April 29, 2016

Djule Kofi

Selesai mengebut postingan tentang Kepulauan Derawan, sekarang melanjutkan antrian posting yang masih panjangggg sekali. Kali ini saya memilih mampir ke Cafe pacarnya Kakros (teman saya yang paling banyak masuk ke blog ini). Mungkin kalian tau kalau saya nggak suka kopi dan membenci tiramisu. Jadi, nongkrong di Cafe spesialisasi kopi itu membuat saya kesusahan untuk memberikan review. Tapi nggak apa-apa, paling nggak kalian tau kalau ada Cafe keren yang baru buka dengan nama Djule Kofi, berlokasi di Jalan Melawai Raya No. 6. Blok M, Jakarta Selatan 12160 (021 - 2745 5488).
Mascotnya
Sebelum ke Cafe, saya perawatan wajah dulu di Natasha Skin Care Jalan Wijaya. Karena Kakros baru mampir ke Cafe lumayan sore, saya jadi harus tidur dulu trus bangun lagi trus tidur lagi di sofa Natasha. Untung karyawan Natasha cuek aja karena saking seringnya saya membuat sofa Natasha jadi tempat menunggu paling empuk sedunia. Setelah Kakros ada di Cafe, barulah saya memesan Gojek dan meluncur kesana.
Wajah setelah di-edit
Djule Kofi ini tempatnya agak ketutupan sama pohon-pohon gede di Jalan Melawai. Untung aja nama cafenya terpampang super besar di dinding. Jadinya saya bisa langsung berhenti di depan Cafe. Untuk kalian yang mau mampir kesini, jangan terkecoh sama butik di sebelah Cafe. Saya kira juga saya salah tempat, bukan ke Cafe malah ke butik. Tapi ketika melihat Kakros di depan, baru deh yakin kalau saya mampir ke Cafe.
Pesan dulu ah
Hal yang pertama kali menarik perhatian saya adalah interior Djule Kofi ini lumayan mewah dan klasik. Meja, kursi, dan lemari kayu membuat kesan klasik, sedangkan lampu candilier yang bertingkat-tingkat dan terbuat dari kerang membuat kesan mewah. Cafenya juga luas, nggak seperti gerai Starbucks di mall yang sempit dan minimalis. Saya duduk di kursi yang nggak ada senderan dan meja yang terbuat dari tumbukan balok-balok kayu. Super keren! Sebenarnya ada lantai 2 di Cafe ini, tapi tertutup untuk umum. Agak misteri juga kenapa lantai 2 ditutup, hahahaha.
Daftar harga
Kopi dan roti-roti
Art
Saya lalu memesan teh, hahaha. Beberapa teman saya memesan kopi tapi saya cukup dengan teh saja. Padahal kopinya langsung di racik sama Adjie, pemilik Cafe, pacar kakros, merangkap barista juga. Cuma maafkan saya karena memang saya nggak tau kopi itu yang enak bagaimana, hahaha. Saya hanya minum teh dan makan cemilan-cemilan ringan seperti kacang dan roti. Malam itu pengunjung Cafe sangat ramai. Mungkin karena malam minggu juga kali ya.
Favorit saya : teh
Yang membuat saya agak terkejut adalah jam tutupnya adalah jam 8 malam. Untuk orang Aceh seperti saya, warung kopi 'kan tutup tengah malam. Bahkan kadang saya sengaja nyari Cafe yang tutup jam 2 pagi, hahaha. Baru kali ini ke tempat ngopi dengan jadwal tutup sangat cepat. Apa sebenarnya jam tutup Cafe kopi itu memang segituan dan saya yang nggak tau ya?
Ada lantai 2
Setelah kenyang ngemil dan minum teh (Cafe juga udah mau tutup), barulah kami melanjutkan makan malam di tempat makan sekitar Melawai. Hmm, baru kali ini nongkrong di warung kopi dulu baru makan malam. Biasanya 'kan makan dulu baru nongkrong sambil ngopi (ngeteh maksudnya) sampai tengah malam.
Para barista
Well, mungkin tempat ini bisa jadi pilihan kalian untuk nongkrong sore. Buat yang mau ngeceng, barista disini juga cakep-cakep lho, hahaha. See you there!

April 28, 2016

From Derawan to Jakarta

Jam setengah 6 pagi itu saya langsung bangun. Mengingat pesawat kami dari Tarakan pukul 11:40 dan perjalanan dari Derawan ke Tarakan sekitar 3 jam lebih, maka kami harus segera bersiap. Jam setengah 7 pagi sudah membereskan isi koper dan mandi. Rugi juga bawa koper agak gede tapi nggak ada yang bisa di bawa pulang dari Derawan. Yang nggak enaknya lagi bawa koper adalah jalanan di Derawan berpasir semua, nggak ada aspal. Roda koper jadi susah jalan. Mau nggak mau ya harus menenteng koper sampai ke dermaga. Agak berat juga.
Sarapan
Kami sudah bersiap di dermaga tapi belum sarapan. Tour guide menyuruh kami sarapan dulu sebelum berangkat. Saya kira bakalan mendapat nasi bungkus, tapi karena barengan sama karyawan Bank Indonesia, kami jadi dapat parasmanan. Lumayan... Kami juga boleh duduk santai di dermaga sambil menikmati pemandangan kapal-kapal terparkir rapi. Kami sarapan sekitar 20 menit dan sudah pukul 7 lebih tapi belum ada aba-aba untuk naik ke kapal motor. Saya jadi was-was, takut cuaca buruk dan perjalanan jadi terhambat lagi. Sekitar pukul setengah delapan, baru kami naik ke kapal. Keburu nggak yah?

Waktu itu, ada seorang bule yang minta nahkoda (supir kapal motor) untuk mampir di sebuah pulau untuk menjemput temannya. Katanya pulaunya dekat dari situ, cuma 2 menit perjalanan. Tapi para penumpang lain langsung komplen. Mereka mau kapal langsung jalan ke Tarakan. Yah berhubung orang asing mau melawan orang lokal sih agak susah. Tapi memang udah mepet banget sih waktunya.
Penumpang
Selama di kapal, saya hanya tidur dan mengobrol. Sedang mempersiapkan diri mengarungi lautan dengan ombak gede dan cuaca menyeramkan. Saya dan penumpang lain tetap merasakan  jumping jumping and bumping bumping lagi sampai pusing kepala barbieMana sekeliling hanya bisa melihat lautan biru, kadang berkabut, kadang hujan deras, pokoknya saya merasa berada di film Life of Phi lagi. Teman saya Kakros pindah duduk di depan. Saya kira dia bakalan aman damai duduk disana. Ternyata kata dia malah lebih seram lagi. Terpental-pentalnya jadi sangat terasa.

Di dalam kapal, rata-rata penumpang pada tidur. Para bule' ada yang membaca buku, ada yang tukeran file foto, ada yang nonton di Ipad. Kalau saya sih udah mual. Hanya menghadap lurus ke depan, kecuali Rezki ngajak ngobrol. Saya agak kasihan melihat para bule' yang kena tempias hujan. Sebenarnya banyak tempat kosong di deretan seberang saya. Seharusnya mereka bisa maju ke depan lagi, jadi para bule' itu bisa maju juga dan nggak kena hujan. Eh ini si mbak depan saya malah diem aja tidur sambil pakai kacamata. Saya udah suruh geser, dia cuek aja. Sampai temannya yang suruh, baru bergeser 5 centi doang!! OMG, berat banget ya bergeser dikit.

Kami sampai di Tarakan pukul setengah 11 siang dan sejam lagi pesawat boarding. Sebelumnya kami sempat mendapatkan nasi kotak untuk makan siang. Mobil jemputan baru tersedia satu dan nggak akan cukup untuk mengangkut kami semua. Jadinya mbak-mbak yang tidur di kapal tadi mulai rese' dan memaksa masnya untuk menelepon temannya yang ada di mobil satu lagi. Kalau saya dan teman-teman sih udah datang mobil jemputannya. Maunya sih mobil udah standby di pelabuhan karena kan kita takut ketinggalan pesawat.

Perjalanan dari pelabuhan ke bandara sekitar 10 menit. Setiba di bandara, kami cek in, lalu ke WC sebentar, dan langsung boarding pesawat. Terasa semua cepat sekali dan agak terburu-buru. Sampai di pesawat saya tidur. Terbangun sewaktu pesawat transit dan kami makan siang. Selanjutnya tidur lagi sampai Jakarta. Waktu jadi terasa singkat. 

Sebenarnya mau melanjutkan nongkrong di Cafe pacarnya teman saya yang baru buka. Tapi kepala ini terasa masih pusing karena terpental-pental di kapal. Ya sudahlah, saya langsung pulang. Minggu depan baru nongkrong di Cafenya. Nanti saya posting, ditunggu ya!

April 26, 2016

Labuan Cermin

Sebenarnya saya nggak mengunjungi tempat ini. Tapi ketika foto-foto dari guidenya dibagikan pada tim kita, saya jadi ingin menulis juga tentang tempat indah yang satu ini. Lumayanlah untuk menambah wawasan saya dan kalian yang mungkin suatu hari ingin mengunjungi tempat ini. Baiklah, selamat menyimak!

Danau Labuan Cermin terletak di Desa Labuan Kelambu di Kecamatan Biduk-biduk Kalimantan Timur yang bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 6 sampai 7 jam dari ibukota Kabupaten Berau, Tanjung Redeb. Untuk mencapai Berau sendiri ada beberapa cara seperti yang biasa dilakukan untuk mencapai Kepulauan Derawan. saran saya sih kalau kalian udah ke Pulau Derawan dari Tarakan, mending pulangnya lewat Berau. Jadi bisa mengunjungi Labuan Cermin juga. Memang biasanya wisatawan yang kesini biasanya terlebih dahulu mengunjungi surga bawah laut di Kepulauan Derawan.
Matahari Tenggelam
Selamat Datang
Labuan Cermin
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6-7 jam dari Berau, kita akan sampai di Kecamatan Biduk-Biduk. Disini kalian akan disuguhi pemandangan yang indah dengan pantai yang panjang. Kemudian untuk menuju Danau Labuan Cermin. kita cukup menuju Desa Labuan Kelambu. Di sana kita akan disambut dengan tulisan 'Selamat Datang di Kawasan Wisata Bahari Labuan Cermin Danau Dua Rasa'.

Kita akan berjalan seebentar menuju jembatan kayu untuk menyewa perahu yang digunakan untuk menyebrang menuju Danau Labuan Cermin. Tarif sekali jalan menyewa perahu Rp. 100.000,- sebaiknya siapkan dana lebih. Di sekitar jembatan kayu itu juga menyewakan alat-alat berenang, seperti pelampung, snorkle, kaki katak, dan lainnya. 
Deretan pohon kelapa
Perjalanan menuju Danau Labuan Cermin dilanjutkan dengan perahu yang disewa tadi selama beberapa menit. Nikmatilah pemandangan selama perjalanan. Bila beruntung, kita akan melihat beberapa ekor penyu yang berenang dan sesekali muncul ke permukaan air, serta hewan air lainnya. Kalian dapat melihat biota air dengan jelas, karena airnya begitu bening.

Nah, setelah tiba di Danau Labuan Cermin, disediakan bilik untuk ganti baju, walaupun bentuknya sederhana. Disediakan juga beberapa pelampung berupa ban dalam dengan biaya tertentu. Barulah kita dapat menikmati keindahan alam ciptaan Allah SWT. Masya Allah. Selain airnya yang jernih, danau ini juga mempunyai keunikan yang tidak dimiliki oleh danau biasa lainnya, yaitu kandungan air yang berada di dalamnya. Air laut dan air tawar hidup rukun berdampingan bagaikan dipisahkan oleh kaca yang tak terlihat oleh mata.
Sebening kaca
Teringat sebuah ayat dalam Al-Quran yang berbunyi "Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi."  (QS. Al-Furqan: 53). Al-Qur'an sudah menjelaskan dengan gamblang bahwa ada batasan yang membuat takkan tercampur air asin dan air tawar.

Sumber:

April 22, 2016

Makan Lobster di Derawan

Sepulang dari Pulau Gusung, kami kembali ke Pulau Derawan. Karena udah sore, agak galau juga mau menikmati sunset terlebih dahulu apa mandi ya? Tapi rasanya badan ini udah nggak enak karena seharian berenang di air laut. Akhirnya pilihan kami jatuh pada mandi dulu. Kali ini mandinya buru-buru karena takut nggak dapat sunset.
Matahari terbenam
Setelah mandi, kami langsung berjalan ke dermaga. Sayangnya hari itu mendung. Matahari jadi tertutup awan. Jadi sedih deh nggak bisa menikmati matahari tenggelam di Pulau Derawan. Dulu sewaktu di Karimun Jawa, sunsetnya bagus banget. Padahal udah bawa tripod segala, berharap bisa mengambil foto-foto langit kemerah-merahan. Yang ada malah menemukan langit ke abu-abuan. Ya sudahlah, belum rejeki. Kami nongkrong di dermaga sampai setelah magrib. Anginnya kencang sekali. Walaupun rambut saya basah dan di kerudung, anginnya masuk juga ke dalam kerudung dan rambut jadi cepat kering, hahaha.
Indahnyaa
Sepeda siapa ini ya?
Kakros
Narsis
Setelah puas bernarsis ria di dermaga, kami melanjutkan perjalanan untuk makan Lobster. Ini udah jadi rencana kami dari malam kemarin karena ketika jalan-jalan malah bertemu tempat makan lobster yang terlihat enak banget. Sewaktu lagi jalan, tiba-tiba ada suara memanggil, "Kak mutiaaa." Saya kaget dan menoleh. Ternyata Mas guide kita yang manggil untuk mempersilahkan makan malam. Saya langsung bilang kalau kami mau makan diluar aja. Jadilah kami kembali jalan kaki untuk mencari tempat makan. Awalnya masih nanya-nanya dulu di setiap resto untuk mencari harga yang paling murah. Tapi ternyata nggak semua resto menyediakan lobster. Akhirnya pilihan kami jatuh pada Rumah Makan Ira Sari, yang ternyata pemiliknya juga salah satu guide lokal yang ikut kami snorkeling tadi.
Menu makanan
Awalnya saya merasa lobster disini mahal karena bapak itu menyebutkan harga lobster Rp. 300,000. Setelah diklarifikasi, ternyata Rp. 300,000 itu untuk porsi sekilo lobster. Kami pesan 1/2 kg untuk bertiga, ditambah nasi, ikan bakar, dan sambal. Sambil menunggu, kami memesan kelapa muda juga. Mengingat dulu di Sabang pesan kelapa muda, eh yang datang kelapa tua. Di tempat makan saya ini, kelapa mudanya malah muda banget. Dagingnya gampang banget di korek. Enak banget deh pokoknya. Karena sudah hampir 30 menit menunggu dan makanan nggak kunjung datang, akhirnya saya jalan ke dapur untuk melihat para koki ngapain aja sih. Ternyata memang pesanannya banyak, tukang masak lobster cuma 1 orang, yang menyiapkan nasi 1 orang, yang membakar ikan di tungku juga 1 orang. Saya sampai menaruh nasi sendiri ke piring dan membawanya ke meja makan. Awalnya kami memesan ikan goreng, tapi yang udah ready cuma ikan bakar. Ya udah deh, ikan bakar aja.
Makanan
Setelah kira-kira satu jam menunggu, akhirnya semua makanan datang. Alhamdulillah. Mana udah lapar banget. Dan lucunya lagi, kami bisa menghabiskan makanan hanya dalam 15 menit saja. Kelamaan nunggu nih, makannya cuma sebentar. Lobsternya enakkkk banget dan ikan bakarnya juga sampai terasa bara apinya. Makanya makanannya jadi enaaak banget. Apalagi kami 'kan capek snorkeling, jadi terasa lapar banget. Sebenarnya mau pesan lagi, tapi mengingat harus menunggu sejam lagi, ah mendingan udahan. 
Selamat makan
Setelah makan, kami menyewa 2 buah sepeda. Kok dua? Kami kan bertiga? Tunggu dulu. Berhubung saya capek, jadinya saya cuma mau dibonceng. Biar kayak wanita desa gitu, hahahahaha. Nggak sih, alasannya saya udah lelah, jadinya mau dibonceng aja. Satu sepeda dihargai Rp. 20,000 untuk sekali pakai. Ada juga tempat penyewaan yang menyewakan Rp. 20,000 per jam. Mahal amat yak? Kami berkeliling pulau dari ujung ke ujung. Mencari mesjid, sekolah, kantor polisi, dan sebagainya. Malam itu padahal malam minggu, tapi pulau ini lebih sepi dari malam sebelumnya. 
Bulannya bagus
Kami mengayuh sepeda sampai ke daerah resort lagi. Tiba-tiba saya melihat sosok putih diatas pohon. Saya bilang, "Kakros, ada hantu." Teman saya Kakros pas melihat putih-putih langsung membalap sepedanya kabur. Saya yang duduk menyamping malah menghadap ke bayangan putih itu terus. Aneh, kok ada hantu ya disini? Ternyata ada kuburan juga di sekitar situ, hiiiii. Setelah ketemu hantu, kami mampir ke pasar malam. Agak was-was memarkir sepeda sembarangan, tapi seharusnya memang nggak akan ada yang mencurinya. Saya lihat banyak orang sedang bermain kartu (apa judi?), lalu ada yang berjualan juga, dan ada taman bermain dadakan. Karena merasa nggak ada apa-apa, kami mengambil sepeda lagi dan berkeliling pulau. 

Sempat bertemu rekan satu tim yang sedang makan di resto juga. Mereka sedang tukeran foto dan membuat grup Whatsapp. Saya tanya kenapa nggak makan makanan yang udah di siapin sama tour? Kata mereka menunya itu-itu aja. Ya udah deh, nyari makanan lain. Kami bertiga malah mampir lagi di tempat makan cemilan hanya sekedar untuk makan gorengan, menikmati teh panas, dan pisang keju. Ntah kenapa saya pengen banget makan pisang keju, hehehe. Setelah capek berkeliling dan kenyang makan, akhirnya kami mengembalikan sepeda, lalu pulang ke penginapan. Rasanya udah capek banget badan ini.

Ada hal yang unik lainnya. Ketika saya tidur, tiba-tiba ada suara tikus (atau binatang apa pun itu) di langit-langit. Saya beberapa kali terbangun. Kakros juga terbangun, tapi dia lebih berpikir kalau itu adalah kecoa, hahaha. Mana ada kecoa kejar-kejaran sampai berbunyi. Kami jadi tidur dalam kondisi tidak terlalu nyenyak karena kepikiran sama binatang di langit-langit itu.

Baiklah, nanti saya cerita lagi ya. Ini postingan saya ke 700 dan saya mempostingnya di Stasiun Pasar Senen dalam perjalanan saya ke Pekalongan. Sampai jumpa lagi.

April 19, 2016

Pulau Gusung di Kepulauan Derawan

Yak, hari ini posting blog lagi berhubung antrian posting sudah panjaaaang banget. Pulau terakhir hari ini sebelum matahari tenggelam. Ada yang menyebutnya Pulau Gosong, ada pula yang menyebutnya Pulau Gusung. Namun yang dimaksud adalah sama-sama sebuah pulau kecil tidak berpenghuni yang hanya ada ketika air laut sedang surut. Masyarakat di sekitar Kepulauan Derawan sendiri menyebutnya dengan Pulau Gusung. Oh ya, sewaktu kapal merapat ke pulau, saya melompat turun dari kapal dan kaki saya kena besi kapal. Jadi aja biru memar sampai seminggu. Huaa, bawa oleh-oleh memar ke Jakarta.
Garis pantai
Jarak dari Pulau Maratua ke Pulau Gusung lumayan dekat. Saya tidak terlalu mengingat berapa lama saya jumping jumping and bumping bumping di kapal motor, menandakan kalau jarak antara dua pulau ini dekat, hahaha (parameter macam apa itu). Pulau dadakan ini biasanya hanya berupa tumpukan pasir putih yang tidak terlalu luas dengan air sebening kristal yang membuatnya selalu menjadi persinggahan untuk berfoto. 
Ramai
Kami tiba di Pulau ini sekitar jam 4 sore. Air laut hampir pasang dan pulau ini mulai agak tenggelam. Tapi kita tetap masih bisa sekedar berfoto atau menikmati hamparan pasir putih yang indah, bak permadani. Air laut disini sebening kristal yang bergradasikan toska dengan langit biru membuat siapa saja betah untuk berlama-untuk berada di pulau ini tanpa memperdulikan teriknya sinar matahari. Memang ketika disini itu sangat terik dan menyilaukan mata. Mana saya tinggal kacamata di penginapan lagi. Jadinya saya agak susah berfoto menghadap ke matahari. 
Main air
Menikmati pantai
Chit chat
Efek sinar matahari sesilau ini tentu saja bisa membuat kulit yang makin menghitam bahkan sampai gosong. Tak ada pohon untuk berlindung dari teriknya sengatan matahari. Mungkin ini salah satu penyebab pulau kecil ini dinamakan Pulau Gosong. Walaupun membuat gosong, tetap saja keindahannya menghipnotis pengunjung untuk berlama-lama tanpa memperdulikan kulit yang makin eksotis.
Foto bayangan
Berfoto bersama
Visit Derawan
Di Kepulaun Derawan sendiri kita bisa temukan Pulau Gosong ini di beberapa lokasi, biasanya tempat ini dijadikan lokasi persinggahan terakhir setelah mengunjungi pulau-pulau lain seperti Pulau Maratua, Pulau Kakaban, dan Pulau Sangalaki. Waktu di sore hari sengaja diambil untuk mengurangi panasnya matahari. Tapi kami nggak berlama-lama disini. Setelah satu jam, kami langsung kembali ke Pulau Derawan. Rencananya sih mau mengejar sunset (matahari terbenam).
Foto Bareng
Baiklah, postingannya akan saya lanjutkan lagi nanti ya :)

Sumber : 

April 18, 2016

Paradise Under Maratua Island

Hi, udah agak lama nggak nulis blog nih. Sebenarnya postingan tentang Derawan masih ada beberapa. Tapi karena fotonya masih di kamera teman saya, jadi terhambat terus kalau mau posting. Akhirnya sekarang saya putuskan untuk memposting blog dulu, walaupun nanti foto lengkapnya bakalan menyusul. Sabar ya teman-teman... Mana antrian posting udah panjang lagi nih. Huff!

Melanjutkan Island hopping di Kepulauan Derawan. Selanjutnya kami merapat ke Pulau Maratua. Jarak dari Pulau Kakaban ke Pulau Maratua tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar 30 menitan. Pulau Maratua berada di posisi terluar Indonesia, yaitu di Laut Sulawesi yang berbatasan dengan negara Malaysia dan Filipina. Secara administrasif, pulau Maratua merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur yang baru dibentuk pada 2003. Karena keindahannya, pulau cantik ini disebut sebagai pulau surga (Paradise Island).
Subhanallah indah
Sewaktu kapal merapat di Pulau ini, saya sebenarnya udah capek berenang. Udah nggak begitu semangat lagi. Mana waktu itu juga kondisi badan agak kurang sehat. Ini spot ketiga untuk snorkeling dan saya waktu itu sudah nggak begitu in mood. Tapi masa' mau melewatkan Pulau yang satu ini hanya karena udah capek? Ya udahlah, akhirnya turun juga ke air. Saya mulai berenang pelan-pelan ke tengah.

Kepulauan Derawan merupakan kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) dan di Pulau Maratua sendiri berdiam potensi wisata bahari yang telah popular di dunia. Pulau yang luas wilayah daratannya sekira 384,36 km persegi dan wilayah perairan seluas 3.735,18 km persegi tersebut memiliki bentang alam tropis yang indah, hutan bakau, padang lamun, dan lainnya. Pulau cantik ini juga memiliki garis pantai yang eksotis berpasir putih bersih.
Panassss sekalii
Sewaktu saya mulai masuk ke bagian pinggir laut yang agak dalam, saya takjub melihat keindahan bawah lautnya. Ikannya banyak bangetttttttttttttttttttt! Mana terumbu karangnya berwarna-warni cantik bangetttt!! Subhanallah indahnya. Saya langsung melepas kancing life vest dan masuk lebih dalam ke laut untuk melihat ikan lebih banyak lagi. Saya juga melihat ikan-ikan berwarna biru mengeliling teman saya Kakros dan itu merupakan pemandangan indah banget. Memang sih saya jadi sering nyembul ke permukaan untuk menarik napas karena berenang dengan memegang life vest saja ternyata capek banget. Mana teman-teman saya kalau uda capek malah bertumpu di life vest saya dan tambah tenggelam-lah kami bertiga, hahaha.

Garis pantai Maratua merupakan salah satu lokasi bertelur penyu hijau yang paling besar di Indonesia. Sementara di taman bawah lautnya, tersimpan keanekaragaman hayati laut yang tinggi, yaitu beragam jenis terumbu karang penuh warna, beragam jenis ikan, penyu hijau, pari manta, dan biota laut lainnya. Terdapat sekitar 21 titik penyelaman di sekitar Pulau Maratua yang apabila terlihat di peta bentuknya serupa huruf “U” namun dengan posisi nyaris terbalik. Dengan segala kekayaan dan keindahannya tidaklah mengherankan apabila Pulau Maratua disebut-sebut sebagai Paradise Island. Dari semua pulau tempat kami snorkeling, Pulau Maratua-lah yang paling indah menurut saya. Bahkan dari semua tempat di Indonesia yang saya pernah snorkeling.
Salah satu foto, tapi kurang bagus.
Saya sempat menyembul ke permukaan lagi dan mencari teman yang bawa kamera GoPro. Untung aja dia berhasil merekam keanekaragaman dan keindahan bawah laut Pulau Maratua. Selagi dia merekam, saya sibuk bermain dengan ikan dan mencoba menyentuh terumbu karang yang lucu. Saya melihat ada kerang dengan cangkang berwarna biru, ikan-ikan berwarna-warni di antara terumbu karang, ahhh cantik sekali! Karena udah kecapekan berenang, akhirnya saya mengancing life vest agar tetap menyembul ke permukaan. Tapi sebenarnya masih ingin berenang di dalam laut. 
Ayo jelajah lagi
Berbeda dengan Pulau Kakaban yang tak berpenghuni, Pulau Maratua dihuni sekira 3.168 jiwa. Sebagian besar penduduk yang bermukim di Maratua adalah suku Bajo yang mata pencaharian utamanya sebagai nelayan. Penduduk Maratua terbagi dalam empat kampung, yaitu Kampung Tanjung Harapan atau Bohebukut, Teluk Alulu, Bohesilian, dan Payung Payung. Pusat pemerintahan Kecamatan Maratua terpusat di Kampung Teluk Harapan atau Bohebukut.

Nggak terasa sudah 1 jam kami berenang di Pulau Maratua. Saya lihat teman-teman tour udah nggak ada lagi yang berenang. Mungkin mereka sudah kelelahan juga. Akhirnya kami semua balik lagi ke kapal dan melanjutkan ke Pulau Gusung. Nanti saya akan mengupload foto-foto keindahan bawah laut Pulau Maratua ya. Sampai jumpa.

April 10, 2016

Stingless Jellyfish at Kakaban Island

Setelah puas bermain bersama penyu, berfoto, dan snorkeling di Pulau Sangalaki, selanjutnya kita akan mengunjungi Pulau Kakaban. Pulau ini mempunyai luas 774,2 hektar dan terletak di Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dengan mengendarai kapal motor, kalau nggak salah jarak tempuhnya sekitar 30-45 menit jumping jumping and bumping-bumping menerjang ombak. Ah, kebayang 'kan betapa pusingnya kepala saya.
Pulau Kakaban
Jembatan sempit
Dari atas jembatan
Sampai di Pulau Kakaban, saya harus naik tangga, lalu melintas diatas jembatan dengan lebar hanya 1 meter. Agak seram sih, tapi pemandangan di sekitar sangat indah. Sebelum melanjutkan menyelam bersama ubur-ubur, kami semua makan siang dulu. Udah lapar juga karena terlalu lelah berenang di Pulau Sangalaki dengan arus yang lumayan kencang. Kami mencari tempat duduk di bawah pohon, lalu nasi kotak pun dibagikan. Menu makanan siang itu sederhana saja, dengan ikan, cumi, sayur, dan sambal. Tapi saya menikmatinya dengan sangat lahap. Ya mungkin karena capek. Nggak usah risau mencari kobokan atau wastafel, cuci tangan bisa langsung ke laut kok, hihihi.
Makan siang
Pose bersama
Pulau Kakaban menarik perhatian turis-turis mancanegara dengan beberapa keunikannya, salah satunya adanya danau di pulau tersebut yaitu Danau Kakaban yang terbentuk oleh campuran dari air hujan dan rembesan air laut dari pori-pori tanah dan membuat suatu habitat endemik yang berbeda pada kebanyakan kawasan danau lain di dunia. Kami harus menaiki beberapa anak tangga, melintasi jembatan, baru akhirnya menemukan danaunya. Di danau ini terdapat jenis ubur-ubur yang tidak menyengat (stingless jellyfish). Diperkirakan ribuan tahun yang lalu ubur-ubur tersebut terperangkap dan berevolusi untuk dapat berfotosintesis dimana hampir tidak ada hewan lain mampu melakukannya.
Danau Kakaban
Kalian bisa berenang di danau bersama ubur-ubur tanpa perlu takut iritasi akibat disengat hewan ini. Tapi, jangan senang dulu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berenang di sini.
  • Pertama, kalian nggak boleh menyebur dengan melompat ke danau. Wisatawan yang datang harus turun dengan melewati anak tangga yang telah disediakan. Tujuannya agar air tidak menjadi keruh dan tidak merobek tubuh ubur-ubur yang berada di sana.
  • Kedua, kalian boleh memegang ubur-ubur tapi jangan mengangkat terlalu tinggi atau bahkan keluar dari air. Hal ini tentu untuk mencegah ubur-ubur mati.
  • Ketiga, kalian dilarang menggunakan fin (kaki bebek) bila snorkeling di Kakaban. Lagi-lagi alasannya tentu demi kelestarian ubur-ubur. Kan kasihan ubur-uburnya kalau kena fin bisa sobek badannya.
Senyum dulu sebelum snorkeling
The squad
Ada empat jenis ubur-ubur di danau Kakaban antara lain ubur-ubur bulan, ubur-ubur totol, ubur-ubur kotak, dan ubur-ubur terbalik. Yang disebut terakhir adalah yang paling unik karena ubur-ubur ini berada di dasar danau dengan tentakel menghadap ke atas. Aneh dan unik ya, karena biasanya ubur-ubur berada di atas dengan tentakel menghadap ke bawah. Oh ya, kalau mau menikmati ubur-ubur yang populasinya banyak, berenanglah agak ke tengah danau. Karena kalau di pinggir danau banyak orang, jadi mereka mungkin merasa terusik. Saya sempat snorkeling lebih dalam dan melihat ubur-uburnya banyaaak bangett di bawah. Subhanallah indah!
Yes dapat!
Pose dulu
Selain Danau Kakaban, ada satu lagi danau dengan air payau yaitu di Kepulauan Palau, Mikronesia. Palau hanya memiliki 2 jenis ubur-ubur saja. Artinya, Danau Kakaban lebih keren. Tapi tadi saya menonton My Trip My Adventure, kalau di Pulau Kadidiri, Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, terdapat Danau Ubur-Ubur juga. Mungkin orang-orang lebih mengenal Danau Kakaban sebagai habitat ubur-ubur tanpa sengat setelah Palau, di Samudera Pasifik. Ternyata Indonesia memiliki 3 titik habitat ubur-ubur tanpa sengat, yaitu Derawan, Togean, dan Raja Ampat. Katanya sih, populasi terbesar itu memang cuma ada di Indonesia. Dan, tentu saja, kebanyakan orang lebih mengenal danau ubur-ubur di Kakaban, Derawan, ketimbang di Togean. Insya Allah suatu hari bisa kesana.
Jangan dikeluarkan dari air ya
Ubur-ubur terbalik
Diantara ubur-ubur
Disamping danau Kakaban juga terdapat Kehe Daeng yang artinya Lobang Ikan, tapi saya nggak kesana. Disaat air laut surut, Goa sempit yang semula terendam akan muncul di permukaan sehingga terumbu yang berwarna warni serta serta bintang laut dapat dengan mudah disentuh. Cantik banget ya? Duh nyesal nggak kesana, hiks...

Baiklah, selanjutnya kita ke Pulau Maratua. Menurut saya Pulau Maratua yang paling indah, diantara pulau-pulau lainnya. Mau tau? Stay tuned!

Sumber :

Iklan

Iklan