Mei 19, 2016

Sepeda Motor Dio

Karena saya merasa sudah terlalu lama nggak menulis cerita pendek, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan cerita-cerita di otak saya. Daripada hilang begitu saja tergerus postingan lain di blog ini, mendingan ditulis sekarang deh. Setelah itu baru akan melanjutkan cerita bisnis trip saya ke Bali. Baiklah, selamat membaca!

***

Udah lama gw nggak main ke rumah Dio. Kami berteman sejak pertama kerja.  Dulu kita satu kosan dan selalu jalan kaki bareng ke kantor (kebetulan kantor kami dekat). Biasanya kita suka maen DOTA bareng sampe adzan shubuh setiap weekend. Maklumlah, awal-awal kerja masih jomblo jadinya weekend ya di kosan aja.

Dulu gw suka banget nebeng motor Dio kalau mau ke Mall terdekat atau cuma sekedar ke alfamart/indomaret. Gw orangnya malas jalan kaki. Makanya badan gw gendut kali ya. Karena Dio orangnya baek banget, jadi dia selalu pinjemin motornya untuk gw pake. Dio juga orangnya suka nraktir, walaupun kita hidup serba pas-pasan di kosan sederhana. Gaji hanya untuk bayar kos, makan, dan nonton bioskop sekali dalam sebulan.

Suatu hari Dio keterima di perusahaan yang berbeda dengan gw. Gajinya otomatis langsung jadi dua kali lipat dari gw. Hidup dia mulai lebih makmur, walaupun kantornya jadi agak lebih jauh. Tapi kan dia punya motor, jadi nggak masalah. Kalau dulu akhir bulan Dio nyetok mie instan, sekarang dia beli rice cooker dan beras. Trus dia masak nasi, tapi beli lauk ke warung. Gw kadang nebeng makan nasi Dio, hanya beli lauk saja.

Setelah 2 tahun pindah kerja, Dio memutuskan untuk menikah. Ntah kapan dia pacaran, pokoknya kali ini dia mau nikah katanya. Rio pindah ke kontrakan kecil yang lumayan dekat dengan kantor istrinya. Setelah itu kita jarang kontak. Dari seminggu sekali, sebulan sekali, 3 bulan sekali, sampai lamaa nggak ketemu.  Tapi Dio tetap datang ke nikahan gw. Disitu kita hanya ketemu sebentar dan nggak ngobrol banyak.

3 tahun berlalu, gw nggak pernah ketemu Dio lagi. Gw tiba-tiba merasa kangen padanya. Kangen dengan masa-masa kita maen DOTA dan jalan kaki ke kantor. Dio juga jarang update social media, jadi gw tambah nggak tau lagi dimana dia sekarang. Akhirnya gw mengambil hp dan meneleponnya. Dio menjawab telpon gw dengan sangat ramah, sama seperti Dio yang dulu. Dio menyuruh gw datang ke rumahnya. Kebetulan istri gw sedang dinas ke luar kota dan istri Dio sedang di rumah mertua Dio, maka kami sepakat untuk maen DOTA lagi di rumah Dio.

Jujur aja ini pertama kali gw ke komplek perumahan Dio. Gw takjub, rumah di komplek ini nggak ada yang kecil. Gw akhirnya ketemu rumah Dio yang paling besar di komplek itu. Awalnya gw ragu, tapi gw memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahnya. Ada asisten rumah tangga dan tukang kebun yang menyambut gw. Gw disuruh masuk dulu karena Dio sedang keluar sebentar, tapi gw memilih untuk duduk diluar. Menikmati kemegahan rumah Dio dan halamannya yang luas.

Dio datang dengan mengendarai motornya ‘yang dulu’. Terlihat sangat timpang ketika Dio memarkirkan motornya itu disamping Lamborghini miliknya. Dio memelukku dan tersenyum lebar.
Gw bilang, “Elo udah sekaya ini masih aja pake motor Supra  lecet-lecet begitu.”
Dio tersenyum, “Nggak apa-apalah. Banyak kenangan motornya.”
“Ya elah, kenangan apaan. Ini timpang banget diparkir disini.” Gw tertawa.
Dio ikutan tertawa.
“Oh, dipake asisten rumah tangga lo untuk ke pasar ya?” tanya gw lagi.
Dio tersenyum, lalu duduk di teras seraya mempersilahkan gw duduk juga. “Nggak kok, motor ini masih gw sendiri yang pake.”
“Kenapa lo nggak beli motor balap aja biar kaya Valentino Rossi?”
Dio tersenyum, “Motor ini dari Ayah gw. Beliau meninggal dua tahun yang lalu. Kalau gw jual, gw merasa menjual kenangan bersama Ayah.”
Gw jadi nggak enak ketika Dio bilang hal itu pada gw. 

“Dulu kami hidup sangat sederhana setelah ayah pensiun. Karena gw selalu capek naik angkot dan mengajar privat anak-anak SMA dimana jarak rumah mereka jauh banget, jadi ayah mengumpulkan duit untuk beli motor second agar gw nggak terlalu capek. Sejak itu gw bisa lebih banyak mengambil murid untuk privat dan otomatis pendapatan gw perbulan jadi lebih banyak. Lumayan untuk nambahin bayar kuliah. Sampai akhirnya gw dapat kerja, motor tetap gw bawa.”
“Motornya selalu gw jaga sampai sekarang. Gw merasa ada keringat dan pengorbanan Ayah di motor ini. Ayah gw mungkin nggak bisa melihat Lamborghini gw, tapi gw tetap bisa melihat motor Ayah sampai sekarang.”
Gw malah jadi merasa bersalah.
“Duh maaf nih, gw jadi curhat. Hahaha!”
“Gw yang seharusnya minta maaf. Udah lama nggak ketemu lo, malah ngejelek-jelekin motor lo. Maafin gw, sob. Gw nggak bermaksud aneh-aneh.”
Dio tersenyum. “Sudahlah, maafin gw jadi bikin lo merasa bersalah. Ya udahlah, kita udah lama nggak ketemu. Mending kita ngobrol dan main DOTA. Urusan motor cukup sekian saja.”
Gw tersenyum, lalu mengikuti Dio masuk ke rumah. “Maafin saya om (kata gw pada motor Dio), om punya anak yang sangat hebat sekarang. Pasti karena Dio adalah anak seseorang yang sangat hebat.”

I miss you Dad. It's almost Ramadhan :(

0 comments:

Categories

adventure (256) Living (234) Restaurant (146) Cafe (138) Hang Out (131) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (80) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (46) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Warung Tenda (15) Jawa Timur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Cambodia (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Siem Reap (5) Sukabumi (5) Surabaya (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan