Maret 02, 2016

CEO Diary : Him

Hi all, sudah lama nggak menulis cerita bertema cinta, ihhiiiyyy... Tahun ini banyak kejadian yang membuat saya merasa di atas angin. Baiklah, seperti biasa, cerita yang akan saya posting ini sudah dibumbui berjuta penyedap rasa. Agar terasa sedap dibaca. Selamat menikmati :)

***

Orang kaya baru, mungkin inilah sebutan yang pantas untukku sekarang. Setiap hari aku disibukkan dengan duit masuk dan duit keluar. Beginilah aku, seorang CEO yang masih berusia 20an, dengan penghasilan ribuan dollar perbulan, dan sedang curhat. Terkadang aku merasa terlalu workaholic. Demi mengejar uang, aku mulai bekerja setelah shalat shubuh, dan tidur setelah tengah malam. Terus saja begitu dan hampir setiap hari.

Kenapa aku sampai seperti itu? Mungkin sepele saja. Di dunia ini banyak barang bagus dan aku ingin membeli semuanya. Paling tidak, itu yang aku rasakan dulu, sebelum aku merintis usaha sendiri. Apalagi, setelah lulus kuliah aku kerja kantoran dengan gaji hanya sekitar 2 jutaan. Jangankan mau foya-foya, untuk makan aja harus diirit-irit.

Pemikiran aku sekarang berubah, dari ingin membeli semua barang yang aku suka, menjadi ingin memproduksi semua barang yang aku suka. Alhasil, aku menjadi cewek dengan rekening bank yang gendut. Tapi dari penampilan luar sih nggak kelihatan. Mungkin karena masih terbiasa dengan kehidupan serba biasa saja. Aku merintis usaha dari 0, dimulai dari keuntungan Rp. 50,000 perbulan, sampai $50,000 perbulan.

Suatu hari aku menerima sebuah email. Tumben banget aku menerima undangan makan malam bersama para CEO lainnya. Aku memutuskan untuk datang, sekalian menggunakan kesempatan ini untuk memperluas relasi bisnis. Sehari sebelum acara, aku membeli semua perlengkapan baru (aku bingung dengan isi lemari yang itu-itu saja). Tas baru, baju baru, jam tangan baru, sepatu baru, pokoknya banyak yang baru deh. Aku datang ke acara lebih cepat 30 menit dari tamu lainnya. Mungkin karena naik kereta, jadi nggak kena macet. Ibu-ibu yang mengundangku langsung menyambut dengan suka cita. Beberapa tamu lain kemudian mulai berdatangan. Aku masih belum antusias. Sampai aku sadar ternyata cowok-cowok kaya itu ganteng-ganteng. Mereka menyalamiku satu-persatu, dan aku jadi bersemangat.

Mereka mulai bercerita tentang bisnis dan perusahaan yang mereka pimpin secara bergantian. Aku langsung kaget. Kalau pendapatanku hanya ribuan dollar perhari, mereka bisa puluhan ribu dollar. Banyak yang sudah merintis usaha dari dulu, berbeda denganku yang baru saja bermain di dunia bisnis. Mereka juga antusias bertanya tentang bisnisku. Untung aku jago ngomong, jadi bisa bersilat lidah sedikit menceritakan tentang bisnis yang aku jalani.

Sesi makan malam pun dimulai. Sebenarnya aku sudah mulai kebelet pipis, tapi sibuk curi-curi pandang sama beberapa cowok ganteng yang duduk agak jauh dariku. Ada dua cowok yang menyita perhatianku, tapi aku lebih suka yang namanya Rio. Gayanya cool, santai, cara berbicaranya cerdas, tenang, dan mendengarkan dengan sangat baik apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Penampilannya juga keren, dengan jaket kulit, celana jeans, dan sepatu kets. Aku menikmati makan malam sambil terus memperhatikan Rio mengobrol dengan undangan yang lain. Dan aku semakin kebelet pipis. Mau ke toilet, tapi takut acara bubar dan aku nggak bisa ngobrol dengan Rio lagi.

Sampai akhirnya setelah sesi foto bareng, Rio langsung menghampiriku. Memperkenalkan dirinya (lagi), menyalamiku, menatapku, dan mengajak ngobrol.
"Hi, nama saya Rio." sapanya.
"Renata," kataku tertegun terpesona sambil menahan pipis.
"Saya penasaran dengan bisnis kamu. Penjualannya gimana?"
"Bagus banget kok," Duh, udah nggak tahan kebelet.
"Oh ya? Wow. Jualan apa?"
Sayangnya aku udah pengen pipis banget, udah diujung tanduk. Sial, kenapa nggak pipis dari tadi.
"Sori Rio, saya kebelet banget. Nanti kita ngobrol lagi ya."
"Oh OK Ren," sambil tersenyum.
Ketika aku berjalan ke toilet, salah satu CEO ganteng lainnya menghadangku dan menyodorkan tangannya. "Hi, nama saya Ed."
Mati aku, "Hi Ed, saya Renata dan saya kebelet pipis banget." Sambil sangat menahan pipis dan menyalaminya.
Ed tertawa, "Ok, Ren. Nanti kita ngobrol lagi."

Aku berlari ke toilet. Menyelesaikan segala urusan dan kembali ke ruangan. Saat itu, beberapa tamu udah pulang duluan dan aku melihat Rio masih disana. Dia tersenyum melihatku. Aku mengambil tasku dan menghampirinya. Ada kejadian memalukan lagi. Sebelum aku berada pas dihadapan Rio, BRUK!!  Tali tasku putus. Rio kaget, apalagi aku. Gila ya, ini tas mahal yang aku beli kemaren, kenapa strapnya copot??? Rio terdiam, lalu menunduk membantuku membereskan isi tas. Duh, malu banget! Selesai beres-beres, aku bilang padanya, "Sorry Rio, kayaknya obrolan kita tertunda terus ya. Maafin saya."
Rio tersenyum, "Nggak apa-apa kok. Jadi gimana bisnisnya? Kamu jualan apa?"
Tiba-tiba hpku berbunyi, Mama menelepon. Rio terdiam dan memberi isyarat untuk menyuruhku mengangkat telepon.
Aku mengangkatnya, "Iya Ma, ini mau pulang."

Rio melihatku sambil senyum-senyum. Aku menjadi super nggak enak. "Rio, bisnis saya ekspor hasil tenun dari Indonesia ke Amerika." kataku tiba-tiba sebelum Rio bertanya lagi.
Dan dia menjawab, "OK. Wow."
Kami terdiam. Awalnya aku mau bilang kalau aku harus pulang, tapi nggak enak banget.
Seolah membaca pikiranku, Rio bilang, "Kamu bawa mobil?"
Aku menggeleng. Baru jadi orang kaya, jadinya nggak bawa mobil. Kataku dalam hati. Dan aku lupa kalau cowok-cowok tajir ini pasti punya mobil semua.
"Dijemput?" tanyanya lagi dan aku masih menggeleng.
"Mau bareng? Kita bisa ngobrol di mobil."
Aku terdiam.
"Tenang, saya nggak nyulik kok." Katanya tersenyum. "Kamu pulang kemana?" 
"Depok," jawabku. "Palingan saya turun di stasiun terdekat aja ya."
"OK."
Kami berpamitan kepada para CEO lainnya, lalu berjalan menuju basement Resto. Aku terpana lagi melihat mobil Rio yang super keren, dibandingkan aku yang hanya naik kereta. 
Aku lalu masuk ke mobil dan merasa kikuk banget. Biasanya nggak pernah kayak gini. Seharusnya aku selalu santai ketemu siapa aja. OMG! Untuk mencairkan suasana, aku bertanya bisnis lagi padanya. "Jadi kamu bisnis apa?" 
Rio menatapku sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan seraya menyetir. 
Aku menunggu jawabannya. 
Ia lalu tersenyum dan bilang, "Nggak usah ngobrolin bisnis lagi deh. Kan udah bukan meeting lagi. Kita ngobrolin yang lain aja ya."
Dan musik pun mengalun... 🎢🎢

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kaubawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
-Adera-

6 comments:

aku bukan aku mengatakan...

Uhuk-uhuk..lanjutan cerita:
Ia lalu bertanya, "Kamu sudah punya pacar?"
HAHAHAHAHAHHA..Mutt mau cerita dari perspektif Rio atau Ed dongggg.

mila mengatakan...

itu penghasilannya sebulan aja udah cukup buat beli mobil cash loh, suruh beli mobil gih hahahahaa..
tunggu 4 bulan bisa beli mercedes.

Meutia Halida Khairani mengatakan...

@aku : ditunggu ya ceritanya πŸ˜€πŸ˜€

@mila:kan baru beli rumah.. Belom beli mobil hahahahaha..

Tomi Azami mengatakan...

Ternyata jual beli CEO. buset dah Horor bgt critanya ehehr

Hani Aviel mengatakan...

Hai, mbak, ini Hani yg ketemu di acara P*****er. Baru sempet kasih komen nih hehe. Sukses ya buat Rio #loh

Meutia Halida Khairani mengatakan...

@hani : hi mbak.. kirain siapa hani aviel.. perasaan cewe di acara itu cm 3 orang, dan ga ada yg namanya hani. rupanya namanya Maria yah. hihihi

Categories

adventure (256) Living (235) Restaurant (146) Cafe (138) Hang Out (131) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (80) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (47) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Warung Tenda (15) Jawa Timur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Cambodia (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Siem Reap (5) Sukabumi (5) Surabaya (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan