Januari 26, 2015

From Penang to Jakarta

Dokter di Rumah Sakit Lam Wah Ee bilang kalau Ayah saya boleh pulang. Kondisi beliau memang masih sangat lemah, tapi mau nggak mau harus pulang ke Indonesia. Awalnya sih mau dibawa pulang ke Aceh. Tapi rapat keluarga memutuskan agar Ayah saya langsung di bawa ke Jakarta. Selanjutnya akan berobat di Jakarta. Saya booking tiket Airasia dari Penang ke Jakarta jam 20:30, sehingga bisa agak nyantai beres-beresnya.

Oh ya, saya sempat mau menuliskan alamat rumah yang saya sewa di sekitar Rumah Sakit. Saya foto saja sekalian kartu nama pemilik rumah. Memang sih rumahnya sederhana, tapi semua peralatan rumah komplit. Harga sewa perkamar juga murah sekitar 50 MYR dan kalian bisa menginap berempat satu kamar. Jadi bisa berhemat 'kan? Lumayan lah buat bayar biaya Rumah Sakit.
Klik aja untuk memperbesar gambar
Saya dan Mama membereskan urusan administrasi rumah sakit terlebih dahulu. Kami harus bayar sekitar 4000 MYR atau 15 jutaan rupiah untuk biaya kamar, dokter, obat, dan ruang operasi. Masih terjangkau sih harganya, mengingat pelayanannya bagus dan nggak usah antri pengobatannya. Setelah administrasi beres, kami pulang ke rumah sewa untuk mengambil koper. Kami meminta si Achong (pemilik rumah) memesankan mobil untuk mengantar kami ke bandara. Jam 3 sore, mobil jemputan pun datang. Sayangnya karena bentuknya mini bus, Ayah saya nggak bisa naik. Udah usaha semaksimal mungkin pun tetap nggak bisa naik. Akhirnya kami membayar 5 MYR untuk sopir taksi karena nggak jadi memakai jasanya.

Kami memutuskan pakai taksi sedan. Pengennya sih naik taksi seperti kemarin karena mobilnya keren dan agak tinggi joknya. Sayangnya yang ada di depan rumah sakit hanya taksi kecil dan sempit. Untung aja Ayah bisa masuk ke dalam taksi walaupun sangat susah payah. Karena mobil sedan terlalu rendah, jadi setiap ada gundukan atau polisi tidur sangat terasa untuk Ayah, berhubung emang yang sakit tulang belakang. Perjuangan banget bawa Ayah ke bandara.

Sesampai di bandara, saya bertanya di konter informasi dimana bisa mendapatkan kursi roda. Awalnya mereka suruh saya langsung cek in Airasia. Tapi karena masih sore dan konter cek in belum buka, jadinya saya mohon pihak bandara untuk menyediakan kursi roda. Teringat Ayah pasti udah kesakitan banget. Untung aja, petugasnya baik hati. Saya hanya disuruh menitipkan KTP, lalu boleh mengambil kursi roda. Turun dari taksi dan duduk di kursi roda pun, Ayah saya kesakitan. Untung Om saya pinter banget menuntun Ayah secara perlahan-lahan untuk pindah ke kursi roda dengan bertumpu ke tongkat. Kasian banget melihat beliau merintih. Akhirnya Mama memberikan obat pereda sakit, baru Ayah bisa duduk dengan tenang.

Kami menyempatkan diri untuk nongkrong sejenak di Kopitiam agar Ayah bisa makan sedikit. Karena kalau minum obat 'kan nggak boleh kosong perutnya. Setelah makan, saya cek in di konter Air Asia. Sebenarnya saya udah cek in via web. Tapi sewaktu mau print boarding pass di mesin Self Check In, nggak bisa. Karena dalam satu kode booking, ada satu orang yang memerlukan kursi roda. Petugas Air Asia awalnya juga bertanya mana boarding pass? Trus saya bilang ada yang butuh kursi roda, jadi langsung disuruh cek in ke konter. Saya hanya tinggal menunjukkan kode booking ke petugas konter, memberikan passpor, lalu menaikkan bagasi ke timbangan. Saya bilang ke petugas kalau Ayah saya baru beres operasi, jadi sama sekali nggak bisa turun tangga.

Setelah cek in dan petugas Air Asia memberikan kursi roda, saya mengembalikan kursi roda milik bandara dan mengambil kembali KTP. Selanjutnya saya mendorong kursi roda Ayah masuk ke ruang immigrasi. Karena membawa orang sakit, kami nggak dipersulit. Seharusnya kita harus meletakkan 2 jari untuk finger print, tapi Ayah saya nggak. Hanya saya doang yang meletakkan jari. Ayah hanya diliat wajahnya saja untuk menyamakan dengan passpor. Setelah beres immigrasi, lalu pengecekan barang yang akan masuk kabin. Saya bawa botol minum berisi air 1,5 Liter. Saya bilang saja, "Untuk minum obat." Petugas melihat Ayah saya di kursi roda, lalu mempersilakan saya membawa air minum. Ayah hanya duduk di kursi roda, di dorong oleh petugas memasuki pintu detector. Setelah beres, kami masuk ruang tunggu.

Kejadian paling dramatis lainnya adalah ketika Ayah harus naik pesawat. Kursi roda hanya bisa di dorong sampai pintu pesawat, sedangkan Ayah saya harus berjalan untuk masuk ke kursi nomor 2B (setiap penumpang yang membutuhkan kursi roda, bisa duduk di premium seat). Lorong kursi yang agak sempit membuat Ayah sangat kesakitan, apalagi harus berjalan. Saya sudah khawatir banget. Ayah sampai menyandarkan kepalanya ke kursi depan saking sakitnya. Pesawat dari Penang ke Jakarta memakan waktu 2 jam 15 menit. Selama terbang, turbulensi pesawat pun lumayan banyak. Saya jadi sangat takut tulang Ayah sakit lagi. Jadi beberapa kali turbulensi, saya jalan ke depan untuk mengecek Ayah dan Om saya. Alhamdulillah nggak apa-apa.

Sampai di Jakarta, kami menunggu semua penumpang turun. Karena kesakitan, Ayah nggak bisa berpindah dari kursi 2B ke 2C. Saya dan Mama disuruh turun petugas karena biarkanlah Ayah ditangani oleh mereka. Udah sampai di landasan pesawat pun, saya dan Mama sangat khawatir. Awalnya petugas menaikkan kursi roda yang besar, lalu turun lagi mengganti kursi roda yang kecil. Beberapa petugas pun jadi naik keatas karena memang Ayah saya lama banget nggak turun-turun. Salut banget sama petugas Air Asia yang siaga banget dan punya persiapan matang untuk penumpang pasca operasi. Akhirnya Ayah saya diatas kursi roda diangkat 3 atau 4 orang petugas menuruni tangga pesawat. Petugas lalu menaikkan Ayah ke bus, lalu bus jalan sampai pintu kedatangan. Urusan passpor, sudah ditangani oleh petugas Airasia. Bahkan petugas mengantarkan sampai ke taksi Bluebird. Proses dari kursi roda ke taksi pun memakan waktu sekitar 15 menit, sambil diliatin banyak orang. Sopir taksi pun jadi nggak tega liat Ayah.

Saya turun di Central Park untuk pulang ke kosan, lalu dilanjutkan oleh abang saya yang membawa Ayah, Mama, dan Om ke kosannya di Kemanggisan. Malam ini terasa sangat panjang. Saya sedih, lelah, khawatir, semua jadi satu. Ya Allah, semoga Ayah cepat sembuh :'(

Januari 22, 2015

Around Penang

Di Penang, saya menginap di penginapan yang dekat dengan rumah sakit bernama Rumah Teras. Kata Mama memang orang Aceh banyak yang tinggal di rumah ini karena murah dan fasilitasnya lengkap. Kalian bisa menyewa kamar 50 MYR permalam tapi fasilitas yang kalian dapatkan seperti menyewa sebuah rumah dengan perabotannya. Kita bisa masak, mencuci pakaian di mesin cuci, pinjam kursi roda, ada rice cooker, panci, dan wajan yang bisa kita pakai. Mungkin karena orang berobat ke Penang biasanya memang lama. Jadi lebih baik tinggal di rumah sewa daripada hotel.

Hari ini kondisi Ayah saya sudah jauh lebih baik, walaupun belum bisa duduk dan berjalan. Sewaktu Ayah tidur siang setelah minum obat, saya, Mama, dan Om berencana untuk berkeliling Penang. Bahasa Melayunya "pusing-pusing" melihat kota. Berhubung saya baru pertama kali kesini. Kami turun dari rumah sakit dan mencoba menawar taksi. Ada supir taksi bilang kalau dia mau jalan-jalan 3 jam dengan harga 100 MYR. Wah, nggak mungkin meninggalkan Ayah selama itu. Akhirnya kami berjalan keluar pagar rumah sakit, siapa tau bisa dapat rental mobil, bukan taksi.

Tiba-tiba ada bunyi klakson mobil dibelakang saya. Saya menoleh lalu baru sadar ada taksi yang mengikuti kami. Mobilnya bagus, nggak seperti taksi sempit dan kecil yang biasa banyak terdapat di depan rumah sakit. Dia bilang mau mengantarkan kami jalan-jalan selama 2 jam dengan harga 70 MYR. Sebenarnya sama aja sih mahalnya, cuma mobilnya bagus. Mengingat cuaca di Penang super panas, mendingan pakai mobil yang ACnya bagus.
Jembatan Penang
Tugu Jembatan
Perjalanan pun dimulai. Tujuan pertama saya adalah Jembatan Penang yang merupakan salah satu jembatan terpanjang di dunia. Dengan panjang lebih dari 13,5 KM, jembatan ini adalah sebuah jalan bebas hambatan yang menghubungkan Seberang Prai di daratan Malaysia dan Bayan Lepas di pulau Penang. Jembatan yang resmi dibuka pada tahun 1985 ini telah menjadi salah satu ikon Malaysia, khususnya Penang, karena desainnya yang khas. Selain itu, Penang Bridge juga sangat berkontribusi dalam perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya. Kalian wajib membayar 7 MYR untuk menaiki jembatan. Awalnya saya ingin naik jembatan pas pergi, dan pulang naik Ferry. Ternyata hari itu nggak ada kapal Ferry yang jalan. Ya udah deh.
Pemandangan di sekitar jembatan dari dalam taksi
Pintu Tol 
Banyak Gunung
Selanjutnya saya menyempatkan diri mampir di Universitas Sains Malaysia (USM). Sebenarnya nggak ada yang terlalu spesial sama universitas ini. Sama aja seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, atau Universitas Indonesia (UI) di Depok. Hanya saja, banyak banget teman saya di Aceh kuliah ke kampus ini. Dulu saya merasa seolah-olah mereka keren banget bisa kuliah ke luar negri. Tapi saya malah merasa lebih bersyukur bisa kuliah di Bandung, hahahaha.
Universiti Sains Malaysia
Selanjutnya untuk beli oleh-oleh khas Penang, saya dan keluarga mampir ke Chocolate & Coffee Museum. Kata sopir taksi, memang hampir setiap turis mampir kesini. Well, berhubung saya memang penggemar coklat, Museum ini adalah tujuan wajib bagi saya. Ketika di pintu masuk, petugas museum akan menempelkan stiker pada saya lalu kami dibawa untuk berkeliling ruangan kecil yang disebut Museum. 
Chocolate & Coffee Museum
Pintu Masuk Museum
Jalan menuju museum sangat unik. Banyak buah-buahan bergantungan di atap yang membuat bagian ini adalah tempat wajib untuk berfoto. Di dalam ruang Museum, bisa kita lihat asal mula coklat hitam (dark chocolate) dan coklat putih (white chocolate), cara pembuatannya dari awal masih buah coklat sampai jadi coklat batangan. Kami dipandu oleh seorang gadis India. Awalnya dia bertanya apakah penjelasannya lebih enak menggunakan bahasa Inggris atau Melayu. Saya jawab Inggris. Tapi ternyata Mama dan Om saya agak susah mengikuti omongannya karena terlalu cepat. Jadinya penjelasannya berubah menjadi bahasa Melayu, hihihi.
Atap buah-buahan
Kalian bisa melihat negara penghasil dan pengkonsumi coklat tertinggi di dunia sekaligus menjelaskan penjelasan petugas. Untuk proses pembuatan coklat bisa dilihat dari gambar-gambar yang tertempel di dinding. Sudah cukup jelas gambarnya.
Negara Pemakan Coklat Terbanyak
Coklat Hitan dan Putih
Cara Pembuatan Coklat
Selain coklat, di Museum ini juga dijelaskan cara pembuatan kopi. Berhubung negara kita adalah salah satu penghasil kopi terbaik, jadi kebanyakan penjelasan dari petugas tidak terlalu saya dengarkan. Palingan yang menarik adalah sejarah kopi di Malaysia. Pasti berbeda dengan Indonesia. Setelah puas di Museum, saya dan keluarga di bawa ke toko coklat dan kopi. Siap-siap uang banyak disini karena memang semua coklat sangat menggiurkan. Harganya menurut saya memang mahal, tapi kualitas coklat disini memang sangat baik. Apalagi pelayan toko selalu menyuruh kami mencicipi coklat ini dan itu, sehingga membuat saya nggak kuat untuk nggak beli. Hahahaha. Saya menghabiskan uang hampir Rp. 700,000 disini. OMG!
Cara Pembuatan Kopi
Sejarah Kopi di Malaysia
Tujuan selanjutnya adalah melihat Komplek Tun Abdul Razzak (KOMTAR). Bangunan ini termasuk 6 gedung tertinggi di Malaysia yang berlokasi di jantung George Town. Sama seperti KLCC, didalam KOMTAR terdapat Mall, kantor, dan pusat transportasi. Kalau kalian mau beli oleh-oleh seperti gantungan kunci atau magnet kulkas ya di sekitar KOMTAR. Banyak banget souvenir dijual dengan harga murah disekitar situ. Bahkan bisa ditawar lagi.
KOMTAR
KOMTAR dilihat dari jauh
Toko Souvenir
Magnet Kulkas
Gantungan Kunci dan aneka souvenir lainnya
Setelah 2 jam, akhirnya kami pulang ke Rumah Sakit Lam Wah Ee dengan membawa banyak tentengan belanjaan. Hehehe.

Januari 19, 2015

Hospital Lam Wah Ee

Hari Selasa minggu lalu, saya berangkat ke Penang. Perjalanan ini sama sekali nggak direncanakan dan begitu mendadak. Awalnya orang tua dan om saya berangkat dari Penang dari Medan untuk berobat. Memang Papa saya udah sakit sejak sebelum dibawa ke Penang, jadi sekalian mau periksa lebih mendalam lagi.

Ternyata sampai disana, Papa harus di opname. Mama menelepon saya menyuruh segera datang kesana untuk menemani beliau. Alhamdulillah punya manajer baik hati, saya diijinkan pergi menjenguk Papa di Penang. Sebenarnya saya nggak tega membiarkan orang tua saya di Penang tanpa anak-anaknya. Hanya saja kemarin saya kira Papa nggak sampai harus di opname.

Hari senin sore saya booking tiket Air Asia untuk selasa pagi seharga 1 jutaan udah termasuk bagasi dan biaya kartu kredit. Pukul 6:20 saya sudah berangkat ke Penang. Paling males pesawat pagi karena saya harus bangun sangat pagi dan malas mandi. Takut nggak enak badan kalau harus mandi jam 2 dini hari. Di pesawat juga saya terus berdoa. Masih teringat kejadian Air Asia yang jatuh di selat Karimata. Mana kemarin itu turbulensi pesawat terlalu terasa. Duh, saya gemetaran di pesawat. Oh ya, hampir semua penumpang pesawat adalah orang yang mau berobat ke Penang. Mulai naik antri imigrasi, menunggu bus, di dalam pesawat, semua orang membahas penyakit dan rumah sakit di Penang. Banyak banget dari mereka yang menyebutkan Rumah Sakit Lam Wah Ee.

Sesampai di Penang International Airport, saya melihat ada konter penjualan kartu telepon DiGi. Awalnya saya udah bersemangat mau beli, eh baru sadar kalau nggak punya uang Malaysia Ringgit sama sekali. Ah, jadinya harus keluar dulu dari bandara dan mencari Money Changer. Sialnya lagi, saya menukar uang di bandara dengan kurs 1 MYR = Rp. 4000. Mahal banget 'kan? Untung cuma menukar Rp. 600,000.

Keluar bandara, saya mutar-mutar sendiri sambil menyeret koper. Agak bingung mau naik taksi yang mana. Saya sama sekali nggak ada persiapan kesini, bahkan nggak browsing sedikit pun tentang Pulau Penang ini. Sewaktu menelepon Mama, katanya banyak orang yang menawarkan angkutan ke rumah sakit. Anehnya saya nggak ketemu satu pun. Akhirnya saya bertanya pada seseorang yang kebetulan adalah sopir mobil Kijang Krista. Saya menawar ke Lam Wah Ee Hospital seharga MYR 33. Lumayan juga sih.

Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan Pulau Penang. Jalanan agak sepi dan nggak sembraut. Kata Pak Sopir, banyak 'Kilang' di Pulau ini. Saya takjub, "So this is mining area?" (Jadi ini area tambang). Pak Sopir bilang, "Bukan, kilang itu industry." Oh saya baru tau, hahaha. Kebanyakan pendatang yang tinggal di Pulau Penang, bukan orang asli Malaysia.
Hospital Lam Wah Ee
Sesampai di rumah sakit, saya mencoba menelepon Mama dengan masih menggunakan kartu Simpati. Sayangnya, dari Rp. 30rban pulsa saya ternyata sudah habis terkena roaming. Saya meminjam handphone sopir taksi untuk menelepon Mama. Hanya untuk mengabarkan kalau saya udah di depan rumah sakit dan minta dijemput. Untung sopir taksi baik hati dan meminjamkan handphonenya. Beberapa saat kemudian Om saya datang menjemput ke pintu depan.
Tepat di depan lobi Rumah Sakit
Saya disarankan untuk menitipkan koper. Petugasnya bertanya, "Kamu pesakit?" Saya heran, "Pesakit?" Emangnya Pesakitan?? Hahaha. "Are you patient?" (kamu pasiennya) tanyanya lagi. "No, my Dad is the patient." (Bukan, Ayah saya pasiennya). Beliau lalu mencatat nomor passpor dan memasukkan koper saya ke sebuah ruangan seperti gudang.

Saya dan Om berjalan menuju kamar Ayah saya. Alhamdulillah Ayah saya baik-baik saja. Mama pun senang banget karena saya datang. Memang kalau mengurus ini itu lebih baik anak muda seperti kita daripada membiarkan orang tua melakukannya sendiri. Mana Papa sakit, Mama sedih karena Papa di opname, dan Om saya nggak begitu mengerti internet dan bahasa Inggris. Saya lalu menemani Papa di rumah sakit, sementara Mama dan Om pulang ke penginapan untuk masak. Karena kami lama di Penang, dan kebetulan Pasar Petang dekat dengan penginapan, jadi Om saya belanja ke pasar dan Mama masak. Jadinya irit banget disana. 
Halaman Rumah Sakit
Selagi Papa tidur, saya berjalan-jalan sekitar rumah sakit. Hampir semua dokter disini orang Tionghoa. Untuk perawat, berasal dari berbagai etnis seperti Melayu, India, dan Tionghoa juga. Bahasa pengantar disini bahasa Inggris, tapi saya sering mendengar beberapa perawat bisa berbicara bahasa Melayu, Inggris, Tionghoa, dan India. Mantep banget 'kan? Sebaiknya kalian menggunakan bahasa Inggris disini daripada salah pengertian menggunakan bahasa Melayu. Beberapa perkataan dokter lebih baik diucapkan dengan menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Melayu karena artinya beda jauhhhh!! Pengalaman pribadi soalnya. Saya agak stress melihat orang sakit yang dirawat di rumah sakit ini. Ada yang patah tulang, ada yang disedot cairan lambung melalui hidung, dan lainnya. OMG!
Patung di lobi Rumah Sakit
Mungkin rumah sakit ini adalah favorit untuk orang Aceh dan Medan. Selain karena tiket pesawat dari Medan ke Penang murah banget, saya beli untuk orang tua saya hanya Rp. 120,000 perorang. Dokter disini pun sangat meyakinkan dan nggak usah antri. Saya tidak mengatakan rumah sakit di Indonesia jelek, tapi karena masyarakat Indonesia membludak yang berobat, jadinya harus ngantri. Kalau disini, kapasitas rumah sakitnya pun besar sehingga hampir semua pasien tertampung. Lagian, sepertinya orang Malaysia sendiri berobat ke rumah sakit Kerajaan, jadi yang ke Lam Wah Ee hampir semuanya pendatang.

Nanti saya lanjutkan ceritanya :)

Januari 09, 2015

Liburan ke Subang

Liburan Natal kemarin, saya menghabiskan long weekend di kota Subang, Jawa Barat. Ini bukan pertama kali saya ke kota ini. Dulu sih cuma singgah doang, tapi kalau sekarang saya menginap di rumah teman. Sebenarnya saya kurang fit sewaktu pergi ke Subang. Suara serak, batuk, dan badan masih meriang. Daripada sendirian di kosan karena semua pada liburan, mendingan saya ikut teman saya Nida pulang kampung.

Perjalanan dari Jakarta ke Subang kemarin 6,5 jam! Saya baru kali ini naik bus di Kampung Rambutan. Udah lama nggak merasakan banyak yang berjualan makanan di dalam bus karena biasanya naik bus dari Travel Agent. Sepanjang jalan macet banget deh. Tol Cipularang macet, masuk ke Sadang macet, sampai lutut udah cenat-cenut. Selama di bus cuma jajan, mumpung banyak yang menjajakan makanan. Jajanan favorit saya adalah tahu Sumedang, telur puyuh, kerupuk Cireng, dan lainnya. Alhamdulillah sampai juga di rumah Nida disambut dengan makanan enak buatan ibunya. Asik!
Daun Karuk
Ngapain aja di Subang? Saya hanya makan, bobo, makan lagi, bobo lagi. Hahaha. Sempat jalan-jalan di kota Subang juga sih. Cuma main ke Griya dan Yogya untuk beli baju seharga Rp. 70,000 dan bagus lho. Oh ya, mungkin karena udara bersih dan makanan sehat, saya jadi cepat sembuh. Ditambah dengan ibunya Nida menyarankan saya untuk minum rebusan Daun Karuk (daun sirih tanah) yang baik untuk asma, batuk, dan alergi. Mungkin saya memang nggak suka minuman herbal, tapi nggak ada salahnya dicoba. Saya minum rebusan daun Karuk 3 kali sehari terus menerus dan alhamdulillah besoknya suara saya nggak serak lagi dan nggak batuk lagi. Oh ya, seharusnya karena udara dingin dan lembab setelah hujan, saya pasti bersin-bersin. Ini nggak bersin sama sekali. Bahkan sampai sekarang saya jadi nggak pernah minum obat anti alergi seperti Cetirizine, Interhistin, dan Loratadine. Cuma minum rebusan daun itu aja setiap hari.

Selama di Subang, saya juga makan Tahu Lembang, tahu kesukaan saya. Saya bisa ngemil makan tahu itu sendirian sepiring. Enak banget soalnya. Trus saya juga makan Tahu Subang, bukan tahu Sumedang lho ya. Memang rasanya lebih enak Tahu Sumedang, tapi Tahu Subang juga mantap. Apalagi sambal cocolan tahu rasanya mantap pedasnya. Saya ngemil tahu sambil nonton acara 10 Tahun Tsunami. Ah, nggak terasa, Allah masih memberikan kesempatan hidup sampai 10 tahun ke depan. Masih menitikkan air mata ketika menonton cuplikan Tsunami 10 tahun yang lalu. Malamnya sebelum tidur, saya dan Nida makan Mangga Mana Lagi. Sempat ambil buah Markisah juga dari pohon dan langsung dimakan. Senang banget deh!
Tahu Lembang
Tahu Subang dan sambal cocolan
Karena suasananya masih kampung banget, setelah hujan gede, saya masih bisa menikmati suara kodok main orkestra, suara kumbang, masih ada kupu-kupu juga disana. Yang paling seram adalah TOKEK! Saya tidur dengan suara Tokek super keras, seperti pakai Mic. Haduuwwwh serem banget deh! Takut jatuh Tokeknya ke muka. OMG! Untung nggak jatuh, hahahaha.

Saya juga sempat jalan-jalan ke Bandung sehari untuk nongkrong di Ciwalk, sekalian nonton bioskop. Waktu itu hujan deras, walaupun saya pakai jas hujan sih. Eh pas pulang balik ke Subang, saya muntah di mobil. Hal yang udah nggak pernah saya alami selama belasan tahun yaitu mabuk kendaraan. Mungkin karena kena hujan dan kondisi emang belum fit banget. 

Baiklah, segitu aja ya ceritanya. Memang cuma segitu doang kegiatan di Subang. Hahaha.

Januari 06, 2015

Hantu Naik Taksi

Kali ini saya akan bercerita tentang kejadian yang saya alami sewaktu pulang dari kantor. Udah lama mau cerita ini tapi karena masih harus memposting banyak hal tentang petualangan saya, jadi deh harus ditunda dulu. Seperti biasa, cerita saya ini sudah dibumbui sedemikian rupa supaya enak dibaca.

***

Waktu itu selesai shalat magrib dan Jakarta baru selesai diguyur hujan deras. Saya mencegat taksi di daerah Slipi untuk pulang ke Setiabudi. Setelah menunggu sekitar satu jam, baru ada taksi yang mau saya tumpangi. Perjalanan pulang pun dimulai. Seolah-olah saya akan bercerita hal yang besar, padahal hanya obrolan biasa antara sopir taksi yang menyebalkan dan penumpang yang sudah pusing tujuh keliling karena kerjaan di kantor nggak kelar-kelar. Memang saat itu macet total dan kami stuck dijalan.

Sopir taksi bilang, "Ah mbak, coba kalau tadi kita lewat Semanggi. Kan nggak akan berhenti kayak gini macetnya." Aku tidak menanggapi. "Ini nih yang paling saya males kalau udah macet. Bensin abis, waktu terbuang, mana lapar." Aku tetap tidak menanggapi. Emangnya dia doang yang lapar dan kehabisan waktu? Dan sopir taksi terus mengeluh sepanjang jalan, ditambah dengan musik dangdut yang dia putar membuat saya jadi tambah pusing.

Aku mendapatkan sebuah ide. Dengan suara lirih, aku minta untuk belok kiri ke arah Bendungan Hilir, lalu belok jalan kecil dan sepi, lalu berhenti di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak. Aku suruh belok kesana dan parkir. Bapak sopir taksi pun bingung, tapi dia tidak terlalu peduli. Selagi dia mengangguk-anggukkan kepala sambil mendengar musik super kenceng, aku menaruh ongkos taksi di jok belakang, lalu turun dengan diam-diam, dan sembunyi di belakang pohon besar di balik salah satu batu nisan.

Aku menunggu reaksi bapak sopir taksi sambil memperhatikannya dari balik pohon yang sepi. Beliau lalu berkata sesuatu tapi nggak kedengaran, lalu menoleh ke belakang dan kaget setengah mati karena aku sudah hilang. Beliau turun dan melihat sekeliling. Aku lalu muncul sedikit dari balik pohon dan tersenyum kecil (persis seperti di film hantu). Sopir langsung terbelalak dan menutup muka dengan kedua tangannya, lalu ia jongkok. Selagi dia tidak melihatku, aku pindah pohon. Aku berjalan perlahan-lahan ke pohon yang lebih banyak batu nisannya, lalu memanggil pak sopir lirih, "Pak Sopir... sini dong..." Jujur aja aku sedang menahan tawa.

Pak Sopir langsung ketakutan lagi sambil bilang, "Ampun mbak... ampun!" Ia kemudian menutup mata lagi. Aku melepas sepatu karena kebetulan memakai kaos kaki hitam, lalu menggerai kerudung panjang ke bawah. Aku juga menaruh ransel di bawah pohon, kemudian naik ke pinggiran kuburan. Supaya terkesan aku nggak menapak bumi. Untung juga aku pakai rok panjang jadi beneran terlihat seperti hantu. Aku berkata dengan sangat lirih dan agak mendesah, "Lain kali jangan mengeluh lagi ya di taksi..." Sopir taksi jawab, "Iya mbak kunti.. iya...!" Ia berlari ke dalam mobil, memundurkannya dan keluar dari TPU. Lagian, mana ada kunti pakai rok bunga-bunga.

Aku kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memakai sepatu dan mengambil tas. Tiba-tiba ada suara di belakangku, dan aku sempat kaget. "Dasar anak nakal," kata seorang kakek penjaga kuburan dengan tersenyum. Aku pun tersenyum, "Salah dia sendiri, Kek. Sepanjang jalan ngomel melulu karena jalanan macet." Kakek itu tanya, "Kamu nggak takut malam-malam ke kuburan?" Aku jawab, "Nggak Kek. Mereka yang sudah mati nggak mungkin bisa hidup lagi. Lagian saya masih shalat 5 waktu jadi nyantai aja." Kakek tersebut tersenyum seraya manggut-manggut dan aku berpamitan. Aku pulang ke kosan dengan mencegat taksi yang lain.

Beberapa minggu setelah itu, teman kosan bercerita padaku kalau sopir taksi yang dia kendarai menaikkan hantu. "Sopir bilang, 'tu hantu minta diturunin di Karet Bivak. Serem banget 'kan??" Aku pura-pura ketakutan, "Ya ampun sereeeemmmm." Padahal dalam hati masih tertawa ngakak.

Januari 02, 2015

Happy New Year 2015

Alhamdulillah masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan tahun 2015. Malam tahun baru hanya saya lewatkan dengan menonton ulang film Lord of The Ring sampai tengah malam tiba. Agak malas keluar dari kosan untuk menghabiskan tahun baru karena ntah kenapa saya merasa suasana masih agak berkabung karena Air Asia kecelakaan. 

Tahun 2014 yang lalu sangat berkesan bagi saya. Sepertinya dalam tahun kemarin banyak sekali yang terjadi, mulai dari kehidupan saya sendiri secara pribadi, keluarga, teman-teman, bahkan Indonesia. Baiklah, saya mau menceritakan beberapa hal perbulannya.

Januari 2014
Perasaan waktu itu terlalu berkecamuk karena galau tingkat dewa. Ya mungkin kalian juga pernah merasakan diputusin pacar 'kan? Saya nggak mau terlalu membahas karena dulu tuh sakit hati banget, tapi sekarang udah biasa aja tuh, hehehe. Time heals... Masih ingat bulan Januari juga saya berangkat ke Singapore membawa adik saya jalan-jalan ke luar negri untuk pertama kalinya. Visa Jepang saya juga udah di approved dan anak kos berantem hebat dengan satu orang. Wuih, ternyata peristiwa itu udah satu tahun yang lalu. Masih tertawa sendiri memikirkannya.

Februari 2014
Hal yang paling saya ingat adalah Visa Korea saya ditolak. Huaaa, langsung mau nangis pas tau Visa ditolak. Mana udah booking hotel dan penerbangan ke Pulau Jeju. Ternyata memang dibalik kesusahan ada kemudahan. Alhamdulillah dari hasil browsing saya seharian karena Visa Korea ditolak, saya jadi tau kalau masuk Korea bisa hanya dengan Visa Jepang. Bahkan saya bisa menginformasi banyak orang untuk masuk Korea cukup hanya dengan Visa Jepang.

Maret 2014
Bulan ini adalah bulan terindah buat saya karena saya bisa mewujudkan cita-cita masa kuliah dulu, yaitu mengunjungi Jepang dan dapat bonus bisa mengunjungi Korea juga. Alhamdulillah banget! Bisa merasakan suhu dibawah 0, bisa melihat bunga Sakura, bisa makan takoyaki langsung di daerah asalnya, bisa belanja makeup Korea langsung ke tokonya, dan bisa ke Pulau Jeju. Ah, dulu nggak berani pun bermimpi akan ke Jeju karena merasa hal itu mustahil. Nothing is impossible in this world.

April 2014
Bulan ulang tahun saya. Pertama kalinya dapat surprise di Resto ada lagu Selamat Ulang Tahun kenceeeng banget suaranya. Sampai saya jadi kaget. Tapi saya senang. Dulu saya merasa wanita berusia 27 tahun itu udah tua. Tapi ntah kenapa, saya justru merasa lebih sehat, lebih segar, lebih cantik, lebih pintar, lebih open minded, lebih menghargai kehidupan, dan lainnya. Usia memang terus bertambah, tapi sebaiknya kita harus berpikir apa yang sudah kita capai di usia tersebut.

Mei 2014
Keponakan saya yang kedua lahir. Alhamdulillah ada cowok cakep datang ke keluarga besar kami. Oh ya, orang tua saya main ke Jakarta dan menginap di kos-kosan dekat dengan saya. Saya bisa mampir ke orang tua setiap pulang dan sebelum berangkat kantor.

Juni 2014
Memasuki Ramadhan tahun ini dengan memperdalam ilmu agama. Saya jadi suka membaca sejarah islam, kejayaan islam pada suatu negara, suatu masa, sampai penyebab runtuhnya islam. Ramadhan tahun ini juga adik saya Yuni datang ke Jakarta. Jadi ada teman untuk masak sahur bareng dan pergi shalat taraweh.

Juli 2014
Berusaha semaksimal mungkin untuk nggak golput. Baru sadar kalau bulan Juli tahun ini seolah Indonesia jadi terpecah dua. Banyak banget teman-teman yang memposting link di facebook yang nggak jelas sumbernya dan membuat banyak pihak jadi su'udzan. Jadi ada Quickcount-lah, Realcount-lah, dan ntah apa lagi. Walaupun alhamdulillah pilihan saya Pak Jokowi menang. Bulan ini juga Gaza diserang, dan Pak Quraish Shihab, ulama favorit saya, jadi sorotan media. Duh, bulan penuh dengan kepusingan. Alhamdulillah saya masih bisa pulang ke Aceh dalam waktu yang lama untuk Lebaran.

Agustus 2014
Tas kesayangan saya yang sudah menemani saya ke 5 negara, disayat orang tak dikenal di kereta. Waktu itu mau mengunjungi orang tua yang datang ke wisuda adik saya, Achmad. Sedih banget deh. Mana nggak bisa diperbaiki karena sayatannya dalam banget T_T

September 2014
Kemping ke Umbul Sidomukti dan mendapat tiket murah Malaysia Airlines ke Manila hanya Rp. 170,000 pulang pergi. Alhamdulillah. Seharusnya kami berangkat ke Boracay Island sebanyak 12 orang, tapi ternyata di cancel karena telat konfirmasi. Jadi cuma 4 orang aja yang bisa berangkat. Belum rejeki :(

Oktober 2014
Sempat sesak napas sewaktu pulang main di Bandung. Dokter sampai menyuruh saya untuk istirahat penuh atau di opname. Oh tidak! Alhamdulillah udah sembuh.

November 2014
Bulan ini agak capek. Dimulai dari Outing kantor dan berangkat ke Pulau Boracay dalam waktu berdekatan. Mana hujan melulu dan saya jadi sakit flu. Tapi Alhamdulillah bisa mengunjungi pantai terindah di Asia. Sebuah pengalaman yang paling berharga.

Desember 2014
Penutup tahun saya berkunjung ke rumah teman saya di Subang. Disana kerjanya makan, tidur, dan minum obat herbal untuk terapi sesak napas. Yang paling menyedihkan adalah ketika mendengar Air Asia kecelakaan. Mengingat saya sering banget naik pesawat yang satu ini. Memang kita nggak mengetahui takdir, tapi jujur aja jadi terbersit rasa takut. Walaupun saya nggak kapok naik Airasia tapi perasaan jadi sedih banget mendengar banyak jenazah. Semoga kita selalu diberi keselamatan oleh Allah SWT, aminnn.

Keinginan di tahun 2015 :
  1. Mau ke Hongkong - Macau - Shenzhen
  2. Mau ke Lombok
  3. Pindah Kerja
  4. Menikah
  5. Pindah dari Kosan
  6. Mau ke Bromo
  7. Mau ke Shanghai dan Beijing
Insya Allah urutannya benar. Tolong di-amin-kan ya semuaaaa!! Selamat Tahun Baru ^_^
http://img1.123tagged.com/en/happy_new_year_2015/23.jpg

Desember 30, 2014

Kesimpulan Perjalanan ke Filipina

Kali ini saya akan memposting kesimpulan perjalanan saya ke Filipina kemarin. Saya tidak mengikutsertakan Malaysia yah, walaupun saya sempat sehari disana sepulang dari Manila. Malaysia udah pernah saya posting sebelumnya. Saya memang selalu menarik kesimpulan dari hasil analisa saya ketika jalan-jalan ke luar negri.

Tiket Murah
Alhamdulillah karena saya dapat tiket Malaysia Airlines super murah, bahkan lebih murah daripada saya bolak-balik Jakarta-Bandung. Sebenarnya waktu ini memang maskapai yang satu ini memberikan diskon hampir ke seluruh dunia, tapi pilihan saya Filipina. Kenapa? Pertama, karena Asia Tenggara, jadi masih murah. Kedua, saya lagi pengen liburan ke pantai. Kekurangannya adalah, kalian bakalan merasakan banyak banget transit. Kalau diurutkan perjalanan saya Jakarta - Singapore (transit) - Kuala Lumpur (transit) - Manila (transit) - Kalibo (transit) - lalu jalan darat dan naik kapal ferry ke Pulau Boracay. Sudah menghabiskan seharian terbang di angkasa, jalan darat juga, melewati laut juga. Tapi terbayarlah dengan keindahan pantainya.
White Sand Beach, Boracay Island
Transportasi
Negara-negara yang saya kunjungi sebelumnya memang sudah memiliki transportasi massal seperti Subway, MRT, bahkan Shinkansen. Berbeda dengan Filipina yang sepertinya MRT bukan transportasi utama. Jadi saya nggak mencoba naik MRT. Kalau di Pulau Boracay, kami bisa sewa mobil atau naik Tricycle. Nah, di Manila, kalian lebih baik naek Jeepney. Selain murah, tempat-tempat wisata juga lebih mudah dijangkau dengan menggunakan Jeepney. Jujur aja saya merasa kurang nyaman. Nggak semua orang di Manila bisa bahasa Inggris dan jurusan Jeepney juga nggak begitu jelas. Mana orang-orang di dalamnya juga banyak yang serem. Lebih enak naik transportasi massal deh. 
Rizal Park, Manila

City Explore
Menurut saya Manila adalah kota yang tidak begitu aman. Saya nggak menyarankan untuk solo traveller (jalan sendiri) ke negara ini karena memang kriminalitas masih tinggi. Banyak terjadi penipuan di taks. Penipuan juga ada di Intramuros dengan cara menaikkan tarif kereta kuda berkali-kali lipat dengan harga yang disepakati (ini saya baca pengalaman anak backpacker yang lain). Hampir setiap pertokoan di pasar dipasang teralis dan di setiap tempat ada polisi dengan senjata laras panjang. Serem 'kan? Jadi mendingan kalau mau ke Manila rame-rame sama teman-teman. 

Belanja
Filipina bukan surga belanja. Selama di Boracay, oleh-oleh yang menarik bagi saya hanya aksesoris seperti kalung dan gelang, magnet kulkas, kaos, dan tas kain. Mungkin aksesoris bisa menjadi oleh-oleh wajib karena memang bagus banget. Baju pantainya sama aja seperti Bali. Kalau di Manila, saya hanya tertarik dengan Dried Mango. Kalau baju, tas, sepatu, masih mending beli di Kuala Lumpur.

Kuliner
Karena Boracay adalah sebuah pulau, jadi makanan khas disana adalah seafood. Memang sih menu non halal banyak sekali di Pulau ini tapi menu seafood juga nggak kalah banyaknya. Rasa makanan sih enak, mungkin karena memang kami capek dan lapar. 

Budget
Berikut budget yang saya tulis untuk 4 orang. Beberapa harga agak berbeda karena ada yang beli belakangan pas promo udah habis.

Malaysia Airlines Sin-Manila-Sin Rp. 677,422
Cebu Pasific Kalibo - Manila Rp. 341,679 + Rp. 597,679 = Rp. 939,358
Philipine Airlines Manila - Kalibo Rp. 1,416,732

Lion Air Kuala Lumpur - Jakarta Rp. 573,163
Air Asia Kuala Lumpur - Jakarta (666 MYR) = Rp. 2,469,562

Penginapan di Boracay 3750 PHP = Rp. 1,068,750
Penginapan di Manila 1950 PHP = Rp. 555,750

Total Rp. 7,700,737 dibagi 4, berarti perorang Rp. 1,925,184

Untuk makan, transpor, dan belanja mungkin sekitar 2,5 juta. Jadi total 4,5 juta rupiah. Lumayan 'kan? So, berniat berlibur ke Filipina yang memiliki pantai terindah nomor 1 di Asia?

Desember 29, 2014

Around Putra Jaya

Saya sengaja bangun siang karena semalem terlalu capek mengitari kota Manila yang hampir mirip kota Jakarta. Bahkan menurut saya, Jakarta masih jauh lebih baik dan bagus tata kotanya dibandingkan dengan Manila. Setidaknya di Jakarta, saya masih merasa aman berjalan kaki sendiri tanpa curiga dengan orang lain.

Setelah puas berguling-guling di kasur, saya bangun dan packing. Tas ransel emang udah nggak cukup lagi. Untung aja tas jinjing yang beli di Boracay bisa memuat banyak barang. Saya menaruh baju kotor dan basah di ransel sedangkan baju bersih di tas jinjing. Setelah barang beres dimasukkan ke dalam tas, kami semua turun untuk sarapan.

Kami memang dapat free breakfast dari Guest House seharga 100 PHP. Lumayan banget 'kan? Saya pesan Sandwich karena porsinya besar. Kalau kalian mau pesan sosis, lebih baik mengkonfirmasi terlebih dahulu daging untuk pembuatan sosis karena bisa aja nggak halal. Saya tidak memfoto makanan untuk sarapan karena nggak bawa handphone atau kamera untuk turun, Lagian waktu itu, WIFI penginapan sedang tidak berfungsi. Oh ya, saya mau menitipkan kartu pos untuk dikirimkan ke teman saya di Kanada (lagi) pada resepsionis. Sayangnya, resepsionis yang cewek sama sekali nggak bisa bahasa Inggris deh kayaknya. Saya juga sudah mengarahkan dengan bahasa isyarat untuk minta tolong dikirimkan kartu pos tapi tetap nggak berhasil. Bahkan berkali-kali memanggil saya dan teman saya yang cewek dengan panggilan "Mom" bukan "Ma'am". Oh ya, selama di Filipina, saya sering banget dipanggil "Mom". Aih, sejak kapan saya jadi ibu kamu? Hahahaha.

Selesai makan, saya dan teman-teman bergantian mandi. Mumpung waktu keberangkatan pesawat masih lama, jadi kita masih agak nyantai beres-beres. Selesai semua mandi, kebetulan resepsionis cowok datang menghampiri kami ke kamar karena mau memberitahu kalau WIFI udah kembali normal. Saya akhirnya minta tolong untuk mengirimkan kartu pos dengan memberikan uang 100 PHP dan dia langsung setuju dengan senang hati. Bahkan sampai tulisan ini saya posting, kartu pos Manila sudah tiba dengan selamat di Kanada. Karena barang kami juga sudah beres di packing, kami juga jadi minta tolong untuk menurunkan ransel. Kebayang kalau harus menurunkan ransel dari lantai 5. Tapi beberapa teman saya menurunkan ransel sendiri dan sampai kebawah mereka jadi keringetan lagi.

Kami cek out lalu mengkonfirmasi apakah taksi sudah dipesan? Semalam sempat bilang ke satpam untuk memesan taksi, tapi sepertinya satpamnya lupa. Untungnya dia langsung mencegat taksi berwarna putih (ukuran sedang seperti mobil avanza) di jalan. Duh, saya jadi takut taksinya menipu argo. Kami udah menyiapkan beberapa uang ribuan rupiah. Kalau mereka minta ribuan peso, ya kasih aja ribuan rupiah (ini tips yang saya baca kalau kita ditipu sopir taksi di Manila, kasih aja uang ribuan rupiah. Biasanya mereka tercengang karena duit kita banyak ribuan. Hahahaha).

Lama perjalanan dari penginapan ke Bandara sekitar 30 menit dengan argo sekitar 200 PHP. Walaupun sopirnya udah tua dan terlihat mencurigakan, tapi ternyata orangnya baik. Kami menurunkan semua barang dulu, baru membayarkan duit ke supir. Pak supir sempat heran melihat kami karena belum bayar sampai dia bilang, "Bayar!" dan kami bilang "Wait!" Setelah memberikan 300 PHP, kami berlari masuk bandara sebelum dia minta lebih banyak. Saya melihat beberapa sopir taksi sedang meminta uang lebih kepada penumpang ketika menurunkan mereka di depan pintu Keberangkatan. Alhamdulillah sopir taksi kami baik.

Saya dan teman-teman mengantri di konter Malaysia Airlines yang udah buka. Bandara Manila memang memberlakukan peraturan sangat ketat untuk berat barang yang boleh dimasukkan ke kabin pesawat. Ransel kita semua ditimbang dan semuanya nggak lolos masuk kabin. Beratnya rata-rata udah 9-10 kg. Mau nggak mau ya masukin ke bagasi. Memang sih kalau naik Malaysia Airlines itu dapat bonus bagasi 30 kg. Tapi sebenarnya agak malas masukin barang ke bagasi karena kami mau berhenti di Kuala Lumpur sedangkan penerbangan saya connecting flight ke Singapore. Akhirnya setelah giliran saya cek in, saya dan teman-teman langsung masuk ke 1 konter cek in secara bersamaan karena nama kami ada dalam 1 tiket. Ternyata kami cuma boleh cek in satu persatu, dan untung aja sempat nge-print banyak tiket untuk pegangan masing-masing.

Disini agak ribet. Saya bilang kepada petugas bandara kalau saya nggak mau melanjutkan penerbangan ke Singapore dan teman-teman saya melaporkan hal yang sama seperti saya. Hal ini membuat petugas bandara agak kaget. Mereka meminta tiket saya pulang ke Indonesia, mungkin takut mau jadi TKI kali ya di Malaysia. Setelah tiket pulang saya tunjukkan, lalu datang petugas satu lagi bertanya, "Why don't you continue your trip to Singapore, Ma'am?"  (kenapa nggak melanjutkan perjalanan ke Singapore?) Saya jawab, "Because i wanna spend my holiday in Kuala Lumpur." (Karena saya mau menghabiskan liburan di Kuala Lumpur). Beberapa petugas lalu berdiskusi dan akhirnya memasukkan ransel saya ke belakang (untuk dimasukkan ke bagasi). Karena penasaran, saya bertanya, "Is there any problem with it?" (ada masalah?) Petugas menjawab, "No Ma'am. It's just the procedure because we have to report to Kuala Lumpur Airport and Singapore Airport that some passengers are not continue their trip. So we have to tell them the reason." (Nggak ada. Ini hanya prosedur karena kita harus melapor ke bandara di Kuala Lumpur dan Singapur karena ada penumpang yang nggak melanjutkan perjalanan ke Singapur. Jadi kita harus memberitahukan alasannya kepada mereka). Saya mengangguk-angguk dan akhirnya menerima boarding pass yang hanya berakhir di Kuala Lumpur, begitu juga dengan bagasi kita. Begitu juga dengan teman saya yang lain. Awalnya kami tertahan sekitar 10 menit untuk cek in, tapi alhamdulillah akhirnya lancar-lancar aja.

Kami lalu mengantri imigrasi dan pengecekan barang sebelum masuk Boarding Gate. Kami sempat berbelanja dulu untuk menghabiskan pecahan uang PHP receh. Teman saya bahkan sempat makan mie gelas dulu karena lapar. Lumayan uang receh bisa beli snack untuk cemilan. Saya juga membeli beberapa magnet kulkas lagi dan popcorn. Setelah beres belanja, kami masuk ke Boarding Gate. Petugas bandara pada saat itu kurang ramah. Mereka dengan sombong melihat wajah kita, memeriksa isi tas jinjing, dan akhirnya menyobek Boarding Pass. Heran deh, kenapa sedikit sekali orang ramah di Manila?

Kami akhirnya naik ke pesawat. Waktu itu saya pengen pipis banget. Tips untuk yang mau ke toilet pesawat, sebaiknya sebelum pesawat terbang karena toilet masih bersih banget. Kalau di tengah perjalanan biasanya toilet udah banyak hal-hal yang menyeramkan, hiiii. Sepanjang perjalanan selama 3,5 jam di Malaysia Airlines emang nggak bosan sama sekali. Sejam pertama saya tidur. Sejam kedua saya makan siang sambil mengobrol. Sejam ketiga saya nonton dan ketiduran lagi, lalu mendarat. Memang beda yang pesawat sekelas Malaysia Airlines, pelayanannya mantap.

Sesampainya kami di Kuala Lumpur International Airport, ada hal yang menyebalkan. Antrian imigrasi panjaaaaaaaaaang bangettt! Mana kami salah mengantri di bagian yang banyak para pelajar dari Jepang. Mereka nggak berbaris mengantri, malah mengobrol dan mengerubuni satu sama lain. Duh, saya juga salah mengambil antrian di belakang mereka dan saat itu juga nggak semua meja imigrasi buka. Kami menghabiskan waktu 1 jam hanya untuk mengantri seperti itu. Wah, kalau ada connecting flight, udah ketinggalan pesawat. Teringat dulu di LCCT, antrian juga super panjang tapi hanya 20 menit kami bisa mendapat stempel dari imigrasi. Ngomong-ngomong untuk urusan stempel, ntah kenapa petugas imigrasi menandatangani di atas stempel dan menuliskan kode penerbangan Malaysia Airlines. Hmm, kenapa ya?

Om dan tante teman saya sudah menunggu kami. Hari sudah malam dan hujan. Kayaknya seluruh Asia Tenggara memang hujan sih bulan segini. Kami berangkat ke Putra Jaya. Ini kali pertama saya kesini dan takjub melihat arsitektur bangunannya sangat modern. Putra Jaya adalah pusat administrasi Malaysia yang menggantikan posisi Kuala Lumpur. Didirikan pada 19 Oktober 1995, namanya diambil dari nama Perdana Menteri Malaysia yang pertama, Tunku Abdul Rahman Putra dan juga menjadi wilayah persekutuan Malaysia yang ketiga (2 wilayah lainnya adalah Kuala Lumpur dan Labuan). 

Terletak di 25 km sebelah selatan dari Kuala Lumpur, Putra Jaya berfungsi sebagai pusat administrasi federal Malaysia. Pusat pemerintahan dialihkan pada tahun 1999 dari Kuala Lumpur ke Putrajaya, karena kepadatan penduduk dan kemacetan di wilayah Kuala Lumpur. Namun, Kuala Lumpur tetap ibukota negara Malaysia, serta pusat komersial dan keuangan negara. Kota ini juga terhubung dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) serta Kuala Lumpur dengan KLIA Transit. Letaknya ini juga berada dalam Multimedia Super Corridor, begitu juga dengan Cyberjaya yang terletak di barat Putrajaya.

Saya dan teman-teman memang berkeliling Putra Jaya, tapi hanya berhenti dan berfoto di beberapa tempat saja karena hujan. Mana beberapa teman saya udah pada sakit. Awalnya pengen berfoto di Mesjid Besi atau biasa disebut Mesjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, tapi nggak jadi. Kami hanya berfoto di Mesjid Putra, Kantor Perdana Mentri, dan jembatan Putra Jaya yang berwarna-warni ketika malam hari.
Pintu Kantor Perdana Mentri
Kantor Perdana Mentri
Di Depan Mesjid Putra
Jembatan Putra Jaya
Selesai puas main di Putra Jaya, kami pergi ke IOI Mall. Lagi pengen banget makan Nando's atau Peri-peri Chicken karena udah lama nggak makan disini. Setelah memesan makanan, kami berkeliling Mall dulu untuk mencari Money Changer. Udah capek jalan kesana-sini, eh ternyata Money Changernya berdekatan dengan Nando's. Sewaktu kami balik ke Nando's, makanan sudah tersedia dan kami langsung melahapnya. Mungkin karena udah jam 8:30 malam jadi laperr banget. Oh ya, kemaren itu Nando's rame banget. Jadinya nggak sempat mengambil saus Peri-peri yang pedas enak itu karena udah pada diambil duluan oleh orang lain.
Makan Nando's
Selesai menyantap Nando's, awalnya saya berharap ada toko Vincci di IOI Mall. Sayangnya nggak ada. Padahal udah menukar uang lumayan banyak untuk belanja Vincci karena pas kami berada di Kuala Lumpur sedang ada 3 Days Sale. Yah, belum rejeki ternyata. Sepulang dari IOI Mall, kami mengunjungi KLCC sekitar pukul 11 malam. Sayangnya pertokoan disana juga udah pada tutup. Hanya mengambil gambar KLCC sebentar, lalu pulang.
KLCC
Kita semua menginap sebentar di rumah Omnya teman saya beberapa jam. Tiba di rumahnya jam 12 malam, lalu berangkat lagi ke bandara jam 5 pagi. Agak mepet sih jadwalnya tapi keburu juga. Saya dan teman-teman beda pesawat (saya Lion Air dan mereka Air Asia), dan jadwal keberangkatan saya lebih lambat. Setelah cek in, masih sempat shalat Shubuh di Surau KLIA2 dan berjalan-jalan. Baru nyadar kalau saya sama sekali nggak memegang duit Ringgit sepeser pun. Padahal The Body Shop lagi diskon. Ah, bahkan beli air minum aja nggak ada duit. Ya udah, pasrah sampai mendarat ke Soekarno Hatta.

Baiklah, di postingan selanjutnya saya akan memposting tentang kesimpulan dan biaya perjalanan saya ke Filipina. Jangan sampai nggak baca ya :)

Desember 24, 2014

One Day in Manila

Kali ini saya akan bercerita tentang kota Manila. Setelah mandi dan beres-beres sejenak di hotel, kami turun ke lobi penginapan dan mengobrol sebentar dengan resepsionis untuk menanyakan arah. Saya bertanya bagaimana caranya kalau mau pergi ke Intramuros dan Rizal Park, yang merupakan landmark terkenal di Manila, dan juga Mall of Asia. Resepsionis bilang kalau kita sebaiknya menggunakan Jeepney, sejenis angkutan kota (angkot) yang khas di Manila. Saya sih sebenarnya agak malas naik Jeepney karena terlihat agak menyeramkan. Saya tanya, bagaimana kalau naik taksi? Taksi mana yang nggak bakalan menipu kita? Dan dia menjawab, nggak ada yang pasti dari taksi karena walaupun pakai argo, argo mereka juga udah di rombak jadi cepet banget naiknya. Kata resepsionis, biasanya kalau dari bandara ke Makabata Guest House ini naik taksi sekitar 300 PHP, dan kami bilang kalau tadi kami hanya membayar 270 PHP, dan itu hal yang sangat langka. Alhamdulillah.

Oh ya, sebagai informasi, salah satu landmark yang paling terkenal di Manila adalah Intramuros. Kalian bisa berkeliling tempat ini untuk mengetahui hasil peninggalan bangsa Spanyol ketika menjajah Filipina. Sayangnya karena udah malam, kami nggak kesana. Jadi hanya memutuskan untuk main di Rizal Park saja.
Suasana kota Manila
Permasalahannya sekarang, uang kami semua sudah sekarat. Kami juga bertanya dimana Money Changer. Ternyata tempat Money Changer ada di pasar. Berhubung saya orangnya gampang lupa arah dan jalan, saya foto deh kondisi jalan dan plang nama jalan. Daripada nanti nyasar atau pengucapannya dalam bahasa Tagalog beda, jadi lebih baik difoto aja.
Leveriza Street
Kalian tau, kondisi Manila mungkin memang nggak seaman Jakarta. Bahkan untuk mengeluarkan kamera di pasar aja saya agak takut karena orang-orang memperhatikan saya. Setelah memfoto nama jalan, kamera nggak saya kalungin, melainkan langsung masukin tas. Kami lalu berjalan kaki ke Money Changer. Hampir semua toko sekitar pasar di pasang teralis. Aneh 'kan? Sesampai di Money Changer, uang yang boleh ditukar hanya dollar. Untung aja uang saya memang hanya tersisa dollar dan saya bisa menukar beberapa ribu peso. Tapi karena orang-orang sekitar Money Changer melihat kita menukar uang, saya jadi su'udzhan lagi. Duh, jadi serem. Uang langsung saya masukkan ke dalam dompet dan kami keluar dari Money Changer. Saya sempat memfoto gambar Jeepney buru-buru karena takut memegang kamera. Jadi blur deh Jeepneynya.
Jeepney nge-blur
Saya dan teman-teman menunggu Jeepney. Jujur aja saya bingung, ini mau naik ke arah mana? Akhirnya salah seorang teman saya si Puput menemukan orang yang tepat untuk bertanya. Ada seorang cewek yang dulu pernah bekerjasama dengan orang Indonesia ketika dia berada di Kuwait. Nggak usah meragukan bahasa inggrisnya. Dia memberi tahukan naik Jeepney yang mana ke Intramuros atau Rizal Park, kalau nggak salah yang ada tulisan Roxas. Cewek itu menyetop Jeepney, berbicara pada bapak sopir untuk menurunkan kami di Rizal Park, dan kami pun naik ke Jeepney yang lumayan sepi waktu itu.
Di dalam jeepney
Sempat bertanya pada bapak sopir berapa ongkosnya dan dia bilang 10 PHP. Sebenarnya kata warga lokal tarif Jeepney itu 8.5 PHP. Ada yang unik dari Jeepney ini. Ternyata penumpang akan memberikan ongkos ke orang di sebelahnya, lalu orang sebelah akan mengoper ongkos ke sebelahnya lagi, sampai akhirnya ke bapak sopir. Kalau ada kembalian, ya dioper lagi. Awalnya agak bengong melihat ada yang memberikan uang ke saya. Pas melihat orang di sekitar baru tau. Pernah sih baca di blog kalau cara membayar Jeepney agak unik, ternyata memang unik. Kalau misalnya mau ambil uang kembalian paling enak tuh yang duduk dibelakang supir. Setiap menerima uang, langsung masuk ke saku celana dan berpura-pura nggak ada tau apa-apa (ini khayalan saya doang). Hahaha.

Perjalanan menuju Rizal Park macetttt. Sama aja kayak di Jakarta. Mana banyak asap. Untung saya bisa menutup hidup dengan jilbab. Ketika tiba di sebuah lampu merah, sopir melihat kami dan menunjuk ke arah kiri dan ternyata sudah sampai ke Rizal Park. Kami turun dari Jeepney dan bersiap menyebrang. Tiba-tiba hujan turun dengan sangaaat deras dan membuat kami terpaksa berteduh ke bawah payung-payung pedagang jalanan. Biar nggak terkesan nebeng banget, kami beli deh snack-snack yang dia jual karena memang udah lapar banget. Saya juga memperhatikan suasana sekitar jalan di Manila yang hampir sama dengan Jakarta. Bahkan di tempat saya berdiri ini mirip di jalan Prof. Dr. Satrio di Jakarta dengan jalan layang di atasnya. Hanya saja, jalan diatas itu merupakan jalur MRT Manila. Saya nggak sempat mencoba naik MRT disini.
Jalan di depan Rizal Park, kayak jalan Satrio
Sempat bertanya pada orang-orang yang ikut berteduh di payung, bagaimana caranya ke Mall of Asia dari Rizal Park. Kebanyakan dari mereka menyarankan naik Jeepney ke arah yang berbeda-beda. Bahkan mereka sampai diskusi dulu sama teman-temannya. Sampai akhirnya menyarankan kita untuk naik taksi dan tetap memperingatkan untuk hati-hati pada pengemudi taksi yang suka menaikkan argo secara tiba-tiba. Duh, jadi bingung sendiri mau naik apa. Ya sudahlah, kami fokus jalan ke Rizal Park aja, mumpung hujan mulai sedikit reda.
Rizal Park
Rizal Park (Filipina : Liwasang Rizal) juga dikenal sebagai Luneta Park adalah taman kota bersejarah yang terletak di sepanjang Roxas Boulevard, Kota Manila, Filipina, berdekatan dengan tembok kota tua Intramuros. Taman ini telah menjadi tempat liburan favorit warga lokal, dan sering dikunjungi pada hari Minggu dan hari libur nasional. Ini adalah salah satu atraksi wisata utama Kota Manila.
Berjalan masuk ke taman
Patung siapa ya?
Lampu lucu
Terletak di tepi Teluk Manila, Luneta juga merupakan situs penting dalam sejarah Filipina. Pengeksekusi mati pahlawan nasional José Rizal pada tanggal 30 Desember 1896, mengobarkan Revolusi Filipina pada tahun yang sama untuk melawan Kerajaan Spanyol. Kawasan itu secara resmi berganti nama menjadi Rizal park untuk menghormati jasanya. Patung José Rizal di tengah-tengah taman merupakan tujuan utama taman ini. Deklarasi Kemerdekaan Filipina dari penjajahan Amerika juga diadakan di sini pada 4 Juli 1946, dan juga unjuk rasa politik yang melibatkan Ferdinand Marcos dan Corazon Aquino pada tahun 1986 yang merupakan puncaknya Revolusi EDSA .
Patung Rizal
Salah satu gedung bersejarah
Kami hanya berfoto dan mengunjungi beberapa bangunan dan monumen sejarah di sekitar Rizal Park. Karena hari semakin malam dan kami belum makan, kami putuskan untuk menyudahi jalan-jalan di taman ini. Kami keluar taman, lalu bingung lagi mau naik apa ke Mall of Asia. Seperti biasa, Puput langsung mendekat ke orang-orang yang terlihat baik untuk bertanya arah Jeepney. Alhamdulillah memang selalu ketemu orang baik. Ada dua cowok yang menyuruh kita naik Jeepney (lupa arahnya), dan disuruh turun di Mc.D. Dari situ nanti naik Jeep berwarna Oranye yang memang mengarah ke Mall of Asia (MOA).

Ketika naik Jeepney, kali ini kita mengumpulkan semua koin receh dan membayar 35 PHP kepada sopir. Kita dapat kembalian 1 PHP. Ternyata memang hanya 8.5 PHP untuk satu kali jalan (single trip). Yang mengherankannya, kenapa sudah hampir satu jam perjalanan tapi Jeepney nggak berhenti di Mc.D. Bahkan penumpang pun udah sepi. Ini bener nggak ya jalannya? Akhirnya Puput nanya lagi ke pasangan yang duduk di depan kami arah menuju MOA. Untung bahasa Inggris mereka sangat fasih. Mereka bilang memang kalau malam minggu jalanan macet dan jarak ke MOA juga jauh. Makanya nggak nyampe-nyampe.

Alhamdulillah akhirnya sampai ke Mc.D. Nggak tawar-menawar lagi, kami langsung mampir untuk makan. Saking laparnya. Yang agak sial, antrian Mc.D panjaaang banget. Mungkin kami menghabiskan 20 menit untuk mengantri. Kasihan teman-teman saya udah pada sakit semua. Akhirnya ketika makanan datang, kami langsung melahapnya, setelah itu langsung minum obat. Untung saya selalu sedia kotak obat di tas. Paling nggak untuk pertolongan pertama.

Kami melanjutkan naik mobil Orange ke MOA. Memang sih sopir mobil udah teriak-teriak MOA! MOA! MOA! Jadi nggak usah takut salah arah. Perjalanan dari Mc. D ke MOA lumayan singkat. Alhamdulillah nggak usah bermacet-macetan dulu kesini. Kami diturunkan di depan MOA dan takjub melihat Mall super luas ini. Luassss bangettt! Duh, males banget kalau harus mengelilingi seluruh Mall dalam satu hari.
SM Mall atau Mall of Asia
MOA
Sempat berfoto di beberapa tempat unik, lalu kami masuk ke dalam Mall. Isi dalam Mall sih biasa aja, cuma memang luassss banget dan banyaaak banget tokonya. Saya kesini cuma pengen beli oleh-oleh Popcorn dan Mangga kering yang terkenal. Kami menemukan toko Kultura di Mall yang berisi semua souvenir dari seluruh Filipina. Disini dijual Dried Mango berbagai macam kemasan. Bahkan ada coklat mangga dan sabun mangga. Semua dari mangga deh ada disini. Saya jadi borong banyak banget Dried Mango dan souvenir (mikirin nggak bawa bagasi agak nyesek). Mana total belanjaan saya sebanyak itu hanya 1,010 PHP. Karena pakai kartu kredit BCA Master Card, kursnya lebih murah, 1 PHP hanya Rp. 272. Jadi total belanjaan hanya Rp. 274,720.
Jajaran toko
Setelah belanja souvenirs, saya masuk ke Hypermarket untuk beli popcorn. Kalian bisa memilih berbagai jenis popcorn disini karena memang variannya banyak banget. Saya jadi belanja banyak lagi deh. Puput malah beli galon karena katanya dia kurang minum. Hahaha. Ya asal sanggup bawa galon sih, ya udah. Oh ya, sempat narik duit di ATM bank lokal Manila.  Kalian tau, biaya tarik tunainya 200 PHP dan biaya menarik di ATM logo Cirrus dan Maestro adalah Rp. 25,000. Mahal banget ya? Tips dari saya sih mending ambil dari 1 ATM, lalu nanti tinggal bagi-bagi aja biaya tarik tunai dan biaya Cirrus dan Maestro. Sayangnya kemarin nggak kepikiran kayak gitu dan kami tarik tunai masing-masing. Jadi hilang deh 800 PHP dan Rp. 100,000.
Wanita pembawa galon
Sebenarnya kalau kami sampai di SM Mall (MOA) ini lebih cepat, mungkin kami bisa menikmati beragam Cafe lainnya, dan nggak usah makan Mc.D. Tapi mau gimana lagi, perut udah lapaarr. Setelah puas belanja di Hypermarket dan plastik jinjingan udah banyak, kami memutuskan untuk balik ke penginapan. Nah, disini baru bingung. Awalnya sih kami bertanya pada satpam. Oh ya, semua satpam di Mall ini membawa senjata laras panjang. Serem banget deh. Eh, ntah itu satpam atau polisi ya? Ketika kami menghampiri seorang satpam dan bertanya dimana menuggu mobil oranye, eh teman-temannya langsung datang mengerubuni kami. Pas tau kami cuma bertanya hal sepele, mereka memandang kami remeh sambil menunjukkan dimana tempat mobil orange. Ah, beda banget sama Jepang yang polisinya ramaah banget.

Kami akhirnya naik mobil Orange sampai ke Mc.D lagi. Dari situ nanya sama orang naik Jeepney yang mana ke Malate dan katanya semua Jeepney lewat sana. Sayangnya di tengah jalan, Jeepney menurunkan kami karena ada penutupan jalan ke Malate. Banyak polisi yang mencegat mobil-mobil untuk nggak lewat jalan itu. Kita menghampiri polisi dan berusaha bertanya jalan, tapi seperti biasa, kita diremehkan dan mereka sok-sok nggak mau jawab. Atau ya menjawab apa yang membuat kami tambah nggak ngerti, lalu menghalau kami seolah-olah mengganggu pekerjaan mereka. Ya elah, sombong banget sihhh!

Akhirnya bertanya sama mbak-mbak di jalan bagaimana cara ke Leveriza Street. Saya bahkan sampai mengeluarkan kamera untuk menunjukkan plang nama jalan yang saya foto. Memang sih beberapa orang disana nggak tau bagaimana cara ke jalan itu, sampai ada mbak-mbak yang akhirnya menuntun kami naik Jeepney. Di dalam Jeepney, kami berusaha nanya orang dimana jalan ke penginapan. Kali ini nggak ada satu pun sepertinya yang bisa bahasa inggris. Mereka terlihat sibuk berdiskusi dimana jalan yang kami tanya, tapi nggak bisa menjelaskan balik kepada kami. Bahkan ada satu cowok asik senyum-senyum nggak jelas melihat kami dan orang-orang di dalam Jeepney kebingungan. Ah, jadi seram melihat orang-orang ini. Sampai akhirnya ada bapak baik hati yang mengajak kita ikut dengannya turun di jalan apaaaa gitu.

Masih berpikiran positif untuk mengikut bapak itu jalan. Dia bilang, sebenarnya banyak Jeepney lewat Leveriza Street. Karena udah lewat tengah malam, banyak Jeepney yang udah nggak jalan. Jadinya harus jalan kaki ke Leveriza. Alhamdulillah bapak ini ternyata rumahnya di jalan yang sama dengan Guest House kami. Dia baik banget karena selalu berusaha mengajak kami mengobrol walaupun dia cuma bisa bahasa Inggris sedikit.
Dried Mango
Sampai di Guest House, saya shalat dan langsung tidur. Karena besok Malaysia Airlines terbangnya agak siang, besok aja deh packing barang. Selamat tidur~~

Categories

Living (181) adventure (124) Restaurant (103) Cafe (92) Hang Out (87) Jawa Barat (86) Bandung (78) Movie (71) Story (64) Jakarta (57) Lifestyle (50) Event (39) Aceh (32) Jawa Tengah (24) Islam (21) Japan (20) Hotel (19) Science (18) South Korea (18) Book (17) Technology (16) Semarang (14) Warung Tenda (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Crush (10) Dokter (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Consultant (9) Malaysia (8) Tokyo (8) Jeju Island (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Birthday (6) Karimun Jawa (6) Bangkok (5) Dieng (5) Kuala Lumpur (5) Manila (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Bali (4) Busan (4) Family (4) Wedding (4) giveaway (4) Bogor (3) Kalibo Island (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) 2PM (2) BBLive (2) Baby (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Etude House (2) Hakone (2) Nami Island (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) The Face Shop (2) Cilegon (1) Cimahi (1) Festival BLOG 2010 (1) Makassar (1) Medan (1) Solo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan