Juli 15, 2017

Menjelajahi Kota Meulaboh Sampai Nagan Raya

Ini pertama kalinya saya ke Meulaboh, Aceh Barat. Walaupun ada tante yang tinggal di kota ini, tapi saya nggak pernah main ke rumahnya. Mungkin karena jarak dari Aceh Utara ke Barat jauh banget dan harus memutar dulu ke Banda Aceh. Bisa sih lewat jalan tengah melalui Takengon. Tapi katanya jalan dari Aceh Tengah ke Aceh Barat agak menyeramkan dan ngeri-ngeri sedap kalau bawa anak kecil dan orang tua. Mungkin kalau kita sesama anak muda sih bisa-bisa aja.
Meulaboh
Baiklah, saya akan menceritakan beberapa destinasi wisata yang saya kunjungi di Meulaboh. Mari disimak!

Pantai Ujung Karang
Tempat pertama yang tante saya rekomendasikan untuk berwisata adalah Pantai Ujung Karang. Pantai ini terletak di desa Suak Indrapuri, kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh Aceh Barat yang merupakan salah satu objek wisata yang menawarkan keindahan alam, dengan lautnya yang berwarna biru, ditambah dengan pohon nyiur berjajar disekitar pantai sehingga membuat suasana semakin terasa sejuk. Dulu, gelombang Tsunami tahun 2004 sangat tinggi di pesisir pantai ini. Kalian bisa melihat saksi bisu bangunan tiga lantai yang belum di renovasi dan dindingnya jebol karena terkena tsunami. Masya Allah.
Mari melaut
Saksi bisu tsunami
Kalau kalian suka mancing ikan, pantai ini menjadi tempat yang tepat untuk memancing. Berhubung waktu saya singkat sekali di Meulaboh, jadi nggak nyobain mancing. Cuma berfoto aja disekitar dermaga dan saya menyadari kalau langit di Meulaboh indah sekali. Apa mungkin karena pantulan sinar matahari ke laut yang membuat langit berwarna biru cerah yang sangat indah๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.
Mari memancing ikan
Mikirin siapa ya?
I'm wearing my own cloth label HAY
Kupiah Meukeutop
Kupiah Meukeutop adalah lambang daerah Kabupaten Aceh Barat dan juga situs budaya, serta lokasi gugurnya Pahlawan Nasional Teuku Umar yang terletak di Desa Suak Ujong Kalak, Kota Meulaboh. Saat tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, monumen itu juga ikut terbawa air bah. Pada masa rekonstruksi Aceh pascabencana, tugu dibangun kembali oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh dengan biaya mencapai ratusan juta rupiah. Monumen ini dibangun dengan posisi agak ke darat kaerna lokasi tugu sebelumnya telah menjadi laut akibat Tsunami. Memang kalau dilihat kondisinya kini tak bisa dimanfaatkan dengan baik karena ditumbuhi rumput liar, cat menggelupas, dan tak ada perawatan. 
Kupiah Meukeutop
Lokasi Teuku Umar ditembak
Sebagai informasi, Kupiah Meukeutop juga merupakan topi tradisional adat Aceh yang biasanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat yang dikenakan kaum pria. Tidak jauh dari monumen Kupiah Meukeutop ada juga monumen yang sama bertuliskan Teuku Umar. Kita ketahui bahwa pahlawan nasional yan satu ini lahir di Meulaboh, tahun 1854. Beliau gugur 11 Februari 1899, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Belanda di Meulaboh. Di lokasi tertembaknya Teuku Umar, di Pantai Batu Putih, Suak Ujong Kalak, dibangun satu lagi Kupiah Meukeutop.

Kopi Khop - Kopi Telungkup
Tidak jauh dari Monumen Kupiah Meukeutop, ada warung kopi yang menyajikan kopi secara terbalik. Sebenarnya saya nggak suka kopi, tapi saya berpikir kalau nggak sah rasanya udah ke Meulaboh tapi nggak nyobain sensasi minum kopi secara terbalik. Saya minta kopi manis, supaya kuat minumnya. Ketika kopi datang, saya malah bingung sendiri bagaimana cara meminumnya๐Ÿ˜….
Kopi manis terbalik
Kopi hitam
Pelayan warung kopi bilang kalau kita harus meniup kopinya terlebih dahulu, nanti airnya keluar sedikit demi sedikit. Sebenarnya agak jijay sih meniup air minum, tapi kalau nggak ditiup nggak akan keluar minumannya. Saya tiup perlahan-lahan, lalu air kopi keluar sampai memenuhi piring dibawahnya, baru deh bisa disedot. Awalnya pengen saya balikin kopinya. Tapi saudara saya bilang, kalau kopi dibalikin, nanti ampasnya naik semua karena memang nggak disaring. Hmm, baiklah, memang harus sabar minum kopi perlahan-lahan tampaknya.
Slurrpp
Pondok warung kopi
Setelah dari kopi Khop, kami berkeliling kota Meulaboh. Tidak lupa mampir di mesjid Agung Baitul Makmur untuk berfoto. Mesjid ini merupakan icon kota Meulaboh dan termasuk bangunan yang terindah di bagian barat Aceh dan menjadi saksi bisu ketika Tsunami meluluh-lantakkan Aceh tahun 2004. Warna kubahnya merah mencolok dan sangat cantik, sehingga terlihat elok dari kejauhan.
Mesjid Agung Baitul Makmur
Kantor Bupati Meulaboh
Kabupaten Nagan Raya
Berhubung udah sampai Meulaboh, ada baiknya menyempatkan diri ke Nagan Raya. Kalau untuk saya sih hanya sebagai penambah checklist daftar Kabupaten yang pernah saya singgahi saja. Kalau kalian ingin langsung terbang ke Aceh Barat, mungkin bisa memilih penerbangan dari Kuala Namu Medan menuju Bandara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya. Seandainya dari Lhokseumawe ada pesawat langsung ke Nagan Raya kan enak ya๐Ÿ˜†. Apa yang menarik dari Nagan Raya? Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pertama di Aceh yang terletak di Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya.
Perjalanan dari Meulaboh
Tugu selamat datang
PLTU Nagan Raya ini bakal menghemat penggunaan BBM sebesar Rp 28 triliun per tahun. Pembangkit dengan kapasitas 2 x 110 megawatt (MW) menelan biaya Rp 795 miliar dan US$ 160,9 juta (Rp 152,9 miliar). Memang kalau kalian lihat sendiri, PLTU ini memiliki bangunan super megah. Nggak heran kalau dana yang dikeluarkan hampir 1 Trilyun bisa membuat pembangkit listrik sebesar ini. Saya agak susah memotretnya dari balik pagar, karena nggak boleh masuk ke dalam PLTU. Tadinya mau turun dan memotret dari pintu pagar yang ada teralis tapi agak takut kesetrum. Maklumlah, kan sedang berada di tempat penuh listrik. Emang iya bakalan kesetrum 'gitu?๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
PLTU dari luar
Setelah makan siang, saya kembali pulang ke Banda Aceh sekitar jam 3 siang dari rumah tante di Meulaboh. Memang cuma menginap semalam di rumah tante dan sengaja pulang agak sore supaya bisa mendapatkan sunset di Gunung Geurutee. Alhamdulillah hari itu sangat cerah, langit sangat biru, dan saya ketiduran melulu di mobil. Sempat mampir juga ke rumah saudara di Teunom, baru kembali melanjutkan perjalanan.
Kantor Bupati Aceh Jaya
Alhamdulillah saya sampai di Puncak Geurutee pas banget beberapa menit sebelum matahari terbenam. Kebetulan juga kita dapat parkiran enak di depan pondok. Saya masih sempat duduk-duduk di pondok, memesan indomie dan makan duren yang dijual pas di depan pondok, selagi menunggu best moment untuk sunsetnya.
Puncak gunung Geurutee
Pondok-pondok
Mari makan durian
Kejadian yang menyebalkan adalah, karena makan durian ditambah indomie kali ya, jadi aja perut mules tiba-tiba pas moment sunset lagi bagus-bagusnya. Duh, udah berusaha cuek, duduk diem nggak gerak, mules terus bertambah. Mana nggak ada toilet di puncak gunung begitu. Akhirnya saya paksain ambil foto sunset yang subhanallah bagusnya dengan usaha yang sudah mencapai titik darah penghabisan. Saya memang bela-belain banget mau mengambil gambar sunset di puncak gunung karena refleksi cahayanya langsung ke samudra yang tenang tanpa ada ombak. Masya Allah indahnya. Sunggu Maha Karya Sang Pencipta๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.
The best sunset i have ever seen
Matahari mulai tenggelam sepenuhnya
Sesaat setelah matahari tenggelam sepenuhnya, hilang juga rasa mules di perut saya. Aneh banget 'kan? Damn! Baiklah, semoga suatu hari bisa balik lagi kesini. Aminnn...

Sumber :

Juli 13, 2017

Perjalanan Menuju Meulaboh

Sudah 43 hari saya di Aceh. Kalau orang naik haji, mungkin sebentar lagi udah pulang, hahaha. Logat ngomong juga udah berubah dari betawi ke Aceh yang rada-rada melayu, hihihi. Malah vocab bahasa Aceh jadi bertambah juga. Tapi 43 hari nggak terasa selama di Aceh. Mungkin karena berada di kampung halaman terlalu nyaman, makan enak, tidur nyenyak, internet kenceng, kerjaan juga kelar. Makanya waktu seolah berjalan terlalu cepat.
Peta
Baiklah, saya akan bercerita pengalaman libur lebaran kali ini berkunjung ke rumah tante di Aceh Barat. Sebenarnya saudara saya banyak banget disana, tapi seumur hidup belum pernah ke bagian Aceh yang satu ini. Udah diniatin dari jauh-jauh hari, pokoknya mau ke Meulaboh (ibu kota Aceh Barat), melalui jalur darat supaya saudara yang lain bisa ikut.

Saya dan keluarga keluar dari rumah pukul 6 pagi menuju Banda Aceh. Sekitar jam 10 pagi, kami udah sampai di Banda Aceh dan mampir untuk bersilaturahmi sejenak ke saudara yang ada disana. Sempat ngobrol sebentar, makan siang dengan lauk pauk super banyak dan enak, lalu jam 12 siang, kami keluar dari rumah saudara untuk melanjutkan perjalanan. Baru sadar melihat jarum bensin di dashboard mobil tinggal 2 bar dan jadi takut bensin nggak cukup karena kita bakalan melewati 3 gunung dan nggak ada SPBU sama sekali. Karena mau shalat Jumat, semua SPBU di Banda Aceh tutup semua. Waduh! Akhirnya kami terpaksa beli bensin eceran daripada mobil mati mendadak diatas gunung.
Makan siang
Perjalanan pun dimulai. Karena masih waktunya shalat Jumat, jalan utama Banda Aceh - Calang sepi dan kita bisa 'ngebut untuk mengejar waktu. Mana jalanan di Aceh bagus banget dan nggak ada lubang sama sekali jadi nggak was-was mau ngebut. Beberapa kali saya berhenti, hanya untuk mengambil gambar karena cantik dan indahnya pemandangan di sisi kiri kanan jalan yang kebanyakan adalah pantai. Memang cuaca di Aceh bisa panas banget dan saya lupa bawa kacamata hitam, jadi silau banget mata saya. Tapi alhamdulillah tetap bisa mengambil gambar.
Pantai Lampuuk, pasirnya putih
Pantai Lhoknga, ombaknya gede banget. Bagus untuk berselancar.
Pondok di kaki gunung Paroe
Sebenarnya jalan ke Meulaboh cuma lurus aja nggak belok-belok. Tapi jalannya berkelok-kelok. Apalagi karena harus melewati pegunungan. Dari Banda Aceh, kalian harus melewati gunung Paroe, Kulu, dan Geurutee, baru sampai ke kota Lamno. Nah, menyetir melewati jalan di atas gunung agak seram sih. Kalian harus ekstra hati-hati karena sisian jalannya adalah tebing yang langsung ke laut. Serem banget ya. Walaupun demikian, di puncak Gunung Geurutee ada banyak pondok-pondok yang bisa kita mampir untuk sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan alam yang subhanallah indahnya. Benar-benar indah. 
Pesisir Aceh Barat
Terlihat pulau Klang
Kalian bisa melihat gunung dan pesisir Aceh barat dan Pulau Kluang dari puncak gunung. Saya sampai takjub melihat keindahannya. Sambil mengambil gambar, saya sekalian pesan es jeruk dan menikmati angin sepoi-sepoi di pondok. Sepertinya ini pemandangan pinggir tebing terindah yang pernah saya lihat.
Menikmati jus jeruk
Setelah puas menikmati alam ciptaan Allah SWT, saya melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Aceh Jaya. Sampai di Lamno langsung isi bensin full tank supaya nggak was-was lagi sampai Meulaboh. Perjalanan masih panjang, ditambah lagi saya harus berhenti di tengah jalan untuk nebeng toilet di SPBU atau shalat di mesjid. Sepanjang perjalanan di Aceh Jaya, saya melihat banyak rumah-rumah kecil yang merupakan sumbangan untuk korban Tsunami 2004. Saya juga melewati kota Calang, yang dulunya sempat hilang karena seluruh kota dan penduduknya tersapu tsunami, Masya Allah. Oh ya, ketika sudah turun gunung, kalian tetap harus hati-hati menyetir karena banyak banget rombongan sapi yang sedang melintas di jalan. Kadang pun udah di klakson berkali-kali teteup aja si sapi jalannya santai banget. Sampai harus buka kaca jendela untuk mengusir sapi, hush! Hush!

Setelah Calang, kami mampir shalat di mesjid sumbangan dari Brunei Darussalam di kota Panga. Kebetulan Om saya yang dari Meulaboh janjian ketemuan di mesjid itu karena beliau mau balik ke Banda Aceh. Takutnya nggak ketemu di Meulaboh. Jadilah saya sekeluarga berlebaran dengan om sambil shalat Ashar. Bagus juga idenya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Sekitar setengah jam berhenti, lalu saya melanjutkan perjalanan melintasi kota Teunom. Hampir semua kota di Aceh Jaya itu adalah kampungnya kakak ipar saya dan baru lebaran kali ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjelajahinya.

Perjalanan dari Banda Aceh ke Meulaboh memakan waktu hampir 6 jam ditambah waktu nongkrong sebentar, ke SPBU, dan shalat di Mesjid. Kebayang nggak kalau kami sudah melakukan perjalanan dari jam 6 pagi dan tiba di Meulaboh jam 6 sore. Duh, pegel banget deh 12 jam perjalanan, apalagi membawa bayi. Udah bosen deh bayinya.

Alhamdulillah kami sampai dengan selamat di Meulaboh. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Juli 09, 2017

Travelling to Western Aceh

So many people asked me to write a blog using English language. So I can give so many information to the people all around the world. English like a second language to me but not for the people around me especially my Mom. Mom always read my blog everywhere and everytime so it's not easy for her to read an English-language blog. Because blog just like a report about my life for her, as my respect, i have to write every posts using Bahasa Indonesia.

Well, i just wanna inform the world a very beautiful place on western Aceh. This is my first time went here and I would definitely come here again. A week ago, I visited my aunty in Meulaboh, a city in West Aceh. While I live in Matang City, North Aceh, I have to drive 8 hours to Meulaboh from Matang. I stop by Banda Aceh, lunch, and continue on driving. Do you know what, we have to cross 3 mountains after 1-2 hours driving from Banda Aceh, and the magnificent scenery was found along the way when we drove to the top of Mount Geurutee.
Lampuuk Beach
West Aceh Coast
Lhong Coast
Sunset from Mount Geurutee
Let's eat Indomie and drink Aqua
If you want to visit this place, you can fly from Kuala Lumpur to Banda Aceh using Air Asia. Then just rent a car to Puncak Geurutee, lunch, having fun, and enjoy every wonderful scenery.

Nanti saya akan menuliskan cerita lengkapnya dalam bahasa Indonesia. Stay tuned!

Juni 24, 2017

Ramadhan di Serambi Mekkah

Hari ini kita sampai pada penghujung Ramadhan 1438 H. Sedih rasanya karena akan berpisah dengan bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan yang mulia, bulan diturunkannya Al-Qur'an. Walaupun demikian, Ramadhan saya tahun ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, bahkan dalam 10 tahun terakhir. Kenapa? Karena saya bisa merasakan 24 hari Ramadhan di Aceh.
Aceh adalah kampung halaman yang selalu saya rindukan. Sejak kuliah di Bandung, kerja di Jakarta, pasti pulang ke Aceh kalau udah mau dekat Lebaran. Bahkan pernah nggak pulang sama sekali karena nggak punya duit untuk mudik. Waktu itu sempat berjanji dalam hati, suatu hari saya harus bisa menghabiskan waktu Ramadhan di Aceh, seperti yang saya lakukan ketika masih kecil. Walaupun nggak full selama 30 hari, tapi tetap pengen pulang. Alhamdulillah tahun ini diberikan kesempatan untuk pulang sejak tanggal 1 Juni 2017, bahkan tiket pesawat ke Lhokseumawe dari Jakarta hanya Rp. 800rban. Allah telah menjawab doa-doa saya.

"If you wanna feel the truly Ramadhan, then go back to Aceh"

Kenapa pengen banget merasakan Ramadhan di Aceh? Alasan pertama karena rindu. Rindu suasananya, makanannya, tarawihnya, tadarusnya, dan sebagainya. Memangnya di Jakarta nggak bisa seperti itu? Bisa aja sih, tapi beda. Jakarta itu suasananya kerja, kerja, kerja, dan belanja. Jadi kurang fokus beribadah. Baiklah, saya akan memaparkan alasan kenapa saya kangen Ramadhan di Aceh satu demi satu:

Tadarus Al-Qur'an
Aceh adalah negeri 1000 mesjid. Dimana-mana dibangun mesjid nan indah dengan imam mesjid bersuara menentramkan. Kalian bisa mendengar suara imam memimpin shalat tarawih langsung dari kamar di rumah. Begitu indah, begitu syahdu. Setelah shalat tarawih, dimulailah tadarus sampai satu juz permalam. Seolah-olah mesjid satu dan mesjid lainnya membaca Al-Qur'an bersahut-sahutan.

Yang paling indah lagi, kadang terdengar suara anak laki-laki, sambung-menyambung ayat dengan suara orang dewasa, bahkan sama indahnya. Dan hal itu berlangsung sepanjang malam. Sebelum adzan Shubuh juga terdengar suara mengaji, sebelum magrib juga, pokoknya cukup menjadi penentram hati. Disini saudara-saudara saya saling bertanya, "Udah mengaji juz berapa?" Kalau sudah hari kelima Ramadhan, berarti minimal harus sudah juz 5. Sejak tinggal di Jakarta dan mengaji paling-paling sehari cuma 10 ayat, jadi terasa berat juga kalau harus 1 juz sehari. Padahal dulu selalu bisa. Tapi dengan tekad yang kuat, insya Allah bisa. Dicicil aja setiap selesai shalat Fardhu.

Menu Berbuka
Ini yang paling saya tunggu-tunggu. Hampir semua makanan di Aceh adalah favorit saya. Selain masakan Mama yang menurut saya paling enak di dunia, banyak juga jajanan pinggir jalan yang berbeda setiap harinya yang ingin saya makan. Bahkan sampai membuat daftar makanan yang ingin saya makan.
Tempat berjualan
Ayuk ngabuburit
  1. Rujak Aceh
  2. Air Tebu
  3. Mie Aceh
  4. Gorengan (Risol, Bakwan, dan kue-kue jajanan pasar)
  5. Pecel
  6. Martabak
  7. Roti Cane
  8. Es kelapa dengan sirup patung (sirup kurnia)
  9. Teh Tarik, dll.
Picai (Pecel)
Banyak jajanan๐Ÿ˜
Dan berbagai macam lainnya yang saya udah agak lupa. Hampir setiap buka puasa saya wajib makan risol 2 buah dengan minuman yang berbeda-beda. Kadang teh manis panas, air tebu, es kelapa, dan segala macam ragam es. Es kelapa juga harus dicampur dengan sirup cap patung (sirup Kurnia) kesukaan saya. Duh, sirup ini enak banget deh. Menurut saya ini King of Syrup, semua sirup kalah๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Ntah kenapa, buka puasa di Aceh membuat saya seperti orang kelaparan banget. Padahal sewaktu puasa biasa aja, tapi giliran mau buka tuh rasanya lapar dan haus banget. Mungkin karena melihat makanan di atas meja yang bikin ngences๐Ÿ˜.
Sirup Patung
Mie Lidi
10 Malam Terakhir Ramadhan
Mungkin karena saya perempuan yang sebaiknya beribadah di rumah, jadi saya kurang tau tentang banyaknya orang yang beri'tikaf di mesjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. Hari itu saya sedang berada di Banda Aceh untuk periksa gigi. Mamanya teman saya sengaja menjadwalkan untuk periksa gigi di malam hari karena setelah itu beliau mau beri'tikaf.
Waktu itu, saya tertegun. Apalagi sewaktu adik saya bercerita betapa banyaknya anak muda yang beri'tikaf di mesjid-mesjid di Banda Aceh. Ya, anak muda yang kebanyakan umurnya jauh lebih muda dari saya dan mereka berlomba-lomba mencari pahala di malam-malam terakhir Ramadhan yang disalah satu malamnya terdapat Lailatul Qadar. Saking ramenya di mesjid, makanan untuk sahur yang disediakan panitia mesjid sebanyak 1000 porsi saja masih kurang. Sampai-sampai panitia mesjid memberikan pengumuman untuk jemaah yang rumahnya dekat, pulang saja ya, sahur di rumah๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„. Imam shalat tarawih dan Qiyamul Lail ada yang khusus didatangkan dari Madinah dan Mesir. Kalian bisa membayangkan betapa indah lantunan ayat suci Al-Qur'an yang mereka bacakan.
Pintu-pintu Baiturrahman
Mungkin beberapa tahun belakangan ini, Ramadhan di Jakarta terasa biasa saja. Teman-teman kantor juga kebanyakan sibuk dengan mengejar projek di kantor client karena Idul Fitri semua client pada berlibur. Belum lagi saya nyaris hampir tidak pernah merasakan Ramadhan di Aceh sehingga Ramadhan kebanyakan terasa hambar. Biasanya saya kerja lembur, lalu shalat tarawih di mesjid, baru pulang ke rumah. Sampai rumah udah capek banget, sehingga agak jarang bertadarus. Alhamdulillah tahun ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali merasakan Ramadhan seperti sewaktu saya masih kecil dulu. Walaupun saya harus membawa pulang pekerjaan ke rumah, yang penting internet kencang, saya bisa bekerja. Saya juga bisa memantau seluruh pekerjaan saya hanya dari balik meja belajar di kamar saya.

Kesederhanaan
Ramadhan tahun ini saya sama sekali nggak ikut Midnight Sale yang biasanya selalu ada di Mall-mall seluruh Jakarta. Tahun lalu bela-belain sampai jam dua belas malam masih di Kota Kasablanka karena hampir semua tas bermerk diskon gede-gedean. Saya memang suka belanja (kebanyakan wanita pasti suka), tapi saya sempat belanja seadanya di Kuala Lumpur sewaktu pulang dari Laos. Mungkin karena kere juga, jadi mulai perhitungan dengan barang bermerk. Lagian, hasil belanjaan tahun lalu juga masih pada bagus, jadi nggak usah menumpuk barang.

Saya malah menikmati hidup biasa aja di Aceh. Biasanya saya hanya membawa uang Rp. 10,000 untuk belanja makanan berbuka puasa. Disini harga kue Rp. 500, air tebu Rp. 2,500, martabak Rp. 3,000, Mie Aceh Rp. 5,000, dan berbagai makanan enak lainnya dengan harga sangat miring. Kebayang duit di dompet Rp. 100,000 nggak habis-habis. Saya jadi senang disini.
Aneka cemilan Rp. 500
Pernah suatu hari saya pengen makan telur asin. Saya nitip ke tante untuk minta tolong dibeliin telur asin yang enak. Besoknya tante datang dan bilang kalau itiknya belum bertelur, jadi belum bisa beli๐Ÿ˜…. Saya agak heran tapi lucu juga ya. Besoknya tante datang lagi membawakan telur itik dan bilang kalau hari ini itiknya sudah bertelur. Saya langsung antusias mau langsung rebus telur asin. Ternyata telurnya belum asin dan harus diasinin dulu๐Ÿ˜…. Haduwh, lama juga prosesnya ya, hahahaha.

Mesjid Al-Muntaha
Tempat yang paling saya kangen. Sewaktu saya menginjakkan kaki untuk shalat tarawih di mesjid ini, seolah semua memori sewaktu kecil kembali. Teringat Pak Kasim yang galak dalam mengatur saf, teringat cinta-cinta monyet yang cuma bisa ketemuan pas waktu ceramah di sela waktu setelah shalat isya dan mau tarawih. Teringat bawa makanan seperti mau piknik ke mesjid, teringat cowok-cowok yang memenuhi koridor mesjid untuk duduk-duduk. Mungkin masa kecil saya memang dipenuhi kenangan indah. Terlepas dari peristiwa yang mengakibatkan banyak teman-teman harus pindah sekolah ke luar Aceh. Tapi tetap masa kecil adalah masa paling indah, apalagi kita dibesarkan untuk mencintai mesjid. 
Masjid Al-Muntaha
Malam itu imam shalat masih Ustadz M. A Gamal. Rasanya kangen banget deh. Seolah flashback ke belasan tahun yang lalu. Suara beliau masih merdu ketika membaca surat Ar-Rahman, sangat indah, memecah keheningan malam. Teringat dulu, sewaktu pesantren kilat dimana saya mau minta tanda tangan ustadz/ustadzah siapa pun agar kolom tanda tangan penuh. Terakhir harus hafal 3 surat pendek dan saat itu hanya ada ustadz M. A Gamal yang bisa dimintain tanda tangan. Saya dengan santainya melafalkan ayat-ayat surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-nas tanpa peduli panjang dan pendek. Beliau langsung nggak mau tanda tangan karena bacaan tajwidnya salah semua. Duh, padahal sisa 3 tanda tangan lagi saya sudah dapat seluruh tanda tangan, tapi malah tertahan di 3 kolom terakhir. Awalnya saya mau kabur aja, mencari guru atau ustadz lain untuk minta tanda tangan. Tapi karena ustadz Gamal kenal banget sama Papa, saya jadi takut beliau mengadu ke Papa.  Akhirnya saya ditahan satu jam bersama beliau untuk membenarkan tajwid 3 surat terakhir itu. 

Jadi teringat, sebandel-bandelnya saya dan teman-teman pada masa kecil, kami tetap takut sama orang tua, guru, dan nomor satu paling takut adalah guru ngaji. Teringat Alm. ustadz Arifin yang bertubuh gemuk berkeliling komplek dengan sepeda atau vespa untuk mengajar mengaji. Kebetulan saya nggak belajar sama beliau tapi kebanyakan teman-teman diajarin ustadz itu. Katanya beliau galak, tapi paling sayang sama muridnya. Jadi terpikir sekarang betapa banyak pahala yang beliau investasikan ke anak-anak agar pandai mengaji hingga dewasa. Semoga menjadi amalan jariyah sebagai ilmu yang bermanfaat.

Sebenarnya hal yang paling saya rindukan adalah suara Papa ketika sedang mengaji. Biasanya setelah shalat Ashar, Papa pasti duduk di sofa ruang tamu, dengan peci dan baju koko, lalu melanjutkan mengaji sampai 1 juz. Terkadang dulu kalau pulang dari Jakarta, saya bisa duduk diam sambil hanya mendengarkan suara Papa. Masih teringat betapa indahnya, betapa rindunya. Suara yang tidak mungkin saya dengar lagi sampai kapan pun๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข.

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu.
ุงَู„ู„ู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْู„َู‡ُ ูˆَุงุฑْุญَู…ْู‡ُ ูˆَุนَุงูِู‡ِ ูˆَุงุนْูُ ุนَู†ْู‡ُ
"Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlah dia."

Akhirnya, postingan saya selesai juga di hari terakhir Ramadhan. Jadi sedih sejak semalem ketika shalat tarawih terakhir. Menurut saya shalat tarawih itu berat, agak malas-malasan mengerjakannya, walaupun alhamdulillah nggak pernah tinggal (kecuali sewaktu mens). Tapi ketika mengerjakannya semalem, jadi merenung, Ramadhan segera berakhir๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”. 
Mesjid Raya Baiturrahman
Semoga dapat dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Semoga tahun depan bisa merasakan 10 malam terakhir Ramadhan sampai Lebaran di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram berdua, bertiga, atau berempat juga boleh๐Ÿ˜.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. 
Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin
ุชَู‚َุจَّู„َ ุงู„ู„ّู‡ُ ู…ِู†َّุง ูˆَ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ุตِูŠَู…َู†َุง ูˆَ ุตِูŠَู…َูƒُู…ْ ูˆَุฌْุนَู„ْู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْุนَุงุฆِุฏِูŠู† ูˆَุงู„ْูَุงุฆِุฒِูŠู†
"Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."

Juni 22, 2017

Berbuka Puasa di Mesjid Istiqlal

Awal Ramadhan kemarin, sebelum mudik ke Aceh, saya akhirnya bisa berbuka puasa di Mesjid Istiqlal. Hal yang dari dulu sudah menjadi keinginan saya, tapi belum pernah terlaksana sama sekali sejak mulai tinggal di Jakarta dari tahun 2010. Setiap berganti Ramadhan, selalu berniat buka puasa, tapi selalu ada aral melintang dan nggak jadi terus kesini. Berhubung puasa pertama dimulai hari Sabtu, beberapa teman yang diajak bareng ke mesjid pada bisa, ya udah bela-belain harus ke Istiqlal.

Saya jalan dari Depok sekitar jam 1 siang karena takut kereta bakalan ngetem di stasiun Manggarai atau stasiun Gambir. Ternyata, kereta berjalan mulus dan saya sampai ke Masjid Istiqlal 50 menit kemudian. Ini rekor sih, bisa mengendarai kereta dari stasiun Depok Lama ke stasiun Juanda hanya 50 menit. Seandainya selalu secepat ini perjalanan naik kereta, pasti warga Jabodetabek akan merasa sangat diuntungkan. Saya sempat mampir ke 7eleven di depan stasiun Juanda untuk membeli air mineral dan roti untuk jaga-jaga kalau nggak ada makanan berbuka yang dibagikan. Oh ya, karena mesjid sangat luas, jadi sebaiknya kalian bawa plastik untuk menaruh sendal. Kalau nggak bawa, bisa beli plastik juga karena banyak pedagang yang jual.

Ini kali kedua seumur hidup saya shalat di mesjid Istiqlal. Terakhir sewaktu SMP kali ya๐Ÿ˜•. Mesjid ini masih sangat luas. Saya sempat berjalan agak jauh untuk mencari saf khusus cewek. Mungkin bukan jauh, tapi nggak tau jalan pintasnya. Akhirnya malah naik ke lantai 2, jalan berkeliling, lalu turun ke saf cewek. Pemandangan setelah zuhur waktu itu adalah kebanyakan orang yang tiduran. Memang jam-jam kritis sih setelah zuhur apalagi sedang berpuasa.

Saya sempat tiduran juga sampai jam 3 siang. Setelah itu mencari tempat untuk berwudhu. Karena nggak ada petunjuk arah ke tempat wudhu, saya jadi harus bertanya pada ibu penjaga mukenah. Toilet dan tempat wudhu ada di lantai paling bawah mesjid. Setelah tau arah, saya dan teman-teman langsung menuruni tangga, melewati lorong berkelok-kelok, sampai akhirnya menemukan tempat wudhu dan toilet. Kesan saya pertama kali kesini adalah, semua interiornya sudah tua. Teringat dulu ketika masih SMP, keran-keran wudhu terlihat begitu baru, toilet super bersih, dan semua interior terlihat bersih dan berkilau. Apa karena sudah dimakan usia?

Setelah berwudhu, adzan berkumandang dan kami mulai merapatkan saf. Ada seorang ibu-ibu yang berteriak menggunakan toak untuk menyuruh para jemaah wanita maju ke depan dan merapatkan barisan. Ini yang saya suka, berhubung banyak sekali orang remeh dengan kondisi saf rapat dan lurus. Kadang mereka membawa sajadah besar dan satu sajadah untuk satu orang, sehingga jadi banyak celah antar orang-orang. Berhubung nggak ada yang bawa sajadah, diteriakin ibu-ibu juga, jadilah saf rapat dan lurus.

Setelah shalat Ashar berjamaah, saya dan teman-teman duduk bersandar di pilar-pilar mesjid untuk mengaji sejenak. Kalau sudah lelah mengaji, biasanya saya hanya duduk termenung melihat banyak turis yang lalu-lalang untuk berkeliling. Pukul setengah lima sore, pengumuman pembagian makanan berbuka puasa terdengar. Yang mau ikutan berbuka puasa bersama harus duduk berbaris rapi di pelataran mesjid. Saya dan teman-teman membentuk barisan dan melihat sekeliling. Ternyata rame juga yang ikutan. Tua, muda, miskin, kaya, berbaur semua jadi satu. Banyak banget juga wartawan yang mengambil gambar. 
Duduk berbaris
Makanan berupa nasi kotak pun dibagikan. Porsi makanannya banyak banget dan saya sudah yakin nggak akan bisa menghabiskan makanan sebanyak ini ketika pas berbuka puasa karena pasti bakalan telat shalat magrib. Setelah makanan dibagikan, masih ada waktu 45 menit lagi sampai adzan magrib. Jadi bingung juga mau ngapain. Palingan melihat orang-orang yang sibuk mengobrol satu sama lain. Ada juga teman-teman saya yang sibuk posting IG Story๐Ÿ˜†. Adzan pun akhirnya berkumandang. Alhamdulillah, bisa buka puasa di mesjid ini. Saya hanya makan beberapa buah kurma, minum air, lalu berwudhu dan shalat magrib berjamaah. 
Makanan untuk berbuka puasa dibagikan
Orang-orang semakin ramai
Setelah shalat magrib, saya keluar dari barisan, dan duduk bersandar di pilar-pilar luar mesjid. Sekalian melanjutkan makan malam yang tertunda. Rasanya senang banget bisa buka puasa di mesjid ini setelah bertahun-tahun dan akhirnya kesampaian juga. Waktu selang antara shalat magrib dan shalat isya memang sangat singkat, sehingga setelah makan, kami harus langsung berwudhu dan kembali ke barisan shalat karena adzan Isya sudah berkumandang. Seperti shalat-shalat sebelumnya, terdengar suara ibu-ibu berteriak menggunakan toak menyuruh merapatkan barisan shalat.

Shalat Isya berlangsung khusyu', dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh imam terdengar sangat indah. Imam yang memimpin shalat di mesjid Istiqlal adalah bapak Prof. Dr. Nasaruddin Umar M.A selaku imam besar Masjid Istiqlal ke-5 dan juga wakil mentri Agama R.I. Jemaah masjid juga hampir penuh 100%. Alhamdulillah, masih banyak orang yang mau shalat tarawih berjamaah.
Shalat tarawih
Yang agak menjadi masalah buat saya adalah saya kegerahan banget ketika shalat tarawih. Apalagi setelah makan, metabolisme tubuh membuat keringat bercucuran. Mana pakai mukenah parasut yang membuat panas tubuh jadi meningkat. Rasanya dari ujung rambut sampai ujung kaki keringatan semua. Kipas angin ada sih, tapi jaraknya jauh-jauh banget dari pilar ke pilar dan nggak terasa sama sekali. Seandainya kubah mesjid bisa berpindah dan terbuka seperti di Masjid Nabawi, mungkin para jamaah akan merasakan angin dingin dari luar yang masuk ke dalam mesjid sehingga membuat shalat lebih nyaman. Atau seandainya dipasang AC central seperti di Masjid Raya Baiturrahman atau Masjid Sultan Oemar di Brunei Darussalam yang dinginnya minta ampunnn, pasti jemaah akan terasa lebih nyaman dalam beribadah. 

Setelah shalat, saya dan teman-teman nongkrong dulu di 7eleven stasiun Juanda untuk mendinginkan badan dan minum es teh manis. Rasanya dehidrasi tadi saking kepanasannya. Walaupun demikian, saya senang banget bisa berbuka puasa dan shalat tarawih di Istiqlal. Semoga nanti bisa berbuka puasa lagi di mesjid ini dan ketika saat itu tiba, mesjid sudah dilengkapi dengan AC. Aminnnn.

Categories

adventure (289) Living (244) Restaurant (148) Cafe (140) Hang Out (133) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (83) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (53) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) Bali (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) CEO (7) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Aceh Barat (3) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) Aceh Jaya (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Banda Aceh (1) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nagan Raya (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)