Januari 19, 2017

Belanja dan Nongkrong di Madinah

Kali ini saya akan membahas pengalaman belanja-belanji di Madinah. Saya nggak akan menceritakan pengalaman saya hari demi hari karena nggak setiap hari juga belanja, tapi saya rangkum dari hari pertama sampai hari terakhir dalam satu postingan. Salah satu yang paling saya suka setiap jalan-jalan ke luar negeri adalah belanja. Berhubung saya sedang kere, jadi kemana-mana harus ngajakin Mama atau adek untuk minta dibayarin, hihihi. Yang paling seru kalau sedang belanja bareng saudara-saudara, jadi bisa beli banyak dengan harga murah.
Beli sajadah
Pertama:
Saya agak kaget ketika tau hampir semua pedagang di Madinah bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. "Sepuluh riyal, sepuluh riyal, halal!" Saya mengernyit, kok halal? Dan yang mengherankan, udah harga barang sepuluh riyal, eh malah ada yang nawar sampai lima riyal, dan 'halal' juga. Tapi kebanyakan orang Arab agak emosional. Kalau kita udah menawar terlalu murah (agak nggak tau diri juga sih), mereka bisa marah sambil nunjuk-nunjuk kita dan bilang, "anta tidak faham". Untung saya paling malas nawar barang, jadi nggak pernah ditunjuk-tunjuk sama pedagang. Tapi ada juga udah nawar berapa, pas saya ngasih duit gede, eh dikembaliinnya malah kurang. Saya bilang aja ke pedagangnya kalau uang yang dikembalikan itu 'haram'๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘.

Kedua:
Paling malas karena punya wajah keturunan Arab. Hampir setiap mampir ke sebuah toko, pasti pedagang bilang, "Masya Allah, orang Arab!" Biasa saya pasti menjawab, "My Dad is Arab." Pedagang lalu melihat Mama dan bilang, "Jadi ini ibu mertua?" ๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘Mertua siapaaa coba?! Kalau lagi mood, kadang kita ngobrol sama pedagangnya sambil menawar barang. Mereka pasti bertanya saya sudah punya suami apa belum? Kadang saya jawab udah punya anak 3. Tapi Mama lebih sering menyuruh mereka menebak umur saya dan tebakan mereka umur saya masih 20 tahun. Hampir semua pedagang percaya kalau umur saya 20 tahun. Kenapa bisa jadi muda banget ya??? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚Mungkin karena muka saya imut-imut, hahaha. Kadang-kadang para pedagang bertanya nama saya, dan Mama pasti menjawab nama saya Fatimah. Selalu Fatimah deh pokoknya dimana-mana. Biasanya kalau udah mulai bertanya nama, pasti udah mau ngasih harga murah ke barang dagangan. Kadang disitulah kesempatan untuk belanja yang banyak.
Jejeran toko
Ketiga:
Suatu hari saya belanja bersama adik saya (namanya Achmad) di Bin Dawood. Karena males terlalu sering digodain sama pedagang, saya pegang lengan Achmad dan mengajaknya untuk menemani saya berkeliling toko. Ada seorang pedagang mengajak ngobrol.
"Istri? tanyanya sambil menunjuk saya dan adik jawab, "Bukan, ini sister."
Pedagang nanya lagi ke adik, "Kamu sudah punya istri?" dan Achmad menjawab belum.
"Berapa umur kamu?" tanyanya dan adik menjawab, "26."
"Apa? 26 belum punya istri?" tanya pedagang heran.
"Emangnya kamu udah punya?" tanya Achmad sambil senyum-senyum.
"Saya sudah punya DUA!" sambil menunjukkan 2 jari, "Dan umur saya baru 22." ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ
Saya dan Achmad langsung tertawa ngakak. Sialan bener deh pedagang yang satu ini. Ntah beneran istrinya udah dua, ntah bohongan.

Keempat:
Pernah saya nggak mau ikut Mama belanja ke pedagang sajadah yang sama karena digodain terus๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ. Udah pake kacamata hitam, masih aja digodain. Beberapa kali saya coba pakai kerudung dan saya bikin seperti cadar. Tapi karena nggak nyaman, saya buka lagi deh. Jadinya saya pergi ke toko lain dengan sepupu saya untuk belanja. Sebenarnya orang Arab cakep-cakep banget sih. Kulitnya putih, matanya bagus dan seperti pakai eyeliner, hidungnya mancung, tapi kebanyakan pada suka ngegodain. Berhubung saya nggak suka cowok-cowok cheesy secakep apa pun apalagi cheesy-nya cuma untuk melariskan barang dagangan, jadi males deh.

Kelima:
Saya beli Abaya dari Dubai di sebuah toko. Awalnya harganya 180 riyal tapi dengan kemampuan Mama yang jago banget nawar dan penjualnya udah capek (katanya), saya dapat Abaya hanya dengan harga 130 riyal. Besoknya saya langsung pakai Abayanya untuk berfoto di seluruh sudut Mesjid Nabawi, hihihi. Sebenarnya saya nggak suka pakai Abaya, tapi ketika melihat banyak orang Turki dan Dubai yang pake dan ternyata keren banget, jadilah saya beli. Lagian bisa dipakai untuk shalat juga karena nggak membentuk badan. Kalau adik saya beli gamis untuk cowok dan penutup kepala supaya terlihat total seperti orang Arab.

Keenam:
Ketika membeli kurma dan pedagangnya bilang "Sayang," ke Mama dan tante saya. Disitu saya ngakak banget๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. "Mau beli berapa, Sayang?" Saya sih dengernya jijay banget karena agak nggak pantes cowok dengan usia mungkin dibawah 25 tahun bilang "sayang" ke Mama dan tante saya. Saya jadi nggak bisa milih kurma karena ngakak terus, dan Mama saya ngomel ke penjualnya karena nggak mau dipanggil, "sayang." Hahahaha! Adik saya juga dipanggil "ganteng". Kan jijay dipanggil ganteng sama cowok juga๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. "Mau yang mana, ganteng?" Kalau di Indonesia udah disangkain 'homo' kali ya dan adik saya merasa jijay sendiri, lalu keluar dari toko. It was so absurd.

Ketujuh:
Terkadang saya suka eksplor lorong-lorong kota dan menemukan banyak pedagang. Seharusnya semakin jauh tempat berjualan, harga barang semakin murah dong ya. 'Kan pembelinya sepi. Ini malah kebalikannya. Mana toko-toko yang jauh itu kadang susah banget ditawar harganya. Yang paling asyik ketika saya menemukan pasar dimana pedagangnya banyak wanita bercadar. Saya senang kalau pedagangnya wanita karena nggak usah takut digodain, tapi kebanyakan dari mereka nggak bisa bahasa Indonesia. Kalau di sekitar mesjid, pedagangnya pasti laki-laki dan lancar berbahasa Indonesia.

Kedelapan:
Saya sempat mengajak adik saya untuk nongkrong di hari pertama ketika tiba di Madinah. Ternyata hampir nggak ada cewek yang nongkrong di kota itu dan kebanyakan dari mereka pun kalau beli makanan untuk di bawa pulang. Awalnya saya pergi ke Starbucks untuk nongkrong dan beli tumbler. Ternyata Starbucks hanya menjual minuman dan cemilan saja. Beli Starbucks cuma untuk nongkrong di pelataran mesjid sambil menikmati matahari terbit yang sangat indah.
Es Krim
Saya sempat beli es krim di pinggir jalan tapi rasanya nggak begitu enak. Mana mahal lagi 20 riyal. Adik saya juga pernah membeli kebab dan nggak terlalu enak juga. Lebih enak kebab di Indonesia, hahaha. Setelah beli kebab, adik saya bukan nongkrong di tokonya, tapi jalan ke tempat lain untuk makan. Bahkan kadang beli kebab untuk di bawa pulang ke hotel. Kami juga sempat jajan di supermarket Bin Dawood untuk beli coklat dan cemilan yang sama sekali nggak ada di Indonesia. Kebanyakan harga coklat hanya 1 riyal dan kami jadi bisa borong yang banyak.

Kesembilan:
Oleh-oleh yang paling bagus untuk teman-teman muslim dan saudara saya adalah sajadah. Di Madinah sajadahnya bagus-bagus bangetttt apalagi yang dari Turki. Kebayang kayaknya kalau saya ke Turki bakalan borong sajadah, hahaha. Yang bingung adalah oleh-oleh untuk teman nonmuslim. Mau kirim kartu pos, di Madinah dan Mekkah nggak ada kantor pos. Kok aneh banget? Palingan saya beli magnet kulkas saja, hihihi.

Ternyata hanya 9 point yang saya bisa highlight ketika belanja dan nongkrong di Madinah. Sempat berpikir keras untuk mendapatkan point ke 10 ternyata nggak ada. Memang waktu nggak terlalu banyak untuk belanja karena nggak bawa duit banyak dan koper yang disediakan Travel juga agak kecil. Oke, nanti saya lanjutkan lagi postingannya. Sampai jumpa!

Januari 18, 2017

Menuju Raudhah

Sekitar pukul 6.30 malam waktu Madinah, saya dan Mama berjalan memasuki pelataran Masjid Nabawi untuk shalat Isya berjamaah. Karena Magrib Mama lelah, jadi kami baru bisa pergi sewaktu Isya. Hal yang paling menakjubkan adalah begitu ramainya orang di masjid ini. Mereka menjadikan Masjid tempat untuk mengobrol, bermain, makan, disamping untuk menimba ilmu agama. Saya dan Mama suka duduk di pelataran mesjid sekalian bertanya banyak hal tentang ilmu agama pada Mama yang mungkin saya sudah lupa. Kebetulan Mama saya S. Ag, Sarjana Alam Ghaib, hahaha. Nggak kok, Sarjana Agama.

Setelah shalat Isya, saya dan Mama langsung pulang ke hotel. Ustadz bilang, malam ini kami akan mengunjungi Raudhah (salah satu tempat paling mustajab berdoa dan salah satu tujuan utama di mesjid Nabawi) pukul 8.30 malam sedangkan beres shalat Isya saja sudah pukul 8 malam. Belum lagi antrian lift 15 menit, sehingga tiba di ruang makan saja sudah telat. Saya dan Mama buru-buru makan malam. Beberapa saat kemudian tante dan sepupu saya bilang kalau Ustadzah yang menemani kami ke Raudhah sudah siap tapi beliau mau menunggu kami sampai siap makan malam. Malah disuruh makan yang banyak, hihihi.
Kubah Hijau, rumah dan makam Rasulullah ๏ทบ
Selesai makan malam, kami berkumpul di lobi. Beberapa rombongan travel Belangi sudah pada 'ngumpul juga dan kita bersiap ke Masjid Nabawi. Sebelum memasuki masjid, ustadzah bilang kalau kami harus terus bersama-sama (stick together) karena Raudhah pada jam-jam dimana wanita diperbolehkan masuk itu padatnya luarrr biasaa. Kalau jamaah Pria lebih enak karena waktunya lebih banyak dan juga bisa shalat wajib/sunnah langsung di Raudhah. Kami pun berbaris rapi dibelakang ustadzah dan mengikuti beliau berjalan masuk ke Raudhah. Sebagai informasi, jam berkunjung Raudhah untuk wanita adalah jam 7-9 pagi, 1-3 siang, 9-11 malam (kalau nggak salah ingat).

Apa itu Raudhah? Sebuah taman surga yang berada diantara rumah Rasulullah dan mimbar beliau. Sangat dianjurkan beribadah di dalamnya karena seperti sedang beribadah di dalam surga. Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad ๏ทบ dimakamkan di rumahnya dan kubah hijau di Masjid Nabawi itu penanda kalau dibawahnya itu adalah tempat Makam dan Rumah Nabi Muhammad ๏ทบ bersama istrinya Aisyah.

"Di antara rumahku dan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas telagaku." (HR Abu Hurairah RA)
“Allah tidak mencabut ruh seorang nabi kecuali di tempat yang dia (nabi tersebut) ingin supaya dia dikuburkan disitu” (HR. At-Tirmidzi)

Dari pintu utama Masjid Nabawi, kita hanya tinggal berjalan lurusss saja dan nanti akan menemukan payung-payung karena langsung beratapkan langit (open space). Saya kaget melihat banyak sekali jamaah wanita yang sedang menunggu giliran memasuki Raudhah. Ustadzah menyuruh kami untuk duduk tertib menunggu giliran dan kami hanya menurut saja. Saya hanya memperhatikan orang-orang berlalu-lalang melalui celah-celah kami duduk. Yang agak stupid adalah, mereka bertumpu pada kepala kita untuk meminta jalan. Memang bukan kepala saya sih, tapi itu 'kan nggak sopan banget. Apa hal itu nggak sopan cuma di Asia Tenggara doang ya? Karena beberapa orang dari negara lain santai aja dipegang kepalanya sebagai tempat bertumpu. 
Kubah hijau difoto dari pelataran mesjid
Dari tempat duduk, kami sudah bisa melihat pintu makam Rasulullah. Perasaan saya langsung membuncah, antara rasa kagum, tidak percaya, dan penasaran. Gimana nggak, makam Rasullullah, Abu Bakar As Siddiq, dan Umar Bin Khatab yang biasa hanya bisa saya kagumi melalui buku dan cerita-cerita, sekarang hanya beberapa meter saja dari saya. Mungkin agak susah mendeskripsikannya perasaan saya karena beberapa kali saya terdiam berpikir dan memberi salam. 

Assalamu'alaika yaa Rasulullah...

Karena tante saya agak kurang sehat, ustadzah mengantarkan tante dan kakak sepupu saya terlebih dahulu ke Raudhah. Maunya Mama saya juga ikut tante tapi waktu itu Mama terlihat sehat dan kita sama sekali nggak kepikiran kalau Raudhah bakalan sepadat itu. Ustadzah mencarikan kursi lipat untuk Mama dan beliau mengangkat kursi itu sampai Raudhah. Padahal kursinya berat, tapi bisa jadi penanda kami kalau tiba-tiba kehilangan rombongan, tinggal liat saja ada kursi lipat yang diangkat tinggi-tinggi. Ustadzahnya baik bangettt! Semoga Allah membalas kebaikan beliau.

Baiklah, perjalanan menuju Raudhah pun dimulai. Seperti yang kita ketahui bersama kalau karpet di Raudhah itu berwarna hijau, sedangkan seluruh karpet di Masjid Nabawi berwarna merah. Sebenarnya cukup gampang menandakan yang mana Raudhah, tapi berdesakan memasukinya itu tantangan besar. Kalian harus berlomba dengan orang-orang Afrika, Turki, Iran, dan beberapa warga negara lain yang badannya besar-besar dan tinggi. Apalah kami ini orang Indonesia yang kecil dan imut-imut (ini saya doang). Apalagi mereka terus mendesak kami agar mau memberikan jalan. Mana teriak-teriak lagi ketika mengucap salam kepada Rasulullah. Menurut saya desak-desakan seperti ini sama saja seperti berdesakan pada jam pulang kerja di KRL (Commuter Line) menuju Bogor di gerbong wanita, dimana ibu-ibu adalah penumpang paling sadis dan tanpa ampun. Atau pun, seperti suasana pasar Tanah Abang di bulan Ramadhan yang ramenya minta ampun, dimana para pedagang bawa karung dan ibu-ibu gendut menyikut kita tanpa peduli kita kesakitan apa nggak. Mungkin memang cewek-cewek kalau berdesakan begitu kali ya? Agak sadis dan menyeramkan. Tapi saya sudah terbiasa. Terbiasa di KRL, terbiasa juga di Tanah Abang, hahaha.

Yang paling kasihan mungkin Mama dan Ibu-ibu lainnya yang tidak terbiasa berdesakan. Ada gunanya juga badan saya langsing jadi bisa nyelip-nyelip dan nggak terjepit diantara perut-perut ibu-ibu gendut dan tinggi. Ada juga sih orang baik yang membuka jalan, tapi jarang banget. Selagi terus berdesak-desak, akhirnya saya melihat karpet hijau. Saya langsung menginjakkan kaki saya ke karpet seolah-olah seperti melangkah naik masuk kereta. Padahal 'kan Raudhah nggak kemana-mana tapi ya saking antusiasnya ketemu karpet hijau. Ada fenomena mengherankan lainnya dimana susah banget shalat sunnah di dalam Raudhah (sangat dianjurkan shalat di dalam Raudhah). Orang-orang pada shalat dan teman-temannya menjaga agar 'yang sedang shalat' nggak terinjak dengan desakan orang. Duh, kalau begini, bagaimana cara saya shalat khusyuk ya? Ya sudah, mumpung lagi di Raudhah, saya berdoa dulu supaya bisa shalat sunnah dan Mama saya baik-baik saja sampai pulang.

Kami berjalan sampai sudut Raudhah. Yang enaknya adalah Mama bisa duduk manis di kursi (walaupun capek banget badan Mama karena terhimpit terus) dan saya bisa shalat tanpa terlalu berdesakan bergantian dengan teman-teman satu rombongan. Selesai shalat, saya mojok ke Makam Rasulullah ๏ทบ dan terdiam. Ya Rasulullah, saya sangat dekat denganmu dan dua sahabatmu. Terima kasih untuk seluruh perjuanganmu dan orang-orang terdekatmu dalam menyebarkan agama islam sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat seluruh alam). Mungkin karena saya orang yang cengeng, sehingga perasaan bercampur-aduk itu bisa membuat saya menangis. Saya menyentuh pintu Makam sambil terus mengucap salam, lalu saya berdoa kepada Allah banyak-banyak (punya pray list dari teman-teman juga) karena ini adalah salah satu tempat dimana doa paling dikabulkan. Biasanya saya mengambil foto atau merekam IG Story, tapi karena terlalu berdesakan jadi nggak mood mau mengeluarkan handphone. Jadi saya mengambil foto dari Google saja ya. Saya juga melihat banyak orang yang mengusap-usap pintu Makam Nabi Muhammad, lalu membasuh muka. Ngapain ya mereka? Saya hanya mengernyit saja karena memang banyak hal aneh-aneh disana. 
Raudhah
Setelah puas berdoa, kami mulai berbaris mengikuti arus untuk pulang. Awalnya lumayan lancar arusnya, tapi ternyata macet di tengah jalan. Ada seorang wanita berpakaian hitam duduk berdoa dan nggak mau berdiri walaupun semua orang jadi macet gara-gara dia. Para ustadzah sudah memarahi wanita itu tapi dia tetap bersikeras untuk duduk dan berdoa. Jadi bingung, apa dia nggak berpikir gitu ya kalau suasana jadi super crowded gara-gara dia. Duh, cuma bisa mengelus-elus dada dan tetap berada di belakang Mama untuk menaham himpitan dari segala arah.

Akhirnya setelah desak-desakan, himpit-himpitan, kami keluar juga dari Raudhah. Fiuhhh alhamdulillah tidak berkurang satu apa pun. Kami melihat tante dan sepupu yang ternyata sangat aman damai tentram dalam memasuki Raudhah. Mungkin karena masih awal jam masuk Raudhah dan mereka masuk melalui arus pulang sehingga lumayan gampang menginjakkan kaki di karpet hijau. Kami berjalan pulang, tapi di tengah jalan sempat berhenti sebentar untuk minum air zam-zam sebanyak mungkin karena haus dan capek. Baru setelah itu berterima kasih banyak pada ustadzah yang baik hati yang telah rela berdesakan mengantarkan kami ke salah satu taman surga.

Alhamdulillah karena sudah larut malam jadi nggak usah mengantri naik lift. Sampai di kamar, saya sudah tepar. Rasanya mau ganti piyama saja udah nggak kuat lagi. Selamat tidur!

Januari 17, 2017

Hari Pertama di Madinah

Setelah shalat Shubuh, mulailah saya menjalani hari pertama di Madinah. Hotel Al-Shalihiya dari Masjid Nabawi Gate 26 hanya 100 meter saja. Kebetulan, sepanjang jalan menuju hotel banyak toko seperti H & M, Starbucks, Mothercare, MAC, dan lainnya. Banyak juga toko souvenir yang membuka lapak mendadak di sepanjang jalan dan menjual barang dengan harga murah (nggak murah-murah amat juga sih). Hal yang pertama membuat saya heran adalah semua pedagang bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. What? Saking banyaknya jemaah umroh dari Asia Tenggara, mereka sampai lancar banget ngobrol pakai bahasa kita. 
Deretan toko
Awalnya saya mengira setelah shalat Shubuh saya bakalan jalan-jalan untuk mencari sarapan seperti yang saya lakukan biasanya ketika pergi ke luar negeri. Baru sadar kalau saya membayar paket umroh sudah dengan makan tiga kali sehari. Makanan disediakan setelah shalat Shubuh, Zuhur, dan Isya. Sebenarnya sarapan setelah shalat Shubuh (sekitar pukul 6.30 pagi) itu terlalu cepat bagi saya karena saya takut bakalan lapar lagi nanti jam 10an. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus mengikuti aturan tour. Hal yang membuat saya agak kesal adalah antrian lift yang luarrr biasaa rame. Masya Allah, ntah berapa kali lift datang dan kami tetap nggak bisa naik ke ruang makan. Sampai akhirnya petugas hotel membuka lift barang, baru agak mendingan antrian liftnya. Yang kasihan adalah pengguna kursi roda karena harus menunggu sampai benar-benar sepi baru bisa naik lift.
Antrian lift
Setelah drama antrian di lift, saya dan keluarga tiba di ruang makan. Kaget lagi melihat begitu banyak orang yang antri makan. Duh, hanya bisa mengelus dada dan menganggap ini adalah warna-warni dalam beribadah. Kesabaran saya sedang diuji. Saya berusaha santai, menunggu antrian makan sambil chatting dan melihat Instagram, baru deh bisa ambil makan. Saya makan nasi sedikit (belum mood makan karena terlalu pagi) ditambah dengan menu yang disediakan. Kebanyakan menu yang saya makan untuk sarapan adalah telur, ayam, dan sayur. Saya terkadang makan telur sampai 3 butir (telur rebus atau ceplok) yang membuat mata saya bintitan dan nggak sembuh-sembuh, hahahaha. Saya juga suka minum teh di pagi hari tapi bikin teh itu Pe-eR besar untuk saya. Semua orang rebutan bikin teh atau susu atau kopi, rebutan air panas, dan membawa minuman ke meja makan terkadang buru-buru sehingga minuman panas hampir mengenai orang lain. Saya hanya bisa menarik napas, berusaha tenang, lalu mencari tempat makan kosong (hampir mustahil) untuk Mama dulu, baru deh saya makan sambil berdiri kalau nggak mendapatkan tempat. Baru selama di Madinah saya bisa makan dengan cepat karena malas banget melihat orang mengantri juga untuk duduk di kursi saya, OMG!

Selesai makan, drama naik lift berikutnya. Kali ini kami harus berlomba masuk lift dengan para jamaah yang membawa makanan untuk di makan di kamar. Duh, udah desak-desakan di lift, bawa makanan, kadang bawa minuman panas yang sering banget kena/tumpah ke orang lain. Saya sempat terdiam, memutar otak bagaimana caranya harus naik lift dengan berdesak-desakan seperti ini. Sampai akhirnya saya tetap memilih untuk sabar menunggu.
Lift
Sampai di kamar, saya, Mama, dan adik memilih untuk tidur. Semalam kami belum tidur dengan nyenyak sehingga masih agak pusing. Setelah tidur, mandi, shalat Dhuha (biasa shalat Dhuha di kamar hotel saja) dan bersiap akan shalat Zuhur dengan tetap menggunakan jaket dan legging Thermal karena suhu udara masih 12 derajat, walaupun sinar matahari bersinar dengan teriknya.  Oh ya, selama di Tanah Haram, saya selalu menggunakan pakaian terusan (gamis atau abaya), sama sekali tidak pernah pakai celana. Sebelum masuk waktu shalat Zuhur, kami pergi ke depan pintu utama Masjid Nabawi untuk bermain bersama ratusan burung merpati. Saya paling suka mengejar merpati dan berfoto karena pemandangan para merpati terbang bersamaan itu sungguh indah. Walaupun hasil foto beberapa ada yang backlight, tapi bisa di edit sedikit. Selesai bermain dengan merpati, kami berkeliling komplek Masjid yang ternyata luas sekali. Duh, kaki saya sampai pegal dan badan jadi letih. Mungkin karena belum cukup tidur juga.
Mengejar merpati
Berkeliling komplek mesjid
Shalat Zuhur kali ini saya dan Mama memilih untuk duduk di luar mesjid (belum sekali pun saya masuk mesjid). Rasanya pinggang mau copot dan saya senang sekali duduk-duduk di karpet tebal di pelataran mesjid. Tidak lama kemudian adzan berkumandang. Jujur saja saya hampir nggak pernah shalat Sunah Rawatib (yang menyertai shalat Fardu) ketika waktu Zuhur. Biasanya hanya shalat Fajar saja.

"Barangsiapa salat dalam sehari semalam dua belas rakaat, akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu; empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum salat Subuh." (HR. At-Tirmidzi)
 "Dua raka'at fajar (salat sunah yang dikerjakan sebelum shubuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. " (HR Muslim)

Jadi bertanya sama Mama kalau yang Muakad (yang sangat besar pahalanya) shalat sunnah sebelum apa sesudah Zuhur? Mama bilang untuk Zuhur sebelum dan sesudah Zuhur dua-duanya Muakad, jadilah saya shalat dulu. Selang waktu dari adzan Zuhur sampai shalat berjamaah bisa sampai 30 menit sehingga kita bisa banyak-banyak berzikir dan berdoa diantara adzan dan iqamah (termasuk waktu paling mustajab berdoa). Apalagi berdoa di Masjid Nabawi adalah salah satu tempat paling mulia, jadi berdoalah banyak-banyak.

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)
Menara Nabawi
Shalat Zuhur lumayan cepat karena mungkin waktu dimana orang bekerja. Selesai Zuhur, imam menyerukan shalat jenazah. Kali ini saya belum shalat juga karena tiba-tiba lupa lagi bacaan shalat jenazah. Saya baru shalat jenazah di hari kedua di Madinah. Shalat rawatib juga nggak setiap waktu di hari pertama. Mungkin masih culture shock, mungkin juga masih berusaha mengubah kebiasaan yang hanya shalat Fardhu (wajib) saja dan jarang peduli dengan shalat sunnah. Anggaplah saya sedang belajar, dan saya masih butuh waktu.
Berkeliling mesjid
Setelah Zuhur, kami balik ke hotel dan mulai malas dengan antrian lift yang akan kami hadapi. Kalau lift barang terbuka, maka kami bisa dengan cepat naik ke ruang makan atau naik ke kamar. Tapi kesabaran memang sungguh sangat diuji dan untung saja saya orangnya sabar. Teringat dulu rela nungguin teman facial berjam-jam dan saya nggak ngapa-ngapain, dan saya juga betah diam berlama-lama tanpa melakukan apa pun. Tapi Mama dan beberapa tante saya yang kasihan. Karena mikirin mereka harus naik lift, terpaksalah mengantri dan benar-benar menjaga antrian sampai di depan pintu. Huff, lelah sekali! Dan ini baru hari pertama. Sabar... Sabar...! Sampai di ruang makan, buru-buru makan, lalu mengantri lift lagi untuk naik ke kamar. Dengan sedikit berdesakan, alhamdulillah berhasil juga masuk ke kamar.

Waktu Zuhur ke Ashar lumayan singkat. Mungkin hanya satu jam setelah makan siang, mulai adzan Ashar. Ketika kami sudah bersiap mau pergi ke mesjid karena takut mengantri lift, tiba-tiba pintu kamar di ketuk dan petugas hotel menyuruh kami untuk pindah ke kamar di lantai 2. Saya bilang pada petugas kalau mau pindah kamar setelah shalat Ashar dan mereka nggak mau menunggu. Untung saja belum banyak barang yang dikeluarkan dari koper sehingga saya, Mama, dan adik bisa cepat beberes dan pindah kamar. Tante-tante dan sepupu saya bersikeras nggak mau pindahan karena mau shalat Ashar dulu. Karena kami merasa nggak punya pilihan lain, kami turun ke lantai 2, menaruh koper, dan langsung buru-buru ke mesjid. Untung antara adzan dan iqamah lumayan lama waktunya sehingga masih keburu shalat Ashar berjamaah.
Minum Zam-Zam
Selesai Ashar, saya dan Mama balik ke kamar hotel karena Mama mulai sakit kaki. Kasihan kalau nanti Mama malah sakit jadi harus buru-buru istirahat. Karena terlalu capek juga Mama nggak shalat Magrib ke Masjid. Saya terpaksa harus menemani Mama karena Mama nggak berani sendiri di kamar hotel. Baiklah, kesehatan lebih penting karena kita masih lama banget di Madinah. Cuma agak bosan di kamar hotel karena nggak ada WIFI. Keluarga saya hanya beli satu kartu Arab Saudi dan kami pakai internet secara tethering ke semua hp karena mahal banget paket data disana, sekitar 200rban dengan quota hanya 5 Giga. Untung saya sedang nggak banyak kerjaan sehingga nggak usah online tiap waktu. Palingan hanya update social media saja dan itu pun nggak bisa tiap saat. Liat Insta Story orang lain aja lemottt setengah mati dan kadang saya memang nggak mau nge-klik IG Story karena takut cepat habis quota (Instagram adalah aplikasi penyerap quota internet terbesar setelah Facebook). Jadi jangan marah kalau saya nggak lihat IG Story, jarang balas Whatsapp dan email, jarang buka social media pokoknya. Memang suasana dengan sendirinya memaksa kita hanya untuk beribadah kepada Allah.

Baiklah, postingan kali ini sudah sangat panjang. Nanti saya cerita lagi betapa sulitnya memasuki Raudhah. Sampai jumpa!

Januari 14, 2017

Pertama Kali ke Masjid Nabawi

Bus kami berhenti di depan hotel yang namanya tertera di name tag. Kami turun dan menunggu koper di lobby. Saya sekalian meminta akses WIFI untuk internetan kepada resepsionis. Tiba-tiba kami harus berpindah ke Hotel lain karena hotel ini sudah full booked. Lho? Kok bisa full booked? Ustadz pendamping lalu membawa kami ke hotel lain yang lebih dekat ke Masjid Nabawi. Malam itu dingin sekali dan kami berjalan kaki menuju Hotel Al-Shalihiya. Hotelnya lebih besar dari Durat Al-Andalus sih, hanya saja antrian lift lumayan panjang.

Keluarga saya mendapat kamar 710. Sewaktu masuk ke kamar, agak shock melihat kamar super kecil dan sempit. Ha? Nggak salah ini? Mana kamar mandinya juga kecil banget. Akhirnya Mama saya protes ke ustadz dan alhamdulillah kamar kami ditukar dengan kamar yang lebih besar, bahkan besar banget. Sesuai dengan yang diharapkan deh. Kami sempat tidur sebentar dan bangun jam 4.15 pagi untuk bersiap shalat ke Mesjid Nabawi. Ini pertama kalinya saya ke Mesjid Nabi, dan saya super antusias. Saya mempersiapkan banyak kamera dan jaket Thermal karena suhu udara di Madinah malam itu 10 derajat.

Saya sekeluarga berjalan menuju mesjid. Rasanya sangat kagum melihat pelataran mesjid yang indah dengan lampu-lampu LED menyala terang. Apalagi semua pilar payung masjid juga memancarkan lampu sorot yang membuat suasana menjadi indah dan terang-benderang. Ada perasaan hati yang membuncah ketika mendengar adzan dari Mesjid ini. Suara adzan mungkin sama dengan yang sering disiarkan di tv kita tapi mungkin saya sulit mengungkapkan betapa mendengar adzan yang berkumandang dari Masjid Nabawi itu seperti mimpi (mimpi yang sangat indah). Saya seolah masih tidak percaya kalau saya sedang berada di Masjid Rasulullah ๏ทบ, dimana orang yang shalat disini pahalanya 1000 kali dari mesjid biasa.

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Ketika saya mau masuk ke dalam Masjid Nabawi, para petugas di pintu wanita yang berpakaian hitam bercadar langsung memeriksa tas setiap jamaah yang ingin shalat di dalam. Saya lupa kalau ada peraturan nggak boleh bawa kamera ke dalam mesjid, tapi kalau handphone boleh. Jadinya saya nggak boleh masuk dan hanya bisa duduk di luar. Hmm, bayangkan rasa dingin udara gurun di kala Shubuh. Bagian muka dan kaki saya mulai kedinginan banget. Jaket thermal memang menutupi badan saya tapi hanya bagian itu saja yang hangat. Padahal saya bawa celana thermal di koper, tapi saya nggak kebayang kalau bakalan sedingin itu. Mana anginnya gedeee banget.  
Pintu Masuk Masjid Nabawi
Saya duduk di luar mesjid (diatas karpet merah yang tersedia) sambil melihat sekeliling ketika menunggu adzan Shubuh. Saya takjub karena pengunjung mesjid ini rameeee bangettt. Mungkin kalau di Indonesia, pengunjung mesjid ini 1000 kali lebih banyak daripada orang-orang yang mau shalat Ied. Wajar saja karena para jamaah berasal dari segala penjuru dunia. Yang menakjubkannya lagi karena ini adalah shalat Shubuh, shalat yang paling sulit dilaksanakan bagi saya (ngantuuuuk sih) walaupun alhamdulillah belum pernah tinggal sama sekali. Mungkin karena semua orang berlomba-lomba ingin mendapat pahala yang besar, memperbaiki diri, bertaubat, dan bermunajat kepada Allah.
Menara Mesjid
Adzan pun berkumandang, menggema, memecah angkasa. Seolah seruan untuk shalat itu pertama kali saya dengar dan membuat saya merinding. Saya tidak bisa berkata-kata, hanya menunduk menjawab adzan dengan lirih. Ya Allah, saya masih belum percaya kalau Engkau memberikan kesempatan kepada saya untuk mengunjungi Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat Makam Rasulullah ๏ทบ, salah satu masjid yang paling mulia di muka bumi setelah Masjidil Haram. 

Setelah shalat sunat Fajar dua rakaat (shalat sunat yang lebih baik dari dunia dan seisinya), shalat Shubuh pun didirikan. Kala itu, saya sangat menikmati bacaan imam yang sangat indah. Terbersit dalam benak saya, imam Masjid Nabawi pasti orang pilihan dengan hafalan Al-Qur'an sudah diluar kepala dan pastinya lebih hebat dari imam mesjid di Indonesia. Dan yang pasti, beliau sangat mengerti arti dari surah yang dilafalkan. 

Selesai shalat, kira-kira sepuluh menit kemudian, imam menyerukan untuk bersiap shalat jenazah. Hampir semua orang shalat jenazah tapi saya nggak. Alasannya karena saya lupa bacaan dari takbir pertama sampai ke empat. Jenazah yang pertama kali saya shalatkan adalah Ayah dan saya merasa shalat jenazah adalah shalat yang paling sedih yang saya lakukan makanya jarang banget saya shalat. Tapi teringat lagi 1000 kali kebaikan shalat di Masjid Nabawi, sehingga saya berencana membaca lagi dan menghafal lagi rukun shalat jenazah.

Selesai shalat jenazah, para jamaah pun bubar. Saya takjub lagi melihat orang-orang rameeee banget. Salah satu pemandangan indah lainnya adalah langit Madinah di kala matahari terbit. Warna ungu bercampur dengan orange sangat indah, Subhanallah. Saya langsung mengambil foto dan merekamnya untuk Instagram Story. Ya Allah, terima kasih untuk semua kesempatan untuk menikmati keindahan ini.
Langit Ungu

Januari 09, 2017

Perjalanan Menuju Tanah Haram

Saya tidak pernah berpikir kalau suatu hari saya akan mengunjungi Tanah Haram. Mungkin beberapa dari kalian belum mengerti mengapa dinamakan Tanah Haram. Tanah haram, artinya tanah yang tidak halal untuk dilanggar.” (al-Misbah al-Munir, 2/357).

Tanah ini haram dengan kemuliaan yang Allah berikan, sampai hari kiamat. Tidak boleh dipatahkan ranting pohon-nya, tidak boleh diburu hewannya, tidak boleh diambil barang hilangnya, kecuali untuk diumumkan, dan tidak boleh dicabut rerumputan hijaunya. (HR. Bukhari  3189 & Muslim 3289)

Tanah Haram sendiri meliputi kota Mekkah dan Madinah. Sesungguhnya dua kota ini adalah yang paling suci dalam umat islam dan keamanan kota-kota memang telah dijamin oleh Allah SWT. Karena siapapun yang membuat kekacauan di Madinah atau Mekkah, maka ia akan lebur seperti leburnya garam di dalam air ((HR. Bukhari no:1877).

Tanah Haram juga dijaga pintu pintunya oleh para Malaikat berpedang, sehingga di akhir zaman Dajjal tidak akan mampu menginjakkan kaki ke dua kota tersebut. Tempat ini juga telah didoakan para nabi dan Rasul sehingga kemakmurannya telah terjamin sepanjang masa. 
Para tas kabin
Memantapkan niat saja tidak cukup untuk datang ke Tanah Haram, apalagi saya baru kali ini melakukan perjalanan yang dikhususkan untuk beribadah dan ikut dengan tour bernama Belangi. Saya membaca banyak buku untuk mengetahui detil tentang kota Mekkah dan Madinah karena saya nggak mau menjadi orang yang ikut-ikutan orang mau umroh doang. Umroh memang harus dari hati, sehingga bisa fokus. Saya juga harus memakai baju seragam yang disediakan travel agent, koper, tas kabin, dan tas paspor juga seragam semua. Bahkan mukenah aja sama, tapi saya nggak mau bawa. Awalnya saya merasa aneh karena biasanya saya bawa koper sendiri dengan style traveling sendiri tanpa ada yang mengatur. Agak merasa nggak nyaman juga karena semuanya harus mengikuti aturan dari travel. Apalagi koper harus di cek in sehari sebelum keberangkatan dan saya jadi bingung mau menyisihkan baju yang mana dulu untuk tidur semalam lagi di Banda Aceh. Jadi harus pinjam piyama dari sepupu saya.
Koper
Ketika hari H, passpor dan name tag dibagi ke masing-masing orang. Passport case saya yang keren itu sudah berganti dengan case dari travel. Duh, bahkan passpor pun harus kembaran dengan orang lain. Rombongan kami masuk ke ruang tunggu dan menyantap makan siang di dalam. Agak aneh karena seharusnya mana boleh makan di ruang tunggu. Setelah makan, kami shalat Zuhur jamak Ashar, lalu naik pesawat Garuda Indonesia langsung ke Jeddah. Baru kali ini melakukan perjalanan super jauh bersama Mama dan adik. Biasanya sih sama teman-teman saja.
Passpor dan Name Tag
Seperti biasa, pesawat belum terbang, saya sudah tertidur hahaha. Saya gampang banget tidur di pesawat. Saya bangun ketika makanan dibagikan, lalu tiba-tiba nggak bisa tidur lagi. Enaknya karena pesawat Garuda, saya bisa nonton film-film yang termasuk baru seperti Kung Fu Panda 3 dan AADC 2 (mau beribadah nonton film romantis dulu). Setelah beres nonton 2 film, kami dibagikan makanan lagi. Saya mengintip ke luar jendela dan melihat pemandangan padang gurun tandus membentang sejauh mata memandang. Subhanallah! Biasanya selalu mendarat di negara yang hijau, sekarang negara padang pasir nan gersang.
Selfi dan bersiap tidur
Beberapa saat kemudian, pilot memberikan pengumuman untuk yang mau langsung umroh bisa mengganti pakaian ihram di bandara King Abdul Azis, Jeddah. Berhubung kami akan langsung ke Madinah, jadi nggak perlu berihram di bandara. Alhamdulillah kami mendarat juga setelah 8 jam duduk manis di pesawat. Hal yang pertama saya cari di bandara adalah WIFI dan ternyata malah nggak ada. Saya kagum melihat orang-orang yang mau proses ke imigrasi sambil menggunakan pakaian ihram. Jadi sadar, oh ternyata saya benar-benar sudah berada di Arab Saudi. Sewaktu passpor saya mau di stempel, petugas mengecek semua Visa saya satu persatu mulai dari Jepang, China, Hong Kong, sampai New Zealand. Setiap melihat Visa, petugas melihat wajah saya, lalu lihat Visa lagi, lalu lihat wajah saya lagi. Duh, saya jadi buang muka akhirnya.
Bandara King Abdul Azis
Atapnya seperti tenda-tenda
Setelah shalat jamak Magrib dan Isya, kami berjalan menuju bus. Enaknya ikut tour jadi nggak usah mikirin ambil bagasi. Adik saya membeli kartu telepon seharga 70 Riyal dan akhirnya ada internet juga. Langsung pusing membaca pesan yang bertumpuk-tumpuk. Rombongan tour Belangi harus menunggu sejenak (lumayan bisa internetan dulu), baru bisa naik bus untuk menuju kota Madinah. Kami dibagikan makan malam dan saya makan seadanya saja karena hari ini sudah makan 5x. Setelah makan, saya minum obat (mulai flu) dan tidur di jalan menuju Madinah. Oh ya, ditengah jalan, bus berhenti di rest area karena mungkin saja ada jamaah yang mau ke toilet. Sewaktu saya turun dari bus, saya langsung kaget dengan suhu udara dinginnnnnn bangettt. Saya sampai gemetaran saking nggak ada persiapan dan langsung bersin-bersin. Haduwh, pusing banget ini rasanya. Seandainya jaket thermal saya ada di ransel, sudah pasti saya pakai. Sayangnya jaket malah di koper.

Saya buru-buru ke WC lalu balik ke bus. Setelah itu lanjut tidur sampai masuk Madinah, kota dimana islam memancarkan cahaya Syariah Islamiyah sehingga disebut dengan Madinah Al-Munawarrah (Madinah yang Bercahaya). Karena akan memasuki Tanah Haram, kami memanjatkan doa terlebih dahulu agar tubuh, hati, dan pikiran menjadi suci. Yang membuat saya super antusias dan merinding adalah ketika ustadz menunjukkan pintu pagar Mesjid Nabawi yang begitu indah, megah, dan mewah. Karena saya sudah sangat dekat dengan makam Rasulullah ๏ทบ, Abu Bakar As Siddiq, dan Umar bin Khatab yang biasanya hanya saya lihat di tv dan buku. Maka meneteslah air mata ini...

Assalamu'alaika yaa Rasulullah ๏ทบ

Januari 07, 2017

I'm Back From Saudi Arabia

Mungkin bisa dibilang, perjalanan ke Arab Saudi untuk berumrah ini adalah yang terlama sepanjang saya berpergian ke luar negeri. Sampai ditanyain oleh banyak orang, "Kok kamu lama banget?" Saya cuma bisa menjawab, "Alhamdulillah disuruh tobat dan beribadah banyak-banyak di Mekkah dan Madinah," sehingga saya tidak menyesal. Meskipun saya capek banget, suhu udara malam hari sampai 8 derajat dan siang hari sampai 33 derajat, terserang batuk, suara serak, berat badan turun 2 kg, tapi saya senang banget melakukannya. Nanti saya ceritakan detilnya, dan sekarang selamat menikmati foto-fotonya terlebih dahulu ya. 
Siang sempat 12 derajat dan pakai jaket thermal
Beli baju Abaya
Baqi, makam para syuhada
Dibawah kubah hijau itu makam Rasulullah SAW
Baju merah terlalu mencolok di negara ini
Museum
Museum
Belanja yuk
Pakai baju Vietnam di Madinah
Shalat aja pakai kacamata karena silau banget
Unta
Laut Merah
Mesjid Terapung
Masjid Nabawi
Mengejar merpati
Pintu Nabawi
Kebun kurma
Mesjid Quba
Pintu Nabawi
Nungguin Mama
Jabal Rahmah
Pertanyaannya adalah, berapakah kacamata yang saya bawa? Jawab aja ya walaupun nggak penting, hihihi.

Desember 20, 2016

Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu Ya Allah

Ketika kalian membaca postingan ini, berarti saya sudah berada di ruang tunggu bandara Sultan Iskandar Muda International Airport Banda Aceh dan bersiap untuk perjalanan panjang selama kurang lebih 8 jam ke King Abdul Aziz International Airport, Jeddah. Alhamdulillah dapat penerbangan langsung dan nggak usah transit (biasanya transit di Kuala Lumpur) dan kata travel agentnya ini adalah penerbangan langsung pertama.

Perjalanan kali ini menurut saya lumayan berat. Deg-degannya udah mulai dari dua minggu sebelum umroh. Bahkan ngeliat ruko travel agent aja kayaknya langsung naik asam lambung, hahaha (lebay dikit). Bukan karena keinginan umroh yang selalu datang menghampiri tiap saat, tapi ada perasaan takut lupa rukun, lupa doa, rasa antusias mau melihat ka'bah, berziarah ke mesjid Rasulullah ๏ทบ , semua bercampur jadi satu. Kebayang biasanya saya hanya liburan ke luar negeri, mempersiapkan itinerary sendiri, tapi sekarang ada rukun yang harus dikerjakan dan kalau nggak ya batal.
User Guide dan uang Riyal
Ayah saya pernah bilang dulu, "Kalau ingin berpergian ke luar Asia, maka pergilah mengunjungi Ka'bah terlebih dahulu. Anggaplah Masjidil Haram adalah pintu keberkahan untuk berkeliling dunia. Ketuklah pintu itu, sehingga kamu bisa melihat Ka'bah dan berkeliling dunia." Pada kenyataannya saya sudah mengunjungi Australia dan New Zealand, tapi kata adik ipar saya dua negara tersebut di piala dunia masih masuk ke Asia. Baiklah, berarti saya anggap saya belum pernah keluar Asia dan saya harus pergi umroh. Saya berpikir betapa susahnya memantapkan hati untuk menuju tempat paling mulia di muka bumi ini. Belum lagi godaan tiket murah ke negara lain datang terus bertubi-tubi, baru beli 2 e-commerce yang membuat saya mendadak kere, dan salah satu Marketplace saya di suspend yang membuat income jauh berkurang. Jadi berpikir, memantapkan niat memang butuh usaha keras. Seolah-olah saya sedang diberikan ujian bagaimana cara menetapkan hati memenuhi panggilan Allah. Dan saya sudah memutuskan untuk tetap pergi apa pun rintangannya.

ู„َุจَّูŠْูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุนُู…ْุฑَุฉً 
Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah.

Baiklah, cukup curhatnya. Saya akan membahas persiapan berangkat umroh. Mari disimak:

Vaksin Meningitis dan Flu
Semula saya mengira semua rumah sakit di Jakarta menyediakan vaksin ini. Setelah menelepon beberapa rumah sakit, hanya vaksin flu yang bisa di beberapa rumah sakit, sedangkan vaksin meningitis hanya tersedia di beberapa tempat sebagai berikut :
  1. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kls I Jakarta Area Perkantoran Bandara Soekarno Hata, Cengkareng Telp. 5502277 / 5506068
  2. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Halim Perdana Kusuma. Jln Jengki no 45 Rt 8 Rw 2 Kelurahan Kebon Pala Kecamatan Makassar, Cililitan Jakarta Timur. Telp. 8000166
  3. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kls I Tanjung Priok Jln. Nusantara No. 2 Tanjung Priok Jakarta Utara  14310  Telp. 021-43931045  Fax : 021-4373265   Email : info@kkptanjungpriok.net
  4. RS Persahabatan Rawamangun. Jl.Persahabatan Raya No.1 Rawamangun Jakarta Timur 132030. telp. 021-4891708
  5. RS Fatmawati. Jl. RS Fatmawati Cilandak, Jaksel Kode Pos 12430. Telp : 021-7501524
Persyaratan Vaksin Meningitis
1. Fotokopi Passpor
2. Foto 4×6 1 lembar
3. Fotokopi KTP

Biaya: Rp. 305.000,- (Desember 2016)

Kalian tau, mendapatkan vaksin meningitis susahnya minta ampuuun. Pertama kali saya pergi ke RS Fatmawati yang ternyata saya dapat antrian tanggal 25 Desember 2016, padahal saya datang tanggal 2 Desember 2016. Kalau kalian mau suntik disini, mending mendaftar sebulan atau dua bulan sebelumnya deh. Saya sampai harus kecewa berat karena nggak bisa vaksin di RS ini dan berbalik arah ke KKP Soekarno Hatta. Ternyata karena sudah siang, vaksin habis dan saya harus pulang lagi. Sempat kecewa dan mulai malas untuk datang lagi. Tapi mengingat pentingnya vaksin karena saya agak gampang sakit, jadi saya bela-belain harus vaksin.

Hari senin tanggal 5 Desember 2016 saya pergi ke KKP Halim Perdana Kusuma jam 5 pagi. Sopir Go-Car malah nggak tau jalan ke bandara Halim sampai akhirnya kami muter-muter 2 jam lebih. Duh, saya takut nggak dapat antrian lagi, tapi berusaha santai (tetap deg-degan juga sih). Alhamdulillah ternyata orang yang mau vaksin disini nggak sebanyak di Soekarno Hatta. Saya dapat antrian nomor 180 dan baru dipanggil vaksin jam 10.30. Lumayan juga lama nunggunya.

Bagian paling mengerikan dalam hidup saya memang berurusan dengan suntik. Saya sempat ketakutan tapi ketika disuntik eh malah nggak terasa apa-apa. Karena saya ada asma dan alergi, saya disarankan vaksin flu juga. Saya jalan ke apotik Cililitan dekat KKP Halim, makan siang dulu, baru mendaftar vaksin flu. Karena nggak antri, saya bisa langsung masuk ke ruang dokter. Kali ini ketika disuntik saya nangis kesakitan. Huuuu sakit banget ya Allah. Saya membayar Rp. 200,000 untuk vaksin flu.

Beberapa jam kemudian, dua lengan saya mulai nyeri. Karena malas pulang ke rumah dulu, saya main ke rumah teman di Tebet dan rencana hari ini kami mau main Ice Skating. Jangankan main, mau ngetik di laptop aja dua bahu dan lengan saya sakit banget. Teman saya juga nggak sengaja beberapa kali menepuk pundak saya dan saya nangis lagi kesakitan. Huuu, bekas suntiknya sakit banget. Ah pokoknya saya nangis aja deh seharian. Besoknya juga saya masih merintih nyeri sewaktu beberapa kali teman saya mencolek pundak saya di sebuah konferensi yang kami hadiri bersama. Saya bilang, "Aaah!" karena latah meringis kesakitan dan dia kaget juga sambil bilang, "Aaah sorry!". Jadi aja kami berisik di tengah-tengan konferensi dan untung pada nggak kenal. Lengan saya sembuh total 3 hari kemudian. Kebayang kalau cewek-cewek yang harus suntik vitamin C dua minggu sekali untuk membuat kulitnya cerah. Ah mending nggak usah!

Jadwal Menstruasi
Ini nih yang paling galau menurut saya. Biasanya jadwal mens saya sangat teratur kecuali kalau lagi stress. Nah, kadang saya sendiri nggak sadar lagi stress, tiba-tiba malah dapet. Menurut saya bulan ini adalah bulan paling stress tapi kok saya malah belum dapet? Bisa jadi juga kalau stress malah telat dapet. Duh, nggak enak banget udah jauh-jauh umroh, eh malah mens. Ya udah deh, saya minum obat Primolut N untuk menghentikan mens sementara. 
Obat
Di Jakarta, obat ini baru bisa dibeli dengan resep dokter. Karena saya udah males banget ke dokter, ya udah saya beli di Aceh aja. Beberapa dokter juga pendapatnya beda-beda untuk minum obat ini berapa kali sehari. Saya sampai memvoting dokter-dokter (kebetulan teman-teman dan saudara sendiri) dan akhirnya memutuskan untuk minum 1 kali sehari saja. Sekalian mempertimbangkan peringatan obat agar hati-hati diberikan kepada penderita asma. Ya Allah semoga obat ini berguna supaya benar-benar bisa beribadah.

Pakaian
Saya jadi harus beli beberapa baju longgar atau gamis, membongkar isi lemari untuk mencari terusan atau dress panjang, dan melihat beberapa inspirasi pakaian umroh untuk cewek seperti apa. Saya memang nggak punya kerudung jenis khimar, jadi saya mau mencoba nge-mix and match kerudung biasa dengan long dress. Say good bye untuk ripped jeans deh disana.

Belajar Umrah
Jujur saja saya nggak punya waktu untuk ikutan manasik umroh. Jadinya saya membeli buku Tata Cara Umroh Lengkap yang bisa menjadi panduan saya disana (User Guide). Sebagian besar doa saya memang sudah hafal karena memang nggak susah. Tapi rukunnya masih lupa-lupa ingat. Saya kira rukun umroh sama dengan Haji sampai ada lempar jumrah begitu dan yang membedakan hanya Wukuf di padang Arafah. Ternyata umroh hanya Ihram (buat laki-laki pakai pakaian ihram yang warna putih), Thawaf (mengelilingi ka'bah 7 kali berlawanan arah jarum jam), Sa'i (berjalan antara bukir Shafa dan Marwah), dan Tahallul (mencukur rambut) saja. Selama di Aceh, pekerjaan saya adalah membolak-balik user guide dan menghafal doa. Duh, rasanya seperti mau ulangan agama sewaktu masih sekolah dulu ditambah akan segera praktik. Sengaja nggak mau terlalu mengurusi pekerjaan biar bisa fokus. Saya juga bawa buku user guide-nya ke pesawat untuk dibaca selama perjalanan ke Jeddah.

Uang Riyal
Saya kira kurs Riyal sama dengan Malaysia Ringgit. Ternyata Riyal lebih mahal sekitar Rp. 3,560. Beda hampir 300 poin. Mana saya lagi kere, untung udah nyetor uang sampai lunas, sehingga disana tinggal bawa diri aja. Makan udah disediakan, paling duit nongkrong cantik yang harus sediakan sendiri.

Tour dan Travel
Saya menggunakan jasa Belangi Tour di Banda Aceh dengan harga Rp. 27,000,000. Visa juga sudah diurusi oleh travel yang membuat passpor saya ditahan lebih dari sebulan. Bagus juga ditahan untuk mengirit duit agar nggak tergiur dengan godaan tiket yang super murah, hihihi. Sengaja pilih hotel yang dekat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi karena bawa orang tua. Mungkin kalau saya pergi sendiri, saya akan memilih paket yang lebih murah, hihihi.

Baiklah, sekian tulisan saya. Nanti di sela-sela waktu beribadah akan saya posting foto yang berbeda-beda di Path dan Instagram. Kalau mau melihat siaran langsung bisa melalui Instagram Story, hihihi. Tenang saja, Instagram saya nggak di private jadi kalian bisa bebas melihat foto, video, dan IG Story. Doakan semoga ibadah saya lancar, tidak mendapat halangan apa pun, umrahnya mabrur, dan semua doa saya disana dikabulkan Allah. Aminnn...

ู„َุจَّูŠْูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู„َุจَّูŠْูƒَ، ู„َุจَّูŠْูƒَ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َูƒَ ู„َุจَّูŠْูƒَ

ุฅِู†َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ูˆَุงู„ู†ِّุนْู…َุฉَ ู„َูƒَ ูˆَุงู„ْู…ُู„ْูƒَ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َูƒَ

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu. Begitu juga kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu.

Dear Ayah, akhirnya saya bisa umroh bareng Mama dan Dek Achmad. Akan saya doakan Papa dari seluruh tempat terbaik untuk berdoa. Semoga saya merupakan salah satu anak yang shalehah, sehingga doa-doa bisa langsung menembus langit dan pahala bisa menjadi amal jariyah Ayah kelak. Aminnn...

Desember 17, 2016

Aksi Damai 414 dan Super Damai 212

Saya menuliskan postingan kali ini agar saya bisa mengingatnya seumur hidup. Di penghujung tahun 2016 ini, saya melihat Indonesia berbeda. Seolah-olah persaudaraan antar sesama muslim semakin erat. Mungkin kita sudah terbiasa dengan stigma negatif kata "demo". Pokoknya kalau sudah ada isu besok tuh demo, ya udah deh kita nggak mau kemana-mana hari itu karena was-was akan keselamatan diri sendiri. Saya juga berpikir hal yang sama dan nggak mau mengambil resiko. Tapi saya tetap ingin mengingat aksi kali ini.

Aksi Damai 414
Beberapa hari sebelum Aksi ini, saya sudah menjadwalkan untuk tidak kemana-mana pada hari Jumat tanggal 4 November 2016. Saya sudah menggeser semua jadwal meeting dan nongkrong ke satu hari sebelum atau sesudah tanggal tersebut. Belum lagi isu katanya pasukan berani mati juga datang dan ternyata HOAX. Duh, kalau begini kan jadi ambigu. Ya sudah, saya hanya di rumah dan nonton tv untuk mengetahui perkembangan terbaru.
Ketika hari H, saya sempat takjub dengan aksi yang aman dan damai di Bundaran H.I dan diikuti sangat banyak orang. Bahkan beberapa teman kantor dan teman dekat juga ikut aksi tersebut. Saya kurang tau berapa orang persisnya tapi sempat memutihkan jalan protokol di sepanjang Bundaran H.I. Banyak sekali orang dari daerah datang dan semua aksi berlangsung damai, alhamdulillah. Tanaman tidak diinjak, tidak ada sampah, pokoknya aksinya sangat rapi dan bermartabat. Hanya saja menjelang malam mulai ada kerusuhan yang membuat saya mulai ragu ini beneran damai apa nggak. Hmmm, apa pun yang terjadi kala itu, saya tetap mencoba berpikiran positif.

Super Damai 212
Aksi yang satu ini benar-benar membuat saya terharu. Kalau aksi damai 414 yang ikutan sudah sangat banyak, kali ini lebih banyak lagi. Bahkan para tetangga, tante, om, yang saya kenal, pada ikutan semua. Ada yang booking satu pesawat juga. Saya jadi tergerak untuk ikut tapi saya sedang flu berat. Jangankan mau ke Monas, ke apotik aja nitip sama tetangga.

Saya bisa melihat kedamaian di aksi doa bersama ini. Semua orang duduk rapi di Monas, seolah-olah melihat barisan di Masjidil Haram. Banyak yang membagikan makanan, menyediakan air untuk berwudhu, menyediakan toilet darurat, membagikan sajadah, dan kegiatan positif lainnya. Para ulama terus menyerukan untuk berdoa bersama dengan khusyuk, tidak membuang sampah sembarangan, terus melafalkan tahlil, tidak berdesak-desakan, dan pada akhirnya semua pada tertib. 
Hari itu juga dilaksanakan shalat Jumat dengan jamaah terbanyak di Indonesia (sekitar 7 juta orang) dan mungkin terbanyak di dunia. Segala kalangan masyarakat termasuk para ulama, pegawai kantoran, dan artis pun ikut di dalamnya. Bahkan presiden dan wakil presiden pun ikut shalat bersama. Tiba-tiba hujan rintik-rintik pun turun. Ini bukan pertanda alam tidak setuju dengan aksi ini tapi keberkahan turun sangat banyak ketika hujan.

Rasulullah ๏ทบ ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan:

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَูŠِّุจًุง ู†َุงูِุนًุง 
Allahumma shoyyiban naafi’an
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat.” (H.R. Al-Bukhari)

Aksi ini berakhir dengan sangat sangat damai. Semua pulang ke rumah masing-masing dengan tertib. Betapa indahnya hari Jumat tanggal 2 Desember 2016 yang lalu. Sebagai informasi, Aksi Damai 411 dan 212 hanya untuk berdoa agar proses hukum terhadap seseorang yang diduga menistakan agama dilakukan secara akuntabel, transparan, independen dan tidak memihak. Insya Allah doa begitu banyak orang di waktu hujan akan menembus langit dan dikabulkan oleh Allah.

Desember 12, 2016

Cerita Cinta di Gunung Semeru

Setelah menulis Cerita Cinta di Bromo yang sampai sekarang termasuk cerpen paling ngehits di blog saya dengan stats sangat tinggi, sekarang saya tulis lanjutannya yaitu Cerita Cinta di Gunung Semeru. Semoga bisa mengisi hari kalian setelah pulang dari longweekend. Mari disimak!

***

Gw menghampiri Erika dengan membawa secangkir jahe hangat untuknya. Kami berhasil mencapai Ranu Kumbolo, sebuah danau yang berada di gunung Semeru yang membuat dia hampir pingsan kelelahan. Cewek yang satu ini nggak pernah naik gunung, tapi memaksa ingin melihat awan dari ketinggian. Gw mau saja memenuhi permintaannya karena longweekend juga dan gw nggak perlu cuti. Erika juga nggak mau buru-buru naik ke puncak Mahameru, jadi pendakian kita agak santai. Ya mungkin karena stamina juga dan tipisnya udara di ketinggian sehingga membuatnya hampir pingsan.

Ada hal yang mengherankan yang membuat gw bertanya-tanya terus selama mendaki gunung Semeru. Karena Erika nggak sanggup angkat ransel yang berisi tenda atau air mineral, dia menggunakan jasa Porter (memang biasanya ada jasa Porter untuk angkat barang). Awalnya gw agak heran, kenapa Porter kali ini gayanya keren banget. Badannya berotot, botak, mukanya serem, kacamata hitamnya Oakley, jaket dan sepatunya The North Face, dan sigap banget menjaga Erika. Gw berpikir, mungkin barang-barang yang dipakai sama Porternya KW Super, mungkin juga karena selalu naik gunung, jadi Porter harus pakai barang-barang yang bagus agar awet. Tapi kok semua barangnya terlihat baru? Aneh sekali. Oh ya, mungkin karena Erika cepat lelah, jadi Porter yang satu ini lumayan care sama dia. Bahkan ketika jarak kami sudah agak jauh, Abang Porter teriak memanggilku, “MAS ARDIIIII, BERHENTIIIII!!!” Dan teriakannya menggema seantero gunung Semeru bersahut-sahutan kayak gini, "Mas Ardi... mas ardi... mas ardi... mas ardi.... Berhenti...! Berhenti....! Berhenti.....! Gw sampai kaget setengah mati dan baru sadar kalau gw sudah meninggalkan mereka agak jauh.

Ketika harus camping, Abang Porter menyiapkan segalanya untuk Erika. Bahkan ketika Erika mau buang air pun, dia menjaganya. Agak nggak etis sih, tapi ternyata dia profesional banget. Sama sekali nggak ada maksud iseng. 
Gw menghampiri Erika, “Abang Porter kali ini keren banget ya. Pakaiannya oke, kacamatanya keren, kayaknya orang tajir. Biasanya Porter 'kan lusuh, kurus, dan males-malesan. Abang yang ini malah sekarang lagi masak. Ckckckck! Peralatan di ranselnya lengkap banget dong ya?” Kata gw sambil menoleh kearah Abang Porter.

Erika tertawa, “Kali ini abang Porternya aku sogok duit agak banyak untuk belanja, bawa kompor, dan harus bisa masak juga. Biar mau ngurusin kita, hahaha.”
“Kayaknya ngurusin kamu doang sih,”
“Mungkin karena aku cewek, jadinya lebih diurusin. Lagian kamu kan udah biasa naik gunung.”
“Iya juga ya," Gw tertawa. “Besok medan pendakian ke Mahameru lebih susah lagi. Aku khawatir kamu nggak sanggup.”
“Insya Allah, “ jawab Erika.

Tiba-tiba terdengar suara bising sehingga gw dan Erika sampai mendongak melihat keatas. Ada 2 helikopter terbang diatas kami sambil memberikan lampu sorot. 
Gw keheranan, “Kok ada helikopter ya?”
Erika menjawab santai, “Mungkin memang sedang ada pemantauan.”
“Apa ada orang hilang ya di gunung? Atau mungkin ada kecelakaan sehingga Tim SAR datang?” Gw langsung mengeluarkan hp untuk ngecek detik.com. Tunggu, kan nggak ada signal.
Erika masih santai aja. “Sudahlah nggak usah dipikirin. Insya Allah aman-aman saja.”

“MAKANAN SUDAH SIAPPPP!” Teriak abang Potter yang bikin gw kaget dan suaranya menggema lagi seantero Ranu Kumbolo. Sampai-sampai para pendaki gunung yang lain langsung melihat ke arah Abang Porter.
“Abang Porter ini suka teriak-teriak ya?” Gw keheranan.
Erika beranjak dari duduknya sambil tertawa, “Mungkin dia lapar juga, jadi teriakin kita supaya cepat makan.”
Gw masih keheranan lagi melihat menu masakannya yang banyak dan terlihat menggiurkan. Karena wajah Abang Porter galak, gw nggak berani banyak bertanya. Ya sudah, gw makan aja. Palingan ngobrol dengan Erika saja. 

Selesai makan, gw dan Erika duduk lagi di tepi danau Ranu Kumbolo untuk menikmati Rembulan yang kebetulan sedang purnama. Kami lalu bercerita banyak hal malam itu walaupun udara sangat dingin dan lembab.
"Indah banget ya cerminan bulan di danau ini. Aku bersyukur banget bisa melihat keindahan seperti ini. Masya Allah." Kata Erika berbinar-binar.
Gw terseyum sambil memandang wajah Erika.
"EHEM!" Bahkan Abang Porter mendehem aja seperti teriak.
Erika tertawa. Gw menoleh melihat Abang Porter yang sedang membereskan tenda Erika dan tendanya. Tenda gw nggak diberesin. Dia membuat tenda kami berdekatan karena dia tetap mengawasi Erika. Bahkan gw mau menikmati bulan pun diawasi. Kok gw jadi curiga si abang ini suka sama Erika dan cemburu sama gw ya? Ah nggak mungkin, nggak mungkin.
Pic taken from http://www.naturalsunrisetour.com/
Besoknya, perjalanan menuju puncak Mahameru dimulai. Kami menaruh barang di kaki gunung, tapi abang Porter tetap membawa ransel agak kecil. Kami mendaki perlahan-lahan, tapi gw melihat Erika mulai terengah-engah dan susah bernapas. Abang Porter terlihat agak panik, tapi Erika masih bersikeras untuk mendaki. Sampai di tempat kami beristirahat, mata Erika mulai merah. Gw panik, apalagi abang Porter yang tiba-tiba mengeluarkan oksigen dari dalam ranselnya.

Erika memakai oksigen sejenak, gw menunggu tanpa bertanya apa pun, lalu dia melepas oksigen, dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa ratus meter lagi kami sampai di puncak, tapi Erika terlihat sangat lemah. Gw bertanya berapa kali padanya, apa masih sanggup? Dan dengan ngos-ngosan dia hanya mengangguk dan memberikan jempol. Yang anehnya lagi, Abang Porter malah mengeluarkan Walky Talky dan berbicara kode-kode. Kok gw semakin lama semakin seperti orang tolol yang terus bertanya-tanya ada apa dan kenapa.
Pic taken from http://images.malesbanget.com/gallery/mahameru
Sampai akhirnya kami berada di puncak Mahameru, gw kegirangan setengah mati melihat pemandangan seolah kami berada di atas awan. Gw melihat Erika sangat ngos-ngosan dan Abang porter memakaikan dia oksigen lagi. Erika lalu melepas oksigen beberapa saat kemudian, lalu berfoto denganku di setiap sudut gunung, memaksa tersenyum, dan tidak bicara sama sekali. Mungkin berbicara membuat dia kehabisan napas.

Lalu tiba-tiba Erika pingsan. Dan gw syok!

Gw panik setengah mati dan hanya beberapa detik setelah Erika pingsan, ada dua helikopter datang. Abang Porter menggotong Erika masuk ke helikopter yang nggak bisa parkir. Apalagi angin dari baling-baling helikopter terlalu kencang yang membuat gw hampir terbawa angin. Setelah memasukkan Erika ke dalam helikopter, Abang Porter menyuruh gw naik juga. Yah, gw nurut aja deh, semoga gw nggak diculik ya Tuhaaaann!

Baru kali ini gw naik helikopter. Ada 1 orang bapak-bapak yang terus memeriksa Erika selain Abang Porter. Oksigen terus dipasangkan di hidung dan mulutnya untuk menstabilkan pernapasan. Kami diterbangkan ke salah satu rumah sakit di Malang yang paling dekat dengan tempat pendaratan helikopter. Langsung ada ambulan yang menjemput Erika, Abang Porter, dan bapak-bapak tadi. Tanpa disuruh, gw langsung naik juga ke ambulan dan ikut ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, kami sampai dan Erika langsung masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD). Gw dan Abang Porter nggak boleh masuk. Terpaksa gw duduk di bangku yang ada di koridor UGD sementara Abang Porter berteleponan terus dengan ntah siapa.

Dokter keluar dari UGD dan bilang kalau Erika baik-baik saja. Gw jadi lega. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki tinggi, klimis, dengan pakaian sangat rapi datang. Abang Porter langsung berdiri dan menundukkan kepala, begitu juga dengan para dokter. Dia menoleh sebentar ke arah gw lalu masuk ke ruang UGD. Gw mulai penasaran setengah mati, lalu gw memberanikan diri bertanya pada abang Porter.

"Siapa itu?" tanya gw.
"Bapak Erik, adiknya Ibu Erika."
Gw langsung lega karena dia bukan pacarnya Erika. Tunggu, tiba-tiba gw merasa aneh. "Lho, kok abang Porter tau? Bapak Erik suka naik gunung juga ya?"
Abang Porter tertawa. "Saya body guard mereka termasuk Porter juga sih." 
Aku terbelalak. Pantesan dari gaya aja nggak mungkin banget ada Porter pakai baju bermerk semua.
"Mana mungkin kami membiarkan seorang pemilik perusahaan naik gunung bersama lelaki seperti anda." kata Abang Porter dengan wajah datar.
Gw manggut-manggut. Bener juga sih.
"Sebaiknya anda pulang. Barang-barang di gunung tadi sudah ada di dalam mobil. Nanti malam baru Anda kesini lagi. Biasanya Bapak Erik dan Ibu Erika akan mengobrol lama tanpa mau diganggu. Daripada Anda terus disini, mana belum mandi."
Gw mengernyit, emangnya gw doang yang belum mandi? Lo juga bang. Tapi sepertinya memang gw lebih baik pulang dulu baru balik lagi. Gw mengambil ransel di mobil dan pulang ke rumah.

Hp gw berdering dan ternyata Erika menelepon dan menyuruh gw ke rumah sakit. Mumpung udah mandi, gw langsung meluncur kesana. Gw masuk ke ruang dia diopname sambil membawa karangan bunga dan disana sudah ada beberapa orang. Gw kenal Indah (temannya), dan Erik. Kami bersalaman dan saling memperkenalkan diri, lalu mereka keluar dari kamar. Hanya tinggal gw dan Erika saja.
"Kamu pasti punya banyak pertanyaan 'kan," kata Erika.
"Sebagaian udah di jawab Abang Porter kok," jawab gw.
Erika tersenyum.
"Baru kali ini aku mengajak orang naik gunung sampai dia membawa helikopter untuk berjaga,"
"Itu Tim SAR," kata Erika.
"Masi mau mengelak,"
Erika tertawa, "Mereka memang menjagaku dan menjaga kamu supaya nggak macam-macam sama aku."
Gw tersipu malu, "Iya pas di danau, aku udah mulai berniat macam-macam sih."
"Masa? Emang mau ngapain?" tanya Erika.
"Sayangnya langsung diteriakin abang Porter," kata gw.
"Namanya Jack, si abang Porter."
Iya juga ya, kenapa dari awal nggak nanya namanya.
"By the way, kenapa kamu memaksakan diri untuk naik gunung?"
Erika terdiam sejenak, lalu menjawab, "Karena kamu suka gunung dan aku berpikir apa salahnya mencoba. Tenang saja, aku sudah memikirkan the worst case, makanya sampai bawa si Jack dan 2 helikopter."
"Maafin aku," kata gw. "Lain kali kita main ke pantai saja ya."
Erika tersenyum dan memberikan jempol.
"EHEM!" tiba-tiba terdengar suara abang Porter eh si Jack mendehem. Gile ini orang di rumah sakit aja masih teriak-teriak.
Dan kami semua tertawa.

***

Malam ini aku harus diopname. Erik adikku yang menemaniku bermalam disini. Sebenarnya aku nggak usah ditemani juga karena ada dokter dan perawat, tapi adik yang satu ini memang agak posesif. Beberapa kali dia mengomel karena aku memaksakan diri pergi dengan Ardi mendaki gunung. Dia bersikeras mengirimkan 2 helikopter untuk menjagaku. Tapi aku senang. Aku nggak nyesal bisa mendaki puncak gunung.

Mungkin karena kebanyakan tidur, aku jadi agak insomnia. Aku melihat karangan bunga dari Ardi dan melihat ada amplop tertempel dibungkusannya. Aku mengambil amplop itu, mengeluarkan kartu dan membaca isinya. Aku lalu tersenyum.

Dear Erika, cepat sembuh ya. Suatu hari nanti akan ku ajak engkau melihat dunia. -Ardi-

Categories

adventure (262) Living (236) Restaurant (146) Cafe (139) Hang Out (132) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (81) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (48) Event (48) Hotel (34) China (31) Islam (27) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Osaka (7) Saudi Arabia (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) CEO (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Medina (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Jeddah (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan