September 01, 2016

Rainbow Spring

Setelah dari Hobbiton, destinasi selanjutnya adalah ke Rainbow Spring, tempat burung kiwi tinggal. Perjalanan dari Hobbiton di Matamata menuju Rainbow Spring di Rotorua ditempuh dalam waktu sekitar 50 menit (40 menit dengan menggunakan Toyota Highlander). Seperti biasa, pemandangan yang akan kalian lihat sepanjang jalan ke Rotorua sangat indah dan menenangkan. Saya jadi ketiduran lagi dan terbangun karena sudah sampai. Lokasi Rainbow Spring ini bersebelahan dengan Skyline Rotorua. Karena kami sudah memutuskan untuk main di Skyline Queenstown, jadi nggak mampir ke Skyline yang ini. Saya memposting video suasana sepanjang jalan selama di perjalanan menuju Rainbow Spring ya. Mulai dari keluar Hobbiton, melintasi Alexander Farm, sampai ke Rotorua. Nanti kalau videonya udah saya satuin, saya upload ulang deh.
Yang terlintas di pikiran saya adalah tempat ini seperti kebun binatang. Tiket masuk Rainbow Spring adalah NZD 40 untuk dewasa dan NZD 20 untuk anak-anak. Rainbow Spring pertama kali ikut berperan serta dalam konservasi burung Kiwi pada tahun 1975. Tempat ini dibangun juga untuk mengedukasi pengunjung tentang seekor burung yang memiliki bulu halus dan panjang seperti kucing anggora atau persia, punya kaki besar, dan nggak bisa terbang.
Tanda bukti
Banyak pohon besar
Bebek sedang bermain air
Rainbow Springs bergabung dengan The Operation Nest Egg programme (O.N.E) di tahun 1995 ketika mereka menerima telur burung Kiwi pertama dari Tongariro Forest Kiwi Sanctuary. Sejak saat itu, tempat ini berperan besar dalam menolong meningkatkan populasi burung Kiwi di pulau Utara (North Island) dan menjadi tempat utama untuk menetaskan telur burung kiwi di New Zealand. Dari awal yang hanya menetaskan satu telur saja sebagai inisiatif uji coba di The Department of Conservation O.N.E, sekarang Rainbow Spring telah menetaskan lebih dari 1500 burung kiwi. Keren ya!
Baca asal-usul pohon
Burungnya nggak ada leher
Gaya dulu
Pertama kali masuk kesini, kalian akan disuguhi dengan banyak bebek yang berenang-renang di kolam. Saya (agak) takut unggas sih sebenarnya. Kalau bukan karena mau bikin si Alys senang main sama bebek lucu, saya udah kabur duluan. Bebeknya selalu berjalan mendekati kita lagi dan mengikuti kemana kita pergi. Padahal saya udah jalan kesana dan kemari apalagi jalan di Rainbow Spring ini kayak labirin, tetap aja ketemu bebek yang sama. Tunggu, jangan-jangan ini bebek yang berbeda. Hmmm, ya sudahlah. Kalian bisa melihat air di kolam bebek super bening. Segar banget deh ngeliatnya.
Pohon besaarrr
Emu
Kolam ikan Trout
Tempat konservasi burung kiri yang satu ini suasananya agak mirip seperti hutan. Udaranya lembab dan dingin. Banyak sekali pohon besar disini sehingga udaranya pasti super bersih. Ah senang banget deh berada disini. Apalagi untuk saya sebagai salah satu penderita asma, udara bersih seperti ini sangat menolong saya. Kalian juga bisa melihat berbagai macam kadal dan bunglon warna-warni (sedang mimikri) dan spesies ikan Trout (agak mirip salmon tapi lebih besar) yang ada di kolam. Kalian juga bisa langsung minum air dari keran-keran mata air yang tersedia. Rasanya segar banget deh.
Penangkaran reptil
Kolam ikan Trout
Pose dulu
Air terjun mini
Karena kami belum makan siang, akhirnya kami mampir sejenak di Wairere Cafe yang berada di dalam Rainbow Spring. Makanannya sih seperti biasa, sandwich, croisant, dalam porsi super jumbo. Saya memilih sandwich ikan salmon seperti biasa karena memang enak banget. Apalagi ditambah sambal ABC yang kami bawa dari Indonesia.
Wairere Cafe
Salmon
Selesai makan, saya sempat duduk-duduk santai di depan Cafe sambil melihat seekor angsa yang sedang berenang cantik di kolam. Angsa putih selalu cantik ya, walaupun angsa hitam yang tadi saya lihat di Hobbiton juga sangat cantik dan agak langka Rainbow Spring ini menurut saya adalah tempat yang paling pas untuk menenangkan diri dari rasa penat. Udara segar, pohon hijau, suara kicauan burung, semuanya benar-benar menghilangkan stress. Oh ya, sebenarnya kalian bisa melihat beberapa atraksi hewan disini. Cuma karena beberapa waktunya nggak pas, jadi saya nggak sempat lihat.
Angsa cantik
Kolam di depan Cafe
Setelah makan, saya masuk ke tempat konservasi burung Kiwi. Di dalam sini nggak boleh mengambil foto dengan kamera yang ada blitz nya. Pertama kali kami memasuki ruangan seperti museum tentang burung Kiwi. Disini kalian bisa melihat fakta-fakta menarik dari burung ini. Contohnya, lubang hidung burung kiwi unik. Tidak seperti burung lain, lubang hidung kiwi terletak di ujung paruh. Bahkan bisa dikatakan sebagai satu-satunya burung dengan paruh dan hidung seperti ini. Paruh burung kiwi hampir sepertiga panjang tubuhnya. Dengan rasa penciuman yang menakjubkan, burung ini menggunakan paruhnya untuk merasakan kehadiran pemangsa dan menggali keluar dari tanah.
Menuju Kiwi
Kalian tau, dibandingkan dengan ukuran tubuh mereka, kiwi bertelur cukup besar. Telur mereka bisa mencapai 20% dari berat badan. Bahkan burung unta saja besar bertelur nya hanya 2% dari berat badan mereka. Sedangkan ukuran telur burung kiwi hampir mirip dengan ukuran telur ayam negeri, telur bisa lebih dari enam kali ukuran telur ayam biasa. Berat telur kiwi terbesar yang pernah tercatat adalah 500 gm. Kebanyakan burung ini memiliki fungsi ovarium tunggal, sementara kiwi memiliki dua indung telur.
Museum Kiwi
Ukuran kiwi hampir mirip dengan ayam negeri. Spesies terbesar kiwi memiliki berat badan 1,5-3,3 kg pada betina dan 1,2-2,6 kg pada jantan. Spesies terkecil adalah kiwi berbintik kecil, dengan berat badan yang dapat berkisar antara 1-1,9 kg (betina) dan 0,9-1,3 kg (jantan). Kiwi besar dapat tumbuh maksimal 18 sampai 20 inci, dan yang berbintik kecil dapat tumbuh hingga 30 cm (11 inci) tingginya. Saya agak takjub melihat burung Kiwi sedang berlari keliling kandang. Alhamdulillah diberi kesempatan untuk bisa melihat burung ini. Dulu pas di China bisa ngeliat panda, di New Zealand bisa melihat kiwi dan angsa hitam, di Jepang bisa melihat Sakura.
Burung Kiwi
Setelah puas melihat-lihat, kita akan diarahkan masuk ke toko souvenir. Saya seperti biasa beli magnet kulkas. Teman-teman saya ada yang membeli boneka burung kiwi dan souvenir lainnya. 
Souvenir
Baiklah, selanjutnya kita akan masuk ke Desa suku asli Selandia Baru, Maori Village. Stay tuned!

0 comments:

Categories

adventure (256) Living (235) Restaurant (146) Cafe (138) Hang Out (131) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (80) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (47) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Warung Tenda (15) Jawa Timur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Cambodia (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Siem Reap (5) Sukabumi (5) Surabaya (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan