April 30, 2012

Seandainya Ayah Ada Disini

Seolah-olah membuka banyak cerita baru ketika aku harus menyelamatkan Allysha dan mendapatkan Darre 5th. Sepertinya aku melakukan kesalahan. Aku baru ingat kalau kekuatan mengalihkan atau menghilangkan pikiran itu hanya berfungsi kepada orang-orang yang tidak berurusan dengan dimensi lain. Aku salah besar. Di dunia ini, yang pada awalnya biasa saja bahkan sampai aku lulus kuliah, ternyata banyak hal yang tersembunyi.

Aku dan beberapa pengawal Ayahku tidak pernah memprediksi hal ini akan terjadi. Pertarungan di lapangan sepak bola kampusku itu seolah mengirim pesan kepada seluruh pemilik guardian di dunia. Beberapa ada yang tidak peduli atau malah senang karena penerus Salman Al-Farishi adalah seorang anak laki-laki, bukan hanya Allysha seperti yang kabar burung. Sayangnya, justru yang menaruh dendam terbesar pada Ayah, menganggap ini adalah kesempatan untuk menghancurkanku. Pesan demi pesan aku terima dan membentuk sebuah cerita singkat tentang apa yang telah terjadi dulu ketika Ayahku berperang. Beliau menang, nyaris mati, dengan 2 Terra Guardian paling hebat bersamanya. Hanya saja, sehebat apa pun guardian yang aku miliki tidak akan bisa aku kendalikan hanya dengan 1 kekuatan pikiran. Aku merasa kalah jauh dari musuh Ayahku kali ini. Ayah, seandainya engkau ada disini.

Kalau saja, Ayah menulis sebuah buku harian. Kalau saja saat aku kecil, hal yang aku suruh Ayah ceritakan adalah tentang peperangan yang pernah dia alami. Aku memutuskan untuk menelusuri silsilah keluarga Ayah mulai dari kakek. Aku berusaha keras mencari tau tentang keadaan sebenarnya, kenapa keluarga Ayah bisa memanggil Guardian. Aku ingin tau sehebat apa Ayah dulu dan kenapa bukan hanya Allysha saja di dunia ini yang memiliki sisi jahat yang sangat menginginkan pertarungan sampai mati.

Walaupun begitu, Tuhan masih sayang padaku. Aku dipertemukan dengan orang-orang luar biasa yang bisa membantuku. Bahkan beberapa diantara mereka jauh lebih hebat dariku. Mereka ikut denganku, bukan karena ingin jadi pengawal atau temanku. Tapi mereka memiliki tujuan dan musuh yang sama. Mungkin aku tidak terlalu mengerti tentang orang-orang seperti mereka, bahkan orang tua mereka ada yang sangat membenci Ayah. Lantas mengapa?

Aku berdiri di balkon rumah. Sejauh mataku memandang tampak sesuatu yang tak asing bagiku dan mengerikan. Ribuan burung bergerak teratur dengan membentuk formasi segitiga dengan seorang pemimpin di depannya. Aku sudah memanggil Allysha, Rizki, Zaki, Fahmi, dan Sarah untuk bersiap. Kali ini, kita berperang sampai mati.

Cerita ini adalah penggalan novel CRUSH kedua. Untuk mengetahui cerita CRUSH pertama, silahkan pesan novelnya pada saya. Harganya hanya Rp. 30.000.

April 25, 2012

Pancious

Kalau di baca dari judulnya, ada yang tau nggak benda apa itu Pancious? Nah, Pancious adalah nama sebuah Resto Pancake paling yummy yang pernah saya makan. Kemarin weekend setelah nonton 21 Jump Street, saya merasa lapar dan mampir kesini. Tempatnya di Plaza Indonesia, Jln MH Thamrin KAV 28-30, Lt. 5 Unit E6-E8, Jakarta Pusat.
Logo
Tempatnya so cozy
Tempatnya di dominasi dengan warna merah dan banyak cermin-cermin yang membuat Resto ini terlihat luas. Saya suka interior berwarna merah karena terkesan glamour. Setelah di persilahkan duduk, saya memesan makanan. Saya tergiur melihat buku menu karena foto makanannya semuaaaanya menggugah selera.

Saya pesan Smooked Beef Pancake (Rp. 47000), Waffel Sausage Rp. (44500), Lychee Ice Tea (Rp. 27000) dan Mango Ice Tea (Rp. 27000). Ntah karena sangat lapar juga, rasa wafel dan pancake begitu yummny di mulut saya. Enaaak banget. Pancake dan wafelnya tidak terlalu manis dan membuat kombinasi dengan sosis dan smooked beef jadi pas. Serasa makan steak biasa aja. Saya kira porsinya terlalu kecil dan membuat nggak kenyang, tapi menurut saya, porsi segitu sudah cukup pas untuk menghilangkan lapar. Apalagi minumannya merupakan campuran buah yang bisa dijadikan pencuci mulut juga.
Manggo dan Lychee Ice Tea
Smoked Beef Pancake
Waffel Sousage
Mungkin, saya mau balik lagi ah kesini. Tapi, promo dengan kartu kredit BNI udah berakhir, jadinya nggak dapat diskon 50% lagi.  Silahkan buka webnya untuk melihat menu yang lebih menggiurkan di http://www.pancious.com/

April 22, 2012

Kakek Penjual Amplop


Kemarin, saya menonton salah satu stasiun tv yang mengatakan rakyat miskin itu menderita. Hmm, kata-kata 'menderita' itu sering kali mengartikan hal yang menyedihkan. Tetapi menurut saya, menderita bisa jadi keikhlasan, kejujuran, dan pembelajaran hidup. Berikut adalah cerita yang saya ambil dari teman di Facebook. Saya rasa, begitu banyak nilai hidup yang ada di dalam tulisan ini makanya saya menginginkan kalian membacanya juga. Selamat membaca.

Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.

Kakek Penjual Amplop di ITB
 
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.
 
Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: 
“Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.
Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.

April 19, 2012

Kartini dan Emansipasi

Wew, sepertinya judul postingan saya kali ini berattt. Hihihihi. Mumpung akan segera menyambut hari kartini, jadinya saya mau posting hal-hal yang berbau emansipasi. Nggak sengaja tadi pagi menonton tv yang melaporkan sekarang sudah banyak pilot pesawat, pilot helikopter, polisi, dan pembalap berasal dari kalangan wanita.

Nah, berhubung saya adalah wanita tulen yang belum pernah dan tidak mau operasi plastik, saya jadi ingin menuliskan sesuatu tentang wanita. Ntah kenapa, saya sangat menyukai nonton film dimana pemeran utamanya adalah perempuan sakti seperti My Wife is a Gangster, Gokusen (My teacher is a Yakuza girl), Final Fantasy XIII, dll. Atau dalam game dimana para sniper jitu (saya juga pernah melakukan headshot sewaktu main paintball, hahaha) dan tactician adalah seorang wanita. Dulu setiap main game RPG, saya dan abang saya selalu bekerja sama untuk menamatkan game. Saya bagian taktik, dan abang bagian menyerang. Kesannya keren, dimana para tokoh utama yang kuat dan berotot adalah cowok, sekarang bisa melihat cewek dengan kecantikannya bertarung melawan para pria jahat.

Mungkin saya dibesarkan dalam kalangan keluarga yang juga pikirannya masih primitif. Cewek itu kerjanya masak, 'ngurusin rumah, mempercantik diri, jagain anak, dan lain sebagainya. Oke, sebagian kerjaan cewek memang itu. Saya juga suka hal-hal seperti masak, ke salon, shopping, tapi saya juga suka manjat pohon waktu kecil, hahaha. Saya juga suka balapan motor dan mobil dulu sewaktu di Aceh. Sekarang sejak operasi kaki, udah nggak pernah nyetir lagi.  Dulu di keluarga saya, ketika abang berada di Bandung dan Ayah saya masuk rumah sakit, mau nggak mau, saya yang menyetir mobil ke Medan dari Lhokseumawe untuk mengantar Ayah berobat. Awalnya gemetaran karena kita harus berlomba dengan truk-truk pembawa ikan, tekstil, mobil-mobil besar antar propinsi. Karena teringat Ayah, hanya saya yang bisa diandalkan, mana usia saya masih 19 tahun, akhirnya saya berhasil sampai ke Medan, alhamdulillah. Sewaktu tsunami juga, saya jadi sopir pribadi tante, dimana kalau gempa dan seluruh sekolah dipulangkan secara serentak, saya harus menjemput anak tante, mengebut sampai rumah, lalu jemput kakek, mengantar makanan, belanja, dan semua bisa saya kerjakan.

Dulu juga saya menganggap, cowok-cowok di sekolah yang bisa memenangkan olympiade fisika itu sesuatu yang keren dan nggak mungkin ada peserta cewek yang pernah menang. Akhirnya saya belajar keras, mumpung masih ababil dan selalu berusaha cari perhatian, akhirnya saya menjadi peserta cewek yang menang sampai seleksi propinsi. Saat itu, saya berasa keren karena ketika berbaris per-mata pelajaran olympiade, saya yang paling cantik sendiri, hehehehe.

Mungkin saya tidak pernah menginginkan bisa menyetir tronton dan truk, menyetir pesawat dan helikopter, jadi binaraga, atau apalah yang benar-benar pekerjaan cowok. Tapi saya cukup merasa bangga bahwa pernah membuktikan kalau girls can also do it!

April 16, 2012

Tsunami 2004

Well, ada yang suruh saya posting cerita tentang tsunami tahun 2004 lalu. Saat itu, saya memang baru berumur 17 tahun, masih SMA, dan akan menghadapi ujian semester. Memang sebelumnya saya sama sekali tidak pernah menuliskan catatan kejadian ketika tsunami melanda. Setelah saya ngubek-ngubek email yang pernah saya kirimkan kepada teman saya Galuh pada tanggal 18 Januari 2005, saya berasa bersyukur bahwa saya pernah menuliskannya. Mungkin agak berantakan, tapi saya akan mempostingnya disini.

Assalamu'alaikum...............................
Gal, aku benar-benar nggak nyangka banget tsunami. Siaapaa coba yang kepikiran kalo tsunami 'tu bakalan datang ke Aceh, trus syerremm buangget!!! Nih, aku ceritain kronologi ceritanya.

Kira-kira jam 8-an pagi, aku bersama keluargaku yang di Banda Aceh baru selesai sarapan. Kebetulan waktu itu ada Yuni (adik perempuan saya) di rumah. Karena libur natal tanggal 25 Desember, dia nginap dirumahku. Trus, aku 'kan lagi minum obat, keluargaku yang lain masih duduk di meja makan, dan Yuni di wc. Tiba-tiba Gal, gempa. Kuattt bangeeet. Keluargaku lari langsung keluar. Aku tetap di dalam nungguin Yuni. Yang lain udah pada teriak-teriak gitu. Sepupu-sepupuku sampe marah karena aku nggak keluar-keluar juga dari rumah. Aku nggak mungkin ninggalin Yuni. Tapi karena goncangannya terlalu hebat, akhirnya aku keluar. Rupanya kakak sepupuku bersama anaknya juga belum keluar. Aku malah disuruh panggil mereka didalam. Waktu aku nungguin Yuni, aku berdiri di pagar. Gila banget Gal, tanahnya miring kiri dan kanan. Aku pegangan di pagar kuat-kuat. Mobil di garasi terlihat turun-naik. Baru setelah itu Yuni keluar. Sepupu-sepupuku sudah berada di luar pagar semua. Mereka suruh aku gabung sama mereka. Semua tetangga juga sudah pada keluar dan duduk di jalan. Aku udah jongkok, tapi saking miringnya tanah, aku sampai jatuh terlentang ke tanah. Kuat baaaangggeettt gempanya.. Pohon-pohon aja terlihat seperti mau lepas dari tanah. Seperti lagi lompat-lompat pohonnya.

Sekitar 10 menit kemudian, gempanya reda. Sepupuku mengeluarkan mobil dari garasi karena takut kalau ntar rumahnya roboh kena mobil. Rumahku Alhamdulillah nggak ada retak sama sekali. Hp mendadak nggak ada signal. Aku bingung bagaimana caranya menelepon Mama. Sepupuku yang lain datang ke rumah karena kemarin ada pinjam motorku berhubung dirumahnya ada acara. Dia bilang, kalo Pante Pirak (Supermarket paling besar di Banda Aceh) sudah hancur rata dengan tanah. Gila...., 'kan nggak kebanyang banget tu?! Supermarket itu tiga lantai dan rata dengan tanah. Sepupuku yang lain pada pergi melihat Pante Pirak. Mereka pake mobil dan motor. Jadi, dirumah tinggal aku, Yuni, Kak Ijah (sepupuku), dan Mami (kakaknya mamaku). Kami berempat lagi sibuk-sibuk ambil hp dan mencari signal.

Sekitar jam setengah 9-an, semua orang pada lari-larian. Aku nggak tau kenapa. Tiba-tiba tetanggaku teriak kalo air laut naik. Aku heran dengan kata-kata "air laut naik". Aku langsung panik, seingatku gelombang air laut itu 'tsunami'. Tapi, aku nggak kepikiran kalo tsunami itu bakalan naik ke daratan. Aku takut juga. Aku langsung bilang sama Mami kalo sebaiknya kita masuk dan ambil barang-barang yang perlu dulu. Aku ambil hp, dompet, dan obat asma. Yuni sempat ganti celana panjang. Trus aku sempat nungguin Mami pakai celana panjang juga. Tadinya Mami cuma pake jubah. Waktu keluar ke garasi, aku liat Kak Ijah udah naik mobil dan pergi. Aku teriak bilang, "Mami cepet ada tsunami!!" Mamiku malah nggak tau lagi apa itu tsunami. Beliau malah nggak mau langsung lari. Mami malah tutup pintu pagar dulu dan mengunci pintu garasi.

Tiba-tiba waktu aku nungguin Mami menutup pintu pagar, ada suara ombak. BRUUUZZZ!! Mungkin, suaranya persis sama seperti ombak menghajar batu karang. Aku panik dan teriak, "SUARA APA ITU?" Aku langsung shock ketika menoleh ke belakang. Dari belakang rumah tetanggaku ada air ombak, hitam, bawa pohon, seng, kayu-kayu, dan tingginya mencapai 5-6 meter... Aku langsung teriak, "YUNI CEPATTT!!!" Aku lari ke ujung lorong rumahku. Aku juga melihat anjing udah lari, tapi masih lebih cepat aku lari. Aku takut melihat hewan panik. Seperti mau kiamat. Yuni masi nungguin mami. Aku udah teriak, "YUNI CEPAT!!!" karena dari segala arah air datang. Trus air ombak itu udah jatuh dan pecah kejalan mendorong mobil-mobil yang terparkir. Aku langsung menyebrang jalan. Kakiku sudah kesiram air bah sedikit. 

Di jalan waktu aku lari, airnya semata kaki. Berselang beberapa detik sewaktu Yuni lari, air sudah mencapai lutut tingginya dengan arus sangat deras. Mami nggak sanggup lari lagi. Aku sudah sangat takut. Aku suruh Yuni untuk berusaha lari terus. Waktu aku liat kerumahku, air turun seperti air terjun... Serem banget! Aku kira aku nggak akan hidup lagi waktu itu. Tawakkal sama Allah, aku terus berlari. Waktu aku liat kebelakang, Yuni masi ketinggalan dan pas dibelakangnya air hitam mengejar. Aku balik untuk menggandeng Yuni. Aku nggak mungkin 'ninggalin Yuni. Aku nggak mau adikku hilang. Walaupun saat aku berbalik menggandeng Yuni, aku merasa tidak akan selamat lagi. Di otakku sempat terpikir, lebih baik mati bersama, atau Yuni yang hidup.

Air sudah semakin tinggi dan Mami nggak keliatan lagi. Aku lari masuk kedalam kampung. Kami nggak lari di jalan lurus, tapi belok kiri-kanan. Kalau lari dijalan yang lurus, airnya nggak ada penghalang. Kami bisa kegulung. Aku dan Yuni lari sprint (lari tercepat). Kita nggak bisa lambat-lambat. Air mengejar terlalu kencang. Sampai di jalan besar, udah keluar kampung, kami duduk sebentar. Capek! Ada orang yang bilang daerah Peunayong (pasar), kalau kapal boat penangkap ikan lompat ke jalan. Pikirkan bagaimana kencangnya air waktu itu. Aku pusing. Otakku kacau. Yuni malah nangis kepikiran Mami. Trus, tiba-tiba Bang Oya (sepupuku, anaknya Mami) bersama istri dan anaknya datang. Mereka tanya aku ngapain disini. Kujawab kalo ada tsunami dan Mami ketinggalan. Bang Oya langsung pucat. Kak Nova (istri Bang Oya) juga hampir nangis. Aku bingung mendeskripsikan airnya pada mereka. Lagi panik-paniknya Bang Oya, air malah sampai ke jalan. Tapi masih belum tinggi. Bang Oya menyuruhku dan Yuni untuk lari duluan. Oh iya, aku lari nggak pakai sendal, pakai baju dan celana pendek karena waktu itu hari minggu dan aku belom mandi. Males juga  kemana-mana. Sukses membuat kaki lecet terkena pecahan kaca dan batu kerikil. Tapi saat itu, aku tidak peduli.

Aku lari lagi masuk kampung berikutnya. Jauhhh banget sampai akhirnya aku sampai di jembatan. Aku melihat ke sungai. Banyak sekali orang hanyut, sampah-sampah, snack-snack gitu... Aku dan Yuni berdiri di atas jembatan. Sempat terdengar tadi orang sekitar bilang kalau air sungai meluap. Aku kira, bertemu dengan sungai adalah hal buruk. Ternyata sungai ini tidak meluap. Alhamdulillah. Tiba-tiba gempa lagi. Aku takut jembatannya hancur. Jadi, aku lari lagi. Sampai di simpang Surabaya (nama pertigaan di dekat jembatan), aku memang sudah tidak sanggup lari lagi. Napasku sesak. Aku lari sekitar 3 KM. Jauh nggak?? Nggak pakai sendal lagi. Baru beberapa menit aku duduk, orang-orang lari seperti ada kerusuhan. Mungkin itu adalah pengalaman paling mengerikan seumur hidupku. Kata mereka, air laut naik lagi. Itu kalo nggak salah tsunami yang ke 2. Kan tsunaminya ada 2 kali. Aku benar-benar nggak sanggup lari lagi. Akhirnya, Yuni yang papah aku lari. Untung aja Bang Oya lewat pakai mobil dan kami dibawa ke arah bandara. Rasanya haus, gemetaran, lapar, capek, nggak ada yang jualan makanan lagi. 

Kira-kira 1 jam di Lambaro (nama kampung arah ke Bandara), kami balik ke kota. Bang Oya mau mencari Mami. Kami ketemu sama sepupu-sepupu yang lain. Udah ngumpul semua kami dirumah orang. Tapi mereka cemas karena Mami nggak ada. Mereka semua anak dan menantu Mami. Aku sampai takut dimarahi karena nggak berusaha menyelematkan Mami, tapi untung aja mereka baik dan tidak menyalahkanku.

Yang menyeramkannya lagi, lagi enak-enaknya kami minum-minum dan beristirahat karena kebetulan ada yang jualan, tiba-tiba semua orang lari lagi. Kami saking paniknya lari lagi pakai mobil. Sebelum itu, flexi sepupuku bisa dipake untuk kasi tau ortuku kalo aku dan Yuni baik-baik saja. Orang padat banget dijalan.... Aku merasa sedang bermimpi kala itu. Udah kira-kira setengah jam, kami balik lagi ke kota untuk berharap ada kabar dari Mami. Sekarang kami rencananya mau cari Mami. Cuma jalan menuju rumahku airnya tinggi sekali. Walaupun nggak ada tsunami lagi, 'kan jadi banjir. Kami nggak bisa lewat. Mana banyak provokator yang teriak "AIR NAIIKK!" Panik deh semua orang.
Kami mengungsi di mesjid di Leung Bata jam setengah 3 siang. Itu jaraknya dari Simpang Surabaya 1 km. Kami jalan lagi. Bolak-balik kesana karena mau liat keadaan ada sekitar 5 kali. Caaaapppeeekkk!!! Tapi mau bagaimana?? Terakhir, kami ke rumah sepupu. Dia bilang, Alhamdulillah Mami selamat karena naik pohon. Gimana caranya?? 

Udah tau mami baeik-baik aja, kami rencananya mau balik ke mesjid Leung Bata. Baru setengah jalan, datang Bang Oya bersama Mami pakai mobil. Aku seneng banget ketemu Mami. Semuanya kira mami udah nggak ada lagi. Udah banyak mayat bergelimpangan di jalanan. Rasanya lututku gemetaran terus. Kami dibawa kerumah sepupu yang bernama Kak Titin. Kebetulan, rumahnya baik-baik saja. Aku nginap disana. Mati lampu. Trus makanan cuma mie dan telur. Tidak ada warung yang buka. 


Lagi tidur malam, tiba-tiba gempa lagi. Kami lari keluar. Trus baru 2 jam tidur, gempa lagi. Kuat. Trus 1 jam lagi, gempa lagi. Aduh Gal, aku sampe mau muntah... Aku nggak enak makan dan tidur. Takut tiba-tiba ada air dan kami semua nggak sempat nyelamatin diri. Phuiiih...., besoknya, kami pindah tempat abangnya mamaku. Disana air sumurnya bersih. Kalo dirumah Kak Titin nggak terlalu bersih. Aku mandi. Kami 3 hari nggak sikat gigi. Ada abang sepupuku yang tinggal di Prada, dia hampir tidak diketemukan. Rupanya ada. Mama dan Papaku hari selasa datang menjemput. Hiks, aku nangis! Orangtuku juga nangis. Mereka takut juga aku nggak ada lagi.
Udah ceritanya. Kaya'nya ini email yang paling panjang yang pernah kukirim. Aku kirim ini duluan ya!! Takut nggak connect. Nanti sambung lagi....

Masih merinding memikirkannya :(

April 12, 2012

Gempa Aceh

Kemarin, Aceh gempa. Keterlaluan kayaknya kalau kalian nggak tau tentang berita ini. Sebenarnya, perasaan saya kemarin campur aduk. Serasa kejadian 8 tahun yang lalu flashback dengan cepat ke otak. Rasanya langsung merinding, melihat skala gempa 8.8 SR. Teringat dulu, 8.9 SR dan di revisi jadi 9.1 SR, lamanya gempa 10-15 menit. Saya malah mengira sudah kiamat. Teringat surat Infithar ayat 1-5:
Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.
Dulu, sewaktu tahun 2004, saya melihat langit. Masih biru indah, sedangkan tsunami sudah merobohkan SMA di belakang rumah saya. Kalau memang ini kiamat, saya merasa rugi untuk berlari. Lebih baik saya diam dan menunggu mati. Tapi langit indah, otak saya masih berpikir untuk menyelamatkan adik saya yang tertinggal (pada saat kiamat orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri). Berarti ini belum kiamat dan saya harus bertahan hidup, paling nggak, adik saya harus hidup. Rasanya dunia runtuh melihat air setinggi itu, sekencang, dan sehitam itu sedang mengejar adik.

Saya dengan cepat mengambil handphone dan menghubungi adik saya yang sedang di Banda Aceh. Hampir semua keluarga saya berada di Matang Glumpang II, kabupaten Bireuen. Alhamdulillah, yang di Matang selamat. Tapi adik saya sama sekali tidak bisa dihubungi. Rasanya teringat lagi kejadian dulu ketika menunggu adik berlari. Dulu disana ada saya, berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkannya. Atau paling tidak, menggantikan dia kalau memang harus mati. Tapi sekarang saya jauh di Jakarta. Telepon tidak bisa, mana banyak isu yang bilang air laut surut dan tsunami mulai terjadi. Walaupun Mama sempat meneleponnya dan bilang adik sedang berjalan menuju daerah bandara, tapi tetap saja, saya tetap resah karena saya belum mendengar suaranya. Mana sorenya ada gempa susulan dengan kekuatan sama. Tapi alhamdulillah, adik sudah bisa dihubungi.

Sekarang semua sudah aman, alhamdulillah. Pengungsi juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Rasanya ada untungnya kita hidup dalam kecanggihan teknologi jadi saya bisa update berita nasional dan international. Berbeda dari dulu tahun 2004. Sekarang juga masyarakat lebih tanggap. Mereka langsung pergi ke dataran lebih tinggi kalau melihat air laut mulai surut. Tapi saya sempat terkecoh juga membaca twitter. Banyak juga provokator yang membuat hati saya dag dig dug.

Semua sudah aman. Sekarang hanya dapat berserah diri pada Allah SWT. لاَ هَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ

April 11, 2012

Giveaway Rossa : Buku Skandinavia

Daripada saya bingung mau posting apa seperti yang saya curhatkan di postingan sebelumnya, mendingan saya ikutan giveaway. Hehehehe. Sebenarnya saya suka banget sama giveaway. Selain karena kalo menang bisa dapat hadiah, giveaway juga bisa membuat penyelenggara giveaway benar-benar membaca postingan blog kita sampai usai. Kalau nggak gitu mana mungkin bisa dinilai layak atau tidaknya menang 'kan? Kebetulan bukunya Rossa Skandinavia : Travelling Aman, Hemat, dan Nikmat udah rilis dan dia mau berbagi dua buku.
Buku Rossa
Dulu juga saya pernah mengadakan giveaway yang berhadiah buku saya. Saya ngasih hadiah 10 buku saya, tapi malah yang ikutan cuma 3 orang. Sisanya? Lebih dari 30 orang saat itu malah jadi beli buku saya. Wah, nggak tau mau senang atau sedih. Senang kali yah. Hehehe. 

Baiklah, saya mau ikutan giveaway dulu.
Syaratnya : Perlihatkanlah semangat dan rasa antusias kalian karena akan atau sedang berkelana ke negeri orang dalam foto tersebut, berikan juga caption singkat  sebagai keterangan foto. Tidak perlu berfoto narsis di luar negeri atau suatu objek wisata, yang saya inginkan adalah keseruan dari melakukan kegiatan backpacking
Saya akan memajang foto saya ketika sedang liburan ke Anyer. Kalau ke tempat lain saya rasa kurang lucu. Hehehe. Sekalian saya kasih narasi sedikit. Kebetulan pada saat itu musim hujan dan angin, jadinya ombak di Anyer gedeeee. Saya bersama teman-teman saya berenang habis-habisan.
"Diana, tolong aku. Ombaknya segera datang. Jangan berpose dulu."
"Diana, tolong, ombaknya udah datang."
Akhirnya saya terguling
Pada saat itu, Diana yang sedang duduk di pinggir pantai pun kesapu ombak. Masih ngakak lihat foto ini. Semoga menang, hahahhaha!

April 09, 2012

Saya Kemana?

Mungkin sejak saya ulang tahun kemarin, baru kali ini postingan saya muncul. Saya kemana sih? Kok menghilang? Tenang, sebenarnya saya ada kok di kantor dan di kosan. Saya nggak kemana-mana. Saya nyantai aja di kosan nonton tv.

Sejak ulang tahun ke-25 kemarin, saya punya agak banyak pikiran. Pikiran kerjaan yang nggak kelar-kelar (ini salah saya sepertinya), pikiran mau ngelanjutin nulis novel tapi udah lupa beberapa penggalan cerita yang pernah saya buat, pikiran mau nyari rumah untuk tinggal, dan pikiran saya sakit. Cuaca di Jakarta aneh banget beberapa hari ini, saya demam, sesak napas, batuk-batuk, bahkan longweekend kemarin saya terkapar tak berdaya diatas kasur. Berencana mau ke Sawarna, tapi badan mulai meriang, tenggorokan ekstra gatel, dan nggak nafsu makan (this is really not me).

Sepertinya saya kehilangan beberapa inspirasi. Dulu saya bisa menulis banyak cerita, sekarang seakan hilang ditiup angin. Padahal banyak yang menagih, kapan nih CRUSH 2 keluar? Kapan The Partij terbit? Belum lagi saya mau membuat wordpress yang sudah lama nggak di update menjadi website khusus untuk belajar product Oracle, Microsoft, Hyperion, Neural Network, dll yang pernah saya pelajari selama di kantor dan di kampus. Supaya mendapat pahala jariyah dan bisa berguna untuk orang lain.

Insya Allah dalam waktu dekat. Saya harus mengisi ulang pulsa yang telah habis. Akhir-akhir ini agak susah nge-blog di kantor karena kerjaan banyaaak. Nggak beres berarti nggak liburan ke karimun jawa, ARGGHHH!!! Man Shabara Zhafira

April 04, 2012

My Birthday is Now

Today is my birthday. Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur saya sampai 25 tahun. Berarti sudah seperempat abad dong ya. Saya rutin memposting perayaan ulang tahun saya, mulai dari ke 22, 23, 24, dan sekarang 25. Thank's to my blog, saya bisa membaca banyak hal yang terjadi di hari ulang tahun saya.

Hmm, karena setiap tahun harus menulis wishlist, berikut wishlish tahun ini (teringat tahun lalu, dari 3 wishlist, cuma 1 yang kesampe'an; 2 tahun lalu nulis 3 wishlist dan ketiganya nggak kesampean; sedangkan 3 tahun lalu nulis 5 wishlist dan 3 kesampean) :
  1. Pengen nikah. Sepertinya tahun demi tahun, ini harapan saya paling besar. Selain karena umur sudah sangat cukup, merasa sudah menemukan Mr. Right, tapi ada saja hal yang membuat jalan yang satu ini tidak terlalu mulus. Cukup sedih sebenarnya, tapi saya tau Allah memiliki rencana lain.
  2. Pengen nerbitin novel lagi. Tahun lalu sudah berhasil menerbitkan CRUSH, dan alhamdulillah, hanya melalui internet dan toko buku tertentu, buku saya bisa laku. Setidaknya sudah balik modal dulu. Sebenarnya bisa menjual buku khusus di blog sendiri itu ada sisi positifnya juga. Orang-orang bisa melihat originalitasnya. Makanya, ayooo dibeli dibeli, hehehe.
  3. Pengen tinggal di rumah. Capek nge-kost. Pengen tinggal bareng adik juga. 
  4. Pengen bisa menghasilkan uang lebih banyak dari sekarang supaya makin banyak orang yang bisa di tolong.
  5. Pengen blog ini di kenal lebih luas lagi dan tetap bisa dijadikan referensi hal positif dari setiap tulisan saya.
  6. Pengen jadi anak berguna bagi keluarga, agama, dan bangsa.
Tolong di amin-kan ya teman2 doa saya. Akhir kata, Happy Birthday to me :)

Categories

adventure (286) Living (244) Restaurant (148) Cafe (140) Hang Out (133) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (83) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (50) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) Bali (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) CEO (7) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)