April 12, 2014

I Missed the Last Train in Japan

Mungkin cerita kali ini adalah yang paling ingin saya ingat sewaktu berada di Jepang, yaitu ketinggalan kereta. Ceritanya begini, sewaktu masih di Shinkobe, saya bertanya pada kepala stasiun jam berapa Shinkansen terakhir. Petugasnya bilang jam 23:25. Karena sekarang udah jam 22:45, masih percaya diri bakalan dapat Shinkansen. Tapi sayang, khusus untuk jalur kereta Shinkansen di Kobe, dari Shinkobe harus naik kereta dulu ke Shinnomiya (subway khusus untuk Shinkansen) dengan tarif 120 yen.

Mari menghitung menit demi menit. Jalan dari pintu masuk stasiun menuju tempat menunggu kereta sudah 2 menit, menunggu kereta sekitar 3 menit, waktu tempuh kereta 3 menit. Keluar dari stasiun Shinnomiya menuju Shinkansen yang ternyata jauuuh itu aja mungkin sekitar 10 menit. Yang bikin jauh itu naik eskalator, belok kiri dan kanan, baru akhirnya ketemu tempat penjualan tiket jam 23:15. Sisa 10 menit lagi untuk beli tiket. Berhubung mau beli pakai kartu kredit, bingung bingung lagi pencet-pencet tombolnya, akhirnya pukul 23:20. Langsung memutuskan untuk berhenti. Harga tiket Shinkansen sekitar 1200 yen karena jarak Kobe ke Osaka lumayan dekat hanya 12 menit menggunakan Shinkansen Mizuho 610, salah satu Shinkansen tercepat yang nggak diikutsertakan dalam Japan Rail Pass. Nggak keburu. Huaaa, rasanya mau nangiiissss!!
Seharusnya saya naik kereta ini T_T
Karena udah pukul 23:25, terpaksa berbalik ke stasiun Shinnomiya untuk balik ke Shinkobe dengan tarif sama 120 yen. Haduh rasanya capek banget bolak-balik naik eskalator sana, turun eskalator sini, sampai akhirnya datang kereta menuju Shinkobe. Sesampai di Shinkobe, harus beli tiket lagi menuju ShinOsaka seharga 360 yen. Saya melihat jam tangan dan deg-degan karena udah jam 12 malam. OMG! Karena kecapekan juga, saya tertidur di kereta sampai ke ShinOsaka. Udah malam jadinya kereta sepi. Mungkin waktu tempuh dari Kobe ke Osaka sekitar 20-30 menit.

Sesampainya kita di ShinOsaka, saya nanya kepala stasiun apa masih ada kereta ke Tennoji? Ternyata petugas bilang udah nggak ada. Langsung panik banget. Trus nanya lagi, kalau jarak dari ShinOsaka ke Tsurugaoka berapa jauh. Ternyata 20 km ditarik garis lurus. Lalu nanya lagi hotel terdekat dimana? Petugas langsung membuka peta dan menunjukkan beberapa hotel terdekat. Duh, karena dinginnya malam dan kami semua agak panik ditambah capek, akhirnya jadi nggak bisa berpikir jernih. Pertanyaan terakhir kami adalah, jam berapa kereta pertama dari stasiun ini dan petugas menjawah jam 04:55. Akhirnya kita ngumpul di dekat locker stasiun untuk membicarakan rencananya mau gimana. Dua dari teman saya memutuskan untuk jalan di sekitar stasiun untuk melihat-lihat keadaan sedangkan saya dan teman lainnya menunggu di dekat locker. Sekalian shalat Isya, tempat paling aman untuk shalat ya sekitar locker karena sepi dan luas.

Setelah beres shalat dan menunggu beberapa menit, saya melihat banyak petugas kebersihan datang. Jam tangan menunjukkan pukul 00:50. Sepertinya tepat pukul 1 malam, seluruh stasiun akan ditutup untuk dibersihkan. Akhirnya teman saya datang dan juga ada satpam yang datang. Dia ngomong sesuatu tapi sepertinya menyuruh kami untuk keluar. Stasiun mau dibersihkan seluruhnya jadi nggak boleh ada orang di dalam. Pas keluar, rasanya kaki langsung membeku, suhunya 1 derajat celcius. Saya dan teman-teman langsung berjalan agak cepat untuk mencari resto yang buka 24 jam karena nanggung kalau mau sewa hotel hanya untuk 4 jam. Suhu begitu rendah dan angin membuat saya benar-benar hampir beku. Osaka malam itu sangat sepi. Yang ada hanya taksi sedang menunggu penumpang dan beberapa orang yang tampaknya baru pulang kerja. Ada juga orang pingsan dipinggir jalan, mungkin lagi mabuk kali ya. Gile, apa nggak mati membeku dia?

Kami menemukan sebuah resto yang masih buka dan langsung masuk tanpa berpikir panjang lagi. Pas bertanya pada mereka buka sampai jam berapa, mereka jawab sampai jam 2. Wah, nggak mungkin kalau mau nongkrong disini. Lalu kami bertanya dimana resto yang buka 24 jam. Mereka memberi tau kalau Yoshinoya di sebelah buka 24 jam. Kami akhirnya keluar dari resto dan masuk ke Yoshinoya. Pelayannya lumayan mengerti bahasa inggris. Saya tanya apa resto ini buka 24 jam dan dia jawab iya. Kami juga disuguhkan ocha hangat. Langsung enakan rasanya badan ini.

Teman saya memesan makan dan saya masih duduk dulu. Palingan mencomot makanan mereka. Setiap ada  pelanggan datang, pintu terbuka dan udara dingin dari luar masuk. OMG! Langsung menusuk tulang. Akhirnya saya pesan makanan, semangkuk Rice Beef Bowl gede biar kenyang dan hangat dari dalam. Saya makan dengan lahap karena memang kalau dingin bikin lapar. Beberapa teman saya udah tidur. Saya nggak berani tidur. Takut aja di negara orang kalau kita tertidur semua. 

Selesai makan, semua teman saya tidur dan saya hanya duduk diam sambil memperhatikan pelayan mempersiapkan makanan kepada para pelanggan. Pelayan di Yoshinoya waktu itu cuma 2. Tapi 1 orang sepertinya melayani delivery order. Yang 1 lagi melayani pelanggan dalam resto seperti bermain Dinner Dash. Dia sangat sangat cekatan dan cepat. Semua minum udah disediakan, semua piring udah di lap, daging-daging tinggal di grill, pokoknya ada keasyikan tersendiri melihat pelayan disana.

Bagaimana dengan pelanggan yang datang? Ada pasangan mabok yang memesan makanan untuk dibawa pulang. Mereka nggak peduli padahal saya liatin terus. Setelah mereka pulang, datang segerombolan bapak-bapak. Wah, pas masuk cafe juga mereka langsung melihat saya dan berbisik-bisik sesama mereka. Saya langsung merasa sebal. Mana teman-teman pada tidur. Pas mereka makan juga masih ngobrol-ngobrol sambil terus melihat saya. Karena males diliatin terus, saya main game di handphone. Sampai mereka pergi. Ihh menyebalkan banget! Akhirnya salah satu teman saya bangun dan dia memesan makanan. Saya jadi bisa ngobrol sama dia.

Sebenarnya bukan kita aja yang nongkrong sampai pagi di Yoshinoya. Ada seorang bapak-bapak memang udah tidur dari kami datang sampai kami mau pergi. Ada juga orang datang sengaja untuk pinjam WC doang disitu dan pergi. Semakin pagi semakin dingin, bahkan di dalam resto aja saya jadi meresleting mantel dan memakai tutup kepala berbulu. Sewaktu jam 4 pagi, mulai banyak yang datang untuk makan sahur, hahaha. Kayaknya mereka memang menunggu kereta pertama juga. Pelanggan yang datang silih berganti dan pelayannya tetap nggak suruh kami pulang. Baik juga ya?

Setelah tepat jam 5 pagi, kami membayar makanan dan pergi. Pelayannya tetap baik dan tersenyum ramah sewaktu kami pergi. Karena udara yang sangat sangat sangat dingin, kami berlari masuk ke underpass (jalan bawah tanah) yang tembus ke stasiun. Enaknya di Jepang, underpass ada dimana-mana. Jadinya kalau hujan atau udara terlalu dingin, kita bisa masuk langsung ke bawah tanah. Sedangkan kalau matahari terik di musim panas, tetap bisa berteduh. Ternyata semalam itu saya keluar dari Umeda Stasion masih terhubung ke ShinOsaka tapi udah nggak tau lagi lewat Line sebelah mana. Stasiun udah dibuka dan orang-orang juga udah ramai. Kami beli tiket langsung ke Tsurugaoka dengan tarif 210 yen. Seperti biasa, transit dulu di Tennoji. Kereta dari Tsurugaoka baru datang jam 5:45 dan kami berada di Tennoji jam 5:30. Langsung mencari tempat berlindung dari udara dingin yang menusuk tulang. Kami sembunyi di toilet supaya nggak kena angin. Haduuuwh!
Kedinginan beli tiket
Eksis dulu di kereta
Ketika kereta datang, saya dan teman-teman langsung masuk supaya bisa menghangatkan diri dengan heater yang ada dibawah kursi. Rasanya udah lemes banget. Sampai di Tsurugaoka, beli cemilan di 7eleven dan makan di hotel. Badan udah terasa hangat. Setelah sarapan pagi, minum paracetamol, obat allergi, dan imunos, langsung tepar tidur nyenyak. Udah nggak kuat lagi >_<
Ngantuk berat tapi tetep gaya
Selanjutnya menuju Osaka Castle. Stay tuned!

2 comments:

Ajeng Sari Rahayu mengatakan...

lain kali beli jaketnya yg tebal banget aja mbak Mut, spy nggak kedinginan. saya baru ngrasain hawa dingin itu cuma kalo buka kulkas :D


mbak knp kotak komentarnya msh pake yg lama? yg ngisi2 angka dulu?

Meutia Halida Khairani mengatakan...

@ajeng : sengaja, banyak spam.. itu mantel jg udah sangat tebal..

Categories

adventure (256) Living (232) Restaurant (146) Cafe (137) Hang Out (130) Jawa Barat (99) Bandung (91) Story (79) Movie (72) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (46) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) Islam (24) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Warung Tenda (15) Jawa Timur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Cambodia (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Siem Reap (5) Sukabumi (5) Surabaya (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) CEO (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan