Oktober 25, 2016

The Magnificent Angkor Wat

Sepulang dari Night Market dan Pub Street, saya langsung packing lagi karena besok kami akan terbang ke Ho Chi Minh City. Sebelumnya, kami akan berkeliling ke seluruh komplek candi yang masih dalam kawasan Angkor Wat. Saya dan Nida tidur larut malam dan besok paginya harus bangun jam 3 pagi untuk mandi dan berkemas karena kami akan menikmati matahari terbit di Angkor Wat.

Pukul 4.30 pagi, supir yang akan mengantar kami sudah siap di depan hotel. Kami check out, lalu langsung menemuinya. Agak aneh juga sewaktu mendengar nama supirnya Lychee. Saya suruh dia mengulang menyebut namanya sampai tiga kali, dan ternyata benar 'Lychee', hahaha. Saya memasukkan koper ke bagasi mobil, lalu kami pun memulai perjalanan menuju Angkor Wat. Sebelumnya, kita harus beli tiket dulu seharga $20 untuk masuk ke seluruh komplek candi. Yang uniknya, wajah kalian akan terpampang di tiket jadinya nggak bisa memberikan tiket ke orang lain. Mana wajah kita di tiket jelek amat lagi, hahaha.
Tempat beli tiket
Wajah kita jelek amat
Perjalanan menuju Angkor Wat sangat singkat, hanya sekitar 15 menit dari tempat pembelian tiket, atau 30 menit dari hotel. Awalnya saya mau tidur di mobil dulu karena ngantuk banget, ternyata malah udah sampai ke komplek candi. Saya dan Nida turun dari mobil, menyalakan senter dari handphone dan powerbank (nggak ada lampu sama sekali), lalu berjalan menuju pintu gerbang Angkor Wat. Supaya nggak nyasar, saya hanya mengikuti rombongan yang berjalan di depan saya sampai ke pintu masuk. Kita harus menunjukkan tiket ke petugas yang berbaris rapi di depan pintu, baru deh bisa masuk. Sebelum matahari terbit, para turis udah berbaris rapi untuk mengambil spot terbaik untuk berfoto. Sayangnya pagi itu awannya mendung banget. Kami nggak bisa mendapatkan foto sunrise. Saya tetap berusaha mengambil foto Angkor Wat yang ter-refleksi ke danau. Sayangnya angin membuat danau nggak tenang. Nggak beruntung sama sekali.
Barisan turis
Angkor Wat dikala mendung
Sekitar jam 6 pagi, jangankan matahari terbit, kami malah diguyur hujan super lebat. Yahhhh, jadi nggak bisa berfoto lagi deh. Kami semua berlari masuk ke Angkor Wat untuk berteduh. Saya duduk di salah satu jendela candi, bersandar ke pilar-pilar, berencana menunggu hujan reda. Suara rintik hujan, suasana yang dingin lembab, ditambah dengan rasa kantuk karena kurang tidur, lengkaplah sudah untuk membuat saya ketiduran setengah jam. Beberapa guide menawarkan jasa mereka untuk menemani kami berkeliling candi sekalian menceritakan sejarahnya. Karena saya masih ngantuk, jangankan mau jalan berkeliling candi, beranjak berdiri aja udah nggak sanggup banget.
Rintik hujan
Halaman Angkor Wat
Nggak bisa terus begini, saya mengumpulkan tekad untuk bangun, menyuruh Nida bangun juga, lalu kami mulai jalan berkeliling. Kami menyusuri lorong-lorong candi, melihat arca, berfoto, tapi sepertinya agak merasa kosong karena kami sama sekali nggak ngerti maksud pembangunan candi. Sempat melihat beberapa turis yang menyewa jasa tour guide untuk berfoto dan bercerita tentang sejarah Angkor Wat. Berhubung saya sudah beli rok (seperti songket) dengan motif gajah Kamboja khusus untuk properti foto, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa guide seharga $15. Mahal banget yah, tapi ya sudahlah. Daripada keliling candi doang tapi nggak ngerti maksudnya. 
Pose dulu
Angkor Wat adalah sebuah kuil atau candi yang dibangun oleh Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-12. Tempat ini termasuk monumen keagamaan terbesar di dunia, dengan situs seluas 162,6 hektar (1.626.000 meter persegi). Angkor Wat pada awalnya dibangun sebagai kuil Hindu dewa Wisnu untuk Kerajaan Khmer, kemudian secara bertahap berubah menjadi sebuah kuil Buddha menjelang akhir abad ke-12. Pembangunan kuil memakan waktu selama 30 tahun. Perubahan dari tradisi menyembah dewa Shiwa yang digunakan raja sebelumnya, Angkor Wat kemudian didedikasikan untuk dewa Wisnu. Candi ini di bagian dari gaya klasik arsitektur Khmer. 
Area Candi
Angkor Wat terletak di dataran Angkor yang juga dipenuhi bangunan kuil yang indah, tetapi Angkor Wat merupakan kuil yang paling terkenal di dataran Angkor. Raja Suryawarman II memerintahkan pembangunan Angkor Wat menurut kepercayaan Hindu yang meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu. Karena itu menara tengah Angkor Wat adalah menara tertinggi dan merupakan menara utama dalam kompleks bangunan Angkor Wat.
Tempat pemandian
Sebagaimana mitologi gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mengelilingi dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat yang sepanjang setengah kilometer dihiasi pagar dan diapit oleh danau buatan manusia yang disebut sebagai Baray. Jalan masuk ke kuil Angkor Wat melalui pintu gerbang dan jambatan pelangi yang menghubungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa.
Lorong
Candi yang satu ini terbuat dari 5.000.000-10.000.000 blok batu pasir dengan berat maksimum 1,5 ton setiap. Bahkan kalau digabungkan, batu pasir yang digunakan seluruh komplek Angkor jumlahnya jauh lebih besar daripada semua piramida Mesir. Batu pasir ini harus diangkut dari Gunung Kulen oleh para gajah dari sebuah tambang sekitar 25 mil (40 km) di timur laut. Angkor Wat adalah satu-satunya kuil yang berada dalam kondisi baik (tidak hancur) dibandingkan dengan kuil lain di dataran Angkor. Penyebabnya karena kuil ini telah dialihfungsikan menjadi kuil Buddha dan dipelihara serta digunakan secara terus menerus ketika agama Buddha menggantikan agama Hindu di Angkor pada abad ke-13. Kuil Angkor pernah dijajah oleh Siam pada tahun 1431.
Perpustakaan
Pada tahun 1992, Angkor Wat masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO dan juga sempat dinominasikan sebagai salah satu 7 keajaiban dunia. Guide bilang, orang-orang yang menjadi otak dibalik pembangunan kuil Angkor Wat, candi Borobudur, dan Stone Henge di United Kingdom adalah seorang ahli astronomi super jenius, menggunakan rumus mata angin yang sama, sehingga apabila ditarik garis, ketiga tempat ini berada di satu garis lurus. Keren banget ya? Kalau kalian datang mengunjungi Angkor Wat, kalian akan takjub melihat arstitektur bangunannya yang merupakan buah pemikiran dari Raja Suryawarman. Sang raja bisa memikirkan detail seluruh sejarah Rama, Shinta, dan Ravana serta membuatnya ke dalam relief di dinding. Kurang lebih ceritanya sama dengan di Indonesia.
Tangga ke surga
Pose dulu
Terintegrasi dengan arsitektur bangunan, dan salah satu penyebab begitu populernya Angkor Wat adalah dekorasi dinding kuil yang didominasi oleh relief yang sayang banyak. Dinding bagian dari galeri luar menunjukkan serangkaian adegan berskala besar terutama yang menggambarkan episode dari epos Hindu Ramayana dan Mahabharata, dimana Rama mengalahkan Ravana untuk mendapatkan Shinta. Seorang arkeolog  Charles Higham menyebutkan kalau relief di dinding kuil ini merupakan susunan linear terbesar yang berupa ukiran diatas batu. Sungguh menakjubkan! 
Melihat Arca
Dari utara-barat sudut anti-searah jarum jam, galeri Barat menunjukkan Pertempuran Lanka (dari Ramayana, di mana Rama mengalahkan Rahwana) dan Pertempuran Kurukshetra (dari Mahabharata, yang menunjukkan pemusnahan bersama dari Kurawa dan Pandawa klan). Di galeri selatan mengikuti satunya adegan sejarah, prosesi Suryavarman II, maka 32 neraka dan 37 langit Hindu. Sebenarnya dari pintu masuk komplek kuil sampai 'Tangga ke Surga' ada alur ceritanya. Tapi saya nggaku mungkin memaparkan semua disini karena ntar kepanjangan postingan blognya. Kalian bisa baca sendiri saja di internet ya.
Pintu masuk candi
Pintu masuk komplek Angkor Wat
Setelah puas berkeliling dan merasa lapar, kami keluar dari kuil. Yang super sialnya adalah, tiba-tiba tapak sepatu saya copot. Mungkin karena kena air dan juga sempat saya rendam dengan detergen sebelum dipakai jalan-jalan. Bukan satu doang tapi dua-dua sepatu malah copot. Haduwh, maluuuu bangettt waktu itu. Untung pakai rok, jadi saya berusaha menutupi sepatu tanpa tapak yang terpaksa harus tetap saya pakai karena nggak mungkin juga nyeker di tanah yang basah terkena hujan. Saya jadinya mampir ke toko souvenir untuk membeli sendal jepit supaya bisa beraktifitas lagi, Huff!
Tapak sepatu terpisah
Setelah beli sendal, saatnya berfoto di depan Angkor Wat dengan refleksi terbaik ke danau. Meskipun nggak dapat sunrise, tapi tetap bisa mengabadikan gambar terbaik dengan kamera saya. Semula guide yang mengambil gambar tapi saya nggak puas. Saya mau mengambil foto sendiri karena ini momen langka dan saya belum tentu balik lagi ke tempat ini dalam waktu dekat. 
The Magnificent Angkor Wat
Baiklah, setelah selesai berkeliling Angkor Wat, selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Angkor Thom yang nggak kalah misterius dibandingkan dengan Angkor Wat. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

3 comments:

Mirwan Choky mengatakan...

Ini Magnificent yang di film film itu ya?

Mila Said mengatakan...

iiihh pengen ke angkor wat dari dulu lom sempet hiks

MiawGuk mengatakan...

HAHAHHA sepattttttttttuuuu....

Categories

adventure (256) Living (232) Restaurant (146) Cafe (137) Hang Out (130) Jawa Barat (99) Bandung (91) Story (79) Movie (72) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (46) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Warung Tenda (15) Jawa Timur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Cambodia (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Siem Reap (5) Sukabumi (5) Surabaya (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan