. Kalau masuk ke gedung kantor lagi, jauh banget harus turun eskalator lagi, belok kiri kanan lagi, argghh!
"Pak, maaf saya ternyata nggak punya uang. Bapak mau nungguin kalau saya ke ATM sebentar?"
"Nggak usah. Gratis aja." kata bapak tersenyum.
"Eh? Serius?"
Bapak mengangguk. "Alhamdulillah dagangan saya laris-manis terus selama berjualan disini. Apa salahnya memberikan 2 biji bakso pada bos gedung ini."
"Kok bapak tau?"
"Semua orang tau neng. Kita cuma belum pernah mengobrol langsung."

Aku menghela napas panjang. "Bapak tau, sebulan ini perusahaan krisis. Saya sudah memecat banyak karyawan, dan membayar banyak hutang perusahaan bahkan dengan uang saya sendiri." Sambil menatap kosong ke mangkuk bakso. "Liburan batal padahal udah beli tiket, merayakan pesta ulang tahun batal juga, pokoknya saya lumayan terpuruk deh beberapa bulan ini."
"Kenapa neng?"
"Ceritanya panjang sih. Saya nggak mungkin cerita juga karena beberapa kan rahasia perusahaan.  Yang pasti saya sedang dilanda rasa takut yang amat besar. Mungkin nanti saya nggak punya uang juga untuk membayar semangkuk bakso ini." 
"Neng tau nggak, kalau Allah selalu akan mencukupkan rejeki. Suatu hari kalau pun neng nggak punya uang, Allah juga akan tetap mencukupkan rejeki untuk membeli semangkuk bakso bapak, hehehe."
Aku tersenyum. "Hutang saya setinggi gedung itu, Pak." kataku sambil menunjuk gedung tempat aku bekerja.

Pedagang bakso ikut-ikutan melihat ke arah gedung dan berkata, "Gedung ini satu-satunya yang tidak menarik sewa sama sekali untuk kami pedagang kecil. Bahkan kami disediakan tempat sendiri untuk berjualan. Makanya banyak sekali orang datang untuk makan siang atau makan malam disini karena kami para pedagang masih bisa memberikan harga murah. Gedung lain mana pernah begitu. Semua sudah komersil. Semua pedagang disini selalu senang berjualan dan selalu mendoakan pemilik gedung dan manajemen gedung agar selalu mendapat ridha Allah dan rejekinya banyak terus. Jadi neng tenang aja, yang doain neng banyak."

Aku terdiam. "Tapi yang saya pecat banyak juga, Pak. Pasti saya didoakan yang buruk-buruk."
"Saya juga tau kalau banyak PHK di gedung ini, tapi mau bagaimana lagi karena krisis dan semua juga tau itu. Nanti juga kalau nggak krisis lagi, pada direkrut lagi 'kan orang-orangnya."
"Kebanyakan dari mereka yang di PHK karena nggak loyal sih ke perusahaan. Maunya duit saja tapi nggak mau mencapai sales tinggi. Dan hari ini puncak saya pusing tujuh keliling. Seminggu ini saya marah-marah dan ujung-ujungnya malah nangis sendiri di rumah."

"Nggak apa-apa neng, kamu masih muda. Pusing 'kan biasa. Nanti juga sembuh. Kalau bapak yang dihadapkan dengan situasi seperti ini, pasti bapak langsung stroke. Hahaha."

Aku terdiam sejenak lalu mengatakan, "Berikan waktu saya satu tahun lagi untuk mempertahankan gedung ini agar nggak berpindah tangan ya. Doakan saya juga, Pak!"

***

Jam 9 malam, seperti biasa aku sudah mulai beres-beres daganganku dan bersiap untuk pulang. Aku melihat majalah Business Week yang ada di dekat gerobak daganganku yang mungkin ditinggalkan karyawan kantor yang makan bakso tanpa sengaja. Orang di sampul majalahnya sepertinya aku kenal. Aku duduk sebentar sambil membaca isi majalah dan membuatku senyum-senyum bangga.

Tiba-tiba terdengar suara, "Mau beli bakso, Pak. 2 biji aja ya."
Aku terbelalak melihat wanita yang ada di sampul depan majalah yang aku baca, lalu tersenyum lebar. 
"Belum satu tahun, neng!"
"Alhamdulillah." Ucapnya dengan riang gembira. "Terima kasih atas seluruh doanya ya."

Aku memang tidak mengerti bisnis anak muda sekarang. Beberapa bulan yang lalu dia bisa terlihat seperti mayat hidup dengan wajah stres dan kurus, sekarang begitu segar, cantik, dan bersemangat. Mungkin ini kekuatan doa. Aku mengajak para pedagang disini untuk terus mendoakan dia siang dan malam dan perusahaannya agar bisa keluar dari krisis.
Aku memberikan majalah yang aku baca kepadanya, lalu membuatkan bakso dengan perasaan riang gembira juga.

Business Week, CEO Under 30.

Februari 26, 2017

Rancupid Travel

Salah satu kesenangan dalam berbisnis adalah ketika kalian bisa membuat hobi menjadi uang. Salah satu hobi saya adalah jalan-jalan. Sejak kuliah, saya memang sudah suka berpetualang kemana pun. Memang sih karena saya cewek, masih ada perasaan agak takut kalau mau jalan-jalan sendirian. Jadi saya selalu mengajak teman minimal satu orang untuk pergi bareng. Lagian, jalan-jalan rame-rame kan lebih seru daripada cuma sendirian. Paling enak juga kalau teman-teman dari Teknik Geologi atau Teknik Geodesi ITB yang ngajak jalan. Karena mereka udah tau medan(daerah)-nya, sehingga saya bisa merasa lebih aman jalan bareng mereka. 
Kalian tau, 90% Jawa Barat sudah saya datangi selama kuliah. Yang belum malah Pantai Pangandaran yang paling populer, ehhh saya nggak kesana. Udah berapa kali rencana mau kesana, tapi mau 'gimana lagi kalau weekend kesana macetnya parah banget. Kawasan Jawa Tengah juga udah 95% saya datangi. Sisanya tinggal Jawa Timur nih. Berhubung punya beberapa usaha di Jawa Timur, saya bakalan sering banget kesana. Tahun lalu aja jumlah kunjungan saya ke Jawa Timur sudah sama dengan jumlah saya ke Bandung. Tahun ini juga tampaknya bakalan sering ke Jawa Timur lagi, khususnya Malang, karena kota yang satu ini paling disorot sama pebisnis di Jakarta. Bahkan teman saya pebinis di Bandung mulai menyoroti Malang juga. Nggak apa-apa deh, kita serbu Malang rame-rame. Yuk deh kita bikin macet kota Malang bareng-bareng, jangan Bandung dan Surabaya aja, hahaha.

Ide membuat Rancupid Travel ketika saya pengen banget bikin Travelling Marketplace yang sama sekali belum ada di Indonesia. Berhubung membeli Marketplace sudah seharga rumah, jadi saya beli e-Commerce saja yang masih lebih murah tapi fiturnya agak terbatas. Saya pengen banget semua orang yang mau booking Open Trip murah versi backpacker bisa langsung melalui website. Karena sampai sekarang kalau mau booking trip, pasti kita harus transfer ke rekening pribadi agen-nya, lalu konfirmasi melalui Whatsapp yang sebenarnya kurang praktis. Belum lagi terkadang nggak ada jaminan uang kembali kalau trip dibatalkan. Hal yang membuat males juga adalah Trip yang ditawarkan murah bangettt, tapi kita tidur aja di lantai atau sekamar berlima sampai berenam, padahal satu kamar seharusnya hanya cukup untuk 2 orang (pengalaman pribadi). Pernah juga kamarnya udah bagus, tapi kamar mandinya beratapkan langit, padahal sedang hujan. Ya udah deh, sekalian aja mandi air hujan, hahaha.
Rancupid Travel berusaha menghindari hal-hal seperti itu. Makanya kita bekerja sama dengan agen terbaik, dengan harga paling pas (tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal), transaksi ke rekening perusahaan PT Rancupid Citra Indonesia, pembayaran dapat dikonfirmasi otomatis melalui website, lalu peserta akan mendapatkan email konfirmasi, dan sebulan sekali Insya Allah saya akan ikut dalam trip. Kalian bisa melihat paket trip "Travelling with the Crew" dimana tim Rancupid akan ikut bersama berekplorasi daerah baru. Nanti nama kru yang ikut akan dicantumkan bersamaan dengan jadwal perjalanan. Insya Allah Maret saya ikut ke Pahawang, dan April ke Myanmar. Semoga tidak ada aral melintang, hahaha. Yang pasti, saya bakalan ikut hanya di paket trip yang destinasinya belum pernah saya datangi sebelumnya.

Sebenarnya Rancupid Mall lebih dulu dibuat daripada Rancupid Travel. Tapi kendala pajak GST yang terus-menerus menjadi bug di website membuat kita harus terus menunda peluncuran websitenya ke publik. Memang Rancupid Mall sudah bisa diakses tapi belum ready untuk melakukan transaksi. Kami sedang berusaha keras untuk menyelesaikan permasalahan teknis untuk website Rancupid Mall, sehingga nanti dalam peluncurannya bisa mendekati sempurna dan tidak ada masalah lagi.
Baiklah, semoga Rancupid Travel bisa memudahkan kalian menemukan paket perjalanan yang bagus, murah, dan nyaman. Let's Explore Indonesia dan The World With Us!

Februari 21, 2017

Menjadi Pengusaha

Postingan kali ini adalah yang paling banyak di request oleh teman-teman saya. Saya juga sempat bingung kalau ditanya alasan tidak pernah menuliskan pengalaman saya selama menjadi pengusaha di blog. Kalau mau kasih alasan 'nggak sempat', eh nulis tentang jalan-jalan sempat-sempat aja, hahaha. Biasanya saya lebih suka ketemu langsung dengan orang-orang yang ingin berbagi ilmu dengan saya, sehingga saya bisa menyerap ilmu juga dari mereka. Tapi semakin terbatasnya waktu dan tempat, sedangkan permintaan bertemu dan mengobrol tentang bisnis semakin banyak, saya memutuskan untuk ditulis saja di dalam blog. Saya akan bercerita dengan gaya yang santai karena saya bukan sedang menuliskan artikel di majalah Business Insider. Mari disimak!

Memulai Karir
Saya sudah kerja kantoran sejak 4 Januari 2010. Kebetulan dulu lulus kuliah agak cepetan sedikit, lalu pulang ke Aceh beberapa bulan sebelum fokus mencari kerja. Dulu saya sangat antusias melihat Papa membuka toko alat tulis dan kantor. Rasanya saya mau jadi penjaga toko aja dan nggak mau cari kerja lagi. Waktu itu saya yakin kalau toko itu saya yang kelola, pasti bakalan laku. Tapi jaman itu pekerjaan menjaga toko nggak keren sama sekali di mata masyarakat. Akhirnya saya kembali ke Bandung (tempat saya kuliah), lalu mencari kerja ke Jakarta. Kalau ada panggilan interview ya naik kereta api dari stasiun Bandung menuju Gambir biar murah.

Jadi karyawan kantoran nggak enak sebenarnya, tapi tetap dijalani dengan ikhlas. Gaji pas-pasan banget, bayar kosan mahal, makan siang beli sendiri, sampai saya bingung kenapa orang-orang suka ngantor? Belum lagi sering banget lembur sampai jam 12 malam. Saya juga masih bingung kenapa dulu itu pemikiran orang-orang kayaknya kalau lembur itu keren banget, yang berarti saya sedang sibuk bekerja. Teman-teman kosan yang berprofesi sebagai auditor malah lebih parah lagi lemburnya. Mereka bisa 2 hari nggak pulang. Auditor masih mending karena mereka mendapatkan uang lembur, saya malah nggak. Untuk menambah uang jajan, saya berjualan buku yang saya tulis sendiri secara online ke teman-teman. Alhamdulillah bukunya laku. Bahkan bisa masuk Gramedia dan ada beberapa orang yang mereviewnya di Goodreads. Walaupun nggak sampai best seller, tapi cukup bisa menambah uang jajan saya dan mengirimkan uang ke adik-adik. Oh ya, untuk pertama kalinya di novel saya mencantumkan logo Rancupid, tapi belum se-keren sekarang ini logonya.

Menjadi penduduk Jakarta juga banyak godaannya. Belanja, nonton bioskop, makan di resto, semuanya saya suka tapi saya nggak bisa sering-sering melakukannya. Ya mungkin karena keterbatasan uang saku. Cuma bisa banyak berdoa supaya Allah ngasih rejeki tiba-tiba. Alhamdulillah doa saya sering dikabulkan Allah. Gara-gara ngeblog, saya sering diundang makan ke Resto mahal seperti Nanny's Pavillon untuk mereview makanan mereka, diundang Blackberry untuk gala dinner di hotel-hotel mahal (padahal dulu saya nggak pakai BB), dan dapat tiket VVIP menonton konser. Makanya saya sayang banget dengan blog ini. Belum lagi iklan di blog yang semakin hari semakin banyak, tapi juga membuat blog saya berantakan dan mengharuskan saya untuk menghentikan semua iklan sampai sekarang.

Nyaris 3 tahun bekerja di perusahaan pertama, saya pindah ke perusahaan kedua. Kalau kalian berpikir tentang pencapaian karir, seperti mungkin dalam 5 tahun bisa jadi manager atau senior manager. Pencapaian karir dalam sudut pandang saya adalah berhasil kerja di perusahaan IT yang termasuk dalam Big Four (4 perusahaan terbaik) di bidang IT. Sebenarnya saya nggak pintar-pintar amat, tapi mungkin saya banyak berdoa apalagi bulan Ramadhan, sehingga sering dapat rejeki yang tak disangka-sangka dari Allah termasuk diterima kerja di Big Four. Gaji naik 2 kali lipat dan membuat kondisi keuangan saya jauh membaik. Saya juga mulai berjualan kosmetik Korea karena tahun 2012 semua orang suka banget sama Korea, artis Korea, Makeup Korea, Drama Korea, alat masak pun Korea. 

Dagangan saya juga laris manis dan saya membuat Fan Pages di Facebook dengan nama Rancupid yang menerima PO Makeup Korea. Kalau ada yang PO, baru saya beli ke suplier di Korea sehingga saya nggak nyetok barang. Tipe saya berjualan ini adalah dropshipping (menjual barang orang lain). Karena berurusan dengan impor barang, saya mencoba berbagai cara mulai dari kirim barang secara manual pakai Korea Post yang membuat ongkos kirim dan biaya bea cukai dari Korea ke Indonesia mahal banget. Saya browsing internet siang dan malam sampai mendapat informasi bisa nebeng ke perusahaan kargo yang mengirimkan barang ke Batam (Batam adalah kota bebas bea dan cukai), lalu dari Batam ke Jakarta pakai JNE biasa. Alhasil, saya bisa tetap berjualan makeup dengan harga murah.

Banyak yang bertanya, kenapa namanya Rancupid? Sebenarnya Cupid itu nama Genk sewaktu SMP dan nama saya di Cupid itu Ran, singkatan dari KhaiRANi. Dulu saya juga suka dengan tokoh Ran, pacarnya Shinici Kudo di Detective Conan, hihihi. Agak aneh sih nama Rancupid, tapi sekarang saya sudah biasa mendengarnya.

Hidup saya seakan adem-adem saja sampai Papa mulai sakit. Rasanya uang untuk obat dan Rumah Sakit terus keluar tiada henti. Disitu saya mulai merasa butuh sangat banyak uang. Belum lagi saya terlalu sering minta ijin sama bos untuk nggak masuk kantor atau pulang cepat demi menjaga Papa sampai saya merasa nggak enak. Untung bos saya baik bangetttt (I love you bos). Alhamdulillah Allah tetap mencukupkan rejeki, tapi ada pertanyaan dalam hati, seandainya punya uang lebih banyak lagi, mungkin bisa begini, mungkin bisa begitu. Sampai Papa meninggal dan saya merasa kurang maksimal membantu Papa. Ada rasa penyesalan di hati sampai sekarang. Seandainya dulu punya banyak uang, mungkin bisa mengajak Papa kesini, kesana, ke mana pun, karena Papa suka jalan-jalan.

Setelah Papa meninggal dan saya masih down berbulan-bulan, sebuah e-Commerce mengajak saya bekerja sama untuk berjualan makeup Korea di situs mereka. Saya merasa hal ini adalah pencapaian pertama dalam dunia Digital Marketing. Saya terima ajakan tersebut, saya datang ke kantor mereka, dan melihat betapa kerennya interior ruang meeting milik perusahaan e-Commerce ini. Semua kursi, meja, dan dinding berwarna-warni. Terbersit dalam hati kalau saya ingin punya perusahaan seperti ini suatu hari. Karena bekerja sama dengan e-Commerce, penjualan saya terus meningkat tajam. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyicil membeli rumah.

Kalian tau? Membeli rumah membuat tabungan saya jadi 0, belum lagi utang kepada Mama menumpuk bagai gunung dan untungnya tanpa bunga. Hal ini nggak bisa dibiarkan. Akhirnya adik saya mengajak berbisnis berjualan di Marketplace internasional karena bayarannya pakai dollar. Berhubung saya butuh duit, ya sudah saya ikutan aja. 3 bulan pertama saya sama sekali nggak menghasilkan penjualan yang berarti. Sampai akhirnya dengan kesabaran dan konsistensi yang saya lakukan, mendaftarkan barang siang malam, tidur jam 12 malam, bangun Shubuh dan nggak tidur lagi, mulailah saya memiliki customer. Hari demi hari customer semakin banyak dan saya alhamdulillah mulai bisa menarik napas lega dengan kondisi keuangan yang semakin membaik.

Mulai merasa diatas awan, saya diundang ke sebuah gala dinner yang pesertanya adalah para CEO Digital Entrepeneur. Semula saya nggak enak mau datang karena nggak ada orang yang saya kenal. Tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk datang. Disana mata saya terbuka, kalau banyak sekali diluar sana orang-orang yang super kaya. Penghasilan mereka perbulan puluhan ribu dollar bahkan ratusan ribu dollar dan mereka mau berbagi ilmu. Berbeda dengan saya yang baru dapat beberapa ratus dollar saja udah merasa diatas awan. Sejak itu saya merasa diperingatkan oleh Allah kalau diatas langit masih ada langit dan nggak boleh sombong.

Setelah gala dinner, saya pulang dengan kepala kepenuhan ide. Saat itu ada Mama dirumah dan saya bercerita banyak hal tentang impian yang saya ingin wujudkan. Selalu minta doa dari Mama agar penjualan saya naik terus sampai akhirnya pernah mencetak rekor. Gaji saya di kantor masih jalan, ditambah lagi uang dari Marketplace lokal dan internasional. Karyawan saya dulu cuma dua orang dan saya membayar mereka sesuai pekerjaan yang mereka lakukan. Kalau rajin ya gajinya gede, kalau malas ya sedikit.

Resign, Fokus, dan Passion
Dengan penjualan terus meningkat, saya memutuskan untuk resign. Awalnya saya merasa bisa tetap ngantor karena senang berkumpul bersama teman-teman, tapi ternyata membuat saya hanya bisa ke luar kota di kala weekend. Belum lagi saya nggak enak kalau harus cuti melulu. Tanggal 1 September 2016 saya menjadi full time entrepreneur dan saya langsung terbang ke Malang untuk membuka peluang bisnis lagi. Bisnis di Malang sudah dimulai, saya terbang ke Makassar untuk mencari peluang bisnis lainnya dan pulang lagi ke Jakarta dengan tangan hampa. Nggak ada bisnis yang bisa saya lakukan di Makassar kecuali membranding kopi. Saya nggak suka kopi, hiks.

Semakin kalian punya banyak uang, kesempatan berbisnis terus datang yang mengharuskan kalian berinvestasi dalam jumlah uang yang sangat besar juga. Saya membeli 2 e-Commerce, dan 1 company website yang membuat duit saya habis lagi. Belum lagi harus bayar paket umroh. Bagaimana dengan waktu luang? Kata siapa menjadi entrepreneur membuat kalian banyak waktu? Justru kalian harus bekerja bisa jadi 20 jam sehari untuk mempertahankan bisnis yang telah kalian bangun tetap berjalan. Disini passion kalian diuji. Kalau kalian passion di bisnis, kalian pasti rela tidur telat dan mencurahkan segala pikiran dan waktu ke bisnis. Kalau kalian melihat saya sering jalan-jalan, itu hanya sebagai hadiah ke diri saya sendiri tentang pencapaian yang saya lakukan dan untuk menenangkan otak yang terlalu sering panas. Belum lagi beberapa bisnis yang tiba-tiba jatuh sehingga saya kehilangan income begitu besar dan mengharuskan saya memutar otak mencari jalan keluar untuk tetap menggaji karyawan dan bertahan hidup. Untungnya saya nggak mengubah gaya hidup, sehingga tetap bisa hidup dengan duit pas-pasan.

Teman dan Relasi Bisnis
Hal ini yang paling penting. Tahun lalu, ntah berapa puluh acara sudah saya ikuti untuk mencari teman dan relasi bisnis. Saya mencoba berteman sama siapa pun, segala umur, kalangan mana pun, dimana pun, dan kapan pun. Sebagai contoh, sewaktu saya ingin belajar tentang Batik, saya datang ke Pekalongan, Cirebon, Surabaya, dan Madura hanya untuk belajar kepada orang yang ahli. Sewaktu saya ingin mempelajari motif songket Aceh, saya minta dikenalkan ke pakar motif, lalu kita mengobrol dan bertukar pikiran. Ketika saya ingin belajar tentang kopi, saya pergi ke Gayo, Makassar, dan Vietnam. Ketika ingin belajar tentang Cafe, ternyata suaminya teman saya adalah konsultan Cafe.

Kalian nggak usah takut, 90% pebisnis mau berbagi ilmunya pada kita. Seorang Barista saja bahkan menyarankan Barista lain untuk menggunakan resep kopinya agar Cafe mereka sama-sama laku. Kalau kalian tipe orang yang nggak enakan bertemu orang baru, bisa memulai relasi dengan teman lama seperti teman masa kecil, teman sekolah, dan lainnya. Berbisnis juga bisa menjadi tali penghubung silaturahmi sehingga menambah rejeki. Setiap saya keluar kota, saya pasti akan mengunjungi teman lama. Sebenarnya yang agak belagu justru orang-orang biasa. Pernah saya janjian dengan seseorang untuk membicarakan bisnis, semua jadwal sudah saya sesuaikan dengan jadwalnya karena saya juga butuh dia, eh tiba-tiba dia malah membatalkan secara sepihak. Pernah juga ada yang minta diajarin berbisnis melalui Whatsapp, tapi kalau ke Jakarta, nggak pernah mau menemui saya secara langsung untuk sekedar minum teh di Cafe. Mengajarkan bisnis melalui Whatsapp kan capek ya ngetiknya. Ada juga yang pernah saya ajakin ketemuan, eh malah saya dikira naksir, hahaha.

Social Media dan Messenger
Saya memang punya hampir semua akun Social Media dan Social Messenger. Saya punya Facebook, Instagram, Google Plus, Pinterest, Blog, Path, dan LinkendIn. Hampir setiap saat saya buka Social Media dan membalas komentar atau message dari setiap orang di semua platform. Jujur aja saya nggak terlalu peduli dengan total followers di Instagram cuma 500an, teman di Path cuma 70, teman Facebook cuma 1400an dan banyak yang saya unfollow apalagi yang suka menebar berita hoax. Saya nggak suka membaca hal yang membangkitkan aura negatif, makanya lebih baik di unfollow saja. Social media bisa jadi tempat mencari relasi bisnis, maka dari itu jangan diabaikan pesan dari orang-orang yang kalian kenal melalui media sosial. Media sosial juga yang membuat saya bisa mendapatkan tiket ke luar negeri super murah, suplier ekspor impor, dan orang-orang hebat lainnya. Media sosial pun sumber inspirasi saya ketika mau membuka Cafe di Banda Aceh. Hampir setiap hari saya dan keluarga membuka Pinterest untuk mencari ide Cafe dari seluruh dunia. Memiliki semua akun social media bukan karena alay juga, asalkan bisa digunakan secara baik, justru sangat bermanfaat.

Bagaimana dengan Social Messenger? Saya memiliki Whatsapp dan Line. Dulu saya pakai BBM (Blackberry Messenger), tapi sudah nggak lagi. Saya dan semua teman-teman di Rancupid adalah orang-orang yang super fast respond di social messenger. Kami hampir nggak pernah men-skip chat kecuali lagi sakit atau sedang tidak ada sinyal. Kami juga rela ngetik panjang-panjang di chat room agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Beberapa pebisnis bilang kalau mereka sangat malas bekerja sama dengan orang yang slow respond. Bisnis mengharuskan kita untuk sangat responsif kecuali kalian mau kehilangan kesempatan bekerja sama dengan calon investor.

Agak bingung dengan orang-orang yang kadang suka males menggunakan media sosial. Bahkan di dunia Digital Entrepeneur, media sosial adalah hal terpenting untuk beriklan. Saya sampai ikutan workshop bersama Facebook, Instagram, dan Line yang berbayar hanya untuk mempelajari fitur-fitur mereka yang tidak bisa di dapatkan ketika kita memakai media sosial untuk update status yang nggak penting. Mungkin pengetahuan kita tentang Facebook dan Instagram hanya sebatas update status atau foto, dan Line untuk chatting. Platform-platform ini bisa melakukan lebih dari itu untuk menghasilkan uang.

Membangun PT
Awalnya saya agak aneh disebut sebagai CEO (Chief Executive Officer), karena bagi saya CEO adalah Direktur Utama sebuah PT. Sebenarnya untuk menjadi seorang CEO, kalian tidak harus memiliki PT. Di dunia Digital Entrepreneur, pengelola sebuah bisnis pasti dinamakan CEO dan pemilik bisnis dinamakan Founder. Tapi ketika saya bertemu dengan beberapa investor, hal yang paling pertama ditanya adalah perusahaan berbadan hukum. Memiliki sebuah perusahaan berbadan hukum adalah cita-cita saya, tapi persyaratannya ribet dan setoran modal awalnya besar. Seolah-olah menjadi CEO secara resmi adalah impian belaka.

Alhamdulillah ternyata ada kebijakan baru untuk pendirian sebuah PT. Kalian bisa menyetor modal 25% dari total minimum modal perusahaan, sehingga kita nggak akan mendadak miskin setelah menyetor modal. Belum lagi perijinan usaha sebuah PT sekarang sudah lebih sederhana dan satu pintu. Hanya dalam 1 minggu, saya bisa mendirikan PT Rancupid Citra Indonesia dan saya secara resmi menjadi CEO. Sekarang perusahaan saya juga memiliki jajaran direksi resmi, email perusahaan, rekening perusahaan, dan pastinya NPWP.

Mau Melakukan Apa Saja
Merintis perusahaan baru bukan berarti kalian nggak ngapa-ngapain karena udah ada karyawan. Justru masih banyak hal yang saya tangani 100% sendiri. Saya memang memiliki teman-teman dekat yang pintar banget di bidang masing-masing dan mereka memiliki posisi Direktur di perusahaan saya. Kata siapa CEO adalah orang paling pintar di perusahaan? Justru CEO itu pintarnya sedikit-sedikit. Di bidang keuangan sedikit, di bidang Marketing dan Operasional sedikit, dan di bidang Human Capital sedikit. Mungkin untuk bidang IT, masih saya tangani 100% dibantu oleh beberapa teman yang sebenarnya tidak begitu mahir juga dalam bidang IT. Walaupun saya lulusan IT, tapi kalau bekerja di bidang digital dan hal yang terlalu teknis masih membuat saya pusing. Insya Allah bulan depan sudah ada Chief Technology Officer (CTO) yang bisa bergabung.

Untuk efisiensi, tidak jarang kami semua ikut turun dalam semua projek. CFO (Chief Financial Officer) juga pernah mengerjakan website, CMO (Chief Marketing Officer) mengerjakan desain kemasan keripik, dan CHRO (Chief Human Resource Officer) mengerjakan peraturan Legal. Kalau kalian ingin menjadi pengusaha, coba tanya pada diri sendiri apakah sanggup pada awalnya harus mengerjakan semua hal sendiri?

Terkadang Harus Cuek
Selama menjadi pengusaha, banyak juga kata-kata orang yang membuat panas di telinga. Contohnya, kadang banyak yang nyeletuk, 
"CEO masih naik kereta?" Duh, Jakarta macetnya setengah mati dan kalau naik mobil, ntah jam berapa sampai tujuan. 
"CEO nggak pakai Macbook?" Pengen sih, cuma saya masih sayang dengan laptop-laptop yang ada di rumah. Kalau mau gaya-gaya doang pakai Macbook, rasanya sayang banget. 
"CEO kok naik ojek?" Cuma bisa geleng-geleng kepala.
"CEO kok nggak pakai luxury branded items?" Duh, harga satu tas branded aja sama seperti satu e-Commerce, dan saya belum sekaya itu.

Dan banyak hal yang menurut saya kurang penting untuk dipertanyakan. Orang yang bertanya hal penting seperti perkembangan bisnis, ide bisnis, jarang mengurusi hal-hal seperti itu. Memang sih kalau mereka ikutan meeting, by default udah pakai luxury branded items tapi jarang nanyain kita pakai baju merk apa, atau tas merk apa. Tak jarang dari mereka naik ojek online untuk meeting di hotel bintang 5 demi menghindari macet. Biasanya orang yang suka nanya macam-macam itu pada sirik sih sama kita, hahaha. Kalau kalian kuat untuk cuek pada hal-hal seperti itu, mungkin kalian sudah bisa menjadi pengusaha.

Memisahkan Urusan Pribadi dan Pekerjaan
Mungkin benar ucapan salah satu cowok super kaya di film Korea, "I don't have time for ego, anger, and jealousy". Awalnya saya sering merasa ego, mengambil semua projek tapi nggak sanggup mengerjakan semuanya, sering marah juga dulu untuk hal-hal yang kadang kurang penting seperti calon klien membatalkan meeting tiba-tiba atau harga yang udah deal eh tiba-tiba berubah. Memang ada masa-masa seperti itu, tapi semakin lama saya jadi semakin bisa mengatur energi untuk marah-marah ke hal yang lebih positif.

Saya juga kadang suka nggak tega memecat karyawan yang udah sering jalan dan main bareng saya. Untung saya punya CHRO yang oke banget untuk memecat dan merekrut orang, hahaha. Biasanya kalau CHRO mau memecat orang, saya udah sibuk main hp. Nggak tega liat mukanya. Apalagi berbisnis dengan sahabat dekat. Wah, kalian harus bisa mengelola emosi karena kalau bisnis hilang, teman juga hilang, hahaha.

Ekplorasi Tanpa Batas
Hal-hal seperti ini jarang kalian temui di kantor. Menjadi pengusaha akan membuat kalian bisa bereksplorasi ide dan menjadi sangat kreatif. Kalian bisa mempelajari banyak hal dalam waktu singkat. Belum lagi karena banyaknya teman dan relasi, otak kalian akan kebanjiran ide baru yang semuanya bisa kalian wujudkan tetapi hanya permasalahannya di waktu yang terlalu sempit. Kalian akan berpikir seandainya satu hari bukan 24 jam, kalian akan bisa melakukan semua hal yang kalian mau dan bereksplorasi jauh lebih banyak lagi. 

Dunia ini adalah gudang ilmu. Ketika di kantor, saya hanya bisa mengasah ilmu sesuai dengan bidang pekerjaan saya yang sebenarnya saya kurang suka. Ketika menjadi pengusaha, kalian akan menemukan banyak hal yang kalian suka. Saya suka fashion, tiba-tiba bisa mengenal pengusaha tekstil, designer, dan penjahit borongan. Saya suka menulis novel, tiba-tiba bertemu desainer anime. Saya mulai suka bercocok tanam, tiba-tiba bisa menemukan lahan untuk dijual tanamannya secara online. Saya suka travelling, banyak orang mengajak saya membuat e-Commerce untuk backpacker, dan sebagainya.

Berdoa dan Introspeksi Diri
Doa bisa mengubah takdir. Mungkin hal ini yang paling sering saya lakukan selama berbisnis. Ditambah lagi doa dari Mama yang saya minta setiap saat. Tidak akan ada gunanya kalau sudah bekerja sekeras mungkin tapi tidak berdoa. Bisa saja Allah tidak meridhai pekerjaan kita dan akhirnya langsung hilanglah nikmat. Ketika saya berumroh, hampir setiap saat saya mendoakan Rancupid agar ditahun 2017 dan tahun-tahun berikutnya bisa berjaya terus, tidak mengalami krisis, dan semua bisnis dilancarkan. Sering-sering introspeksi diri dan beristighfar karena terkadang kita melakukan dosa yang tidak disadari tapi berdampak buruk.

Secara pribadi, saya nggak menyarankan kalian untuk terjun bebas ke dunia bisnis tanpa ada pegangan duit sepeser pun. Paling tidak, jalankan bisnis dulu baru resign dari kantor karena itu yang saya lakukan. Bekerja di kantor membuat saya punya banyak teman dan relasi yang ke depannya akan menguntungkan dalam dunia bisnis. Berhubungan baiklah dengan orang-orang dan sambung kembali tali silaturahmi karena akan mendatangkan rejeki.

Sekian tulisan dari saya. Saya akan memberikan label Entrepreneur di postingan seperti ini karena mungkin saya akan menuliskan beberapa postingan juga tentang hal ini dan yang pasti akan panjang sekali artikelnya. Semoga kalian nggak bosan membacanya ya.

Semoga bermanfaat, sampai jumpa!

Categories

adventure (274) Living (242) Restaurant (146) Cafe (139) Hang Out (132) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (83) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (49) Event (48) Hotel (36) Islam (36) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) CEO (7) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Myanmar (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Yangon (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)