Agustus 20, 2014

Dusun Bambu Lembang

Melanjutkan jalan-jalan saya di Bandung weekend kemarin. Udah lama banget pengen ke Dusun Bambu. Apalagi setelah melihat instagram Pak Ridwal Kamil dan Dian Pelangi yang pernah kemari. Jadi penasaran banget dan mumpung lagi ke Bandung, main kesini deh. 
Ignore the woman
Dusun Bambu ini berada di Kampung Cijanggel Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Letaknya tak jauh dari tempat wisata alam Curug Cimahi, tapi jauh banget dari pusat kota. Perjalanan saya dari rumah sepupu di Buah Batu ke Dusun Bambu tanpa macet aja sekitar satu jam. Mana harus melewati Parongpong yang jalanannya agak rusak dan terus menanjak. Kasian teman saya yang nyetir dan kasian mobilnya juga, hahaha. Saya sih tinggal duduk manis menikmati bunga-bunga di sekitar jalan Parongpong.

Sesampai di pintu masuk Dusun Bambu terlihat ada antrian kendaraan. Ternyata parkiran atas udah penuh, jadi semua mobil diarahkan ke bawah. Untuk tiket masuk perorang Rp. 10,000 dan permobil Rp. 10,000. Jadi, karena kita bertiga dalam mobil bayarnya Rp. 40,000. Lapangan parkirnya lumayan luas, tapi kalau mau naik ke bagian atas (resto, pasar, saung) harus naik Wara-Wiri (free shuttle).
Wara-wiri
Monumen bambu
Dinamakan Dusun Bambu karena daerah ini juga tempat konservasi bambu. Kalian bisa melihat bermacam-macam bambu dari seluruh Indonesia. Saya melihat Bambu Bali yang warnanya hitam seperti tebu. Ada juga beberapa bambu unik lainnya. Sudah seperti museumnya bambu deh. Kita juga akan disuguhi pemandangan hamparan sawah yang luas serta saung-saung di sekitar tempat parkir. 

Di Dusun Bambu ini terdapat banyak tempat. Saya nggak mampir ke semua tempat soalnya pake sendal wedges dan nggak bawa sendal jepit. Agak susah jalan di pematang sawah dan terasiring dengan alas kaki tebal. Saya kira Dusun Bambu ini sejenis Restaurant mewah seperti Maja Hause. Tapi ternyata banyak tempat bermain dan berfoto untuk semua kalangan. Baiklah, saya akan ceritakan satu persatu.

1. Pasar Khatulistiwa
Namanya juga pasar, pengunjungnya rameeee banget deh. Disini kalian bisa menikmati jajanan pasar bermacam ragam. Mulai dari batagor, tahu gejrot, donat, sosis, kupat tahu, dan lain-lain. Bahkan kerak telor pun ada. Awalnya saya mau makan disini. Ternyata setelah berkeliling pasar, kursi untuk makan udah penuh. Mungkin karena hari minggu juga kali yah?! Mana lagi suasanana 17 Agustusan. Jadinya emang rame banget deh pengunjungnya.
Antrian voucher dan tahu gejrot
Yang bikin ribet disini adalah kita harus menukar voucher, sejenis uang kertas. Sayangnya kalau kita belanja senilai kurang dari nilai voucher, nggak ada kembaliannya. Misalnya saya beli Tahu Gejrot Rp. 12,500, dan memberikan voucher Rp. 15,000, saya nggak akan mendapatkan kembalian Rp. 2,500. Hangus aja duitnya. Nggak enak banget 'kan? Maunya pakai kartu Top up begitu yah. Jadinya nanti ada tempat Refund.
Jajanan
Untuk harga makanan menurut saya nggak murah-murah amat. Tahu Gejrot Rp. 12,500, Sosis Rp. 20rban bahkan yang gede Rp. 40rban. Trus air tebu harganya Rp. 20,000. Gila yah? Biasanya saya beli di Ciwalk cuma Rp. 7,000. 

Yang nggak enaknya lagi, jadi di dalam pasar ada sejenis warung. Kalian bisa beli minuman, kripik-kripik khas Bandung, macem-macem deh. Tapi kalian nggak boleh pakai Voucher disini. Harus pakai uang beneran. Sialnya, saya masih punya banyak voucher dan nggak bisa di belanjain. 


2. Burangrang
Kalau kalian mau merasakan kenyamanan nongkrong, ngobrol, makan enak, dan pelayanan nomor 1, Restaurant Burangrang adalah tempatnya. Karena banyak yang mau makan disini, kita harus waiting list terlebih dahulu. Enaknya disini kalau waiting list, kita wajib meninggalkan nomor handphone. Daripada menunggu di sekitar Resto, saya jalan-jalan ke Pasar Khatulistiwa untuk jajan. Sekitar setengah jam kemudian, saya di telepon Restonya untuk mengabari kalau tempat untuk saya sudah tersedia. Ya udah, tinggal jalan aja ke Resto.
Interior Resto Burangrang
Restaurant Burangrang ini memiliki dua konsep. Ada Parasmanan dan Order dari Menu. Saya duduk di bagian resto Order dari Menu. Awalnya pengen parasmanan aja karena ngeliat kokinya langsung masak di depan kita. Sayangnya Parasmanan udah full booked. Interior di dalam resto unik dan mewah. Banyak sofa dan kursi-kursi unik yang bisa menghadap langsung ke Saung Purbasari (danau buatan).
Background langsung saung Purbasari
Baiklah, saya pesan Nasi Goreng Dusun Bambu (Rp. 45,000). Rasanya enak banget lho! Bumbu nasi gorengnya berasa banget. Ntah karena udah jam 3 sore dan saya belum makan siang, jadinya saya merasa makanan saya enak banget. Ada ayam, udang gede, dan telur mata sapi untuk menemani nasi goreng. Berhubung saya lagi flu, saya pesan minuman Geulis Nyari (Rp. 30,000), gabungan dari beberapa jus seperti strawberry, nenas, jeruk, dan sebagainya. Yang uniknya lagi, piring untuk menyajikan makanan gede banget dan terbuat dari bambu juga.
Nasi Goreng Dusun Bambu dan Geulis Nyari
Teman saya memesan Bebek Goreng Dusun Bambu (Rp. 72,000). Bebeknya empuk, sambalnya enak banget, tapi porsi sambalnya sedikit. Ada lagi Ayam Penyet (Rp. 62,500), tapi saya nggak nyobain. Untuk minuman ada Bodas Nyacas (Rp. 30,000), gabungan dari beberapa jus dan sirup, lalu ada juga Orange Juice (Rp. 27,500). Harga minuman rata-rata di Resto ini 30rban dan makanan diatas 40rban. Nasi goreng Dusun Bambu termasuk murah berarti. Oh ya, untuk makanan penutup, saya pesan Pisang Goreng Saus Caramel (Rp. 25,000). Ada 3 buah pisang dan 1 scoop es krim diatasnya. Hmm, enak banget deh untuk menikmati suasana sore.
Bebek Goreng Dusun Bambu dan Bodas Nyacas
Ayam Penyet dan Orange Juice
Pisang Goreng Caramel
Kalian bisa memilih duduk di sofa, meja makan standar, atau duduk di luar menghadap ke danau. Sewaktu saya pergi kemarin, sinar matahari menyinari meja saya dan membuat kepanasan, jadinya saya pindah meja. Nah, sewaktu pindah meja yang sama sekali nggak terpapar sinar matahari, kami malah kedinginan. Mungkin karena daerah Lembang memang masih sangat dingin. Padahal saya udah pakai sweater tetap aja dinginnnnn.
Meja makan sofa
Kursi untuk duduk di balkon menghadap Saung Purbasari

3. Lutung Kasarung (Bird Nest Restaurant)
Salah satu tempat unik lainnya yang ada di Dusun Bambu adalah Resto dalam sangkar. Sebenarnya saya pengen makan disini, tapi waiting listnya kelamaan. Kalian harus membayar sewa tempat perjam Rp. 100,000 untuk nongkrong di tempat ini. Untuk menikmati suasana sangkar burung sebenarnya harga segitu nggak terlalu mahal karena kalian bisa masuk berdelapan orang kedalam sangkar.
Bird Nest
Gaya dulu
Menu yang ditawarkan untuk Resto Sangkar ini adalah makanan Sunda seperti soto, ayam penyet, dan lain-lain. Nggak terlalu banyak menunya dan harganya sekitar Rp. 40rban, makanya saya memutuskan untuk makan di Burangrang aja. Di Lutung Kasarung ini saya cuma berfoto disepanjang jalan ke sarang burung. Banyak banget juga orang yang berfoto disini.

4. Saung Purbasari
Salah satu restaurant lainnya adalah Saung Purbasari yang terdapat di pinggir danau buatan. Kapasitas di dalam saung 6-12 orang, lebih besar dari Lutung Kasarung. Sewaktu saya kesana, tempat ini penuh juga. Aahh, semua tempat penuh deh. Sebenarnya nggak ada yang terlalu spesial di Saung ini. Memang sih lebih private, bisa sekalian tidur-tiduran di saung. 
Saung Purbasari
Untuk mengitari danau, ada fasilitas Sampan Sangkuriang yang gratis. Kemarin itu di tengah danau ada pertunjukan angklung yang suaranya menggelegar sampai ke Resto Burangrang. Orang-orang bisa duduk di terasiring atau dibawah payung-payung untuk menikmati pertunjukan angklung. Sangat tradisional tapi saya sangat menikmatinya. Mungkin karena saya anak kampung kali yah, jadi saya suka yang serba tradisional. Jadi pengen buat seperti ini di belakang rumah, mumpung ada sawah terhampar.
Terasiring dan payung-payung
Sebenarnya masih banyak tempat seru lainnya di Dusun Bambu ini. Berhubung saya nggak mau kemaleman karena harus balik ke Jakarta, jadinya sekitar jam enam sore, saya pulang. Anehnya ketika pulang, waktu tempuh terasa lebih cepat. Nggak sampai 30 menit, saya dan teman-teman sudah sampai di Dago. Mungkin karena jalan pulang ini menurun kali ya, jadinya lebih cepat.

Baiklah, sekian review dari saya. Dusun Bambu ini bisa menjadi tujuan wisata baru di Bandung. Selamat mencoba ^_^

Agustus 18, 2014

Kopi Progo

Weekend kemarin saya main lagi ke Bandung. Akhirrnyaaaaa.... setelah 10 bulan nggak ke kota yang bisa disebut rumah kedua (setelah Aceh) bagi saya. Kangen banget suasana Bandung. Alhamdulillah pas kesana kemarin nggak macet sama sekali. Kemana-mana enak, jalanan pada kosong. Mungkin karena baru arus balik mudik Lebaran, jadinya orang-orang nggak main dulu kali yah ke Bandung. Ternyata walaupun saya sudah menghabiskan 4 tahun di Bandung, sekarang saya mulai agak lupa jalan. Mungkin karena dulu mahasiswa langganan angkot kali ya?!

Kemarin saya ke Bandung dalam rangka menghadiri salah satu pernikahan teman dekat saya, Erick Felix. Pesta pernikahannya keren banget. Baru kali ini saya datang ke nikahan dengan konsep yang unik. Ada video, dancers, macem-macem deh acaranya. Pasti mahal tuh! Sebenarnya saya sangat suka menghadiri pernikahan mewah. Sekalian berdoa supaya bisa membuat pesta semewah itu suatu hari, aminnn!

Baiklah, sesuai dengan judul. Kali ini saya mau me-review salah satu Cafe di Bandung bernama Kopi Progo. Alamatnya di Jl. Progo no. 22 Bandung Telp. 4203820, belakangnya Jonas Photo kalau kalian bingung. Ada juga cabangnya di Jl. Sumatera No.20 Bandung, Telp. 4213568. Sejak kuliah dulu, pengen banget nyobain nongkrong disini, cuma belum kesampaian. Mungkin karena anak kuliah sering bokek kali yah, hahahaha.

Sekalian killing time sebelum ke pesta pernikahan Erick Felix, kami nongkrong disini. Ntah karena weekend juga kali yah, jadi pengunjungnya rameeee bangett. Rata-rata mahasiswa yang nebeng wifi gratisan juga disini. Lagian, daripada ber-wifi ria di Starbucks yang harga minumannya mahal untuk kantong mahasiswa, emang mendingan nongkrong disini.
Suasana Cafe rame banget
Menurut saya harga minuman di Cafe ini murah. Range harga hanya sekitar Rp. 15,000 sampai Rp. 22,000. Murah kan? Minumannya juga enak, hampir semua minumanan ada float diatasnya. Saya pesan Chocolate Caramel Rp. 21,500. Teman saya pesan Karleta dan satu lagi lupa namanya. Di daftar harga saya nggak menemukan Karleta, jadi saya langsung nunjuk foto minumannya aja di buku menu.
Karleta (pink), Chocolate Caramel, dan satu lagi lupa
Saya nggak nyobain makanannya disini. Kebanyakan sih makanan western seperti pancake, sandwich, dan lainnya. Harganya juga murah. Paling mahal Rp. 35,000 doang. Roti bakar cuma Rp. 15,000. Seneng banget ngeliat harganya karena murah. Berhubung mau ngosongin perut karena mau ke nikahan, jadi nggak nyicip deh. Cafe ini cocok kok buat nongkrong menghabiskan waktu ngumpul bersama teman. Internetnya juga kenceng. Saya mengupdate semua aplikasi di handphone disini, hihihihi. Cuma kalau kalian pengen suasana tenang dan romantis, tempat ini kurang saya rekomendasikan sih. Karena banyak banget mahasiswa ngobrol keras-keras dan ketawa-ketiwi.

Selamat mencoba ^_^

Agustus 13, 2014

Bulan Terbelah di Langit Amerika

Udah agak lama saya nggak posting blog. Kali ini saya mau meresensi sebuah buku yang telah selesai saya baca bulan puasa kemarin, tepatnya ketika di dalam pesawat pulang ke Aceh. Buku ini saya beli karena Gramedia lagi diskon pakai kartu kredit waktu itu. Pengarangnya adalah Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, sepasang suami istri yang telah keliling dunia untuk menemukan jejak islam.

Mungkin kalian pernah membaca buku 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya yang menceritakan pengalaman Hanum dan Rangga di Eropa. Kali ini mereka menuju benua Amerika untuk melaksanakan tugas. Sejak bekerja di sebuah surat kabar Austria, yang bernama “Heute ist Wunderbar”, Today Is Wonderful". Hanum terus diberikan tugas untuk meliput kabar yang luar biasa. Kali ini, Gertrud Robinson, bos Hanum, menantangnya untuk menulis artikel  berjudul “Would the world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”. Bagi Hanum, hal itu adalah sebuah tugas yang menyakiti hatinya dan pekerjaan yang sangat besar. Ia harus membuktikan bahwa dunia dan islam adalah dua hal yang tak terpisahkan. Bagi Gertrud Robinson, Hanum adalah orang yang tepat untuk menjelaskannya, sebab ia muslim. Karena kalau saja Jacob (wartawan lain) yang menuliskan artikel itu, sudah pasti Jacob akan menjawab 'Ya'.

Hanum dan Rangga akhirnya terbang ke Amerika secara bersama-sama, namun mereka memiliki misi yang berbeda. Berbeda dengan Hanum, Rangga pergi untuk menghadiri Konferensi Ilmiah yang ternyata pada akhirnya mempertemukan mereka pada Philipus Brown, seorang pengusaha dermawan (selalu memberikan bantuan kepada negara-negara bertikai seperti Pakistan dan Irak) yang juga merupakan korban Black Tuesday 9/11. Seolah kejadian demi kejadian merupakan kebetulan, tapi semua tokoh yang ditemui Rangga dan Hanum menguak fakta sebenarnya tentang peristiwa 9/11. Semua rentetan cerita, berkumpul jadi satu dan membentuk sebuah fakta bahwa Amerika dan islam adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Buku ini juga menceritakan sejarah mengenai hubungan Islam dan Amerika, seperti potongan surat An-Nisa yang tertulis di salah satu pintu gerbang fakultas Hukum Harvard USA. Oh ya, novel ini juga mengungkapkan fakta bahwa Christophorus Colombus sebenarnya bukan penemu benua Amerika. Sekitar 300 ratusan tahun sebelum Colombus datang ke Amerika, penghuni pertama benua ini adalah orang Indian, orang-orang bertubuh tegap berbalut jubah, berhidung mancung, dan berkulit merah. Hal yang mengejutkan lagi adalah ketika mengetahui bahwa dalam jurnal pelayarannya Colombus, ia melihat adanya kubah masjid yang indah di Selat Gibara. Hal itu menjadi bukti bahwa islam hadir di Amerika jauh sebelum Colombus datang.

Salah satu yang membuat saya menangis ketika membaca buku ini di pesawat yaitu cerita tentang detik-detik ketika suami Azima, Ibrahim Husein, yang tewas dalam peristiwa mengerikan pagi itu mencoba menyelamatkan Philipus Brown. Seolah kejadian demi kejadian di novel ini tergambar jelas di pikiran saya, sampai nangis dan nggak tidur di pesawat. Sempat malu juga sama penumpang yang duduk di kiri dan kanan saya karena saya menangis, tapi sekali-kali saya tutup wajah saya dengan jilbab biar nggak begitu kelihatan.

Novel ini cocok untuk dibaca oleh semua masyarakat, mau muslim atau nonmuslim, agar kita tau Muslim is Not a Terrorist. Pembaca akan paham bahwa dunia dan islam adalah dua hal yang tak terpisahkan. Dunia tanpa islam adalah dunia tanpa kedamaian.

Agustus 06, 2014

Keunikan Aceh Part 2 : Lisa Salon

Salah satu keunikan lainnya yang saya ketemu di Aceh adalah sebuah Salon. Sewaktu di Jakarta, saya kesulitan 'nyari salon untuk potong rambut karena rata-rata pasti campur sama cowok. Biasanya saya maen ke Bandung, baru deh potong rambut. Berhubung udah hampir setahun nggak ke Bandung, terakhir bulan Oktober tahun lalu dan cuma creambath doang, jadi bisa dibayangin betapa panjangnya rambut saya.

Saya udah niatkan mau potong rambut di Matang Glumpang Dua, Aceh, nama kota tempat tinggal saya. Adik saya mengajak ke salon bernama Lisa Salon di pasar. Papan nama toko sangat minimalis. Sepertinya tulisan 'Lisa Salon'nya ditulis sendiri dengan kuas cat. Nggak perlu papan nama toko yang keren, tapi pengunjung salonnya selalu rame.


Ketika saya datang, saya mengintip kedalam dan melihat beberapa pengunjung. Saya kira semua pengunjung mau potong rambut, tapi ternyata ada juga yang cuma mengantar. Kata adik saya, "Nggak apa-apa tunggu aja. Dia motongnya cepet kok." Kalau nggak salah saya mendapatkan antrian kelima untuk potong rambut. Saya berpikir kalau satu orang 20-30 menit, berarti 2 jam lagi baru kelar. Saya hanya bisa pasrah menunggu karena males untuk kembali keesokan harinya.

10 menit kemudian, saya lihat sudah 2 orang beres dipotong rambutnya. Kok cepet banget? Dan potongannya rapi. Saya heran, kok bisa yah? Dia lebih jago daripada hair stylist yang ada di Salon Jakarta. 30 menit kemudian, tibalah giliran saya. Keren ya, dia bisa memangkas rambut 5 orang dalam waktu 30 menit. Awalnya rambut saya beberapa kali disemprot air. Lalu dia mengambil rambut saya semuanya dalam genggamannya dan KREK! KREK! Saya syok! Dia potong rambut saya sekalian semuanya. Saya mengkode adik saya, apa potongannya rapi apa nggak? Adik saya bilang rapi.

Nggak sampai 5 menit, rambut saya selesai dipotong. Saya periksa ulang di cermin dan ternyata emang rapi. Tarifnya hanya Rp. 15,000 saja. Wah, senang banget dong saya. Udah rapi, cepat, dan murah. Jadi promosi begini, hihihihi. Lain kali saya potong rambut disini lagi deh, hahahaha.

Saya lagi minta foto papan nama toko Lisa Salon itu tapi belum dikirimin. Kalau udah dikirim, nanti saya update lagi ya :)

Agustus 03, 2014

Keunikan Aceh Part 1 : Apa Soi

Baru sembuh rasa capek setelah pulang mudik. Jadi baru bisa nulis blog lagi. Mumpung masih suasana lebaran, saya mohon maaf karena jarang update blog. Kalau ada pertanyaan yang kalian tinggalkan di blog saya, pasti akan saya balas. Cuma kalau mau posting blog 'kan harus lebih konsentrasi dan lebih menyita waktu, jadinya belum sempat terus. Saya akan mencoba blogwalking lagi untuk menebus kesalahan saya, hihihi. Kali ini saya akan memposting beberapa keunikan di Aceh yang saya temui ketika saya mudik kemarin. Ada beberapa hal, tapi saya urutkan berdasarkan yang menurut saya paling ingin saya ceritakan.

Postingan pertama kali adalah Apa Soi. Apaan itu Apa Soi? Sabar dulu. 'Apa' dalam bahasa Aceh artinya Paman. Jadi Apa Soi itu Paman Soi. Siapa dia? Dia itu pemilik warung Mie Aceh Apa Soi Ikue Alue yang berada di Jl. Medan - Banda Aceh (lintas Sumatera) Km. 204, Kabupaten Bireuen. Jadi kalau kalian suatu hari main ke Aceh Utara, warung ini berada antara kota Jeunieb dan Bireuen. Main ke Aceh makanya, biar saya anterin ke warung ini, hahaha.
Plang nama toko
Apa sih keunikan warung mie Apa Soi? Warung mie Aceh yang satu ini adalah salah satu warung mie Aceh paling rameeeeee. Kalau rame pasti enak 'kan ya? Nah, 2 tahun lalu, saya mampir ke warung ini tapi penuh nggak ada tempat. Trus mau pesan untuk bawa pulang. Saya langsung pesan ke kokinya si Apa Soi, tapi dia diam aja. Pikir saya, mungkin lagi ribet. Ya udah kami sekeluarga nggak jadi makan disitu dan pulang.

Pas lebaran tahun lalu, warung Apa Soi ini masih rameeee banget juga. Saya mau pesan lagi, paling nggak waiting list deh. Cuma karena warung di kampung, mana ada waiting list. Jadinya saya bilang ke Apa Soi (lagi) mau pesan. Eh dia nggak jawab juga. Papa saya nanya, "kok dia nggak mau jawab ya?" Trus ada istrinya jawab, "Jangankan sama bapak, pertanyaan saya aja nggak akan dia jawab karena dia nggak mau racikan bumbu mie Acehnya ada yang kurang. Harus konsentrasi." Saya dan keluarga kaget. Oh, makanya dia konsen banget sama wajan mie yang lagi dia aduk-aduk. Hihihihi.
Apa Soi lagi nggak masak jadi ngobrol
Sebenarnya sih saya bisa aja mencari warung mie yang lain karena di Aceh 'kan warung mie Aceh ada dimana-mana. Cuma tahun ini, lantaran 'masih penasaran' sama si Apa Soi, ya udah balik lagi. Pas sewaktu saya mau terbang ke Jakarta dan diantar oleh keluarga ke Banda Aceh, warung Apa Soi belum buka. Nah pas keluarga saya udah pulang, mereka mampir ke warung Apa Soi dan BERHASIL mencicipinya. Sayangnya, saya nggak ada disitu. Tapi testimoni keluarga saya yang harusnya rasa lidah kami sama, mie Aceh ini ternyata emang Subhanallah enak banget. Nggak rugi si Apa Soi sangat khusyuk dalam memasak mie.
Mie udang dan es kelapa muda
Untuk harganya, Mie Udang Rp. 20,000. Mie Biasa Rp. 7,000. Kepiting Rp. 17,000 per ons, jadi kalau pesan kepiting 1 ons (100 gr) tambah mie Rp. 7,000,- jadi total harganya Rp. 24,000. Minuman es kelapa muda 1 buah hanya Rp. 6,000 saja. Lumayan murah ya? Cuma untuk berhasil mencicipi masakan beliau, kalian harus rela mengantri. Apalagi saya udah ngantri di tahun ketiga. Hihihi. Suasana warung makannya pun adem karena tepat berada di bawah pohon rindang dan kiri kanannya adalah sawah. Pokoknya asik banget deh disini.

Selamat menikmati :)

Juli 26, 2014

Indonesia di Akhir Ramadhan

Hai teman-teman, apa kabar? Rasanya udah agak lama baru posting blog lagi. Berhubung kalau udah mudik ke kampung halaman itu kerjaannya banyak banget dan menumpuk. Mulai dari beres-beres, bersih-bersih, masak-masak, pokoknya semua kerjaan rumah tangga yang udah hampir nggak pernah saya lakukan selama di Jakarta itu harus dikerjakan. Capek sih, badan keringetan terus, tapi senang aja tuh. Mana di Aceh buka puasa lama banget, jarang tidur siang lagi, jadi terasa banget hausnya. Biasanya untuk mempercepat buka puasa tuh saya tidur siang. Nah, kalau di Aceh, agak susah tidur siang. Panas banget cuacanya. AC di kamar kurang nendang jadinya. Alhamdulillah semalem sempat hujan, walaupun bukan hujan sih itu namanya. Lebih tepatnya Thunderstorm! Hujan disertai angin hebat dan badai. Sampai-sampai seluruh dapur dan kamar belakang basah diterpa hujan.

Baiklah, selesai basa-basinya. Sebenarnya saya mau memposting tentang apa yang saya lihat dan rasakan selama bulan puasa di social media. Mungkin bukan saya saja yang merasakan hal ini, tapi seluruh warga negara Indonesia. Duh, rasanya bener-bener males banget deh buka facebook, path, dan twitter. Untungnya instagram nggak sebegitunya. Saya akan bahas satu-demi satu per paragraf supaya saya bisa mengingat kejadian ini seumur hidup.

Pertama, masalah Pemilu Presiden. Ntah kenapa, pilpres kali ini dipenuhi oleh orang-orang yang suka memposting link ke Facebook. Ntah itu black campaign, atau berita benar pun jadinya memenuhi news feed di Facebook. Awalnya saya merasa nggak masalah, selama yang diposting itu adalah berita yang jelas sumbernya. Paling nggak portal berita yang menjadi acuan link tersebut masih benar. Nah, yang bikin sangat menyebalkan adalah orang-orang yang semakin hari malah memposting keburukan salah satu pasangan calon. Captionnya juga kadang nggak pantas ditulis oleh seseorang yang mengenyam pendidikan di luar negri. Apa dia segitu nggak ada kerjaannya kali ya? Jadi tiap hari cuma mencari kesalahan capres yang tidak di jagokannya. Semuanyaaaa di posting dan saya sampai meng-unfollow banyak banget teman di Facebook. Bukan itu aja, komentar-komentar yang ditulis pun saya rasa kurang pantas dan agak sok tau. Masya Allah, pusing banget deh saya dengan masalah ini. Jadi curhat!

Kedua, piala dunia. Kalau event yang satu ini masih lumayan terkendali menurut saya. Cuma ada hal agak aneh, giliran setelah final dan Jerman menang melawan Argentina, wah jadi berantem deh. Lagi-lagi berantemnya di Facebook. Jelek-jelekin Messi lah, walaupun saya kurang tau juga siapa itu Messi. Bahkan stasiun tv yang menayangkannya juga jadi di jelek-jelekin. Apa hubungannya coba?

Ketiga, Quickcount. Balik lagi ke permasalahan pilpres. Setelah pemilu beres, beberapa hasil hitung cepat mulai ditayangkan di stasiun tv. Yang anehnya, stasiun tv yang mendukung pasangan calon pasti menang di stasiun tv tersebut. Saya jadi bingung mau nonton berita di tv mana. Trus dari Quickcount, muncullah Realcount? What's different? Sama-sama counting 'kan ya? Dan mulailah orang-orang pada berantem lagi di media social. Bahkan update status di BBM pun penuh dengan hasil hitung itu. 

Keempat, Gaza. Wah, hal ini bikin kacau balau juga. Mayoritas umat muslim di Indonesia pasti akan membela Palestina. Selain karena saudara sesama muslim, memang Palestina juga dari dulu perang terus. Mari melihat dari satu sisi. Mungkin masyarakat Indonesia memang hebat mau mengulurkan bantuan kemanusiaan ke jalur Gaza. Tapi dalam bulan Ramadhan ini, mengeluarkan kata-kata kotor memaki Israel yang notabene Israel aja nggak baca tulisan kata-kata kotor kalian itu hanya akan mengurangi pahala di bulan Ramadhan. Lebih baik menyumbang dana, atau paling nggak berdoa di rumah masing-masing daripada harus memaki-maki aneh-aneh. Haduwh! Mana ada komentar yang mempertanyakan negara-negara Arab lainnya apakah ikut membantu apa nggak? Sekalipun mereka membantu, emangnya harus bilang sama kita? Saya juga nggak setuju sama perang, apalagi yang mengorbankan wanita dan anak-anak. Tapi perang nggak harus dibalas perang. Masih banyak cara yang lebih manusiawi seperti mengadakan perundingan.

Kelima, ulama kita Quraish Shihab. Saya heran sama orang-orang yang menjelek-jelekkan beliau. Padahal menonton tayangan Tafsir Al-Misbah aja setengah-setengah. Lalu memposting penggalan video dengan tidak lengkap. Kalian tau? Beliau itu ulama dengan predikat summa-cumlaude. Sekalipun kalian mengejek-ngejek beliau, kalian tetap hanya akan dianggap angin lalu. Beliau segitu hebatnya bisa menafsirkan Al-Qur'an. Bukunya sudah terlalu banyak beredar di masyarakat dalam dan luar negri. Paling-paling yang banyak omong dan memaki beliau itu hafalan juz amma saja masih sedikit. Kenapa tidak menahan diri? Yang pasti, Quraish Shihab adalah salah satu ulama favorit saya sejak dulu. Saya suka nonton Tafsir Al-Misbah, mama saya juga punya banyak buku tulisan beliau.

Keenam, hasil pilpres. Menurut KPU dan Bawaslu, presiden terpilih adalah Pak Jokowi. Buat yang bukan pendukung beliau, mulai deh mencari-cari kesalahan dan kecurangan KPU. Heran deh, emangnya nggak capek apa ya mencari kesalahan orang terus-menerus? Beberapa media juga mulai mempublikasi rancangan kabinet Pak Jokowi nanti. Yang anehnya lagi, orang-orang pada mengomentari calon mentri Agama. Emangnya ada masalah ya? Kenapa kita tidak sama-sama mendoakan yang terbaik, sama-sama mendukung, rakyat bersatu kembali. Memang sih hampir setengah Indonesia yang tidak mendukung Pak Jokowi tidak akan menerima begitu saja. Tapi mau bagaimana lagi? Daripada kalian capek, mendingan tetap bekerja seperti biasa, beribadah yang banyak, mumpung bulan Ramadhan. Paling nggak lihat lah hal positifnya, presiden terpilih di bulan Ramadhan insya Allah baik.
Presiden Indonesia
Alhasil, beginilah Ramadhan tahun ini. Penuh dengan konflik sana-sini. Ntah kenapa rakyat Indonesia kali ini agak aneh. Awal Ramadhan aja, mesjid dekat kosan agak sepi. Biasanya setiap tahun saf shalat Tarawih sampai keluar dari mesjid. Penuhhh banget! Tahun ini? Dalam mesjid aja nggak penuh. Kenapa bisa begitu? Wallahu 'alam.

Sebentar lagi Idul Fitri. Kalau memang kemarin terlanjur berbuat banyak dosa, mungkin bisa kembali mensucikan hati. Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Kalau ada salah kata, mohon di maafkan. Jangan lupa bayar zakat fitrah juga ya.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Juli 20, 2014

Farewell Kakros

Besok salah satu teman baik saya terbang ke Kanada. Hiks, sedih deh. Berhubung selama kerja di Metrodata, kita masuk agak barengan (saya masuk lebih dulu beberapa minggu), terus dapat satu projek sampai sekarang. Sebenarnya kalau dia pindah kerja ke kantor lain dan juga di Jakarta, saya sih nggak masalah. Toh kalau masih pengen maen dan ngumpul, tinggal telepon aja dan janjian mau kemana. Tapi kalau ke Kanada??? Oke, mungkin suatu hari saya harus menjadwalkan perjalanan kesana untuk sekedar backpackeran. Berapa duit ya? Hihihi. Walaupun sebenarnya saya memang suka mengunjungi teman-teman saya yang berserakan di bumi ini. Dulu maen ke Salatiga, trus Kuala Lumpur, sampai ke Osaka pun saya kunjungi untuk menemui teman-teman saya. Insya Allah nanti juga bakalan mengunjunginya di Kanada.

Oh ya, nama teman saya Ade Rosiva. Panggilannya Kakros, hihihi. Teringat dulu asal mula nama Kakros berasal dari saya salah ucap Ros, trus ditambahin sama teman saya Kakros di Upin Ipin. Jadi aja kepanggil Kakros sampai sekarang. Kita tuh kegemarannya agak sama (ngaku-ngakunya), nama mantan juga awalnya sama (Ban dan Ben), putusnya juga agak barengan, sama-sama suka jalan-jalan, dan karena dia lahir dan besar di Medan, jadinya istilah-istilah Mentel, Kates, yang biasa dipake di Sumatra masih bisa kita ucapin bareng-bareng di kantor.
Sekamar di Bali
Dieng
Masih teringat sewaktu kita jalan-jalan ke Dieng. Pertama kalinya saya jalan-jalan sama dia. Saya mengajak banyak teman saya dan jadinya temenan juga sama Kakros. Ada cowok cari perhatian Kakros disana, still remember? Bahkan dia rela berfoto dekat kawah demi mencuri perhatian Kakros, hahahaha. Ngeri bener 'kan? Masih tertunggak nih jalan-jalan ke Bromo, belum di realisasikan. Berlanjut jalan-jalan di Bali, bawa pacar masing-masing, dan perjalanan yang sangat mengasyikkan. Kali ini jalan-jalannya tipe murah mewah. Jadi benar-benar menikmati liburan. 

Sewaktu sama-sama putus juga jadi curhat-curhatan, hihihi. Kayaknya lo adalah orang yang selalu pengen gw ceritain banyak hal, apa aja. Dan juga teman yang selalu gw mintain pendapat untuk jalan-jalan. Berhubung jalan-jalan lo udah level advance. By the way, lo meninggalkan banyak cowok-cowok yang naksir nih. Gimana tuh? Hahahaha. Patah hati lah ya mereka semua.
Farewell
Oke deh, kayaknya satu postingan blog juga nggak akan cukup menceritakan pertemanan selama hampir dua tahun ini. Hiks. Kemaren juga sewaktu Farewell di Penang Bistro juga udah banyak doa dan harapan termasuk kesan-kesan dari teman-teman se-tim. Semangat yah di Kanada. Nanti kalau gw punya anak, gw kasih deh ke PAUD elo. Hahaha. Tetap kirim-kiriman email ya sama gw. Have a nice trip!

Juli 10, 2014

Pilpes Nggak Golput

Kemarin, akhirnya saya bisa juga nyoblos di Pilpres. Teringat sewaktu Pemilu Legislatif saya jadi golput karena memang nggak tau mau milih siapa. Pilihannya kebanyakan, partainya juga kebanyakan, jadi aja bingung. Nah, untuk Pilpres kali ini beda dong. Pilihannya cuma dua dan saya ingin memilih salah satu. Benar-benar berusaha memperjuangkan nggak golput dan berusaha juga agar teman-teman saya nggak golput.

Sebenarnya saya udah mendaftar jadi pemilih sejak sebulan yang lalu karena Si Mbak (pengurus kosan) udah berkoar-koar teriak siapa aja yang mau ikut Pemilu Presiden. Untungnya saat itu saya sedang masak dan mendengar suara Si Mbak, akhirnya saya menyerahkan fotokopi KTP untuk mendaftar. Nah, sayangnya beberapa anak kosan yang lain nggak mendengar teriakan Si Mbak. Jadi deh banyak yang nggak terdaftar. Lebih tepatnya, dari dua puluhan anak kos, cuma mungkin lima yang terdaftar. 

Eits tunggu dulu. Walaupun yang terdaftar cuma 5, tapi rata-rata semua terdaftar di daerah. Ada teman yang bela-belain pulang ke Bandung untuk nyoblos. Ada yang mengitari Jakarta untuk mencari TPS dimana nama dia terdaftar dan alhamdulillah tetap bisa nyoblos. Nah, yang paling sulit sebenarnya yang KTP daerah. Berbekal pengetahuan bisa nyoblos dengan bawa fotokopi KTP, jadinya beberapa teman saya ikut saya ke TPS untuk mencoba agar bisa nyoblos. Dimulai dari TPS dekat kosan yang ramenya minta ampun, tapi buat yang nggak punya formulir A5, nggak boleh nyoblos. Pokoknya hampir semua TPS nggak ngasih solusi dan bilang nggak bisa nyoblos. Kasian banget ngeliat teman-teman yang nggak bisa nyoblos dan mereka udah usaha keliling TPS supaya mungkin dapat jalan keluar.

Saya aja yang terdaftar sebagai pemilih juga agak pusing dimana TPS saya. Saya jalan ke kantor polisi Setiabudi dan bertanya dimana TPS 17. Pak polisi baik hati menunjukkan sebuah TPS di dekat warung dan ternyata TPS 16. Saya tanya ke petugas dimana TPS 17, ternyata jauh banget jalan kaki dari TPS 16. Mana panas-panasan dan puasa tapi nggak berkurang semangat untuk nyoblos. Saya juga melihat banyak orang di kelurahan Karet. Ntah ngapain deh mereka.

Sesampai di TPS 17, saya menyerahkan formulir, dan nggak sampai lima menit kemudian saya dipanggil untuk nyoblos. Alhamdulillah bisa ikut berpartisipasi dalam Pilpres kali ini. Saya senang banget. Tapi kebahagiaan saya belum lengkap tanpa tinta biru di jari teman saya. Akhirnya saya tanya ke petugas, apa bisa nyoblos pakai KTP daerah. Petugas menjawab agak ragu-ragu, jadi saya mengasumsikan kalau 'bisa'. Bertiga dengan teman saya, kita duduk di bawah pohon untuk menunggu solusi bisa nyoblos. Sampai akhirnya jam 12 siang sebelum shalat Zuhur, panitia bilang yang tidak terdaftar bisa nyoblos setelah semua orang yang terdaftar nyoblos. Saya kira mulai menemukan titik terang dan saya menyuruh teman-teman saya bersabar sedikit lagi.

Setelah shalat Zuhur, petugas menyuruh yang tidak terdaftar untuk mendaftar terlebih dahulu. Ternyata tetap butuh formulir A5 dan teman-teman saya nggak punya formulir itu. Alhamdulillah ada mbak-mbak baik hati membagikan formulir yang lebih miliknya. Dia fotokopi 3 lembar katanya dan teman saya kebagian. Beberapa orang lain disuruh fotokopi dulu sama petugas untuk yang mau nyoblos. Tidak lupa harus menyertakan fotokopi KTP juga untuk arsip mereka. Ada beberapa warga yang bilang kalau antrian di kelurahan tadi adalah antrian minta stempel untuk formulir A5. 

Saya lalu whatsapp beberapa anak kos untuk datang supaya bisa menggunakan hak pilihnya. Sayangnya waktu sebenarnya udah mepet. TPS tutup jam 1 siang dan beberapa pemilih reguler masih saja datang telat. Yang bikin sebel karena pemilih reguler dan terdaftar pasti akan didahulukan karena mereka lebih di prioritaskan. Sedangkan kami yang sudah menunggu berjam-jam tetap harus menunggu giliran. Heran juga sama pemilih reguler, dikasih waktu dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, eh baru datang jam 1 siang. Ngapain aja sih mereka? Sangat menyebalkan.

Akhirnya petugas TPS juga udah bete kali ya karena terus aja datang pemilih reguler. TPS pun ditutup. Alhamdulillah. Akhirnya dipanggillah nama pemilih yang tidak terdaftar satu-persatu untuk memberikan suaranya. Huft, nggak sia-sia menunggu berjam-jam demi bisa nyoblos. Saya melihat dua teman saya yang berhasil nyoblos dari luar TPS merasa senang banget. Ah, senang banget banget deh! Alhamdulillah. Perasaan yang agak lebay sih, cuma ntah kenapa emang kemarin tuh senang banget melihat mereka bisa nyoblos.

Saya juga baru tau ternyata formulir A5 bisa di download. Ah, seandainya anak-anak kosan pada tau, pasti mereka bisa nyoblos juga. Semoga ke depannya lebih baik sosialisasinya. Rakyat Indonesia memang sangat antusias dengan Pilpres kali ini. Setelah beres nyoblos, saatnya nyari diskon ke Plaza Semanggi. Saya dan teman-teman naik taksi dari TPS dan jalan terlihat sangat sangat lengang. Padahal udah jam 1:30 siang tapi belum terlihat banyak mobil di jalan. 

Sesampai di Semanggi, saya belanja di Centro. Beberapa produk mendapatkan diskon kalau menunjukkan jari bertinta seperti Pierre Cardin. Saya juga mendapatkan gratis es teh manis di Starbucks, dapat minyak goreng juga di Giant. Ada cerita lucu nih demi mendapatkan minyak goreng. Belanjaan saya Rp. 144,000 dan untuk dapat minyak goreng harus belanja Rp. 150,000. Karena bingung mau beli apa lagi untuk menggenapi sisa Rp. 6000, akhirnya secara acak, teman saya mengambil es krim, hihihi. Udah seperti sedang mengikuti reality show dimana harus belanja senilai Rp. 150,000.

Sebenarnya masih banyak diskon lainnya. Cuma udah kecapekan jalan-jalan keliling Semanggi dan makan banyak. Akhirnya saya pulang jam 20:30. Pokoknya kemarin adalah hari yang sangat antusias. Semoga presiden terpilih adalah yang terbaik. Aminnn!!!

Juli 08, 2014

Muhammad Al Fatih 1453

Akhirnya saya baca juga buku ini. Setelah menonton depenggal filmnya di Khalifah yang tayang di Trans 7 yang membuat saya sukses terharu dan merasa bangga. Jadi penasaran cerita lengkapnya seperti apa. Kebetulan kantor saya bersebelahan dengan Mall, jadinya langsung meluncur ke Gramedia untuk beli bukunya.

Buku ini ditulis oleh ustad Felix Y. Siauw dengan sangat lengkap. Memang hanya 314 halaman, tapi karena tulisannya kecil-kecil dan rapat, juga disertai foto dan peta, seolah-olah kalian membaca buku dengan ketebalan 600 halaman. Tapi nggak terasa lho. Karena saya menghabiskannya dalam waktu 3 hari, dalam sehari cuma sempat baca 3 jam karena harus ngantor, bangun sahur, shalat taraweh, dan berbagai kegiatan lainnya.


Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar nama Muhammad Al-Fatih, seorang sultan terbaik dan pasukan terbaik yang berhasil menaklukkan Konstantinopel, sekarang nama kotanya Istambul, Turki. Mungkin dalam catatan sejarah, penaklukan sebuah kota adalah hal biasa. Tapi yang membuat Konstantinopel menjadi sangat luar biasa adalah karena Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya. (HR. Ahmad)"

Mendengar sabda seperti itu, hampir seluruh khalifah di dunia mencoba untuk menaklukkannya. Tapi jangan salah. Kala itu, Konstantinopel adalah kota benteng yang amat sangat tangguh dan susah di tembus, belum lagi ada parit yang mengelilinginya sampai kota ini pernah mendapat julukan "The City of Perfect Defense".

Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmed) adalah anak dari Sultan Murad pada khalifah Utsmani. Sultan Murad juga pernah mengepung benteng Konstantinopel seperti para khalifah yang lain tapi tetap gagal. Beliau berdoa pada Allah agar suatu hari anak-anaknya bisa menjadi penakluk. Sayangnya dua dari anak Sultah Murad terbunuh sehingga tersisa hanya Sultan Mehmed. Kematian anaknya membuat Sultan Murad sangat terpukul sehingga memanggil Mehmed ke Edirne untuk dipersiapkan menjadi pengganti dirinya. Sejak awal, Mehmed dikelilingi oleh ulama-ulama terbaik pada zamannya dan mempelajari berbagai disipilin ilmu, baik yang berkaitan dengan Al-Qur'an, tsaqafah islam, fiqih, astronomi, metafisika, bahasa, teknik perang, dan militer. Beberapa ulama mengaku agak kesulitan mengedalikan Mehmed karena wataknya yang keras. Sampai akhirnya seorang ulama bernama Syaikh Ahmad Al-Kurani (yang berpengaruh dalam penyerapan dan penghafalan Al-Qur'an) dan Syaikh Aaq Syamsyudin (yang memberi pengaruh untuk membentuk mental penakluk) yang bisa mengajarinya. Bahkan ulama Syaikh Ahmad mendapat ijin dari Sultan Murad untuk memukul Mehmed kalau dia tidak menaati perintah sang ulama.

Yang paling membuat saya terkesan pada buku ini adalah bahwa seorang Sultan Mehmed sama sekali tidak pernah masbuq dalam shalat, tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah, shalat rawatib, dan shalat tahajjud. Bahkan untuk memastikan para tentara beliau adalah tentara yang paling bertaqwa pada Allah, beliau sengaja berjalan-jalan ke tenda-tenda prajurit untuk memastikan tidak ada prajurit yang melanggar syariat. Beliau juga menaruh 1000 orang ulama di pasukannya agar menyemangati dan mengingatkan untuk tetap berpegang teguh pada Allah. Alhasil, tentara Sultah Mehmed adalah tentara yang selalu berzikir, bahkan ketika berlatih dan menempa pedang, selalu shalat berjamaah, tidak pernah berpesta pora, tidak pernah minum khamar, dan hal tercela lainnya. Mengingat beberapa film perang yang saya tonton menunjukkan kalau sudah menang perang, minum anggur, pesta, dan tidak jarang pesta seks. Prajurit dan pemimpin yang sangat mulia.
Ilustrasi Sultan dan Pasukannya
Hal yang mencengangkan lainnya; Pertama, ide-ide Sultan yang See Beyond Eyes Can See. Sultan Mehmed ini luar biasa cerdas. Beliau memerintahkan para prajurit memindahkan kapal-kapal perang ke Selat Marmara, karena kalau dipindahkan dari jalur laut ada rantai yang membendungnya. Hal ini membuat pasukannya menguasai perairan. Juga meriam yang dibuat untuk menghancurkan benteng dengan panjang 8 meter. Agar mereka selalu diingatkan untuk bergantung pada Allah, di moncong meriam diukir kalimat "Tolonglah Ya Allah! Sang Sultan Muhammad Khan bin Murad". Kedua, sang Sultan selalu memimpin shalat berjamaah bahkan ketika mengepung benteng. Bayangkan saja, beliau memimpin shalat 250,000 pasukan yang mengelilingin benteng.
Meriam Sultan dengan moncong berkaligrafi
Ilustrasi Sultan Mehmed memimpin shalat berjamaah
Memang, pengepungan benteng bukan usaha sehari, dua hari. Tapi Sultan mempelajari berbagai kekalahan Kekhalifahan sebelumnya yang menjadi masukan untuknya. Beliau mengepung satu kota demi satu, wilayah demi wilayah, baru akhirnya sampai pada benteng Konstantinopel. Usaha yang benar-benar penuh perhitungan. Hal yang membuat saya terharu juga ketika hari H pengepungan, Sultan Mehmed ingin menemui gurunya Syaikh Aaq Syamsyudin, tapi beliau tidak mau ditemui. Ketika Sultan geram dan menebas pintu masuk tenda sang ulama, beliau melihat gurunya itu sedang sujud dan berdoa agar hari penaklukan semakin dekat. Doa seorang guru kepada anak didiknya.

Terlalu banyak hal yang sangat hebat dari buku ini. Baca deh, dan kalian akan berpikir bahwa pahlawan dalam islam jauh lebih hebat dari Ironman, Spiderman, Captain Amerika, atau super hero lainnya dalam film. Sesungguhnya pemimpin terbaik dan pasukan terbaik yang diramalkan Rasulullah SAW itu benar-benar terbaik dan lebih dari itu. Semoga kita bisa seperti mereka, aminnn....

Juni 30, 2014

Ramadhan 1435 H

Hi teman, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan yah. Wah, bulan ini sangat sangat saya nanti-nantikan. Rasanya tenang dan damai banget di bulan ini. Apalagi setiap stasiun tv menayangkan tayangan yang islami untuk meningkatkan iman dan taqwa. Pokoknya saya sangat bahagia menyambut bulan Ramadhan.

Kebetulan ada adik saya menginap di kosan. Supaya suasana Ramadhan sama dengan di Aceh, jadi kami masak daging deh. Memang bukan masak rendang, tapi kami membuat rendang balado dan sup iga sapi. Wah, alhamdulillah nikmat sekali. Udah lama banget juga nggak belanja ke Pasar. Jadi hari sabtu kemaren saya ngeborong sayur-sayuran seperti wortel, kentang, buncis, dan teman-temannya, lalu telur, terasi, bumbu masak, dan lain-lainnya. Otomatis isi kulkas langsung penuh. Kalau mau ngebahas harga sayuran dan buah-buahan itu sekarang lebih mahal, saya kurang tau. Karena emang jarang banget ke pasar. 
Hasil masakan untuk buka dan sahur
Baiklah, seperti Ramadhan yang lalu. Saya selalu menuliskan target di bulan Ramadhan ini mau ngapain aja.

  1. Khatam Al-Qur'an. Khusus tahun lalu nggak khatam karena baca Qur'an di android dan ada terjemahannya. Jadi antusias baca terjemahannya juga deh.
  2. Mau makan sehat selama sahur. Kalau berbuka puasa sih masih tentatif berhubung banyak ajakan berbuka bareng, hahaha.
  3. Mau kembali menghafal surat-surat pendek yang udah pada lupa.
  4. Mau terus tarawih di mesjid. Tahun lalu mungkin cuma 3 kali apa 5 kali gitu ke mesjid, karena setiap shalat taraweh di mesjid tuh pasti bersin-bersin. Berbeda dengan 2 tahun yang lalu sering ke mesjid tapi alhasil jadi flu, batuk, demam. Tahun ini udah dapat tips dari dokter, jadinya minum obat alergi setiap hari selama sebulan. Nggak apa-apa deh, demi shalat.
  5. Mau memperbanyak dengerin ceramah agama. 
  6. Mau beresin CRUSH 2. Soalnya projek kantor udah beres dan kerjaan saya sekarang ini cuma melanjutkan menulis novel, hihihi.
Udah deh, 5 target dulu. Semoga bisa dipertemukan dengan Idul Fitri. Sewaktu saya shalat tarawih hari Sabtu kemarin, rasanya tuh damai banget. Udah lama banget nggak berkumpul dengan komunitas orang-orang shaleh. Memang salah satu obat hati adalah berkumpul dengan orang shaleh yah.
Ramadhan
So, Marhaban Yaa Ramadhan :)

Categories

Living (175) adventure (101) Restaurant (93) Cafe (85) Hang Out (81) Jawa Barat (78) Bandung (70) Movie (67) Story (61) Jakarta (48) Lifestyle (47) Event (39) Aceh (32) Islam (21) Japan (20) Science (18) South Korea (18) Book (17) Technology (16) Hotel (14) Warung Tenda (12) Blackberry (11) Crush (10) Dokter (10) Lomba (10) Semarang (10) Consultant (9) Tokyo (8) Jeju Island (7) Osaka (7) Seoul (7) Birthday (6) Singapore (6) Bangkok (5) Dieng (5) Jawa Tengah (5) Karimun Jawa (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Bali (4) Beach (4) Busan (4) Kuala Lumpur (4) Malaysia (4) Wedding (4) giveaway (4) Bogor (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) 2PM (2) BBLive (2) Baby (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Etude House (2) Hakone (2) Nami Island (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) The Face Shop (2) Cilegon (1) Cimahi (1) Festival BLOG 2010 (1) Makassar (1) Medan (1) Solo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan