April 14, 2014

Osaka Castle and Meet the Old Friend

Setelah ketinggalan kereta kemarin dan tertidur pulas sampai jam 12 siang, saatnya bangun dan melanjutkan perjalanan ke Osaka Castle. Mungkin karena pengaruh obat dan vitamin yang saya minum terlalu mantap, jadinya tubuh saya kembali fit. Oh ya, hari ini saya janjian sama teman semasa kuliah bernama Icha. Dia baru balik dari Padang ke Kobe dan janjian dengan saya mau main ke Osaka Castle.

Setelah beberapa saat Line dengan Icha, kita janjian di Osaka Castle pukul 15:03. Wah, mana pernah saya janjian dengan waktu jam 3 lebih 3 menit. Biasa juga jam 3an dimana datengnya bisa jam 3:30, hahaha. Pukul 13:30 kami keluar dari hotel dan mampir 7eleven dulu untuk mencari cemilan. Salah seorang teman saya mau istirahat aja di hotel nggak kemana-mana karena dia udah capek. Memang sih kalau mau berpetualang begini segala macam vitamin dan obat-obatan harus siap sedia. Kalau nggak, ya kasian juga harus menghabiskan waktu di hotel.

Tarif subway dari Tsurugaoka ke Tennoji 210 yen. Setelah itu lanjut subway ke Osakajokuen dengan tarif 170 yen. Nunggu subway ditambah mencari Line kereta menuju Osakajokuen menghabiskan waktu banyak juga. Akhirnya sampai ke Osakajokuen pukul 14:45. Jadi bisa duduk sambil ngemil makanan yang beli di 7eleven sebelum Icha datang. Tepat pukul 15:03, Icha bilang udah ada di pintu keluar stasiun, so ontime!
Jalan menuju Osaka Castle
Stasiun Osakajokoen
Mungkin sejak tahun pertama kerja sampai ketika saya ketemu Icha di Osaka, sepertinya udah 3 tahun kita nggak ketemu. Icha masih seperti dulu gayanya, nggak berubah sedikit pun, hahaha. Yang berubah banget adalah dia jago bahasa Jepang. Ahh, teringat dulu sama-sama nonton Dorama Jepang di kamar asrama, eh sekarang dia bisa ngobrol lancar.
Ketemu Icha
Didepan sungai
Di pinggir sungai
Kelihatan Osaka Castlenya
Osaka Castle adalah salah satu istana kerajaan Jepang jaman dahulu yang paling populer di kalangan para turis. Selain karena bisa ber-hanami (menikmati sakura sambil piknik), kita juga bisa masuk ke istana yang sekarang merupakan museum. Sayangnya, ketika saya kesana, bunga sakura baru kuncup, belum mekar sepenuhnya. Mana udara dingggiiinnnn!!! Ahh, tapi pemandangan disini indah banget. Mulai dari pintu keluar stasiun sampai ke istana, saya asyik berfoto dimana pun.
Osaka Castle
Gaya dulu
Osaka Castle dibangun pada akhir abad ke 16 oleh Toyotomi Hideyoshi, seorang panglima perang yang berakhir menaklukan seluruh Jepang dibawah kepemimpinannya. Pada tahun 1700an, istana ini pernah terbakar dalam perang dan di rekonstruksi kembali. Sekali lagi pernah terbakar habis dan baru direkonstruksi lagi pada abad 20.

Yuk masuk
Fotoan sama Icha
Castle nya gedeee bangetttt
Naik keatas batu biar difoto keliatan semua
Saya takjub dengan kemegahan istananya yang sangat terawat. Osaka Castle berada di tengah-tengah taman super luas dan super indah. Bahkan ada sungai kecil yang mengalir di bawah istana. Kita harus sedikit menanjak ketika mau masuk istana. Tiket masuk seharga 600 yen. Kalian bisa naik elevator sampai lantai 8 lalu turun melalui tangga, tapi antri. Saya langsung naik tangga aja biar badan lebih hangat dan ngos-ngosan. Pemandangan di puncak istana keren banget. Kalian bisa melihat sekeliling Osaka saking tingginya tempat ini.
Beli tiket masuk dulu
600 yen
Pemandangan dari lantai 8
Gedung-gedung
Turun tangga
Ketika sudah puas berada di puncak, mulailah saya berkeliling di dalam istana. Turun satu lantai dan melihat-lihat isi museum. Sebenarnya saya nggak terlalu suka sama museum, walaupun museum itu mempunyai banyak peninggalan. Kalian bisa melihat senjata seperti pedang yang keren, baju pelindung (armor) seperti shogun, maket Osaka Castle pada masa lalu, kimono yang dipakai kaisar, dan lain-lain. Lantai 3 dan 4 nggak boleh di foto, sedangkan lantai lainnya boleh. Kalian juga bisa melihat video 3D ketika jaman perang terdahulu.
Capek
Menjelajah museum
Ini peta rumah penduduk sekitar istana
Pasukan perang
Gaya dulu
Setelah puas berkeliling museum, saatnya ke toko souvenir. Sebenarnya saya mau nyari Kitkat rasa Sakura. Tinggal oleh-oleh yang satu ini paling susah nyarinya. Saya minta tolong Icha untuk nanya sama mas-mas penjaga mini market Kitkat Sakuranya ada apa ngga? Sekalian ngedengerin Icha ngomong bahasa Jepang, hahaha. Hiks, ternyata nggak jualan Kitkat Sakuranya. Ah, Icha bikin sirik bisa ngobrol bahasa Jepang >_< Oh iya, saya juga bertemu beberapa mahasiswa Indonesia disini. Perasaan selama jalan-jalan di Jepang, baru kali ini ketemu orang Indonesia asli, lumayan rame pula, sekitar 4 orang. Semua temannya Icha.
Yuk beli oleh-oleh
Oh ya, ada penjual Takoyaki. Langsung kami samperin lagi. Harga Takoyaki sepertinya dimana-mana sama, 500 yen. Tapi kali ini karena ada Icha dapat bonus 1 Takoyaki lagi, biasanya 6 jadi dapat 7, horee! Langsung memilih duduk diantara pohon-pohon besar sekalian nungguin Icha shalat di balik pohon, hahaha. Ah tapi enak banget yah Takoyaki di Jepang tuh. Lembut, kenyal, guritanya enak, ada sedikit rasa jahe, ukurannya lebih gede dari di Indonesia, super delicious lah~~
Tenda Takoyaki
Takoyaki lagi
Duduk diantara pohon besar
Gaya dulu seperti biasa
Sambil makan Takoyaki, sekalian nanya-nanya ke Icha, disini ngekos berapaan? Ternyata sekitar 50,000 yen. Lumayan mampus juga ya kalo di rupiahkan. Cuma pemerintah Jepang memberikan biaya hidup yang lumayan untuk anak-anak beasiswa. Senangnya. Kapan saya bisa begitu? Ah, mengunjungi teman di Jepang aja sudah merupakan anugrah, alhamdulillah. Selesai makan Takoyaki, kami berfoto di taman pohon Plum. Bunganya kecil-kecil, lebih kecil dari Sakura. Warnanya juga banyak, ada pink, putih, dan merah. Rasanya seperti dikelilingi bunga-bunga. Subhanallah indahnya.
Plum
Bagi dong cha..
Bunga warna-warni
Wajib gaya dulu
Plum tampak dekat
Setelah capek berfoto dan berkeliling, kita pulang. Sewaktu berjalan ke stasiun, kami saya melihat banyak remaja-remaja yang latihan dance. Musiknya sih musik barat. Tapi kenapa mereka nggak bisa melafalkannya dengan baik dan benar ya? Bahkan ada street performer (pengamen versi keren) yang lagi nyanyi sambil bawa alat-alat ngeband komplit banget. Keren bener deh. Selanjutnya rencana kita mau melanjutkan makan dan beli Kindle di BIC Camera. Yuk ikut!
Street Performer

April 12, 2014

I Missed the Last Train in Japan

Mungkin cerita kali ini adalah yang paling ingin saya ingat sewaktu berada di Jepang, yaitu ketinggalan kereta. Ceritanya begini, sewaktu masih di Shinkobe, saya bertanya pada kepala stasiun jam berapa Shinkansen terakhir. Petugasnya bilang jam 23:25. Karena sekarang udah jam 22:45, masih percaya diri bakalan dapat Shinkansen. Tapi sayang, khusus untuk jalur kereta Shinkansen di Kobe, dari Shinkobe harus naik kereta dulu ke Shinnomiya (subway khusus untuk Shinkansen) dengan tarif 120 yen.

Mari menghitung menit demi menit. Jalan dari pintu masuk stasiun menuju tempat menunggu kereta sudah 2 menit, menunggu kereta sekitar 3 menit, waktu tempuh kereta 3 menit. Keluar dari stasiun Shinnomiya menuju Shinkansen yang ternyata jauuuh itu aja mungkin sekitar 10 menit. Yang bikin jauh itu naik eskalator, belok kiri dan kanan, baru akhirnya ketemu tempat penjualan tiket jam 23:15. Sisa 10 menit lagi untuk beli tiket. Berhubung mau beli pakai kartu kredit, bingung bingung lagi pencet-pencet tombolnya, akhirnya pukul 23:20. Langsung memutuskan untuk berhenti. Harga tiket Shinkansen sekitar 1200 yen karena jarak Kobe ke Osaka lumayan dekat hanya 12 menit menggunakan Shinkansen Mizuho 610, salah satu Shinkansen tercepat yang nggak diikutsertakan dalam Japan Rail Pass. Nggak keburu. Huaaa, rasanya mau nangiiissss!!
Seharusnya saya naik kereta ini T_T
Karena udah pukul 23:25, terpaksa berbalik ke stasiun Shinnomiya untuk balik ke Shinkobe dengan tarif sama 120 yen. Haduh rasanya capek banget bolak-balik naik eskalator sana, turun eskalator sini, sampai akhirnya datang kereta menuju Shinkobe. Sesampai di Shinkobe, harus beli tiket lagi menuju ShinOsaka seharga 360 yen. Saya melihat jam tangan dan deg-degan karena udah jam 12 malam. OMG! Karena kecapekan juga, saya tertidur di kereta sampai ke ShinOsaka. Udah malam jadinya kereta sepi. Mungkin waktu tempuh dari Kobe ke Osaka sekitar 20-30 menit.

Sesampainya kita di ShinOsaka, saya nanya kepala stasiun apa masih ada kereta ke Tennoji? Ternyata petugas bilang udah nggak ada. Langsung panik banget. Trus nanya lagi, kalau jarak dari ShinOsaka ke Tsurugaoka berapa jauh. Ternyata 20 km ditarik garis lurus. Lalu nanya lagi hotel terdekat dimana? Petugas langsung membuka peta dan menunjukkan beberapa hotel terdekat. Duh, karena dinginnya malam dan kami semua agak panik ditambah capek, akhirnya jadi nggak bisa berpikir jernih. Pertanyaan terakhir kami adalah, jam berapa kereta pertama dari stasiun ini dan petugas menjawah jam 04:55. Akhirnya kita ngumpul di dekat locker stasiun untuk membicarakan rencananya mau gimana. Dua dari teman saya memutuskan untuk jalan di sekitar stasiun untuk melihat-lihat keadaan sedangkan saya dan teman lainnya menunggu di dekat locker. Sekalian shalat Isya, tempat paling aman untuk shalat ya sekitar locker karena sepi dan luas.

Setelah beres shalat dan menunggu beberapa menit, saya melihat banyak petugas kebersihan datang. Jam tangan menunjukkan pukul 00:50. Sepertinya tepat pukul 1 malam, seluruh stasiun akan ditutup untuk dibersihkan. Akhirnya teman saya datang dan juga ada satpam yang datang. Dia ngomong sesuatu tapi sepertinya menyuruh kami untuk keluar. Stasiun mau dibersihkan seluruhnya jadi nggak boleh ada orang di dalam. Pas keluar, rasanya kaki langsung membeku, suhunya 1 derajat celcius. Saya dan teman-teman langsung berjalan agak cepat untuk mencari resto yang buka 24 jam karena nanggung kalau mau sewa hotel hanya untuk 4 jam. Suhu begitu rendah dan angin membuat saya benar-benar hampir beku. Osaka malam itu sangat sepi. Yang ada hanya taksi sedang menunggu penumpang dan beberapa orang yang tampaknya baru pulang kerja. Ada juga orang pingsan dipinggir jalan, mungkin lagi mabuk kali ya. Gile, apa nggak mati membeku dia?

Kami menemukan sebuah resto yang masih buka dan langsung masuk tanpa berpikir panjang lagi. Pas bertanya pada mereka buka sampai jam berapa, mereka jawab sampai jam 2. Wah, nggak mungkin kalau mau nongkrong disini. Lalu kami bertanya dimana resto yang buka 24 jam. Mereka memberi tau kalau Yoshinoya di sebelah buka 24 jam. Kami akhirnya keluar dari resto dan masuk ke Yoshinoya. Pelayannya lumayan mengerti bahasa inggris. Saya tanya apa resto ini buka 24 jam dan dia jawab iya. Kami juga disuguhkan ocha hangat. Langsung enakan rasanya badan ini.

Teman saya memesan makan dan saya masih duduk dulu. Palingan mencomot makanan mereka. Setiap ada  pelanggan datang, pintu terbuka dan udara dingin dari luar masuk. OMG! Langsung menusuk tulang. Akhirnya saya pesan makanan, semangkuk Rice Beef Bowl gede biar kenyang dan hangat dari dalam. Saya makan dengan lahap karena memang kalau dingin bikin lapar. Beberapa teman saya udah tidur. Saya nggak berani tidur. Takut aja di negara orang kalau kita tertidur semua. 

Selesai makan, semua teman saya tidur dan saya hanya duduk diam sambil memperhatikan pelayan mempersiapkan makanan kepada para pelanggan. Pelayan di Yoshinoya waktu itu cuma 2. Tapi 1 orang sepertinya melayani delivery order. Yang 1 lagi melayani pelanggan dalam resto seperti bermain Dinner Dash. Dia sangat sangat cekatan dan cepat. Semua minum udah disediakan, semua piring udah di lap, daging-daging tinggal di grill, pokoknya ada keasyikan tersendiri melihat pelayan disana.

Bagaimana dengan pelanggan yang datang? Ada pasangan mabok yang memesan makanan untuk dibawa pulang. Mereka nggak peduli padahal saya liatin terus. Setelah mereka pulang, datang segerombolan bapak-bapak. Wah, pas masuk cafe juga mereka langsung melihat saya dan berbisik-bisik sesama mereka. Saya langsung merasa sebal. Mana teman-teman pada tidur. Pas mereka makan juga masih ngobrol-ngobrol sambil terus melihat saya. Karena males diliatin terus, saya main game di handphone. Sampai mereka pergi. Ihh menyebalkan banget! Akhirnya salah satu teman saya bangun dan dia memesan makanan. Saya jadi bisa ngobrol sama dia.

Sebenarnya bukan kita aja yang nongkrong sampai pagi di Yoshinoya. Ada seorang bapak-bapak memang udah tidur dari kami datang sampai kami mau pergi. Ada juga orang datang sengaja untuk pinjam WC doang disitu dan pergi. Semakin pagi semakin dingin, bahkan di dalam resto aja saya jadi meresleting mantel dan memakai tutup kepala berbulu. Sewaktu jam 4 pagi, mulai banyak yang datang untuk makan sahur, hahaha. Kayaknya mereka memang menunggu kereta pertama juga. Pelanggan yang datang silih berganti dan pelayannya tetap nggak suruh kami pulang. Baik juga ya?

Setelah tepat jam 5 pagi, kami membayar makanan dan pergi. Pelayannya tetap baik dan tersenyum ramah sewaktu kami pergi. Karena udara yang sangat sangat sangat dingin, kami berlari masuk ke underpass (jalan bawah tanah) yang tembus ke stasiun. Enaknya di Jepang, underpass ada dimana-mana. Jadinya kalau hujan atau udara terlalu dingin, kita bisa masuk langsung ke bawah tanah. Sedangkan kalau matahari terik di musim panas, tetap bisa berteduh. Ternyata semalam itu saya keluar dari Umeda Stasion masih terhubung ke ShinOsaka tapi udah nggak tau lagi lewat Line sebelah mana. Stasiun udah dibuka dan orang-orang juga udah ramai. Kami beli tiket langsung ke Tsurugaoka dengan tarif 210 yen. Seperti biasa, transit dulu di Tennoji. Kereta dari Tsurugaoka baru datang jam 5:45 dan kami berada di Tennoji jam 5:30. Langsung mencari tempat berlindung dari udara dingin yang menusuk tulang. Kami sembunyi di toilet supaya nggak kena angin. Haduuuwh!
Kedinginan beli tiket
Eksis dulu di kereta
Ketika kereta datang, saya dan teman-teman langsung masuk supaya bisa menghangatkan diri dengan heater yang ada dibawah kursi. Rasanya udah lemes banget. Sampai di Tsurugaoka, beli cemilan di 7eleven dan makan di hotel. Badan udah terasa hangat. Setelah sarapan pagi, minum paracetamol, obat allergi, dan imunos, langsung tepar tidur nyenyak. Udah nggak kuat lagi >_<
Ngantuk berat tapi tetep gaya
Selanjutnya menuju Osaka Castle. Stay tuned!

April 11, 2014

Kobe Sashimi

Tiba di Shinkobe, kami naik kereta ke Kosokukobe. Rencana awal mau ke Meriken Park, tempatnya Kobe Tower yang terkenal itu. Setibanya kami di Kosokukobe, kami keluar dari stasiun dan membaca peta. Kelihatannya, Meriken Park jauh banget deh kalau jalan kaki.

Akhirnya bertanya pada kepala stasiun. Petugasnya langsung membuka peta dan menunjukkan kalau mau ke Meriken Park, harus turun di stasiun satu lagi, lupa namanya. Wah, karena udah jam 20:30, kami mau makan dulu karena lapar. Di pintu keluar stasiun udah nyari locker untuk nitip barang. Sewaktu melihat daerah sekitar stasiun, rasanya males mau makan apa. Akhirnya memutuskan lagi untuk ke Meriken Park aja. Baru aja beberapa menit nitip tas di locker, eh diambil lagi. Rugi 400 yen.

Sebelum berangkat, kami bertanya pada kepala stasiun lagi untuk ke Meriken Park, lalu beli tiket untuk ke stasiun selanjutnya. Sesampai di stasiun (lupa namanya dan nggak kecatet), ternyata jalannya jauh banget. OMG! Kami memutuskan balik lagi ke Kosokukobe dan bertemu ke kepala stasiun lagi. Bertanya lagi stasiun terdekat dan di jelaskan, lalu kami beli tiket lagi. Pas liat jam dinding udah pukul 21:00, wah nggak keburu nih ngejar Shinkansen terakhir. Akhirnya menyerahkan tiket ke kepala stasiun dan di refund.

Akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Shinkobe aja dan makan sekitar sana. Saya baca-baca ada resto ikan enak. Nanya lagi ke kepala stasiun yang sama dan mereka juga tambah bingung kenapa kita bolak-balik terus. Akhirnya dia nunjukin peta, nanya kita mau kemana? Saya jawab Shinkobe. Petugasnya langsung membantu membelikan tiket, takut kami salah lagi. Baik banget ya mereka.

Sesampai di Shinkobe, kami keluar stasiun dan melirik kiri dan kanan. Hmm, sepi dan dingin banget sekitar sini. Jalan sedikit dan bertemu resto. Dari poster diluar sih keliatan ada ikannya. Pintu masuk resto harus menuruni tangga terlebih dahulu. Kami dengan PD masuk ke dalam resto, untung masih buka. Oh ya, karena kami duduk lesehan, sepatu harus dimasukkan ke locker. Ruangannya sangat hangat, jadi bisa buka mantel. Walaupun lesehan, dibawah meja ada lubang untuk masukkan kaki. Jadi kalau kita pegal melipat kaki terus, turunkan aja kaki ke lubang itu.
Foto di depan resto
Foto suasana dalam resto
Ketika buku menu datang, kami langsung bertanya pada pelayan cowok yang mana menu ikan. Pelayan menunjukan menunya. Dia nggak bisa ngomong bahasa inggris sama sekali dan di buku menu nggak ada bahasa inggris juga. Kami bilang aja Sashimi dan dia menunjukkannya. Jadi ada menu Sashimi dengan 7 ikan dan 5 ikan. Kami pilih 5 ikan dengan harga 1209 yen. Lumayan murah. Setiap menyebutkan harga, pelayan menulis di kertas karena takut kami bingung. Untuk minum, kami pesan Ocha. Untuk menghindari banyak ngomong sama pelayannya, bilang aja Ocha dan Sashimi biar mereka juga ngerti.
Sashimi enak
Ocha
Pas Sashimi datang, saya langsung takjub dengan dekorasi makanannya. Mungkin ini pertama kalinya saya makan Sashimi. Bahkan di Indonesia aja nggak pernah. Kalian tau, ikan mentah itu 'kan biasanya berbau amis. Nah, kali ini nggak. Bahkan saya pegang pake tangan pun nggak amis. Rasanya enak banget banget banget, seperti ikan udah matang. Ntah gimana cara masaknya bisa seenak ini. Ada ikan tuna, salmon, telur ikan, dll yang saya kurang tau juga ikan apa. Saos untuk dilalap dengan ikan juga enak banget.
Foto setelah makan
Teman saya juga memesan Gyoza dan kuah kari. Ada kejadian lucu dimana pelayan cewek yang melayani kami tertawa terus ketika kami bertanya apa di menu ini ada babi. "Is it pig or pork?" saya tanya begitu. Dia jawab, "No pork, pigg'e." Kami ketawa mendengar logatnya dan karena dia nggak tau kalau pig dan pork sama aja. Trus nanya lagi, "Buta?" (bahasa jepangnya babi). "haik, buta wa. No pork'e!" Lalu kami tertawa lagi dan dia juga ikut tertawa. Karena kami merasa aneh dia ketawa, kami tambah ketawa. Dia malu dan keluar, hahaha. Maaf ya mbak...
Eksis dulu
Struknya
Setelah kenyang dan udah jam 22:30, kami akhirnya kembali ke Shinkobe. Diluar terlalu dingin dan membuat kami harus berlari masuk ke dalam stasiun. Mana Shinkobe termasuk stasiun besar di Kobe dan rada jauh jarak pintu masuk ke tempat menunggu kereta.

Kalian tau, selain ketinggalan Shinkansen, saya juga ketinggalan kereta terakhir. Gimana mau pulang? Mana suhu malam itu 1 derajat celcius. Mau tau ceritanya? Ditunggu ya :)

April 10, 2014

Kyoto Surroundings

Sebenarnya, rencana awal mau pergi ke Ginkakuji Temple (kuil dari emas). Udah berusaha buru-buru naik kereta dari Inari Station ke Kinkakuji station, eh ternyata salah turun. Kami malah berada di pusat kotanya Kyoto. Hal yang membuat saya tidak begitu menyesal kesini adalah karena menemukan pemandangan sangat cantik, yaitu sungai. Pemandangan sungai peralihan musim dingin ke musim semi itu subhanallah indahnya.
Keindahan Kyoto
Foto dari tengah jembatan
Keluar dari stasiun, langsung kagum dan takjub melihat sungai super bersih dan keren. Ditambah lagi banyak sekali orang-orang yang bawa bekal untuk duduk-duduk dan makan di tepi sungat. Wah, benar-benar merasa sedang berada di Dorama (drama Jepang). Seandainya saya datang ketika musim semi, mungkin saya bisa melihat bunga sakura sepanjang sungai. Alangkah indahnya.
Harus tetep eksis
Kami masih mencoba untuk mencari dimana Ginkakuji temple. Pas ngeliat peta seolah-seolah kuilnya dekat, ya udah, nyobain jalan kaki kesana. Sekalian berbaur dengan ribuan orang dan berencana belanja sedikit. Dalam perjalanan mencari kuil Ginkakuji, kami menemukan mini market yang menjual Kitkat Green Tea dalam plastik dan diskon. Harganya cuma 198 yen. Wah, saya jadi ngeborong banyak. Oh ya, buat teman muslim, ternyata Kitkat dalam plastikan itu nggak halal. Saya juga baru tau dari teman yang kuliah di Osaka. Sewaktu ngeborong Kitkat, saya sama sekali nggak tau dan mumpung murah jadi beli banyak. Yang halal adalah dalam kemasan kotak, karena nggak dijual bebas. Harganya juga jauuuh lebih mahal, sekitar 1575 yen. Nggak apa-apa ntar Kitkatnya buat oleh-oleh teman-teman nonmuslim :)
Pusat kota
Saya senang berjalan keliling Kyoto. Sempat ketemu parkiran canggih yang berbentuk bianglala. Namanya Oasis Tower Parking. Kalau nggak salah, ada di film Tokyo Drift. Jadi kalian parkir mobil ke sebuah lingkaran, nanti jalan sendiri mobilnya masuk ke dalam bianglala, trus dinaikin keatas gedung. Kalau mau ambil mobil tinggal bilang aja sama petugas, nanti mobil kita diturunin sama petugasnya. Sempat ngeliat juga orang Jepang sedang mengendarai motor super keren. Ah serunya!
Foto depan parkiran
Masuk ke lingkaran, nanti otomatis masuk ke bianglala dan parkir sendiri
Motornya keren
Mr. Crab
Akhirnya saya menyerah karena nggak menemukan Ginkakuji Temple. Kami balik ke dekat sungai dan berencana main disana. Sebelumnya, karena merasa tentengan Kitkat banyak banget, di pintu masuk stasiun kereta kita menyewa Locker seharga 400 yen. Semua belanjaan dititip di locker. Oh ya, locker hanya menerima uang koin. Nah, kalau lagi nggak punya koin gimana? Tenang aja, ada vending machine yang ada disebelah locker. Beli minum aja seharga 150 yen, nanti keluar uang koin sebagai kembaliannya. Iseng-iseng saya beli minuman yang nggak ada di Indonesia. Sialnya, minumannya nggak enak, rasa teh beras ketan, hiii!
Teh rasa air beras >_<
Kami kembali ke dekat sungai. menyusui gang sempit di sekitar sana. Jangan bedakan gang sempit di Kyoto dengan gang sempit di Jakarta. Beda bangettt! Gang sempit di Kyoto, kiri kanannya adalah resto mewah. Kalau makan di resto disini, kalian bisa sekalian menikmati pemandangan sungainya karena resto berada di tepi sungai. Sempat mau mencoba makan tapi harganya lumayan mahal. Jadi cuma jalan-jalan dan berfoto aja.
Foto di Gang sempit
Restoran keren di Gang
Kami juga menemukan taman bermain. Nggak sah kalau nggak main sebentar disini. Seperti di Dorama, kalau bosen dan patah hati 'kan artisnya duduk di ayunan sambil melamun. Atau kalau lagi hujan, ada anak-anak pucat duduk di taman bermain, hiiiii! #salahfokus
Main ayunan
Mau naik perosotan
Serem juga karena tinggi
Mau foto malah difoto
Karena kami selalu lapar (mungkin karena udara terlalu dingin), mampir di Lawson adalah pilihan paling cemerlang. Selalu mampir dan beli makanan disini. Trus mau nantangin hawa dingin dengan duduk di pinggir sungai untuk makan. Saking dinginnya udara, baru beberapa detik makanan keluar dari microwave udah dingin lagi. Tapi nggak apa-apa deh. Makan sambil ngeliat bebek di sekitar sungai. Nggak kedinginan ya bebek-bebeknya?
Fotoan dulu di bunga sakura
Makan di tepi sungai
Setelah puas berkeliling, saya kembali ke Kawaramachi Station (Hankyu Line yang bisa free wifi) menuju ShinKobe Station, tarifnya 600 yen. Mau mencoba makan ikan di Kobe. Ditunggu ya ceritanya :)

Categories

Iklan

Iklan