Desember 31, 2013

Happy New Year 2014

Mungkin malam ini orang-orang Jakarta sedang ngumpul di Bundaran H.I menyambut Jakarta Night Festival, atau main ke Monas untuk melihat kembang api. Atau juga, BBQ-an sama teman-teman. Bagaimana dengan saya? Seharusnya saya main ke Monas juga, berencana jalan kaki dari kosan ke Jl. Sudirman, lalu menikmati jalan malam-malam sampai ke Bundaran H.I. Memang itu rencana saya, setelah menyetok banyak makanan untuk sekedar BBQ atau makan bersama orang yang saya cintai. Sengaja ijin pulang cepat di hari senin untuk menyelesaikan tontonan KDrama saya The Heirs, jadi malam tahun baru bisa puas jalan-jalan.

Ternyata itu hanya rencana, Allah yang menentukan. Toh malam kemarin rasanya ada halilintar yang datang tiba-tiba ke kamar saya. Saya terpaksa mem-Pause tontonan saya, mendengarkannya berbicara, seperti mimpi buruk. Libur Natal yang begitu panjang ternyata tidak membuatnya cukup untuk meninggalkan saya. Padahal, masih banyak hal yang ingin saya ceritakan setelah seminggu tidak bertemu dengannya.

Saya masih mau bercerita kalau saya tidak lulus ujian. Terlalu naif memang kalau harus mendaftar ujian sehari sebelum hari H dan berakhir dengan nilai jelek. Huft, udah lama nggak ikut ujian malah berakhir dengan nilai sangat jelekkk.. Ahh, sama seperti kamu yang selalu saya sebut jelek, dompet jelek, handphone jelek, semuanya. Dan saya nggak lulus ujian T_T

Saya sempat berantem dengan teman saya hanya karena masalah hotel yang nggak mau saya book karena shared bathroom dan berakhir dengan membooking kamar hotel yang langsung menghadap ke laut. Ketika membuka jendela, kita bisa langsung merasakan angin musim semi yang berhembus dari pantai. Kalau memang mau shared bathroom, sekalian saja pilih laut, biar bisa mandi di laut, also shared bathroom. Mungkin kamu nggak akan penasaran dengan hotel yang saya booking. Mau jelek atau nggak, pasti kamu terima saja. Tidak ada penolakan sama sekali, dan juga nggak akan mau melihatnya. Seandainya kamu tau betapa indahnya tempat-tempat itu. Pasti akan banyak bintang di langit yang bisa kita nikmati bersama ketika duduk-duduk di pinggir pantai nantinya. Saya sudah tidak bisa lagi menceritakannya secara langsung dengan penuh ekspresi seperti biasanya, jadi bacalah email.

Semua hal untuk merayakan tahun baru sudah siap, beberapa teman sudah saya hubungi, tapi semuanya batal begitu saja. Hmmph, hanya bisa memandangi boneka Cony diatas meja yang kamu dapatkan untuk mengganti permintaan saya tentang sebuah kamera yang pernah kamu janjikan. Tidak akan ada lagi makan nasi padang, lalu movie marathon yang selalu kita lakukan setiap weekend, makan takoyaki di Okirobox, bangun pagi hanya sekedar bercerita tentang makeup yang saya pakai lalu berjalan ke halte busway, dan tidak akan ada lagi cerita-cerita seru sepulang kantor.

Semua hanya karena kamu harus memilih satu diantara dua pilihan. Kenapa tidak memilih dua-duanya saja? Kenapa harus menyakiti diri sendiri hanya untuk melihat orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli tentang keseharian kamu? Kenapa selalu mereka yang menjadi prioritas? Kenapa bukan saya? Padahal mereka hanya tau tentang akhir dari sebuah cerita saja, bukan bagaimana mencapai akhir dari cerita tersebut. Apa mungkin karena saya tidak terlalu berharga untuk dipertahankan? Dan terakhir, kenapa tidak mengatakan hal itu pada tanggal 2 Januari 2014 saja? Setidaknya, janji untuk merayakan tahun baru bersama bisa ditepati terlebih dahulu. Atau akhir bulan Maret 2014 saja? Jadi kita bisa terus mengumpulkan foto indah seperti yang pernah saya ceritakan dulu.

Selamat Tahun baru buat kamu. Kita tidak pernah merayakannya di Jakarta...

Desember 26, 2013

Film 99 Cahaya di Langit Eropa

Sebenarnya nonton film ini udah 2 minggu yang lalu, tapi semangat menulis blog baru datang hari ini, hahahaha. Udah semingguan lebih blog nggak di update karena di kantor agak sibuk. Pulang ke kosan udah capek juga, jadi males ngapa-ngapain.

Okeh, karena saya udah baca bukunya, jadi kurang afdal kalau nggak menulis tentang filmnya. Ceritanya masih sama dimana Hanum ikut suaminya ke Wina, Austria untuk kuliah. Disana Hanum mengikuti les bahasa Jerman dan mendapatkan teman seorang wanita Turki berkerudung bernama Fatma (Raline Shah). Disini Raline Shah cantikkk bangettt, OMG! Cocok bgt dia berakting sebagai wanita turki.

Kurang lebih cerita di buku dan di film sama. Saya jadi bisa melihat mesjid di Wina, lukisan Kara Mustafa Pasha, kaligrafi Laailahaailallah di kerudung lukisan bunda maria di Museum Paris, spot-spot yang menjadi saksi kejayaan islam di Eropa (yang belum Cordoba dan Granada), semuanya terlihat jelas di film ini. Beberapa cerita ada yang ditambah dan di hilangkan, misalnya ada si Fatin disana syuting video clip, rasanya agak nggak penting. Hahaha. Dian Pelangi juga penampilannya
dikiiiittt banget. Trus yang balesan email dari orang-orang Barat di Cafe juga diceritakan lebih dulu, seingat saya di buku diceritakan terakhir.

Kalau dibandingkan dengan film Habibie dan Ainun dimana syuting di Jerman itu full menggunakan bahasa Jerman, nggak ada bahasa Indonesianya selain pembicaraan antara Habibie dan Ainun itu sendiri. Di film 99 Cahaya ini, Fatma kan seharusnya orang Turki, tapi banyak banget berbicara bahasa Indonesia. Lalu beberapa mahasiswa teman Rangga juga bicara bahasa Indonesia semua. Rasanya pengen lihat mereka dalam bahasa Jerman. Biar nggak nanggung. Ada juga cerita seorang cewek naksir Rangga di kampus, hihihi.

Film ini bersambung. Saya justru ingin banget melihat Cordoba dan Granada, bagaimana peninggalan islam disana, bagaimana mesjid yang dijadikan museum sekarang, dan juga pengen melihat Hagia Sophia di Turki. Penasaran... Saya jadi suka mempelajari sejarah islam deh sekarang.

Desember 13, 2013

Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman

Hai, hai! Sudah agak lama tidak menulis blog. Kali ini saya mau merekomendasi sebuah buku yang penuh kontroversi (ceilee). Mungkin beberapa dari kalian sudah membaca buku Borobudur dan Singgasana Nabi Sulaiman. Saya udah lama membeli buku ini, tapi belum punya waktu untuk membacanya. Baru setelah heboh berita tentang buku ini di media, saya langsung baca tiga kali. Well, TIGA KALI. Bahkan saya menonton videonya agar lebih paham. Hihihi. Pengarangnya adalah KH Fahmi Basya.

Saya cerita sedikiiiit saja isinya, karena saya nggak mau ada kontroversi juga di komen-komen blog saya (karena hampir semua orang yang menulis buku ini dalam blognya mendapat serbuan komen pro dan kontra). Buku ini bercerita tentang pemindahan singgasana Ratu Saba' (Ratu Boko) ke Candi Borobudur pada jaman Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman memerintahkan jin untuk membangun istananya yang kita kenal sekarang Candi Borobudur. Udah segitu aja yang saya ceritakan, selanjutnya baca sendiri aja.

Buku ini merupakan hasil penelitian 33 tahun. Saya heran membaca komen orang-orang yang tidak suka dengan buku ini. Seharusnya dia bisa melawan pengarang dengan ilmu dan bukti-bukti konkrit serta hasil penelitian juga kalau memang tidak setuju dengan isi buku. Ini malah komen-komenya haduuuwh nggak make sense. Istilahnya gini, orang sudah melakukan penelitian 33 tahun, bukti penelitiannya komplit, eh malah ada orang sok tau bilang kalau pengarang berbohong lah, sok tau lah, OMG!

Sudah semestinya kita menjadi warga negara yang cerdas. Kalau emang mau membantah, silahkan lakukan penelitian, janjian bertemu dengan beliau, sama-sama melakukan pembahasan yang cerdas dan bijaksana. Saya malah sedang mencari seminar beliau atau bedah bukunya karena banyak banget pertanyaan untuk beliau. Sebelum bertanya pasti saya riset sendiri dulu agar tidak terlihat seperti pertanyaan bodoh. Mari menjadi warna negara yang cerdas :)

Desember 05, 2013

Frozen by Walt Disney

Weekend kemarin, saya menonton kartun animasi dari Walt Disney yang menurut saya indah banget ceritanya. Ahh saya suka banget kartunnya. Jadinya saya mau review kartun keren ini di blog. Saya nonton 3D di Kuningan City. Tapi menurut saya kalau nggak nonton 3D juga nggak begitu masalah karena efek 3D nya nggak begitu banyak.

Elsa, Kristoff, Olaf, Sven, Anna, Prince Hans
Kartun ini bermula dengan persaudaraan adik kakak para putri dari Arendelle saat masih kecil. Sang kakak, Elsa, memiliki kekuatan untuk menciptakan es dan salju. Sang adik, Anna, bersama Elsa ketika masih kecil sangat akrab dan selalu bermain bersama. Terkadang mereka membuat ruangan dansa istana menjadi gurun salju untuk bermain dan membuat boneka salju yang diberi nama Olaf.

Tanpa sengaja kekuatan Elsa mengenai Anna hingga pingsan. Raja dan ratu membawa Anna ke Troll untuk disembuhkan. Karena kekuatan Elsa hanya mengenai kepalanya, maka Troll bisa menyembuhkannya dengan syarat semua kenangan tentang kekuatan Elsa dihapus, tapi tetap akan menyisakan kenangan indah ketika masih kecil.

Akhirnya raja dan ratu memutuskan untuk menutup istana dari orang luar. Semua pintu dan jendela ditutup agar tidak ada yang mengetahui kekuatan Elsa. Elsa disuruh untuk menggunakan sarung tangan. Bahkan pintu kamar Elsa tertutup untuk Anna. Karena kartun ini adalah animasi musikal, jadi banyak banget lagu-lagu dimana-mana. Anna suka banget bernyanyi dimana liriknya mengajak Elsa keluar kamar untuk bermain diluar. Suaranya baguuuuusssss banget. Ouh, i touched dengar lirik lagunya. Anna sayang banget sama kakaknya.

Beberapa tahun kemudian, orang tua mereka Raja dan Ratu meninggal karena kecelakaan kapal. Karena itu, Elsa sebagai anak pertama akan dinobatkan menjadi ratu. Ketika hari penobatan, Anna sangat senang karena akhirnya setelah beberapa tahun, istana kembali dibuka untuk umum. Anna juga bertemu dengan Prince Hans, dari Southern Island dan jatuh cinta. Bahkan hari itu juga, Anna minta pada Elsa untuk merestui pertunangan mereka. Elsa tidak setuju, karena mereka baru saja bertemu dan langsung bertunangan. Karena Anna terus mendesak, Elsa merasa terpojok dan tanpa sengaja dia mengeluarkan kekuataannya untuk melindungi diri.

Seluruh istana kaget dengan kekuatan Elsa. Elsa jadi takut dan berlari keluar istana. Tanpa sadar dia mengubah cuaca menjadi salju. Kota yang seharusnya indah karena musim panas, mulai turun salju (Snow in Summer). Elsa terus berlari ke hutan tanpa peduli apa yang terjadi dibelakangnya. Elsa akhirnya menggunakan kekuatan untuk membangun istana es di tebing dengan sangat indah. Ditambah dengan lagu yang dia nyanyikan sangat pas dengan semua kejadian yang terjadi. Anna mengejar kakaknya ke hutan dan dia bertemu dengan Olaf (boneka salju mereka yang tiba-tiba hidup), Kristoff (cowok penjual es), dan rusa-nya Sven. Sejak itu, petualangan mengembalikan Summer ke kota dimulai...

Menurut saya animasi yang satu ini mengandung nilai-nilai kasih sayang antar saudara, keindahan salju dan es, lagu-lagu yang bagus, semuanya udah komplit dalam kartun ini. Kalau kalian nonton versi 3D, kalian bisa melihat keindahan butiran salju dan es lebih jelas. Nonton deh, kalian nggak akan menyesal :D

Desember 02, 2013

Pergi ke Dokter

Musim hujan nih. Kalau pulang sore muacetttnya. Cuma bisa pasrah aja nyampe ke kosan jam berapa. Apalagi kalau udah hujan, nggak ada harapan bakalan dapat taksi, nunggu busway lama, oh Jakarta.

Di sela-sela musim hujan dan macetnya ibukota, akhirnya saya terserang batuk. Sebenarnya saya bukan orang yang terlalu peduli sama batuk. Toh biasanya juga sering sembuh sendiri. Cuma karena sekarang akhir tahun, dan selama setahun saya nggak pernah sama sekali rawat jalan pakai asuransi kantor, akhirnya saya mau menghabiskan plafond saya, hehe.

Pertama saya pergi ke Klinik Asma dan Alergi di Tanah Abang. Awalnya saya kira disana ada dokter spesialis paru, tapi dokter yang saya temui adalah dokter umum yang sudah ahli alergi dan asma. Saya di wawancara dulu sebelum masuk mengenai riwayat penyakit saya, lalu langsung menemui dokter. Beliau mengganti obat asma saya yang biasa, yaitu Salbutamol dengan obat racikan yang lain karena salbutamol membuat saya gemetaran. Dokternya baik sekali dan ramah.

Saya minum obatnya beberapa, selain menghabiskan antibiotik yang sudah saya minum lebih dahulu dari dokter lain. Memang sih obat asmanya ampuh, membuat saya nggak gemetaran, dan nggak begitu batuk. Tapi sekalinya batuk, sakit banget. Kerongkongan terasa kering juga. Akhirnya karena belum sembuh, saya pergi ke RS. Jakarta. Takut juga pergi ke rumah sakit, takut di opname kayak tahun lalu.

Di RS ini, saya menemui dokter spesialis paru yang udah Professor. Saya bilang ke dokter kalau batuk saya belum sembuh dan dahaknya masih kuning. Akhirnya dokter memberikan obat racikan lagi untuk diminum 3x sehari, trus 2x sehari, dan 1x sehari sampai habis. Kali ini dahak saya sembuh, tapi batuknya masih aja membuat saya nggak bisa tidur. Haduwwh, bandel banget batuknya. Dada saya sakit kalau batuknya sampai sebegitunya. Dokter memang menyarankan saya pakai inhaler karena bisa menyembuhkan sesak napas dengan dosis yang optimal. Tapi karena saya udah eneg sama inhaler (dari kecil pakai inhaler dan berakhir pada saat inhaler saya dilewati cicak), jadi benciiiiii sama inhaler. Teringat sama cicak. Dokter ngakak pas saya cerita itu. Tapi suer dok, saya jijiiiiik sama inhaler (dan cicak).

Akhirnya saya menyiasati dengan banyak minum air putih. Ternyata air putih mengurangi batuk secara signifikan. Obat dari dokter masih terus saya minum dan minum air putih yang banyak. Kalau belum sembuh juga saya jadi bingung mau diapain lagi batuk ini. Awalnya saya kira ada yang aneh dengan asma saya. Apa tambah parah atau ada penyakit lain. Alhamdulillah paru-paru saya baik-baik saja. Udah 2 dokter saya temui dan dua-duanya bilang baik-baik saja ya berarti nggak ada masalah.

Semoga batuk ini cepat sembuh. Mana sekarang hujan deras lagi. Ya Allah, semoga Engkau melimpahkan banyak rejeki melalui hujan. Amin :)

November 26, 2013

Wahai Kamu Disana

Seperti biasa, banyak hal yang menginspirasi saya untuk menulis cerita. Kali ini adalah sebuah klinik. Kemarin saya pergi ke klinik Asma dan Alergi di Tanah Abang. Udah lama banget nggak ke dokter. Mungkin karena saya punya banyak saudara dokter, jadinya males kalau harus datang ke klinik atau rumah sakit. Pengennya praktis aja, telepon dan minta resep. Bisa nego lagi kalau obatnya jangan yang mahal-mahal. Baiklah, langsung aja deh simak cerita yang sudah saya bumbui banyak hal :)

***

Tidak terasa, 2 tahun lebih sudah kita tidak pernah berkomunikasi. Aku masih mencoba menjalani hidup yang akhir-akhir ini mulai terasa sangat datar. Bahkan sangat biasa. Tidak ada motivasi sama sekali, bahkan untuk keluar kamar pun malas.

Kamu tau, mungkin kita sudah tidak pernah bertemu. Aku bahkan sangat menghindari tempat-tempat berwarna putih dan pastel, dimana dulu kamu selalu berada. Kalau bukan karena aku pernah hampir mati, mungkin aku akan tetap menghindari semua duniamu. Sampai pada hari kemarin, saat aku harus menemui seorang spesialis untuk mengobati keluhanku. Aku memperhatikan dokter tua dan ramah itu. Rambutnya nyaris putih semua dan gurat diwajahnya sangat terlihat. Tapi dia sangat baik hati, mendengar semua keluhan dan penyakit yang sebenarnya sama sekali aku tidak tahu penyebabnya.

Tanpa terasa seolah waktu berputar, membuat aku melihat dokter itu adalah kamu. Aku melamun, mengingat-ingat kalau dulu aku pernah sangat suka mengeluh tentang penyakitku padamu. Mengingat jadwalmu yang padat, dan beberapa pasien yang memelukmu dengan erat karena dengan izin Allah, kamu telah menyembuhkan keluarganya. Lalu aku tersadar, dokter di hadapanku bukan kamu. Hanya seorang spesialis yang terus memeriksaku.

Aku jadi kembali mengingat. Kita sudah memiliki kehidupan yang berbeda, dengan orang yang berbeda pula. Semula aku merasa hidupku akan sangat baik-baik saja. Semua yang aku mau terpenuhi, lulus kuliah tepat waktu, kerjaan yang memukau, dan keliling dunia. Sayangnya saat aku sadari, semua itu terasa sangat membosankan. Aku pernah bilang kalau aku selalu punya rencana dalam 1 tahun ke depan. Berharap kalau pun salah satu rencanaku melenceng, palingan hanya satu saja. Sekarang, semua melenceng. Padahal Allah telah membukakan jalan untuk semua cita-citaku dalam satu tahun, tapi tidak ada satu pun yang bisa aku raih lagi. Bahkan untuk sekarang dan tahun depan, aku tidak bisa melihat apa pun. Semua buram.

Kamu tau 'kan kalau aku adalah orang yang sangat siap untuk apa yang aku rencanakan dan yang aku inginkan. Sayangnya, itu dulu. Seandainya kamu tau kalau aku yang sekarang adalah orang yang paling tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan, orang yang paling sering menjawab "liat saja nanti" atau "terserah" dan orang yang kehilangan teman. Dulu aku bisa mendiskusikan banyak hal padamu, sehingga pikiranku ringan. Sekarang semua aku telan bulat-bulat, sehingga aku harus sakit untuk memikirkan semuanya, dan menemui seorang dokter untuk mengobatiku.

Sampai aku kembali melihatmu masuk ke ruangan dokter spesialis itu...

November 24, 2013

Mesjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan

Hi, hi! Saya kembali setelah sekitar seminggu belum meng-update blog. Hari ini saya sakit, batuk-batuk kering, dan tenggorokan perih. Daripada bengong di kosan dan kerjaannya tidur aja, sebaiknya saya menulis kegiatan saya minggu ini.

3 hari yang lalu saya ada projek di luar kota, tepatnya kota Padalarang. Pasti orang Bandung tau dimana Padalarang. Untuk orang Jakarta, Padalarang itu sebelum masuk ke Bandung. Kira-kira kalau di tol, Padalarang di KM 121. Sebenarnya projek diluar kota sih udah biasa yah. Tapi yang luar biasa adalah karena saya dapat rumah dinas di Kota Baru Parahyangan.

Komplek perumahan yang satu ini termasuk elit menurut saya. Rata-rata arsitektur rumahnya keren-keren. Ya mungkin harganya udah milyaran kali yah. Beruntung juga bisa dapat kesempatan untuk merasakan jadi orang kaya beberapa hari. Hahaha. Walaupun menurut saya interior rumah dibuat se-efektif mungkin sehingga nggak ada bagian yang sia-sia. Mungkin kalau di Aceh banyak sih rumah se-gede itu, tapi kalau disini, karena kompleknya juga udah punya nama, jadinya muaahall...

Oke, selain rumahnya, menurut saya hal yang nomor satu paling menarik adalah mesjidnya. Karena saya seorang muslim, mungkin saya sangat mengagumi kemegahan sebuah mesjid. Di Bandung, saya sangat mengagumi keindahan mesjid raya (alun-alun) yang ada di daerah Kepatihan. Tapi kalau di Padalarang, Mesjid Al-Irsyad nomor 1. 

Dari website resmi Kota Baru Parahyangan, Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan dimulai pembangunannya pada hari Senin, 7 September 2009 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1430 H (Nuzulul Quran), dan diresmikan pada bulan Agustus 2010. Masjid tersebut dibangun di atas lahan seluas 1 Ha yang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan  dengan Al Irsyad Satya Islamic School (berafiliasi dengan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah of Singapore) sebuah sekolah Islam international yang ada di Kota Baru Parahyangan. Bangunan masjid dapat menampung 1500 jamaah. 
Susunan kaligrafi di tembok
Susunan kaligrafi di liat dari dalam mesjid
Menurut Ridwan Kamil, arsitek mesjid Al-Irsyad ini, bentuk mesjid berupa kubus sederhana tersebut terinspirasi oleh Ka'bah yang ada di Masjidil Haram. Fasad Masjid ini merupakan susunan concrete block yang membentuk kaligrafi kalimat As-Syahadah. By the way, kalian tau siapa Ridwan Kamil? Dia walikota Bandung dan arsitek kelas dunia. Dia pernah merancang Contoh karyanya adalah Marina Bay Waterfront Master Plan di Singapura, Suktohai Urban Resort Master Plan di Bangkok dan Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar-UEA.

Di Tanah Air, karyanya pun sudah terukir. Sejumlah proyek berkelas ditanganinya. Antara lain, Superblok Rasuna Epicentrum di Kuningan seluas 12 hektare, yang meliputi Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, ritel dan waterfront. Dia juga pernah mendapatkan BCI Asia Top 10 Award untuk kategori Rancangan Bangunan Bisnis, dan menjadi juara dalam merancang Museum Tsunami di Aceh. Ia sendiri mendapatkan penghargaan International Young Creative Entrepreneur of the Year dari British Council pada 2006. Bahkan, rumahnya yang sebagian dindingnya terbuat dari susunan botol meraih penghargaan Green Design Award di tingkat Asia dari BCI.

Masjid Al Irsyad meraih Penghargaan "The Best 5 World Building of The Year 2011 untuk kategori Bangunan Religi, versi Archdaily & Green Leadership Award tahun 2011 dari BCI Asia. Bandung patut berbangga.

Awalnya saya mampir ke mesjid ini ketika menunggu shalat Isya. WC dan tempat Wudhunya bersih sekali. Saya berjalan menuju pintu masuk mesjid yang berbentuk kubus itu sambil terus mengagumi keindahan taman dan kebersihannya. Pintu masuk juga unik, semua serba segi empat. 
Pintu masuk
Di dalam mesjid, saya takjub melihat ukiran kaligrafi Allah dalam sebuah bola yang ada di depan tempat imam shalat. Tidak ada dinding disana sehingga hawa dingin padalarang langsung masuk dan membuat imam harus menggunakan pakaian agak tebal. Saya berjalan sedikit ke saf (deretan) laki-laki paling depan (mumpung shalat belum mulai) untuk memastikan bola berkaligrafi Allah itu berada dimana? Ternyata bola itu berada di tengah-tengah kolam ikan. Well, baru kali ini saya melihat tempat imam shalat dikelilingi oleh kolam ikan. Subhanallah indah.
Bola yang dikelilingi kolam ikan
Setelah puas mengagumi bola dan kolam ikan, saya kembali ke saf perempuan dan duduk menunggu adzan Isya. Saya menghitung lampu-lampu yang ada di langit-langit mesjid. Ada 99 lampu, sesuai dengan kaligrafi asmaul husna di setiap lampu. Subhanallah indahnya. Ahh, betah lama-lama disini.
99 lampu asmaul husna
Akhirnya adzan berkumandang. Udah lama saya tidak mendengarkan adzan langsung di dalam mesjid. Saya yakin muadzin disini bukan orang sembarangan. Suara adzannya sangat sangat indah, menggetarkan hati. Lumayan banyak orang yang shalat disini ketika malam itu. Suara imam shalat juga tidak usah diragukan lagi indahnya. Subhanallah. Semoga bisa kembali kesini, mengajak orang-orang yang saya cintai. Oh ya, saya tidak mengambil sendiri fotonya karena nggak bawa handphone dan kamera. Apalagi kalau malam pasti buram gambarnya.

Saya sempat berfoto dengan kamera handphone di depan rumah dinas saya di kota baru. Kalau dibilang gede banget, nggak juga sih. Tapi cukup menyeramkan kalau saya harus tinggal sendiri disana. Tidaaak. Buat kamu yang main ke Padalarang, sempatkan shalat disini untuk merasakan sensasinya. Dulu sewaktu saya wisuda di hotel Mason Pine, mesjidnya belum dibangun, tapi saya udah melihat konsepnya. Ternyata realisasinya jauh lebih indah daripada maket yang saya liat dulu.
Rumah dinas
Indonesia wajib berbangga memiliki bangunan-bangunan indah :)

November 13, 2013

Maja House di Bandung

Hai, hai, hai! Udah beberapa hari nggak posting blog dikarenakan sedang ada Training di kantor. Nggak bawa laptop deh. Weekend kemarin juga keasyikan nongkrong, nonton, dan makan takoyaki. Jadinya males meng-update blog. Oh ya, bagaimana tampilan terbaru blog saya? Keren kan? Masih banyak yang mau saya rombak kode CSS-nya biar keliatan "Meutia Diary-banget", hihihi.

Baiklah, saya mau memposting review sebuah Restaurant super keren dan terbilang baru di Bandung. Namanya Maja House di Jln. Sersan Bajuri No.72. Cihideung Bandung (Telpon: (022) 2788465 / 2788466). Kalau dari arah Setiabudi masih lurus terus sampai Lembang terus belok aja ke jalan Sersan Bajuri. Oh ya, Maja House ini nggak cuma Restonya aja, tapi ada Hotel Stevie G. Kemarin pakai kartu kredit BRI diskon 50% untuk menginap. Dinding hotelnya seperti susunan bata putih rapi yang memberikan kesan unik. Seperti di luar negri. Jadi kalau kalian mau menikmati ketenangan dengan suasana alam, atau mau honeymoon, mending kesini deh.
Resto dari tampak depan
Tangga masuk
View Citylight
Karena saya kemari untuk makan malam, jadinya hawa Lembang ini masih dinginnn banget. Mungkin karena masih asri. Resto ini membagi banyak konsep di dalamnya. Ada konsep bar, meja makan biasa, dan ada lesehan dengan kursi panjang untuk bersantai dengan view langsung Citiylight. Yang anehnya, kalau kalian mau menikmati makanan sambil duduk di tempat lesehan ini, kalian harus makan dan minum minimal Rp. 100rb. Memang sih harga makanan disini itu berkisar antara Rp. 75rban keatas dan minumannya Rp. 20rban keatas. Cuma saya jadi bingung kalau totalnya Rp. 99rb. Ahh, jadi harus beli air mineral.
Gaya dulu
Spot Lesehan kasur
Nasi goreng
Pizza lupa namanya
Salmon bakar
Untuk rasa makanan dan minuman, standar Restoran deh. Enak tapi tidak terlalu WOW. Mungkin karena view Resto dan suasana dingin-dingin yang membuat kami betah berlama-lama nongkrong disitu. Oh saya, saya duduk di kursi lesehan yang ada bulatan-bulatan timbul. Pantat jadi sakit tapi terobati dengan suasana yang begitu romantis.
Kursi bulat-bulat
Foto dulu
Ternyata ketika kami bayar bill, ada promo kartu kredit BRI kalau nggak salah 25%. Udah capek-capek genapin makan 100rb, eh malah dapat diskon. Saya sampe konfirmasi sama pelayannya, "Mas, kalau diskon, nggak apa-apa 'kan kalau perorang nggak nyampe 100rb?" Mas-nya cuma tertawa dan mengangguk. Untunglah... Selamat mencoba ^_^

November 06, 2013

Novel Hanum Salsabiela Rais

Sudah lama saya ingin menuliskan review novel karangan Hanum Salsabiela Rais. Memang sih saya baru membaca 2 buku saja, yaitu 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya. Tapi buku ini bisa membuat saya kagum dengan sejarah Islam yang pernah jaya di Eropa dan bagaimana cerita para mualaf dan muslim yang sekarang mendiami benua tersebut. Buku ini sangat cocok untuk kalian yang suka jalan-jalan, dan mencintai sejarah.

99 Cahaya di Langit Eropa
Saya sempat melihat buku ini beberapa kali di toko buku Gramedia. Belum beli, belum beli, sampai akhirnya Mama saya beli. Akhirnya saya membacanya selama perjalanan dari Aceh ke Jakarta setelah lebaran kemarin. Saya kira ini novel biasa yang memuat cerita-cerita fiksi. Tapi buku ini lain. Sangat kaya akan sejarah islam.

99 Cahaya di Langit Eropa ini bercerita tentang Hanum dan suaminya Rangga yang tinggal di Wina, Austria. Hanum memiliki teman yang bernama Fatma, seorang wanita yang berasal dari Turki yang mempunyai motto, "menjadi agen muslim yang baik." Saya takjub kebaikannya yang mentraktir orang-orang yang menghina islam di sebuah Cafe dan jadinya mereka saling mengirimkan email.

Saya kagum ketika Hanum dan Rangga pergi ke Paris dan bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Saya kagum lagi dengan pengetahuan Marion bahwa Eropa adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Jadi agak malu karena saya sudah menjadi islam dari lahir tapi pengetahuan tentang islam begitu minim.

Yang paling membuat saya takjud dan mungkin sedih ketika Hanum menuliskan perjalanannya ke Cordoba dan Granada. Ah, begitu menyedihkan melihat mesjid besar sekarang malah berubah fungsi. Seandainya menjadi museum saja seperti Hagia Sophia, mungkin tidak akan ada segilintir orang yang bertikai. 

Jadi ingin ke Turki, menikmati keindahan Blue Mosque. Mungkin naik haji atau paling nggak umroh dulu kali yah, baru ke Eropa.
 
Berjalan di Atas Cahaya
Ada 3 penulis di dalam buku ini, salah satunya anak Aceh, yeay! Hahaha. Mentang-mentang ada anak Aceh, saya turut berbangga.  Dalam buku ini menceritakan tentang beberapa muslim yang tinggal di Eropa.

Bunda Ikoy, wanita Indonesia yang menikah dengan Marco Kohler atau disebut Yah Cut, seorang muallaf. Awal saya baca namanya kok kayak orang Aceh yah. Eh ternyata beneran, Bunda Ikoy itu orang Aceh dan yang hebatnya dia adalah perakit jam tangan merk terkenal seperti Calvin Klein dan Swatch. Awalnya Bunda Ikoy ditolak bekerja karena menggunakan jilbab. Tapi dengan pembuktian bahwa dia bisa bekerja lebih baik daripada orang-orang yang tidak menggunakan jilbab, dia menjadi karyawan paling lama bekerja disana. Semoga Bunda Ikoy benar-benar bisa menjadi walikota Banda Aceh dan kita jadi punya bapak walikota bule! Yeay ^_^

Ada lagi cerita sebuah toko bunga di Neerach, Swiss. Nggak ada penjual, tapi ada kaleng uang kembalian. Wah, kalau di Indonesia udah ilang semuanya. Kalau mau beli bunga, letakkan uangnya ke dalam kaleng dan ambil kembaliannya. Kalau kembaliannya tidak cukup, tinggal menulis nama dan alamat di sebuah notes, maka nanti penjual akan mengantarkan kembaliannya. Ahh, betapa budaya kejujuran itu indah.

Lalu Xiao Wei, seorang tandem partner Hanum belajar Inggris-Jerman yang mengajarkan teori gajah terbang. Bagaimana sebaiknya kita harus mengetahui sesuatu bukan dari kata kebanyakan orang, tapi harus dicoba terlebih dahulu. Ahh, keren deh cerita Hanum dan Xiao Wei ini.

Saya jadi pengen nonton film 99 Cahaya di Langit Eropa, apalagi ada Dian Pelangi!! Semoga filmnya bisa sebagus Habibie & Ainun yang sama bagusnya dengan cerita di novel. Aminnn..

November 02, 2013

Kesimpulan Perjalanan 3 Negara

Akhirnya saya sudah memposting semua cerita jalan-jalan ke 3 negara kemarin. Ternyata banyak juga yang bisa saya posting. Saya udah berusaha mengingat semua tarif transportasi dan makan, tapi ada juga yang kelewatan nggak kecatet. Kalau harga barang-barang sewaktu saya belanja itu saya nggak ingat-ingat banget. Pokoknya kalau saya merasa harga itu murah, ya langsung saya beli.

Tips dan Trik Dapat Tiket Murah
Nah, ini wajib diketahui untuk kalian yang mau traveling ke luar negeri dengan harga murah. Pertama, harus NIAT! Kenapa niat? Karena kalau kalian malas-malas nongkrongin laptop untuk rebutan tiket murah, ya nggak kebagian. Untuk AirAsia, biasanya kan promo dimulai jam 23:00. Kalau kalian punya koneksi internet super cepat, silahkan mengantri dengan sabar. Tapi kalau nggak mau masuk ke waiting room terus-menerus, mendingan bangun jam 3 pagi, shalat tahajud, berdoa dapat tiket murah, terus buka internet dan booking. 
Kenapa jam 3? Karena orang yang ngantri dari jam 11 malem udah hopeless nggak dapat-dapat, biasanya mereka udah tidur. Saya yakin mereka baru tidur jam 1 malam dan nanggung banget kalau mau bangun jam 3. Jadi, dari jam 3 sampai jam 5 (shalat shubuh) biasanya saya lancar booking tiket. Hampir selalu dapat. Terakhir saya booking tiket ke Osaka dapat Rp. 980,000++ sekali jalan, dan pulang dari Busan ke Kuala Lumpur dapat Rp. 1,100,000++. Saya belum booking dari Kuala Lumpur - Jakarta karena saya sering banget dapat murah untuk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore. Nggak usah buru-buru juga beli tiket connecting langsung dari Busan - Jakarta kalau jatuhnya dari Kuala Lumpur ke Jakarta mahal. Kalian harus SABAR! Itu yang kedua. Sabar aja nanti juga pasti murah asal penerbangannya masih lama. Nggak berlaku kalau kalian mau terbang 2 minggu lagi, trus sabar-sabar nggak beli tiket. Atau kalian bisa cari pesawat lain yang harganya nggak beda jauh (hanya berlaku untuk penerbangan dari dan ke negara tetangga ya).

Catatan untuk pembelian bagasi. Kalau kalian pergi bersama teman-teman, untuk pergi pertama kali karena koper masih kosong, sebaiknya beli bagasi sedikit aja. Saya beli bagasi 25kg untuk ber-4 untuk penerbangan dari Bandung ke Singapore. Sama halnya dari Kuala Lumpur ke Bangkok juga beli 25kg. Nah, pulang dari Bangkok ke Kuala Lumpur saya beli 40kg, dan Kuala Lumpur ke Jakarta saya beli 45kg. Jadinya kita bisa mengirit banyak hanya untuk bagasi saja.

Bagaimana dengan maskapai lain? Saya menyarankan kalian untuk submit newsletter mereka dan jadi member di website. Kalian bakalan dikabarin kalau ada penerbangan murah dalam jangkauan waktu tertentu. Saya men-submit newsletter AirBusan untuk mengetahui info tiket murah dari Seoul - Jeju - Busan. Dan saya mendapatkan harga 73200 KRW (silahkan convert sendiri kurs saat ini). Bahkan untuk penerbangan dari Osaka - Seoul dengan menggunakan Peach Aviation, untuk penerbangan winter nanti dapat harga Rp. 300rban, tapi saya nggak beli karena saya merencanakan perjalanan pada musim semi. Semoga sakuranya lagi fully blooming.

Bagaimana dengan hotel? Kalau saya biasanya akan memasukkan nama hotel yang saya cari ke Tripadvisor.com, nanti website itu akan menyarankan website mana yang paling murah harganya untuk melakukan booking. Nah, berhubung Tripadvisor nggak link ke AirAsiaGo.com atau Tiket.com, sebaiknya kalau kalian udah menemukan harga termurah versi TripAdvisor, bandingkan lagi dengan website yang kalian tau yang lainnya. Kemarin saya booking hotel di Bangkok itu melalui AirAsiaGo dapat Rp. 100rban permalam, sedangkan di Tripadvisor paling murah Rp. 250rb. Lumayan kan?

Transportasi
Sewaktu saya jalan-jalan kemarin, mungkin yang paling terasa meringankan perjalanan saya karena di 3 negara itu ada jalur kereta. Walaupun namanya beda-beda seperti MRT, BTS, Airportlink, apa pun itu tapi dengan adanya kereta akan membuat turis nggak nyasar. Carilah hotel yang sangat dekat dengan stasiun kereta. Memang ada beberapa hotel sangat terasa getaran kereta saking dekatnya dengan stasiun, tapi kalian akan sangat tertolong dengan tinggal di dekat stasiun. Mau kemana-mana gampang, harganya murah, dan kalian bisa berbaur dengan masyarakat disana (bisa merasakan desak-desakan kalau jam pulang kantor).

Dari 3 kota (Singapore, Bangkok, Kuala Lumpur) yang saya pergi, jalur kereta yang paling nggak memusingkan adalah Singapore, yang kedua Bangkok, yang ketiga Kuala Lumpur. Singapore kalian udah sering lah ya, semua serba teratur. Kalau Bangkok, walaupun stasiun transitnya panjang-panjang, tapi tetep nggak memusingkan. Cuma kalau kalian bawa koper, ya siap-siap naik tangga tinggi karena nggak semua stasiun ada eskalator. Nah, Kuala Lumpur nih. Saya mau transit malah keluar stasiun dan ntah mana stasiun yang mau saya transit-in. Kemarin itu saya beli tiket langsung ke Stasiun Pasar Seni. Tapi transit di stasiun Hang Tuah. Seharusnya tinggal naik aja, tapi alhasil saya malah keluar stasiun. Jadinya bayar tiket lagi deh. Mungkin karena belum terbiasa aja kali yah.

Belanja
Nah, kalau untuk urusan belanja oleh-oleh saya sangat menikmati belanja di Bangkok. Semuanya rasanya murah. Benda-benda unik dan lucu-lucu disana semua murah. Asal kalian tau dimana belanjanya. Kalau nggak tau ya sama aja. Malah belanja di Mall dan jatuhnya jadi mahal. Kalau untuk belanja di Mall, saya sangat suka Kuala Lumpur. Saya belanja makeup, skincare, sepatu, semuanya di Kuala Lumpur. Selain karena toko-tokonya mewah, nyaman, penjaga toko nggak rese', harganya juga murah. Banyak diskon juga. Kalau Singapore sih, muahaal yah. Walaupun kalau natal dan tahun baru banyak diskon, tapi yaaa harga dasarnya udah mahal, jadinya se-diskon-diskonnya juga tetep mahal.

Budget
Berikut totalan Budget saya di 3 negara itu (untuk 4 orang)
Tiket Pesawat :
BDG - SING Rp. 264,000
KL - BKK PP Rp. 3,689,235
KL-CGK Rp. 1,050,218

Bagasi
Bandung - Singapore Rp. 170,000
KL- Jakarta MYR 50.00 (MYR1=IDR3654.66) = Rp. 182,733
Bangkok PP MYR 138.00 (MYR1=IDR3654.65)= Rp. 504,343

Hotel
Airasia go Bangkok - Nasa Vegas Hotel Rp. 206,235 (1 malam x 2 kamar)
Airasio GO KL - Tune Hotel Downtown KL Rp. 921,546 (2 malam x 2 kamar)
Agoda Singapore - Fragrance Hotel Crystal Rp. 525,753 (1 malam x 1 kamar)

Bus
Skybus Airasia KL Sentral - LCCT PP MYR 61.60 (MYR1=IDR3626.25) = Rp. 223,377
Bus Online Singapore - Kuala Lumpur Rp. 1,126,064

Total Rp.  8,863,504
Biaya Per Orang Rp. 2,215,876

Untuk belanja, oleh-oleh, makan, dan transportasi kalau nggak salah kira-kira saya menghabiskan sekitar 3,5 juta. Berarti totalan perorang udah semuanya Rp. 6 juta. Lumayan lah ya udah jalan-jalan 3 negara All-in 6 juta.

Okeh, cukup sekian postingan tentang jalan-jalan kali ini. Next trip Jepang - Korea sekali jalan. Kalau ada yang mau ikutan saya jalan-jalan ke Jepang dan Korea, saya pergi tgl. 11 Maret 2014 dari Jakarta ke Osaka dan pulang tanggal 21 Maret 2014 dari Busan - Kuala Lumpur. Sampai jumpa ^_^

Oktober 29, 2013

Kuala Lumpur Part 2 : Shopping di Mall

Selesai mandi sore dan janjian dengan temen saya bernama Tina dan suaminya Iman, jalan-jalan di Kuala Lumpur kali ini adalah belanja di Mall. Seperti biasa, naik LRT dari stesen Medan Tuanku (yang jaraknya hanya 1 menit dari hotel) ke stesen Bukit Bintang. Mall pertama yang mau saya kunjungi adalah Sungai Wang karena saya mau belanja sepatu Vincci (VNC) disana. Sekalian janjian sama Tina juga di konter sepatu tersebut. Sebenarnya kalau kalian mau beli sepatu Vincci yang lebih lengkap, ada 1 toko lagi di daerah Bukit Bintang juga. 

Setelah belanja dan bertemu dengan Tina, kami semua mau makan malam. Tina bilang, kalau ada Resto Ayam enak bernama Peri-peri Chicken. Hmm, rasanya saya pernah dengar deh nama resto itu. Ternyata, saya pernah menyantap Peri-Peri Chicken ini di Don Mueang Airport Bangkok. Di Kuala Lumpur, pegawai restonya juga memakai kerudung. Jadi kalian nggak usah khawatir dengan ke-halal-annya. 
2 jenis nasi dan roti
Ayam super besarr
Kali ini karena kami ber-6, kami memesan 1,5 ekor ayam dan kaget melihat porsinya. Udah seperti porsi ayam kalkun. Ditambah lagi ada ekstra 2 jenis nasi dan roti bakar. Saya dan teman-teman udah berusaha ngobrol panjang melepas kangen sambil makan ayam super gede itu, tapi tetep aja kami harus bungkus untuk bawa pulang karena kekenyangan. Yang membuat ayam ini sangat lezat adalah teksturnya yang empuk, ada rasa asin dari keju, dan sambalnya yang termantap!!! Sebaiknya kalian mencoba makan disini kalau main ke Kuala Lumpur. Total harga untuk pesanan kami kalau tidak salah sekitar 168 MYR. Saya lupa berapa persisnya.
Temu kangen teman lama
Setelah kenyang makan, saya mampir ke SEPHORA. Oh, ini adalah tempat yang membuat cewek-cewek tenggelam. Buat yang belum tau SEPHORA, ini adalah toko yang menjual makeup, skincare, dan body care dari berbagai macam merk dan tentunya merk SEPHORA sendiri. Awalnya saya hanya mau mencoba berbagai macam kuteks-nya aja. Kalian tau, saya menggunakan 10 merk kuteks pada 10 jari, hahaha. 
Pose di depan toko
10 jari 10 merk, 15 jari 15 merk
Setelah nyobain kuteks, mulai liat-liat parfum, sabun mandi, body lotion, makeup, aaaah pengen beli semuanya. Alhasil saya menghabiskan waktu sejam di dalam toko. Yang paling enak adalah karyawan tokonya nggak ada yang rese' melototin kita kalau nyoba-nyoba tester. Kalau toko-toko di Indonesia kan pasti diliatin. Trus kalau nggak beli, mulai berubah wajahnya. Nah, di SEPHORA saya udah dandan abis deh di dalam toko, mbak-mbaknya tetep cuek. Bahkan temen saya bilang dia kalau nungguin suaminya pulang kerja, tinggal mampir kesini untuk sekedar nyobain kuteks atau nyobain tester lainnya. Alhasil, masing-masing kita jadi nenteng belanjaan. Gatel rasanya pengen beli semua. Apalah daya duit nggak ada. Hiks.. hiks..

Hari semakin malam. Keluar dari SEPHORA kami berjalan menelusuri Bukit Bintang sampai ke KLCC. Awalnya mau lanjut nonton di bioskopnya KLCC (lupa namanya), tapi karena jam 3 pagi harus ke bandara, jadinya cuma jalan-jalan dan foto-foto di sekitar Petronas Tower nan megah itu. Kawasan ini sepertinya nggak ada matinya. Pengunjung masih sangat ramai. Ditambah lagi karena kami disana malam minggu. Kalau ke Kuala Lumpur, belum sah rasanya kalau belum berfoto di menara kembar ini.
Udah sah ke Kuala Lumpur
Pose rame-rame
Karena nggak jadi nonton bioskop, kami pun pulang ke hotel jam 1 malam. Rencananya mau berfoto di Kuala Lumpur tower A.K.A Single Tower. Tapi setelah jam 12 malam, lampunya udah mati. Jadi nggak bagus lagi deh. Jam segitu juga LRT udah off. Mau nggak mau emang naik taksi dan seperti biasa, taksinya nggak pake argo. Nggak apa-apa deh, harganya 20 MYR.

Sesampai di hotel, karena udah jam 01:30, saya memutuskan nggak tidur lagi. Nanggung banget kalau tidur jam segitu karena jam 3 kami haru berangkat ke LCCT. Jadi saya membereskan koper, memasukkan beberapa barang ke tas cadangan yang kami beli di pasar central. Koper udah benar-benar overload, nggak cukup lagi. 
Koper kepenuhan
Beberapa teman saya udah tertidur pulas. Karena saya juga sebenarnya ngantuk, biar seger, saya mandi deh dengan sabun baru yang di beli tadi di SEPHORA. Niat bener yak, hahaha. Setelah mandi dengan body shower HappyBubbleDay! yang membuat wangi semerbak banget, saya langsung membangunkan teman-teman saya untuk berangkat.

Setelah Check Out hotel, kami menyetop taksi di depan hotel. Ada taksi yang sopirnya orang India nggak mau membawa kami karena melihat barang bawaan kami. Memang sih taksi di Malaysia ini kebanyakan mobil sedan jaman dulu yang berukuran kecil. Taksi lain kemudian lewat mau menumpangi kami. Padahal ukuran taksinya sama kecil dengan yang tadi, tapi yang ini sopirnya orang melayu. Dia menawarkan harga 15 MYR untuk ke KL Sentral dan kami minta diantar langsung ke tempat pemberhentian bus.

Kali ini kami menaiki Jet Bus berwarna kuning. Sengaja nggak beli Skybus dari AirAsia lagi. Walaupun harganya 10 MYR perorang, tapi ntah kenapa bus kali ini melaju lebih cepat dari Skybus. Kami tiba di LCCT hanya 50 menit, bahkan konter check in belum buka. Tapi nggak apa-apa deh, daripada terburu-buru lagi.

Beberapa sisa uang MYR saya habiskan untuk membeli coklat di counter Duty Free (khusus barang-barang bebas pajak). Bahkan sampai uang recehan pun saya pakai. Akhirnya, saya pulang juga ke Jakarta setelah 5 hari pergi ke 3 Negara dalam sekali jalan. Capek banget rasanya. Saatnya untuk istirahat seharian.

Oktober 26, 2013

Kuala Lumpur Part 1 : Shopping di Pasar

Setelah mendarat di LCCT Kuala Lumpur sekitar jam 22:30, sebenarnya kami sudah membeli SKYBUS AirAsia secara online. Tapi karena males naik turun kendaran lagi, udah malem banget juga, jadinya kami memutuskan untuk naik taksi. Saya lupa berapa tarif taksinya, kalau nggak salah sekitar 100 MYR. Lumayan mahal juga ya. Dan ternyata benar, ini taksi se-kelas Mercy kemarin yang kami naiki di Bangkok, bedanya kali ini mobil NISSAN mewah.

Mungkin karena bayaran taksinya mahal, jadinya kami mendapatkan sopir taksi yang sangat baik. Dia menceritakan tempat-tempat seru di seputar Kuala Lumpur seperti Batu Caves, Putra Jaya, Sirkuit Sepang, dll. Sayangnya karena mepetnya waktu, saya tidak mungkin mengelilingi semuanya. Rencana saya ke Kuala Lumpur karena mau shopping, shopping, shopping. Hihihi. Ketika sampai di Kuala Lumpur, sopirnya mengajak kami jalan-jalan gratis mengitari Bukit Bintang, Twin Tower, KL Tower, baru menuju hotel.

Sebenarnya sempat was-was karena kami tiba di hotel setelah jam 12 malam. Takut hangus bookingan hotelnya. Untungnya di Tune Hotel nggak apa-apa datang malam-malam. Sekedar infomasi, Tune Hotel ini punya Air Asia. Sewaktu saya booking tiket ke 3 negara ini, saya sekalian beli hotelnya sekitar Rp. 212,000 per malam untuk 2 malam. Ketika saya tiba di hotel, konsep pembelian kamar itu sama persis dengan beli pesawat AirAsia. Kalau mau nambah AC, Wifi, handuk, itu semua nambah bayaran untuk masing-masing penambahan. Bahkan kalau mau komplit AC, Wifi, Handuk, TV, dll, itu biaya tambahannya MYR 40. Nah, beruntungnya saya hanya membayar Rp. 212,000 untuk semua add ons dan berdua dalam 1 kamar. Resepsionisnya juga keren lho, dia bisa berbicara bahasa Melayu, Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Keren bener. Sampai di hotel, ngobrol-ngobrol dulu dengan sahabat saya Dita sampai jam 2 pagi dan menunggu cowok-cowok bawa kabur password wifi dan ngopi di warung depan hotel. Huft.

Jam 9 pagi, saya sudah siap mau ke Batu Cave seharusnya. Tapi karena Dita terlalu capek, jadi kami skip jalan-jalan kesana. Saya berjalan-jalan sekitar hotel untuk mencari sarapan ringan. Saya ketemu warteg versi Malaysia. Saya heran melihat menu ayam super gemuk. Agak terlalu banyak kalau makan berat untuk sarapan. Akhirnya malah beli sandwich aja di hotel.

Selesai sarapan, tujuan pertama saya ada Pasar Central. Nah, enaknya menginap di Tune Hotel, cuma jalan 1 menit, kalian langsung dapat stesen LRT Medan Tuanku. Untuk menuju ke Pasar Central, saya harus transit ke LRT jalur Pink dan turun di stesen Pasar Seni. Pertama kali yang saya lakukan ketika tiba disini adalah pergi ke ATM. Uniknya ATM Maybank itu ya saya bisa menarik uang dengan pecahan yang berbeda. Di Indonesia mana ada. Saya mengambil MYR 250, yang keluar pecahan 100, 50, dan 10. Aneh ya. Oh ya, rate yang dipakai MAYBANK untuk Rupiah terlalu tinggi. 1 MYR = 3,767 IDR.

Pasar Sentral ini seperti ITC kalau di Jakarta, Jatuchak Mall di Bangkok, dan Bugis di Singapore. Kalian bisa menemukan gantungan kunci, magnet kulkas, dengan harga yang beragam. Saran saya kalau belanja disini, mendingan kalian jalan-jalan dulu untuk membandingkan harga, baru membeli. Dan disarankan juga membeli banyak di 1 toko agar mendapat diskon. Saya membeli di toko yang kebetulan penjualnya orang Aceh. Walaupun rada galak orangnya, tapi dia mau ngasih diskon yang banyak.
Magnet kulkas lucu semua >,<
Saya belanja pashmina dengan harga MYR 9. Bahkan ada yang MYR 7 (rada nyesal). Saya juga belanja barang lucu-lucu seperti Passport Case, pensil lucu, magnet kulkas lucu, pin, dll yang kata penjualnya dia import dari Taiwan. Wah, next Trip kayaknya ke Taiwan nih. Saya juga belanja kaos, coklat yang banyak, makan es krim di pinggir jalan, beli souvenirs, sampai ransel saya penuh sesak. Untuk makan siang, karena Kuala Lumpur mayoritas muslim, jadi nggak susah untuk mencari makanan halal. Saya makan di wartegnya dengan harga 5 MYR.
Semua pensil/pulpen lucuuu
Rasanya mau beli semua
Sekitar jam 3 sore, saya kembali ke hotel. Oh ya, MRT dan LRT di Kuala Lumpur sebenarnya agak membingungkan. Saya sampai mengitari stesen Pasar Seni dua kali karena mau transit. Soalnya kalau kalian berada di dalam stesen dan mau transit langsung itu nggak bisa. Jadi ada stesen-stesen tertentu untuk transit, padahal gambar di peta jalurnya berpotongan. Well, mungkin karena saya belum terbiasa kali yah. Baiklah, setiba di hotel, saya dan teman saya langsung menyicil memasukkan barang ke koper dan tas tambahan yang baru di beli di Pasar tadi. Ntar malam masih mau belanja, ntah masih cukup koper ini. Hahaha.

Oktober 21, 2013

Day 2 Bangkok : Grand Palace

Ketika kalian ke Bangkok, belum sah rasanya kalau nggak mengunjungi tempat yang satu ini, Grand Palace. Tempat ini adalah sebuah kompleks ekstra besar yang terdapat di jantung kota Bangkok. Sejak tahun 1782 - 1925, tempat ini adalah istana raja. Nggak heran sih karena selain lokasinya luas sekaliii, arsitektur bangunannya membuat kita berdecak kagum, dan hampir seluruh kompleks berwarna emas.

Sebelum masuk ke dalam Grand Palace, dari Wat Pho yang baru aja kita kunjungi, sebenarnya bisa aja jalan kaki. Tapi, jalannya memutar karena nggak ada pintu masuk dari belakang. Karena udah siang dan juga memikirkan waktu yang harus kami habiskan untuk jalan kaki panas-panasan, kami naik Tuk-Tuk, hihihi. Sempat tawar-menawar sama sopirnya, ada yang nawarin 100 THB, mahal bener. Akhirnya setelah men-survey beberapa Tuk-Tuk, dapatlah kami harga 50 THB untuk ber-4. Sopir Tuk-Tuknya pake' acara balapan lagi, hahaha.
sopir tuk-tuk
eksis dulu
Tembok sekitar Grand Palace
Oh ya, buat kalian yang merasa kehabisan uang THB (saya selalu merasakan hal ini di Bangkok), kalian nggak usah khawatir karena sepanjang jalan sebelum pintu masuk Grand Palace itu banyak bank dan ATM. Tenang aja, semua pegawai bank bisa bahasa Inggris jadi kalian bisa bernapas lega.
Nggak usah takut weekend tutup
Kami memasuki Grand Palace. Saya melenggang dengan santai di jalan masuk tapi saya baru nyadar kalau 2 orang teman saya nggak boleh masuk. Oh, ternyata karena mereka menggunakan celana pendek. Nah, buat kalian yang mau main kesini, jangan pakai celana pendek ya. Di sebelah penjaga ada gedung dengan tulisan BORROW. Banyak yang mengantri disitu, tapi banyak yang keluar lagi tanpa celana panjang atau rok. Kenapa? Ternyata walaupun tulisannya BORROW, kalian harus membayar 200 THB. Itu sih namanya RENT, bukan BORROW. Akhirnya teman saya keluar dari Grand Palace dan membeli celana Thailand dengan harga 100 THB. Udah harganya murah, jadi hak milik lagi. Selagi saya menunggu teman-teman saya membeli celana panjang, saya duduk di pinggir jalan dan lagi lagi orang Indonesia di sebelah saya, hahaha.
Jalan menuju pintu masuk
Nongkrong dengan pemandangan menakjubkan
Setelah urusan pakaian selesai, kami berjalan menuju pintu masuk. Harga tiket masuk ke Grand Palace ini sekarang 500 THB. Duh, mahal bener yah?! Untung uang deposit hotel tadi ada 1000 THB, cukup untuk berdua. Harga 500 THB itu hanya untuk turis, kalau penduduk lokal beda lagi harganya dan saya lupa berapa. Di pintu masuk ada patung yang hampir semua orang kesana berhenti untuk memujanya. Saya kurang tau ini patung apa dan penjelasannya juga menggunakan tulisan Thailand.
Tulisan harga tiket terlihat direkayasa
Tiket masuk
Patung yang dipuja hampir setiap orang
Kalau kalian sanggup, silahkan masuk ke semua tempat dan mengambil foto. Karena singkatnya waktu kami disini, jadinya hanya bangunan yang penting-penting aja yang kami datangi. Pertama-tama langsung ke Upper Terrace, tempat dimana candi Phra Siratana Chedi yang berwarna emas. Saking ramenya orang yang berfoto disini, jadi mengambil foto seadanya aja. Susah juga nungguin kosong dulu, karena orang bolak-balik ke candi ini untuk berfoto. Kita nggak boleh masuk ke dalam candi ini.
Phra Siratana Chedi
Ada penampakan di sebelah saya
Selanjutnya berjalan ke Phra Mondop, tempat disimpannya banyak benda-benda suci (berdasarkan baca di buku petunjuk). Saya nggak masuk ke dalamnya karena emang nggak bisa masuk. Jadinya hanya berfoto aja di sekitar situ. Saya senang disini karena hampir semua bangunannya keren-keren bangetttt. Rasanya ingin berfoto di setiap spot.
Phra Mondop
Pose disamakan dengan patungnya
Gaya dulu
Yang paling menyilaukan adalah The Royal Monastery of Emerald Buddha, tempat patung budha yang terbuat dari batu zamrud berada. Batu zamrudnya ditemukan pada sebuah stupa di Chiang Rai tahun 1434. Dulunya patung ini di plaster dan terlihat seperti gambar buddha biasa. Lalu baru setelah plaster di bagian hidung terlepas, terlihatlah patung berwarna zamrud. Kalian tau, masuk dalam candi Emerald Buddha nggak boleh grasak-grusuk. Harus sopan, tenang, nggak boleh berfoto, dan kalian akan takjub melihat ornamen-ornamen emas yang sangat menyilaukan mata di sekitar patung. Subhanallah indahnya. Saya sangat menyayangkan karena nggak boleh berfoto, hiks.
Candi tempat Emerald Buddha
Selesai dari candi Emerald Buddha, kami berfoto-foto di gedung-gedung unik lainnya yang bahkan dibangun oleh King Rama V dengan bergaya Eropa. Nama komplek gedung bernuansa Eropa itu adalah Phra Thinang Chakri Maha Prasat. Disana bahkan ada pasukan yang siap berjaga dan nggak bakalan berekspresi sedikit pun bahkan kalau kalian mau nge-gelitikin dia (berani emang?).
Godain penjaganya
Depan sebuah Mansion
Mansion dari samping
Karena pesawat kembali ke Kuala Lumpur jam 18:45 dan mempertimbangkan perjalanan ke bandara 1 jam, jam 2 siang kami langsung kembali ke hotel. Rada kapok terlalu terburu-buru seperti sewaktu berangkat ke Bangkok. Kali ini kami tidak menggunakan River Taxi lagi karena menunggu perahunya aja bisa 20 menit. Jadinya kami memutuskan untuk naik taksi aja ke stasiun BTS terdekat. Sialnya, sopir taksi kami tidak bisa berbahasa inggris sama sekali. Bahkan saya menunjukkan peta dengan tulisan cacing pun dia nggak tau. Ini kemungkinan cuma dua, dia buta aksara apa memang udah rabun karena udah tua juga sih sopirnya. Sopir taksi membawa handpone saya untuk bertanya pada beberapa orang. Tapi ntah kenapa hasilnya nihil. Saya udah menirukan aksen nama salah satu stasiun Rachadewi (baca : rajadewhi) tapi nggak berhasil juga. Akhirnya, seperti jurus ampuh di postingan kemarin, tanya sama anak sekolah dan suruh terjemahkan ke sopir taksi. Alhamdulillah, setelah perjuangan panjang nanya alamat, sampai juga kami ke BTS Rachadewi.

Sampai ke hotel pas jam 3 sore. Kita langsung mengambil barang-barang yang sudah dititipkan di hotel dan menyetop taksi apa pun asal dia tau Bandara Don Mueang. Kami naik taksi warna pink, nggak menghidupkan argo dan dia meminta ongkos 500 THB. Untung dia lumayan bisa berbicara dengan bahasa inggris. Oh ya, ada peringatan dengan simbol unik di taksi. Saya ngakak sendiri melihatnya. Biasanya ada peringatan, berarti pernah ada yang melakukannya kan? Hahaha.
Ini sebuah larangan, berarti ada yang pernah melakukannya
Nah, ini silahkan dilakukan. Itu lambang cewek maksudnya apa?
Setiba di Bandara Don Mueang, sebelum Check in Bagasi (karena memang masih tutup konternya), kami sholat di Bandara. Ada Muslim Praying Room disana jadi sangat memudahkan kita untuk shalat. Setelah kami check in bagasi, hal yang pertama kami lakukan adalah makaaan!! Sekalian mau menghabiskan sisa uang THB juga. Kami bertanya apa KFC atau McD disini ada? Ternyata konter makanan ada di bagian dalam setelah imigrasi.

Karena udah kekurangan uang THB, saya memutuskan untuk menggunakan kartu kredit untuk makan kali ini. Pengen makan enak dan banyak. Uang baht nya dipakai untuk beli Cheese Burger McD dan kartu kredit dipakai untuk makan di Peri-Peri Chicken. Saya memutuskan makan di Resto ini karena ada tulisan HALAL dengan tulisan Arab. Dan saya sama sekali tidak menyesal. Porsinya besar, ayamnya gemuk, dagingnya empuk, dan rasanya sangat mantap. Sambelnya Peri-Peri Chicken juga mantap benerrrr. Ntah karena kami laper berat, jadinya jadi terasa enak banget masakannya. Total untuk makan ber-4, ayam utuh, 4 nasi, dan 2 air mineral adalah 616 THB.
Ayam super gendut
Akhirnya naik pesawat dan terbang ke Kuala Lumpur. Sekalian foto-foto lampu indah dari atas pesawat. Kuala Lumpur, I'm coming :D
View dari pesawat

Categories

adventure (275) Living (242) Restaurant (146) Cafe (139) Hang Out (132) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (83) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (49) Event (48) Hotel (36) Islam (36) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) CEO (7) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Myanmar (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) Yangon (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)