Mei 26, 2016

Uluwatu Temple

Tujuan berikutnya adalah Uluwatu Temple, sebuah Pura yang berada di paling pojok Pulau Dewata. Perjalanan dari Mahogany Hotel ke Pura Uluwatu ditempuh sekitar 30 menit tanpa macet. Tapi kayaknya memang nggak pernah macet sih kesananya. Ini pertama kalinya saya ke Uluwatu Temple. 3 tahun yang lalu, kami nggak sempat kesini karena itinerarynya sudah terlalu banyak.
Pura di pinggir tebing
Pura (Luhur) Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Pura ini menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar, bahkan banyak acara internasional diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat berselancar dipadukan dengan keindahan alam Bali yang memang sangat indah.

Kami parkir mobil, lalu beli tiket terlebih dahulu. Harga tiket masuk Rp. 20,000 dan kita harus memakai sejenis kain ungu dan ikat oranye untuk masuk ke area kuil. Antrian beli tiket sih nggak panjang. Yang agak malas adalah karena harus pakai kain ungu itu. Mana saya nggak tau cara pakainya. Beberapa turis ada yang minta tolong dipakaikan oleh penjaga, kalau saya lebih memilih eksperimen sendiri bagaimana cara pakainya. Alhasil, kain hanya diikat seperti kain pantai Bali saja. Hahahaha! Yah lumayanlah ya daripada tidak sama sekali.
Beli tiket
Tiket sudah sobek
Mengambil kain ungu
Setelah pakai kain ungu, kami pun memasuki halaman Pura Uluwatu. Pura ini terletak di ujung Barat Daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.
Hasil ekperimen pakai kain
Pada awalnya, saya mau naik sampai ke Pura (harus menaiki banyak anak tangga kalau mau ke Pura Sad Kayangan). Hanya saja banyak banget monyet disini dan monyetnya ganas-ganas. Saya jadi ngeri. Bahkan ada pengunjung yang barang bawaan seperti kacamata, bros, dan lainnya di tarik sama monyet. Yang bikin seram adalah ketika monyet mengambil Iphone milik pengunjung dan monyetnya menjambak rambut pemilik Iphone. Duh, serem banget. Saya yang ngeliat aja jadi seram. Mana dengan cueknya si monyet melempar Iphone ke tanah. Untung nggak di lempar ke laut karena pada saat itu posisi monyet sedang manjat di pagar pembatas tebing. Saya langsung syok dan nggak mau naik lagi.
Tangga ke Pura Sad
Pose dulu
Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.
Tebing
Awalnya mau nonton Tari Kecak di Pura ini. Tapi udah hilang mood saya karena banyak bangettt monyet. Mana pawang monyet keliatannya nggak bantuin 'ngusir monyetnya. Kalau di Monkey Forest 'kan pawangnya jagain kita banget. Jika kalian mau nonton tari kecak, kalau nggak salah bayarnya Rp. 100,000 untuk masuk. Saya sih udah menyerah nggak mau nonton lagi. Mungkin nanti suatu hari kalau monyetnya udah jinak, hahaha.

Sepulang dari Uluwatu, saya mampir ke Kuta Beachwalk untuk bertemu teman lama dan membicarakan bisnis. Sekarang Beachwalk ini udah banyak banget toko-toko MAP yang buka. Setelah puas mengobrol, kami pun pulang ke hotel. Di hotel sih nggak langsung tidur, tapi duduk di balkon dulu sambil menikmati cahaya lampu jalan tol dan angin malam, bahkan saya jadi masuk angin karena anginnya kencenggg banget. 

Selanjutnya cerita Pantai Pandawa. Sampai jumpa!

Mei 24, 2016

Pasar Ubud Bali

Hari kedua di Bali, saya bangun dan sarapan dulu di Mahogany hotel. Variasi sarapan di hotel ini sedikit sekali. Katanya bintang 4, tapi kok variasi makanannya sedikit banget ya? Walaupun begitu, tetap aja saya makan banyak. Selesai sarapan, saya mandi dan bersiap menuju tujuan belanja yang lumayan jauh dari Denpasar, yaitu Pasar Ubud. 
Bersiap jalan
3 tahun yang lalu (selalu saja membandingkannya dengan 3 tahun yang lalu), saya nggak pergi ke Pasar ini. Bahkan nggak tau juga kalau ada Pasar seperti ini di Ubud. Dulu saya hanya mengunjungi Monkey Forest, KOU, dan Bebek Bengil. Saya agak lupa jalanan di Ubud seperti apa. Setelah berkeliling mencari parkir mobil (parkir dimana-mana penuh), dan menyusuri jalanan dengan jalan kaki, baru ingat lagi. Hari itu Bali super duper panasss. Saya jadi harus pakai topi dan kaca mata hitam untuk melindungi wajah dan mata. Saya jadi kangen banget deh suasana liburan dulu ke Bali. Kangen juga sama orang-orangnya yang sekarang sudah berpencar kemana-mana.
Dream Catcher
Pasar Tradisional Ubud merupakan salah satu pelengkap keanekaragaman Bali sebagai lokasi wisata yang terkenal sampai ke mancanegara. Berbagai barang-barang kebutuhan sehari-hari dengan harga yang murah khas pasar-pasar di tempat lainnya di Indonesia bisa kita didapatkan disini. Barang-barang yang ditawarkannya terbilang berkualitas namun harganya cukup terjangkau sehingga tak heran menurut orang-orang yang pernah kesini berani mengklaim bahwa Pasar Tradisional Ubud ini merupakan pasar terbaik di Bali. Pokoknya disini masih banyak banget barang yang harganya Rp. 10rban - Rp. 20rban. Murah banget kan?
Kerajinan
Pasar Tradisonal ini terbagi kedalam dua wilayah, dimana yang pertama berada di sebelah barat. Kawasan Barat ini lebih dikenal dengan Pasar Seni Ubud karena ditempat inilah banyak pedagang yang menjajakan barang-barang seni dan kerajinan khas Bali semacam sendal khas Bali, Baju Bali, sarung pantai, tikar, lukisan, patung, cermin unik sampai gantungan kunci pun ada disini. Saya takjub melihat Dream Catcher dari ukuran sangat mungil sampai yang super besaaarrr... Pengunjung pasar ini juga kebanyakan bule-bule karena biasanya orang lokal malah berbelanja di Krisna.
Piring dan tatakan
Bagi kalian yang ingin berbelanja oleh-oleh khas Bali dengan kualitas terbaik dan harga yang terjangkau, maka direkomendasikan untuk berbelanja disini saja. Pedagang biasanya mengambil langsung barang-barang seni dan kerajinan yang dijualnya dari para pengrajin Bali sehingga berdampak pada harganya yang bisa ditawar. Sedangkan wilayah yang kedua ialah Pasar Tradisional Ubud yang menjual barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, sayur-mayur buah-buahan, dan lainnya.
Dream Catcher
Kalau kalian mau membeli Batik khas Bali, saya rasa kurang tepat kalau belanja disini. Selain karena pedagangnya sendiri nggak ngerti kualitas kain, harganya sama semua. Kalau pun lebih mahal sedikit tergantung kain tenun atau katun aja. Bahkan kalau ditanya lebih dari itu udah nggak bisa jawab. Katanya mereka hanya ambil di pabrik dan dijual. Berarti ini batik print semua dong? Tapi motifnya bagus-bagus banget sih.
Pose dulu
Untuk membeli kain tenun rangrang yang bagus, saya berjalan ke toko di deretan KOU. Tapi tetap aja mbak penjual nggak begitu mengerti apa yang mereka jual. Seusai belanja macam-macam di Pasar, saya mampir di KOU. Mau beli selai mangga dan sabun. Setelah itu saya pulang. Saya baru sadar kalau di kiri dan kanan jalan Ubud itu hampir semuanya pengrajin. Ada pengrajin pahat, topeng, perabotan rumah tangga, dan lainnya. Tapi bukan pengrajin kain. Kalau kalian mau membeli hasil kerajinan tangan memang paling pas disini.

Oh ya, karena sudah siang, saya sempat mampir di Resto bebek. Agak heran kenapa tempat ini sepiiiiii banget. Pengunjungnya hanya 5 orang termasuk saya. Karena ada masakan babi, saya nggak jadi makan disana dan pengunjungnya jadi sisa 3 orang, hihihi. Saya dan adik malah makan ayam goreng Jawa di pinggir jalan. Tau gitu tadi lebih baik makan di Bebek Bengil aja lagi.

Setelah makan, kami balik ke hotel untuk tidur siang sebentar dan mandi. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Uluwatu Temple. Stay tuned!

Mei 23, 2016

Bali I'm Coming

Udah hampir 3 tahun saya nggak ke Bali. Akhirnya karena ada perlu untuk berbisnis, saya menyempatkan diri ke Bali hari Sabtu 30 April 2016 bersama sang adik tercinta. Adik saya datang ke Depok hari Rabu, lalu hari Sabtu berangkat ke Bali. Semua persiapan kami lakukan sangat buru-buru, dimulai dari beli tiket pesawat 2 hari sebelum berangkat, pesan kamar hotel dan sewa mobil sehari sebelum berangkat. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar, bahkan Lion Air sama sekali nggak delay.

Sesampai di Bali, saya mendarat di bandara baru. Mungkin udah lama bandara baru ini selesai, tapi saya baru pertama kali turun disini. 3 Tahun yang lalu, bandaranya masih belum seluas ini. Kami tiba di Bali sudah sore. Setelah ambil bagasi dan mengurus sewa mobil, kami keluar dari Bandara Ngurah Rai jam 5 sore dan langsung berencana makan di Jimbaran. Adik saya belum pernah makan di Jimbaran, jadinya kami langsung menuju kesana dengan bermodalkan GPS di handphone.
Pose dulu
Jimbaran Beach
Langit di pantai Jimbaran sore itu agak mendung. Jadinya matahari terbenam tidak terlalu terlihat. Tapi tetap saja tidak mengurangi keindahan makan malam di pinggir pantai. Suara debur ombak benar-benar menenangkan. Memang liburan itu sangat diperlukan untuk mengganti suasana pikiran dari sumpek ke senang.
Orang mulai berdatangan
Jadi teringat 3 tahun yang lalu, saya bersama teman-teman ber-7 makan malam disini sambil menikmati suasana malam dan mengobrol. Saya jadi bernostalgia sendiri. Apalagi suasana pantai Jimbaran masih sama indahnya seperti 3 tahun yang lalu. Dulu beramai-ramai kesini karena liburan, ini malah berdua saja dengan adik karena urusan bisnis. Sebenarnya rencana awalnya ke Bali ber-4. Karena satu yang lain hal, jadi deh cuma saya dan adik saja. Tapi tetap bersyukur bisa ke Bali lagi setelah sekian tahun.
Lilin
Setelah makan di Jimbaran, kami mampir ke Krisna Bali. Duh, disini saya langsung kalap belanja ini dan itu. Semuanya murahhh sekali. Jadi menyesal membeli topi di Planet Surf seharga Rp. 200rban, sedangkan di Krisna lebih bagus lagi topinya dan harganya cuma Rp. 25rban. Kami menghabiskan waktu sejam di toko Krisna. Saya membeli banyak kain bali, pernak-pernik, hiasan meja, pajangan kayu, ukiran bali, kaos, dan lainnya sekardus besar. Sekarang juga Krisna bisa mempaketkan hasil belanjaan kita ke dalam 1 kardus. Jadi lebih ringkas dan langsung bisa dimasukkan ke bagasi pesawat nantinya. Oh ya, sedang ada undian di Krisna. Setiap pembelian Rp. 50rb (kalau nggak salah) dan kelipatannya berhak mendapat satu kupon. Saya dapat kupon banyak banget. Jadi pegal menulisnya. Bahkan ada orang yang malas menulis kupon dan memberikannya pada saya. Setelah saya isi semua, dengan mengucapkan bismillah, saya masukin kuponnya ke kotak undian. Siapa tau dapat ferrari pemilik Krisna, hahahaha.

Selesai belanja, kami cek in di Mahogany hotel. Hotel ini tidak menyediakan lift ke basement. Jadi harus menenteng koper (untung ringan) menaiki anak tangga ke lobi hotel. Kita harus deposit dulu Rp. 200rb disini baru dikasih kunci kamar. Sesampai di kamar, pas mau mandi, air panasnya juga nggak panas. Udah panggil teknisi, tetap aja air panasnya nggak panas. Ya sudahlah, tetap harus mandi karena udah gerah banget. Yang indahnya di hotel ini adalah pemandangan balkon yang langsung menghadap jalan tol baru di Bali. Lampu-lampunya sangat indah. Subhanallah!
Jalan tol
Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Mei 22, 2016

Menikmati Dessert di Fat Bubble

Seperti biasa kalau adik saya Achmad datang ke Depok, saya mendadak jadi Anak Gaul Depok a.k.a AGD. Saya dijemput di stasiun kereta dan diajak nongkrong ke Cafe yang kira-kira bisa menjadi inspirasi dia untuk mengembangkan bisnis Cafe-nya yang di Banda Aceh. Karena saya adalah kakak yang baik, jadinya saya ikut aja dia ngajak kemana pun. 
Tampak depan
Tujuan kami kali ini adalah Fat Bubble Dessert House, yang berlokasi di Jl. Raya Margonda no.238B&C - Depok, No.Telp (021) 7721-8559. Saya sering banget lewat di depan Cafe lucu ini tapi nggak pernah mampir. Ini pertama kalinya saya datang ke Fat Bubble. Dari depan sih kelihatannya Cafe ini seperti sekolah TK karena sangat berwarna-warni. Interiornya lucu dan penuh dengan warna-warna crayon. Saya suka banget deh.
Interior
Saya memilih lantai 2 untuk nongkrong, karena lantai 1 sedang penuh. Saya kira Cafe ini sepi. Pas masuk malah rame banget orang-orangnya. Nggak kelihatan dari luar. Menu makanan pun datang dan kami memesan:
Bubble Chocolate Pudding Mochi Ice Cream Rp. 38,000
Spagethi Seafood Aglio Olio Rp. 39,000
Lychee Yakult Rp. 21,000
Bubble Gum Smoothies Rp. 22,000
Cheesy Baked Rice Rp. 35,000 

Harga makanan disini standar AGD deh. Nggak mahal-mahal amat tapi nggak murah juga. Seperti biasa, minuman datang terlebih dahulu, termasuk dessertnya juga datang duluan. Minuman yang saya pesan yaitu Bubble Gum Smoothies ini rasanya malah seperti stroberi. Warnanya juga pink (identik dengan warna stroberi). Apa mereka salah ya? Tapi nggak apa-apa deh, strawberry smoothies ini juga enak kok. Adik saya melahap dessert yang seharusnya disantap setelah makan. Nanti dia malah kekenyangan lagi. Dessertnya enak banget. Es krim coklat, kue mochi, bubuk coklat, semuanya berkumpul di satu mangkuk dan membuat dessertnya kaya rasa. Bisa nih jadi inspirasi adik saya untuk menjadi menu makanan tambahan di Cafenya.
Minuman, dessert, dan spagethi
Makanan pun datang. Spagethi Aglio Olionya kurang memuaskan. Rasanya enak sih, hanya saja udang yang disajikan hanya 2 ekor kecil untuk seporsi makanan. Saya kira seafoodnya banyak, eh ini potongan cumi malah hanya satu. Duh, jadi seperti makan spagethi tanpa lauk. Untuk Baked Rice, rasanya enak, asin kejunya juga ok. Tapi adik saya baru saja menghabiskan dessert yang seharusnya dimakan belakangan. Jadilah dia kekenyangan dan merasa nggak sanggup kalau harus menghabiskan baked rice lagi. Ya iyalah, udah makan makanan manis sebanyak itu, mana enak lagi kalau makan makanan berat.
Spagethi dan Baked Rice
Kami sempat nongkrong agak lama di Cafe ini. Selain karena kami harus menghabiskan baked rice, tapi juga suasananya adem, tenang, dan nyaman. Apalagi warna-warna pelangi di perabotan dan interior membuat mata jadi segar. Betah deh berlama-lama disini.
Warna-warni
Interior
Untuk kalian AGD, jangan lupa mampir ke Cafe cute dan keren ini ya. Dijamin kalian pasti betah dan nggak mau pulang dari sini. Sampai jumpa!

Mei 19, 2016

Sepeda Motor Dio

Karena saya merasa sudah terlalu lama nggak menulis cerita pendek, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan cerita-cerita di otak saya. Daripada hilang begitu saja tergerus postingan lain di blog ini, mendingan ditulis sekarang deh. Setelah itu baru akan melanjutkan cerita bisnis trip saya ke Bali. Baiklah, selamat membaca!

***

Udah lama gw nggak main ke rumah Dio. Kami berteman sejak pertama kerja.  Dulu kita satu kosan dan selalu jalan kaki bareng ke kantor (kebetulan kantor kami dekat). Biasanya kita suka maen DOTA bareng sampe adzan shubuh setiap weekend. Maklumlah, awal-awal kerja masih jomblo jadinya weekend ya di kosan aja.

Dulu gw suka banget nebeng motor Dio kalau mau ke Mall terdekat atau cuma sekedar ke alfamart/indomaret. Gw orangnya malas jalan kaki. Makanya badan gw gendut kali ya. Karena Dio orangnya baek banget, jadi dia selalu pinjemin motornya untuk gw pake. Dio juga orangnya suka nraktir, walaupun kita hidup serba pas-pasan di kosan sederhana. Gaji hanya untuk bayar kos, makan, dan nonton bioskop sekali dalam sebulan.

Suatu hari Dio keterima di perusahaan yang berbeda dengan gw. Gajinya otomatis langsung jadi dua kali lipat dari gw. Hidup dia mulai lebih makmur, walaupun kantornya jadi agak lebih jauh. Tapi kan dia punya motor, jadi nggak masalah. Kalau dulu akhir bulan Dio nyetok mie instan, sekarang dia beli rice cooker dan beras. Trus dia masak nasi, tapi beli lauk ke warung. Gw kadang nebeng makan nasi Dio, hanya beli lauk saja.

Setelah 2 tahun pindah kerja, Dio memutuskan untuk menikah. Ntah kapan dia pacaran, pokoknya kali ini dia mau nikah katanya. Rio pindah ke kontrakan kecil yang lumayan dekat dengan kantor istrinya. Setelah itu kita jarang kontak. Dari seminggu sekali, sebulan sekali, 3 bulan sekali, sampai lamaa nggak ketemu.  Tapi Dio tetap datang ke nikahan gw. Disitu kita hanya ketemu sebentar dan nggak ngobrol banyak.

3 tahun berlalu, gw nggak pernah ketemu Dio lagi. Gw tiba-tiba merasa kangen padanya. Kangen dengan masa-masa kita maen DOTA dan jalan kaki ke kantor. Dio juga jarang update social media, jadi gw tambah nggak tau lagi dimana dia sekarang. Akhirnya gw mengambil hp dan meneleponnya. Dio menjawab telpon gw dengan sangat ramah, sama seperti Dio yang dulu. Dio menyuruh gw datang ke rumahnya. Kebetulan istri gw sedang dinas ke luar kota dan istri Dio sedang di rumah mertua Dio, maka kami sepakat untuk maen DOTA lagi di rumah Dio.

Jujur aja ini pertama kali gw ke komplek perumahan Dio. Gw takjub, rumah di komplek ini nggak ada yang kecil. Gw akhirnya ketemu rumah Dio yang paling besar di komplek itu. Awalnya gw ragu, tapi gw memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahnya. Ada asisten rumah tangga dan tukang kebun yang menyambut gw. Gw disuruh masuk dulu karena Dio sedang keluar sebentar, tapi gw memilih untuk duduk diluar. Menikmati kemegahan rumah Dio dan halamannya yang luas.

Dio datang dengan mengendarai motornya ‘yang dulu’. Terlihat sangat timpang ketika Dio memarkirkan motornya itu disamping Lamborghini miliknya. Dio memelukku dan tersenyum lebar.
Gw bilang, “Elo udah sekaya ini masih aja pake motor Supra  lecet-lecet begitu.”
Dio tersenyum, “Nggak apa-apalah. Banyak kenangan motornya.”
“Ya elah, kenangan apaan. Ini timpang banget diparkir disini.” Gw tertawa.
Dio ikutan tertawa.
“Oh, dipake asisten rumah tangga lo untuk ke pasar ya?” tanya gw lagi.
Dio tersenyum, lalu duduk di teras seraya mempersilahkan gw duduk juga. “Nggak kok, motor ini masih gw sendiri yang pake.”
“Kenapa lo nggak beli motor balap aja biar kaya Valentino Rossi?”
Dio tersenyum, “Motor ini dari Ayah gw. Beliau meninggal dua tahun yang lalu. Kalau gw jual, gw merasa menjual kenangan bersama Ayah.”
Gw jadi nggak enak ketika Dio bilang hal itu pada gw. 

“Dulu kami hidup sangat sederhana setelah ayah pensiun. Karena gw selalu capek naik angkot dan mengajar privat anak-anak SMA dimana jarak rumah mereka jauh banget, jadi ayah mengumpulkan duit untuk beli motor second agar gw nggak terlalu capek. Sejak itu gw bisa lebih banyak mengambil murid untuk privat dan otomatis pendapatan gw perbulan jadi lebih banyak. Lumayan untuk nambahin bayar kuliah. Sampai akhirnya gw dapat kerja, motor tetap gw bawa.”
“Motornya selalu gw jaga sampai sekarang. Gw merasa ada keringat dan pengorbanan Ayah di motor ini. Ayah gw mungkin nggak bisa melihat Lamborghini gw, tapi gw tetap bisa melihat motor Ayah sampai sekarang.”
Gw malah jadi merasa bersalah.
“Duh maaf nih, gw jadi curhat. Hahaha!”
“Gw yang seharusnya minta maaf. Udah lama nggak ketemu lo, malah ngejelek-jelekin motor lo. Maafin gw, sob. Gw nggak bermaksud aneh-aneh.”
Dio tersenyum. “Sudahlah, maafin gw jadi bikin lo merasa bersalah. Ya udahlah, kita udah lama nggak ketemu. Mending kita ngobrol dan main DOTA. Urusan motor cukup sekian saja.”
Gw tersenyum, lalu mengikuti Dio masuk ke rumah. “Maafin saya om (kata gw pada motor Dio), om punya anak yang sangat hebat sekarang. Pasti karena Dio adalah anak seseorang yang sangat hebat.”

I miss you Dad. It's almost Ramadhan :(

Pekalongan Part 4 : Pulang

Setelah ke Museum Batik dan karena sudah siang juga, kami berkeliling kota Pekalongan untuk mencari Sate Kerbau. Saya baca-baca sih, sate kerbau di Pekalongan itu enak banget dan menjadi salah satu kuliner andalan kota batik ini. Saya naik becak ke Jalan Hasanuddin untuk nyari sate itu. Sayangnya udah capek keliling, bolak-balik jalan yang sama, terus masuk ke lorong-lorong, tapi nggak ada yang jualan. Kata tukang becak sih biasanya penjual sate itu adanya malam. Jadi mengurungkan niat untuk makan sate dan berbelok makan garang asem.

Garang asem yang saya makan kali ini berbeda dengan yang saya makan di Solo. Seingat saya di Solo itu enaaaak banget. Kalau di Pekalongan sama dengan Cirebon. Agak mirip dengan Konro di Bandung. Saya lebih suka yang di Solo karena lebih segar dan kuahnya enakkk banget. Kalau garang asem Pekalongan itu terlalu berlemak. Harganya lumayan mahal sekitar Rp. 16,000. Tapi tetep enak sih. Cuma saya lebih suka yang di Solo aja. Saya makan garang asem ditemani es jeruk dingin yang pas banget untuk cuaca yang lagi terik banget.
Garang Asem Pekalongan
Setelah selesai makan, sebelum ke stasiun kereta, saya balik ke Hotel lagi. Saya ngemil dan tiduran di sofa sampai jam 3 sore. Ternyata Dafam Hotel menyediakan fasilitas antar jemput gratis dari dan ke stasiun kereta. Kami naik mobil hotel ke stasiun dan sesampai di stasiun terpaksa menyewa jasa potter untuk mengangkat barang saya yang super banyak dan berat. Saya bilang sama potternya pokoknya angkat barang sampai ke kursi saya di kereta.

Pukul 15.30, kereta datang. Kami harus naik ke gerbong 1 yang notabene gerbong paling ujung. Untung pake potter, kalau nggak capek banget ngangkat barang sebanyak itu ke gerbong yang jauh banget. Jasa potter dari dulu ke dulu masih sama tarifnya yaitu Rp. 20,000 saja. Jangan ditawar lagi ya, kasihan.

Kereta pun jalan. Sepanjang jalan saya tidur. Saya bangun sekitar jam 7 malam karena kelaperan. Awalnya pengen memesan nasi goreng yang dijual di kereta, eh malah kehabisan. Akhirnya hanya makan pop mie saja untuk mengganjal perut. Di belakang saya duduk gerombolan ibu-ibu yang ribut banget. Mereka asyik ngebahas becak di Pekalongan mereka tawar sampai Rp. 10,000. Kasihan banget ya, padahal udah tua tukang becaknya. Tega banget mereka. Mana digembar-gemborin kalau mereka berhasil menawar sampai murah banget.

Sampai di stasiun Senen, saya melihat kursi gerombolan ibu-ibu itu juga jorok banget. Hasil kupasan kacang, bungkus snack, semua dibuang ke lantai kereta. Gile ya, sialan juga itu ibu-ibu. Untuk mengangkat barang, saya tetap menyewa jasa potter dengan tarif Rp. 25,000 sampai ke depan stasiun, lalu memesan Uber untuk pulang ke Depok. Akhirnya perjalanan saya di Pekalongan selesai.

Selanjutnya saya akan menuliskan perjalanan bisnis saya ke Bali. Ditunggu ya!

Mei 16, 2016

Pekalongan Part 3 : Museum Batik

Bangun tidur pukul 7 pagi. Udah bobo cepat, bangunnya telat juga. Sebenarnya terbangun karena perut kelaperan. Untung udah membeli paket sarapan di hotel Dafam, jadinya bisa bebas makan apa saja. Saya sarapan pagi porsi kuli lho. Selain karena variasi makanannya banyak banget (standar bintang 4), hampir semua makanan yang dihidangkan adalah menu favorit saya. Ada omelet, bubur ayam, mie goreng, nasi goreng, sosis, roti bakar, puding, kue, buah, dan lainnya. Saya sarapan sampai satu jam, karena ingin mencicipi ini dan itu.
Tulisan Batik di depan museum
Setelah kenyang, saya kembali ke kamar dan mandi. Lalu bersiap-siap untuk check out hotel. Karena barang kita lumayan banyak, jadi titip dulu ke resepsionis. Nggak mungkin dibawa-bawa jalan-jalan. Pukul 9 pagi, saya naik becak menuju Museum Batik. Kalau ke kota Pekalongan, nggak sah rasanya kalau nggak pergi ke Museum. Sebenarnya saya nggak suka sama museum, tapi mau bagaimana lagi. Untuk memperkaya wawasan Batik, ya mau nggak mau harus mampir kesini. 
Tiket masuk
Saya naik becak semalam yang memang udah janjian mau jalan-jalan pagi ini. Tukang becak mengayuh becak dengan perlahan. Mungkin waktu yang kami tempuh untuk ke Museum Batik sekitar 30 - 45 menit. Kasihan juga sih bapak tukang becaknya, jadi saya sabar aja walaupun dia mengayuh pelan-pelan. Tukang becak mengantarkan kami ke depan pintu masuk Museum. Benar-benar ke depan pintu sehingga kami turun dari becak langsung menginjak ubin Museum. Para kurator Museum jadi agak heran melihat peristiwa itu, hahaha. Tiket masuk Museum murah banget, cuma Rp. 5,000.
Segala jenis batik
Museum Batik Pekalongan adalah museum batik yang beralamat di Jalan Jetayu No.1 Pekalongan, Jawa Tengah. Museum ini memiliki luas tanah dan bangunan 40 meter persegi dan memiliki 1149 koleksi batik, antara lain wayang beber dari kain batik yang berusia ratusan tahun dan alat tenun tradisional atau dikenal sebagai alat tenun bukan mesin. Kebayang nggak kalau mau menjual batik-batik ini yang umurnya ratusan tahun? Berapa harganya? Mungkin bisa aja sih dibeli sama para kolektor. Karena saya punya rencana ekspor dan para bule' itu orangnya kritis, saya jadi harus minta kontak Museum karena saya takut nggak bisa menjawab pertanyaan dari para bule' yang kadang-kadang memang suka aneh-aneh.
Jedi, bejana untuk nyuci batik jaman dahulu
Motif batik lagi
Setelah membayar tiket masuk, kami diantar oleh mbak penjaga Museum untuk melihat semua jenis Batik yang dipajang. Semua batiknya adalah batik tulis dengan kualitas nomor satu, dengan bahan sutra yang di tenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Semua Batiknya bagussss sekaliiii. Saya memfoto satu persatu hanya sekedar untuk melihatnya kembali di laptop. Saya suka batik Bengkulu yang ada kaligrafi Arab, Batik Pekalongan, dan Batik Papua. Kalau motif-motif klasik seperti Parang Rusak itu berasal dari Yogyakarta. Di Museum ini banyak sekali memamerkan motif dari Yogyakarta dan Surakarta (Solo).
Filosofi
Perintilan untuk membuat batik
Nggak hanya kain batik, di Museum ini juga diperlihatkan segala jenis kain seperti serat pisang (saya baru tau), serat nanas, sutra, dan lain-lain. Tetap aja kain sutra adalah kualitas kain terbaik karena dihasilkan oleh ulat. Saya juga baru tau kalau tinta untuk melukis batik itu bernama malam. Saya kira lilin. Kan lilin menerangi malam, hahaha. Nanti 'malamnya' di panasin dulu, baru dimasukkan ke canting. Saya juga melihat berbagai macam cap batik, dari yang motif sederhana seperti bunga, sampai motif yang super sulit dan detail seperti burung cendrawasih atau wayang. Wuih, langsung takjub melihatnya.
Belajar membatik
Nggak lengkap dong kalau belum mencoba membuat batik sendiri. Di Museum ini ada ruangan untuk workshop juga. Kalian bisa menulis batik sendiri diawali dengan memanaskan 'malam', lalu memasukkannya ke canting, baru ditulis ke kertas putih. Beberapa kali 'malamnya' kena ke kulit saya dan panas bo'! Seperti terkena tetesan lilin. Pakai canting juga susah. Kalau terlalu menekuk ke bawah, ntar 'malamnya' menetes dan kena kulit. Kalau terlalu keatas, ntar nggak turun 'malamnya' ke ujung canting. Hadeehhh, susah bener. Pantesan harga batik tulis mahal. Saya hanya membatik sekitar satu jam dan menghasilkan motif acak dengan huruf 'R', singkatan Rancupid. Maruk banget yak? Hahaha. Suka-suka saya dong, toh hasil karya saya sendiri.

Setelah puas berkeliling dan menulis batik, saya keluar dari Museum. Kebetulan ada tukang Es Degan putih, jadi saya bisa melipir sebentar. Udah lama banget nggak minum Es Degan. Mungkin karena udah lama nggak ke Jawa kali ya. Saya kaget juga mengetahui harga Esnya segelas Rp. 2,500. Duh, hari gini masih ada ya harga minuman semurah ini. Tambah bahagia saya. Mana esnya seger lagi diminum panas-panas.
Tukang Es Degan
Es Degan bikin deg-degan
Setelah minum es, kami melanjutkan perjalanan. Ditunggu ya ceritanya.

Mei 15, 2016

Pekalongan Part 2 : Jalan-jalan

Bangun tidur siang hampir magrib. Gile, saya tidur siang di Hotel Dafam Pekalongan sampai 3 jam, hahaha. Mungkin karena kecape'an, mungkin juga karena hotelnya sangat nyaman. Jadilah semuanya bercampur menjadi satu dan membuat saya terlelap selama itu. Saya bangun dan langsung mandi karena udah merasa bau keringat karena belum mandi pagi dan kegerahan banget di pasar Setono. Enak banget mandi air panas, serasa seluruh rasa lelah hilang. Saya lalu berkemas lagi untuk pergi ke toko batik selanjutnya yaitu Qonita.

Kebetulan ada becak di depan hotel, saya minta tukang becaknya menemani saya keliling kota dan nungguin saya belanja, hihihi. Habisnya mau sewa mobil atau naik taksi kayaknya rada nanggung. Pekalongan 'kan kotanya kecil. Ntar kalo naik mobil, sebentar juga selesai tuh kotanya dikelilingin. Dari Hotel Dafam ke Qonita lumayan jauh kalau naik becak. Mana suasana kota lumayan sepi, padahal malam minggu. Ketika ada tanjakan naik ke jembatan, tukang becak turun dan mendorong becak, lalu tiba-tiba ada yang bantuin. Saya kaget, tapi kata tukang becak orang itu memang selalu berada di bawah jembatan untuk membantu para tukang becak mendorong becak. Dulunya bapak misterius itu juga tukang becak, tapi becaknya dicuri. Kasihan yah.
Segala macam batik
Sesampai di Qonita, saya kira toko ini adalah butik dengan kain-kain mahal. Ternyata sama aja seperti di pasar Setono. Harga kainnya bervariasi. Mulai dari yang 50rban, sampai 7 juta!! Saya sampai nggak berani pegang batik yang harganya 7 juta itu. Tapi tetap harus dipegang untuk merasakan kualitasnya. Duh, kain sutera yang di tenun dengan menggunakan tangan memang bagus banget. Apalagi batiknya sendiri adalah batik tulis. Cantik banget deh.

Di Qonita ini nggak hanya menjual kain, tetapi juga pakaian jadi dari bahan batik. Yang paling ngehits ya daster (saya beli untuk adik saya). Saya membeli blezer yang berwarna-warni dengan harga Rp. 200,000. Bahannya dari katun Dobi dan motifnya di cap. Ya memang Pekalongan nggak ada batik print sih. Kain batik disini juga bagus-bagus banget. Sejak mulai jadi pedagang kain, saya baru sadar betapa indahnya hasil karya pengrajin batik. Subhanallah.
Sarung dan daster
Di toko ini saya lumayan cerewet juga. Mungkin karena saya nggak paham batik, jadi saya banyak bertanya. Untung mbaknya sabar mennjelaskan dan mengajarkan. Sampai-sampai, kainnya di bentang, disuruh rasakan di tangan saya, disuruh teliti sampai ke serat kain. Karena saya alergi debu, jadi setiap kain baru di bentang, saya bersin, hahaha. Maunya pakai masker ya.
Bertanya pada ahlinya
Kalau kalian nggak pengen beli batik, Qonita juga menjual baju-baju keren tapi di sisi belakang toko. Mungkin ini bagian butiknya. Saya kurang tertarik sih, karena baju-baju seperti ini di Jakarta juga banyak banget. Saya hanya melihat-lihat baju sekitar 10 menit, lalu balik lagi ke toko batik di depan. Saya membeli lumayan banyak kain batik disini.
Beli kain
Setelah beres belanja, saya menyuruh tukang becak membawa saya dan Puput ke alun-alun Pekalongan. Nggak seperti alun-alun di Bandung, di Pekalongan ini sepi banget. Saya bingung, orang-orang Pekalongan pada kemana ya. Masa alun-alunnya sepi? Padahal malam minggu lohhh. Karena sudah lapar, kami mampir ke warung Lontong Opor. Nah, di warung ini rame orangnya. Aneh juga ya? Mungkin orang-orang pada lapar juga.
Lontong Opor Ayam Kampung
Penampakan makanannya
Lontong opor ini menurut saya nggak terlalu spesial. Hanya lontong biasa ditambah dengan ayam kampung. Seperti makanan untuk Lebaran. Bedanya mungkin karena kita makan di kota Pekalongan doang. Kuah santannya juga lebih pekat. Jadi rasanya oke banget apalagi ditemani dengan teh manis panis. Uhh nikmat... Harganya lumayan mahal, Rp. 16rb. Saya kira cuma Rp. 10rban. Hahahaha.
Keliling Alun-alun
Deretan tempat makan
Mesjid alun-alun
Selesai makan, saya berkeliling alun-alun dengan becak, lalu pulang ke Hotel. Agak malas juga berlama-lama nongkrong di alun-alun karena sepi. Sempat pengen beli pisang goreng tapi nggak ada yang jual. Jadinya beli dorayaki deh, hahaha. Jauh-jauh ke Pekalongan malah beli dorayaki. Kami sudah berada di hotel pukul 8 malam. Terlalu pagi untuk liburan di kota orang. Biasanya sih minimal jam 11 malam baru balik ke Hotel.

Di hotel hanya nonton tv saja, lalu jam 10 udah tidur. Nggak tau lagi mau ngapain. Hahaha. Ya udah deh, besok cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Mei 12, 2016

Pekalongan Part 1

Hampir tidak ada weekend buat saya sebulan ini. Setelah weekend sebelumnya ke Bandung, weekend minggu depannya ke Pekalongan. Sebenarnya agak nekad ke kota Batik ini. Tanpa persiapan apa-apa, saya langsung beli tiket Kereta Api kelas Ekonomi dengan harga Rp. 100,000. Murah banget ya? Jadwal berangkat kereta juga pas banget hari Jumat jam 11 malam.

Saya udah bawa travel bag ke kantor, lalu pulang ke kosan Puput naik Grab Bike untuk mandi dan makan malam. Karena kangen ayam goreng di warung Bang Ali yang berada di dekat kosan yang dulu, saya makan malam kesana lagi deh. Bang Ali kayaknya udah lupa sama saya. Setelah makan, saya naik Grab ke Stasiun Senen sekitar pukul 9 malam. Saya tiba di stasiun hanya 15 menit karena nggak macet. Ini pertama kalinya saya beli tiket kereta dari Tiket.com dan ternyata harus print dulu tiket kereta di mesin yang sudah disediakan. Antrian nge-print lumayan panjang tapi prosesnya cepet kok. Setelah print tiket, saya main laptop sebentar untuk update blog selagi menunggu panggilan masuk. Lumayan bisa posting satu artikel. Pukul 22.30 kami dipersilahkan masuk ke ruang tunggu kereta.

Kami naik kereta Tawang Jaya ke Semarang tapi turun di Pekalongan 15 menit sebelum jam 11. Karena kelas ekonomi, tempat duduknya sempit dan kaki jadi harus menekuk terus. Saya sempat tidur sambil terombang-ambing ke kiri dan ke kanan. Sempat nggak sengaja tiduran di bahu cowok ganteng disebelah kiri saya, lalu dia angkat tangannya supaya saya nggak senderan di bahunya lagi. Saya hanya terbangun sebentar, lalu tidur dan tanpa sengaja (lagi) tiduran di bahu cowok itu, hahahaha. Suer, ini beneran nggak sengaja lho! Kalau lagi sadar, saya senderan di bahu Puput. Yang menakjubkan banget, ada ibu-ibu masuk ke kolong kursi untuk tidur lurus. Saya kaget melihat dia seperti itu, tapi dia bilang kalau badannya pegel banget karena harus duduk lurus dengan kaki menekuk. Memang sih kolong kursi penumpang lumayan bersih, tapi kalau saya nggak mungkin banget tiduran disitu karena pasti bersin-bersin.

Waktu shalat Shubuh tiba. Cowok ganteng di sebelah saya lalu wudhu dan duduk lagi untuk bersiap shalat. Saya kan jadi harus agak menjauh karena kasihan dia udah wudhu tapi ntar malah bersentuhan dengan  saya. Kalau saya dan Puput sebentar lagi juga sampai Pekalongan, jadi bisa shalat di stasiun. Setiba di stasiun Pekalongan, suasananya masih sepi banget. Maklumlah, masih jam 5 pagi. Saya bersantai dulu di bangku stasiun sampai jam 6 pagi. Setelah itu baru menawar becak untuk ke Hotel Dafam. Karena tukang becaknya kakek-kakek, saya jadi nggak tega nawarnya. Saya sempat bilang ke tukang becak untuk berhenti dulu di tukang bubur karena saya lapar. Tukang becaknya oke-oke aja disuruh berhenti dan mau juga nungguin kita makan. Tapi dia nggak mau makan, padahal udah ditawarin. 
Selfie di becak
Setelah kenyang, kami diantar ke Hotel Dafam jam 7 pagi. Terlalu pagi untuk cek in dan terlalu pagi juga untuk ke Pasar Grosir Setono. Kami hanya menitip barang, sikat gigi dan cuci muka, lalu nyantai dulu di area kolam renang. Sekitar jam 8 pagi, kami menyuruh resepsionis untuk memanggilkan taksi ke pasar Setono. Mahal banget taksinya Rp. 50,000 dan nggak bakalan mau nyalain argo. Ya udah deh pasrah! 
Santai di kolam renang
Di Pasar Setono, banyak toko yang belum buka. Saya kebetulan mampir di sebuah toko yang Mas penjualnya mau meladeni beribu-ribu pertanyaan saya. Sampai dia manggil mbaknya untuk bantuin saya jawab. Satu sisi saya memang pengen tau Batik Pekalongan secara mendetail, tapi di satu sisi lain saya mau ngetes penjualnya. Apa dia tau barang yang dia jual itu apa sebenarnya. Ternyata penjual yang satu ini mantap banget deh. Dia tau semua batik dan bahannya dengan sangat detail. Bahkan ketika Puput mencatat perkataan dia, dia langsung mengoreksi kalau ada catatan yang salah. Jadinya saya bisa beli banyak kain di toko ini karena pelayanannya memuaskan.
Masih belum banyak toko buka
Banyak batik lukis untuk daster
Training batik
Belanjaan
Saya dan Puput berkeliling Pasar Setono untuk beli kain, baju, dan titipan Mama. Disini batiknya bagus-bagus banget dan murah-murah banget. Nggak ada batik print sama sekali untuk kain. Kalau daster murah-murah, mereka pake batik lukis. Masa' disini ada daster dengan harga Rp. 19rb?? Saya jadi senang banget dan ngeborong banyak deh.

Setelah capek berkeliling, saya makan Nasi Megono, khas Pekalongan. Nasi yang satu ini adalah nasi dengan lauk nangka muda kering yang di cincang. Kalian bisa menambah lauk lagi seperti ayam atau telur, dengan minuman es teh. Wah langsung hilang rasa lelah berkeliling pasar. Rasa nasinya enak kok, ntah karena saya laper banget dan capek keliling pasar.
Jenis kain
Setelah makan, saya masih lanjut berkeliling pasar sejam lagi. Saking banyaknya belanja, sampai harus beli tas belanjaan gede agar semua barang muat. Setelah itu, kami kembali ke hotel. Awalnya mau naik angkot tapi nggak ngerti. Akhirnya menyetop becak dayung yang tukang becaknya kakek-kakek. Kasihan banget ngeliat dia keringatan, mana cuaca saat itu terik banget. Saya nggak nawar lagi, langsung naik aja. Karena kami berat, ditambah dengan barang belanjaan yang banyak, tukang becak mengayuh becak jadi pelan banget. Saya sampai ketiduran di becak karena enak banget anginnya sepoi-sepoi. 

Sesampai di hotel, saya cek in dan meminta tolong room boy membawakan tas karena udah kecapekan. Sampai kamar, saya langsung tidurrrrr! Ah akhirnya bisa istirahat juga. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Iklan

Iklan