September 04, 2015

Dear Brunei, I'm Coming!

Besok insya Allah saya akan liburan ke Brunei! Akhirnya setelah udah berapa lama ingin ke negara eksotis ini, kesampaian juga dapat tiket murah. Memang kalau baca referensi tentang Brunei agak sedikit. Blog yang mengulasnya juga hanya beberapa dan kebanyakan bukan untuk tujuan wisata. Palingan karena ada tugas kantor atau memang transit aja. Mungkin memang kurang populer dari negara tetangganya seperti Singapore dan Malaysia.

Lalu kenapa memilih Brunei? Hampir semua teman di kantor bertanya hal yang sama. Ada beberapa alasan nih. Pertama, supaya khatam negara-negara Asia Tenggara sebelah sini (yang berbatasan langsung dengan daratan atau perairan Indonesia). 

Kedua, ingin mengunjungi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, selain Malaysia. Bukan bermaksud rasis, tapi negara-negara yang saya kunjungi mayoritas penduduknya beragama Buddha. Kalau di Jepang dengan kuil Shinto yang keren, Macau dengan gereja Katolik yang bersejarah, Hong Kong dengan patung Big Buddha, dan negara lainnya, tapi jarang melihat mesjid yang benar-benar indah. Nggak tanggung-tanggung, sekalian saja mau melihat mesjid dengan kubah yang terbuat dari emas murni.

Ketiga, karena saya sedang menyimpan cuti, jadi nggak bisa pergi ke negara jauh yang harus cuti minimal 2 hari. Ke Brunei kali ini hanya weekend saja. Saya pergi tanggal 5 September pagi, dan pulang tanggal 6 September malam hari (nyaris tengah malam). Itinerary yang dibuat oleh teman saya juga sudah padat dan Insya Allah mencakup semua landmark penting yang ada di Brunei.

Baiklah, doakan saya selamat pergi dan pulang ya. Bismillahi majreha wa mursaha (Dengan nama Allah di waktu berangkat dan berlabuh).

September 01, 2015

Urusan Rumah

Akhirnya beberapa urusan rumah yang belum kelar satu demi satu terselesaikan juga. Huff, alhamdulillah. Capek juga ngurusin rumah baru. Mau beli yang murah meriah, eh tetep aja harus perbaiki sana sini. Memang sih harganya masih jauh lebih murah daripada beli rumah siap huni yang semuanya udah komplit dan juga tanpa ada kerusakan apa pun. Tapi lumayan capek tenaga dan pikiran.
 
Saya mau uraikan dulu beberapa masalah yang sudah selesai:

1. Air kuning dan bau besi 
Sabtu kemarin teknisi filter air datang. Beliau cuma membuka salah satu keran di filter, langsung deh airnya bening. Tau gitu selama ini saya buka tutup aja semua keran. Mana tau ada kombinasi yang benar. Akhirnya permasalahan air selesai juga. Sekarang jadi semangat nyuci baju dan nyuci piring karena airnya bersih. Sempat juga beberapa kali nyuci baju pakai air kuning dan hasilnya baju putih jadi super kusam dan seperti kena luntur baju kuning. Haduhh, jadi takut kalau nyuci baju kerja. Jadi semua baju kerja terpaksa di laundry.
 
2. Pipa bocor
Ntah kenapa debit air yang mengalir ke kamar mandi kecil banget dan air di dalam toren terus aja habis. Jadinya pompa air harus menyala terus-menerus dan boros listrik. Sewaktu teknisi filter datang, terlihat air keluar dari sela-sela keramik dinding kamar mandi dan membuat air nggak keluar sama sekali dari keran. Saya panggil tetangga sebelah yang kebetulan adalah seorang tukang untuk membenarkan saluran air. Ternyata memang jalur pipa paralon dari bawah lantai keramik benar-benar ribet dan banyak yang bocor, sehingga untuk membenarkannya harus mengetes satu-persatu. Sudah seperti bermain puzzle. Alhamdulillah akhirnya kelar urusannya dan air dari keran mengalir dengan deras. Ke mesin cuci juga deras. Jadi senang banget deh.
 
 
3. WiFi dan TV
Sudah 3 minggu nggak nonton TV dan selalu ngenet pakai handphone. Untuk mengupdate produk-produk online shop saya jadi susah banget karena harus pakai laptop dan nggak ada internet. Sebenarnya di komplek saya itu sudah ada fiber Indihome. Kata pemilik rumah lama, harus mengontak developer. Setelah dikontak, eh alasan developer banyak banget. Orang Telkom nggak angkat telepon lah, belom sempat lah, banyak banget deh. Akhirnya saya berinisiatif untuk menelepon langsung Call Center Indihome. Setelah registrasi selesai, besoknya teknisi Indihome langsung datang. Cepet banget 'kan? Tau gitu udah dari sebulan yang lalu saya pakai Indihome. Sekarang udah bisa nonton TV sepuasanya, internet 10 Mbps, dan gratis telepon rumah 1000 menit. Saya sampai bela-belain beli telepon rumah. Lumayan untuk telepon bank atau call center.
 
Masalah yang belum selesai:
Sisa satu sih, yaitu atap bocor. Duh, kemarin sewaktu hujan lebat, dapur rumah saya sudah seperti kolam ikan. Airnya tergenang semata kaki. Parah banget kan? Memang sih saya belum membuat tembok belakang, jadinya langsung bersisian dengan tembok tetangga. Tapi sialnya, rembesan air masuk melalui celah-celah dinding yang belum di tembok. Sebenarnya ada talang air, tapi kok nggak ketampung airnya yah? Kalau mau membuat tembok lagi, bisa-bisa duit habis sekitar 5 jutaan. Hiks, saya nggak punya duit lagi.
 
Adakah solusi lain dari teman-teman selain harus membuat tembok?

Agustus 19, 2015

New Chapter

Sudah hampir sebulan saya nggak posting blog. Eits, jangan salah paham dulu. Ngeblog itu udah jadi darah daging saya tapi apa daya di rumah nggak ada internet. Paling susah kalau nggak bisa ngenet begini, apalagi pekerjaan sampingan saya adalah jualan online. Huft, selama bulan 8 malah online shop saya kurang banyak profitnya karena ownernya sendiri agak menghilang dari dunia maya. Oh ya, mumpung masih suasana hari kemerdekaan Indonesia, Dirgahayu Indonesiaku yang ke 70. Semoga semakin mantap meniti masa depan dan semakin berjaya!
 
Dulu setiap di kosan nggak ada internet, pasti tetep bisa puas-puasin ngenet di kantor. Sayangnya klien saya sekarang ini internetnya lemottt seperti siput. Jangankan mau upload foto barang dagangan, googling aja susah. Jadilah nggak produktif di dunia maya. Palingan ngenet lewat hp, tapi tetep aja nggak puas. Cuma bisa buka social media dan baca postingan status teman-teman (walaupun sebenarnya saya super malas update status di social media). 
 
Baiklah, saya mau bercerita sedikit. Saya baru pindah ke rumah baru per tanggal 1 Agustus 2015, udah resmi jadi Anak Gaul Depok (AGD). Permasalahan tinggal di rumah baru datang silih berganti walaupun alhamdulillah sudah berlalu. Dimulai dengan permasalahan air. Air sumber kehidupan, tapi di rumah saya seminggu pertama nggak ada air. Yah mungkin termakan janji-janji palsu mandor rumah yang mau ngebor air, jadi aja seminggu saya nggak ada air. Trus kalau mau mandi 'gimana? Saya ke mesjid. Kebayang 'kan betapa susahnya. Dulu sewaktu saya masih SMA, rumah tante saya juga nggak ada air. Mau nggak mau harus nimba di sumur tetangga dengan air yang nggak bersih-bersih amat. Bahkan pernah ada jentik nyamuknya. Berhubung harus mandi ke sekolah, jadinya cuek aja sama air agak kotor. Saya juga pernah nampung air hujan dan khususan mandi hujan sambil shampoan, sabunan, dan sikat gigi. Huff, serasa flash back.
 
Permasalahan lagi adalah karena di mesjid itu air terbatas dan berwarna kuning. Duh, saya kebiasaan mandi sampai puas di kosan dengan air deras dan bening, sekarang mandi dengan air terbatas dan kuning. Sebenarnya dirumah saya sudah terpasang filter air, tapi airnya aja nggak ada. Tukang sumur bilang kalau mereka sudah menggali sumur tapi kurang dalam karena tertahan sama batu. Untuk menghancurkan batu nggak bisa pakai bor manual, tapi harus menggunakan hidrolik. Tukang sumur pergi tanpa tanggung jawab, mandor rese', akhirnya sumur saya digali dengan menggunakan hidrolik sekitar satu minggu setelahnya. Itu pun karena saya sudah 'marah besar' dan saya minta uang saya dikembalikan kalau saja saya nggak dapat air.
 
Dan akhirnya sumur pun dibor dan saya mendapatkan air. Masalah berikutnya, airnya kuning. Saya sudah pasang filter air tapi air tetap kuning. Ntah karena filter hanya mampu menyaring air bersih 250 liter perhari, ataupun memang cluster saya itu bekas rawa-rawa jadi airnya susah jernih. Kata Mama dan kata tetangga, airnya harus dikucurkan terus-menerus baru bisa bening. Memang sih hari pertama sampai sekarang air sudah lebih bersih, cuma masih bau besi. Awalnya saya kira instalasi filter airnya yang salah. Tapi setelah googling, bener kok cara pasang filter airnya. Duh, semoga aja bisa bening airnya beberapa hari lagi.
 
Sebenarnya urusan rumah ini membuat saya stress dan bawaannya jadi marah melulu. Hampir semua orang saya omelin, saya sinisin, mungkin karena sering dibohongin kali yah sama mandor rumah. Well, alhamdulillah semua udah berakhir. Rumah juga udah bersih, udah di sapu dan di pel. Perabotan udah ditaruh pada tempatnya. Saya ngerjainnya sampai asma jadi kambuh saking capeknya. Capek fisik juga iya, capek pikiran juga iya.
Tapi lebih dari itu saya bersyukur bisa tinggal di rumah. Hal yang sudah saya idam-idamkan dari dulu. Udah males banget ngekos. Tinggal di tempat baru seperti membuka lembaran baru dalam buku hidup saya. Mulai berkenalan dengan orang baru, lingkungan baru, naik sepeda motor ke stasiun (walaupun masih agak takut), beradaptasi dengan desak-desakan di kereta di pagi hari, dan hal baru lainnya. Sekarang waktunya bersabar aja deh. Mana tau 2 hari lagi air bisa bening. Kalau nggak bening juga, ya panggil tukang filter air lagi.

Juli 22, 2015

Cerita Lebaran

Assalamu'alaikum teman-teman pembaca. Masih dalam suasana Lebaran, saya minta maaf lahir dan batin apabila dalam penulisan blog ini ada yang salah atau menyinggung kalian. Tahun ini saya merayakan Lebaran tanpa Ayah. Sedih sekali rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Kalau saya sedih, Mama pasti lebih sedih lagi 'kan? Jadi harus kuat.

Baiklah, saya mulai bercerita tentang pengalaman mudik ke Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen, Aceh. Saya mengambil tiket pesawat dari Jakarta (Soekarno Hatta) ke Medan (Kuala Namu), lalu beli lagi terpisah tiket Medan (Kuala Namu) ke Lhokseumawe (Malikussaleh). Dua minggu sebelum saya berangkat mudik, penerbangan adik saya dari Medan (Kuala Namu) ke Lhokseumawe (Malikussaleh) sempat di cancel dan saya lupa alasannya kenapa. Memang sih di cancelnya 4-5 hari sebelum keberangkatan dan uangnya di refund. Ok, nggak masalah. Palingan adik saya harus naik bus dari Medan ke Matang dengan super lambat dan memakan waktu 12 jam!! Padahal kalau nyetir mobil sendiri palingan 7 jam saja.

Nah, bagaimana dengan cerita saya? Saya udah terbang dari Jakarta ke Medan tepat pukul 7 pagi. Pas pesawat terbang terasa banget getarannyaaaaa. Saya sampai mau nangis. Untung pas udah terbang lurus, baik-baik saja. Memang sih di Jakarta hari itu gerimis, tapi serem banget sewaktu berada di dalam pesawat. Pukul 9:10 pagi, saya tiba di Kuala Namu. Karena penerbangan ke Malikussaleh pukul 15:40, saya berkeliling bandara dulu atau membaca buku untuk menghabiskan waktu. Jam 11 siang, saya cek in duluan, walaupun belum bisa drop bagasi. Jam 2 siang, saya balik lagi ke konter cek in untuk drop bagasi dan sialnya mereka bilang kalau pesawat ke Malikussaleh cancel terbang. What??? Kok bisa cancel on the spot begitu? Kebayang Mama dirumah yang udah menyiapkan makanan untuk buka puasa dan saya nggak jadi datang. Arrggghh! Saya marah banget waktu itu, untung memang lagi nggak puasa juga jadi bisa full marahnya. Alasannya sih karena pesawat dari Sabang terlambat datang dan bandara Malikussaleh itu tutup pukul 5 sore. Petugas hanya dengan entengnya bilang mau refund. Refund sih enak, tapi saya nggak mau naik bus ke Matang! Beberapa penumpang lainnya pasrah aja dan mengambil uang refund, sedangkan saya tetap bersikeras meminta mereka memikirkan jalan keluar. Kebayangkan kalau saya mau tender projek ratusan juta tapi mereka cukup hanya bilang refund 400rb? Big no no! 

Saya dan beberapa orang penumpang yang kebetulan ada teman saya juga di dalam rombongan tetap bertahan meminta solusi dari petugas. Solusi awal mereka mau menyediakan bus tapi dengan catatan uang nggak di refund. Gila aja naik bus ke Lhokseumawe seharga Rp. 400rban plus airport tax lagi. Mana ada yang mau. Akhirnya mereka memberikan solusi untuk menyediakan hotel dan besok pagi kami diberangkatkan ke Lhokseumawe. Oke deh, memang harus begitu sih daripada naik bus? Walaupun akhirnya harus besok juga sampai ke Matang. Nggak apa-apa deh, yang penting nggak naik bus. Intinya itu, nggak naek bus! Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, saya agak menyesal marah-marah dan ngomel-ngomel ke petugas-petugas disana kemarin. Mungkin faktor hormon lagi 'dapet' bawaannya pengen maraaah melulu ^^"

Baiklah, urusan balik ke Aceh selesai. Lebaran saya lalui dengan sangat menyenangkan. Semua saudara berkumpul, bahkan lebih komplit dari tahun lalu. Tapi tetap aja, nggak ada Ayah. Rasanya sesak ketika berziarah ke makam Ayah. Teringat tahun lalu Ayah sangat sehat, bisa menyetir mobil kemana pun, tapi sekarang hanya tinggal kenangan. Masih sangat sedih memikirkannya. Mungkin karena bagi saya, Ayah ada di dalam seluruh aspek kehidupan saya. Makanya ketika kehilangan Ayah, begitu terasa. Ya Allah, masukkan beliau ke dalam surga. Aminnn!!
Pose dulu
Pose lagi
Sekarang cerita balik lagi ke Jakarta. Karena takut pesawat cancel lagi, akhirnya saya memutuskan untuk naik bus. Kali ini lebih dramatis lagi. Saya pesan tiket bus jam 10 malam. Kira-kira jam 10 lewat 10 menit, saya dijemput oleh bus. Biasanya, saya sampai ke Medan jam 5 pagi karena bus kalau perjalanan malam jarang menaikkan penumpang. Dan pesawat saya pukul 8:40 pagi. Saya tidur di bus sampai terbangun jam 3:30 pagi dan bus masih berada di kota Kuala Simpang. Seharusnya jam segitu paling nggak bus udah berada di Pangkalan berandan, ini masih Kuala Simpang?? Saya langsung deg-degan, tapi saya masih berharap busnya menambah kecepatan dan sampai ke Medan dalam waktu yang saya perkirakan.

Saya terbangun lagi jam 5 pagi dan bus masih berada di Stabat. Mati deh, bakalan nggak sampai nih ke Medan. Saya buka Google Maps dan perkiraan sampai ke Medan itu 1,5 jam lagi yaitu jam 6:30 pagi. Duh, perjalanan dari kota Medan ke Kuala Namu saja memakan waktu 1 jam kalau nggak macet. Saya semakin was-was. Sampai sakit perut dan keringat dingin memikirkannya. Jam 5:45, bus berhenti untuk shalat Shubuh. Saya bilang ke sopirnya untuk mempercepat laju bus karena saya takut ketinggalan pesawat. Akhirnya bus pun melaju lumayan kencang tapi tetap saja saya tiba di tempat shuttle bus ke bandara itu jam 6:30. Saya turun dari bus dan berlari dengan menyeret koper dan bersepatu wedges (menyesal kenapa nggak pakai sendal jepit aja sesuai saran Mama) untuk naik shuttle dan berharap kalau bus shuttlenya segera jalan. Ternyata nggak! Shuttle masih menunggu penumpang sampai pukul 6:50. Saya udah nggak tahan lagi, karena stress perut saya sakit dan saya bergegas ke WC. Balik dari WC, shuttle siap berangkat.

Perjalanan saya ke Bandara Kuala Namu memakan waktu 1 jam 10 menit. Turun dari shuttle saya berlari lagi menuju konter cek in dan Alhamdulillah masih dibuka. Tapi saya memang penumpang terakhir yang cek in karena setelah itu konter cek in tutup. Duh, alhamdulillah banget deh. Setelah cek in, saya ke toilet lagi tapi langsung ada pengumuman boarding pesawat. Mati deh, mana perut sakit banget dan terpaksa harus 'dituntaskan'. Akhirnya saya berlari lagi menuju Gate untuk naik pesawat. Alhamdulillah masih keburu. Sampai di dalam pesawat saya lepas sepatu dan duduk sambil mengatur napas. Benar-benar hari yang melelahkan. Mana kaki saya sakitttt setengah mati.

Fiuhhh, akhirnya sampai Jakarta juga. Begitulah pengalaman saya selama Lebaran kemarin. Sengaja saya tulis di blog agar teringat terus sampai kapan pun. Bagaimana dengan kalian?

Juli 05, 2015

Capek

Hai semua, kayaknya selama bulan Ramadhan ini saya jarang banget posting blog. Jangankan mau posting blog, mau bukber bareng sama teman aja belum sama sekali. Padahal puasa udah 2 mingguan dan saya menolak banyak ajakan bukber. 

Sebenarnya kalau hari kerja, pulangnya udah capek banget. Pengennya sih pulang langsung ke kosan untuk istirahat. Kalau pun mau buka puasa ya beli bungkus aja dan makan di kosan, atau kalau mau shalat taraweh ya di kos juga. Kalau shalat di mesjid, saya super kepanasan. Apa banyak setan kali yah di badan saya? Hahaha. Yang pasti setelah pulang shalat ya mandi dan lemes banget karena terlalu banyak berkeringat. Kalau di kosan bisa nyetel AC sampai full supaya tetap adem.

Berbeda dengan weekend. Karena akan segera pindah, saya harus memantau renovasi rumah. Minggu lalu malah udah sebagian barang di kosan dipindahkan ke rumah di Depok. Jadinya capeeeek banget. Kadang-kadang sabtu minggu harus kesana dan selalu memakan waktu seharian. Pergi jam 9, pulang udah mau buka puasa. Jadi nggak sempat istirahat. Badan jadi lemes, tapi mau 'gimana lagi. Mana kadang-kadang ada aja datang masalah yang membuat saya stress. Belum lagi kena omel sana sini. Huff sabar sabar...
Mojok kecape'an
Minggu depan Insya Allah pulang ke Aceh. Sebelum itu mau memanjakan diri dulu ke salon, mau bukber dulu sama teman-teman, kalau ada yang ngajak lagi. Hahaha. Kayaknya udah nggak ada lagi yang mau bukber sama saya karena ditolak melulu. Maaf ya teman-teman. Badan saya udah kecape'an banget soalnya. Di Aceh juga saya rasa nggak bisa istirahat, apalagi mau Lebaran. Ya udahlah nikmati aja.

Di komen blog sebelumnya ada yang nanya proses saya beli rumah. Maaf ya belum sempat bales komen karena pasti panjang banget. Mau nulis prosesnya di blog, belum sempat. Nanti saya posting deh Insya Allah.

Juni 17, 2015

Rumah Baru

Akhirnya setelah lama nggak posting blog, bisa juga mengumpulkan semangat untuk menulis. Kangen sih sebenarnya nulis blog, tapi memang nggak ada kejadian unik atau pengalaman travelling kemana gitu yang bisa saya bagi. Oh ya, Insya Allah September nanti saya mau ke negara kecil yang super kaya, Brunei Darussalam :)

Baiklah, pekerjaan saya selama sebulan ini adalah mencari rumah baru. Sebenarnya agak malu juga kalau tetangga di sekitar kosan nanya, "Mut, kamu masih ngekos disitu? Awet yaaa." Sekali dua kali ditanyain begitu sih biasa aja, karena memang kosan saya itu murah banget untuk kawasan di belakang WTC dan Wisma Metropolitan, khusus untuk cewek lagi kosannya. Tinggal jalan kaki aja ke kantor klien saya di Sudirman Sahid Center. Tapi kalau terus-terusan ditanyain sih jadi males. Masih mending kalau saya jawab, "udah pindah kok kosannya ke yang lebih gede." Sayangnya saya tetap ngekos di tempat yang sama selama 5 tahun. Pas bulan 6 ini saya anniversary 5 tahun di kosan, hahaha.

Setelah diskusi sama Mama, saya memutuskan untuk nyari rumah di sekitar Depok yang juga dekat dengan stasiun kereta. Walaupun saya tau kalau naik kereta pas hari kerja itu super padat, tapi nggak apa-apalah. Masih menaruh harapan ke pemerintah membuat jalur kereta seperti di Jepang. Awalnya saya browsing dulu di rumahdijual.com, rumah123com, dan rumah.com untuk mencari harga yang tepat. Setelah saya selesai browsing beberapa hari, akhirnya saya mengontak agen rumah. Mengingat jadwal saya agak sibuk, jadinya mau nggak mau ya pakai agen. Alhamdulillah ketemu agen yang baik. Saya dan teman saya Anida (rencana mau tinggal bareng), dijemput di stasiun Depok lama, lalu diajak keliling untuk mencari rumah. Kalau saya sih maunya rumah yang over kredit. Selain karena nggak ribet, nggak usah sibuk ngurus KPR juga. Memang sih ada plus minusnya semua cara beli rumah, jadi mending kalian browsing dulu aja.

Hari sabtu tanggal 6 Juni 2015, saya berkeliling Grand Depok City sampai daerah di sekelilingnya untuk mencari rumah yang tepat. Semua cluster dimasuki, saya foto juga, dan kalau ada kunci, sekalian saya masuk. Beberapa ada yang kecil banget, ada juga yang besar tapi harganya udah selangit. Akhirnya setelah mencari-cari, pilihan saya jatuh pada rumah kecil di Cluster Cyber. Rumahnya kecil, cuma 46 meter persegi, tapi luas tanahnya 129 meter persegi, posisinya juga di hook. Paling bagus deh menurut saya.

Hari Minggu tanggal 7 Juni 2015, rumahnya saya booking, supaya nggak dijual lagi sama agennya. Sekalian menunggu adik saya datang dari Aceh untuk melihat rumah. Hari Kamis tanggal 11 Juni 2015, adik saya melihat rumah dan dia oke. Walaupun masih belum bisa masuk rumah karena kunci yang dibawa sama agennya salah. Kalau mau beli rumah tuh niatnya harus bersih, biar rumah yang kita dapat bagus, kondisi baik, dan lingkungannya juga baik. Kalau perlu shalat istikarah sebelum kasih booking fee. Biar kedepannya baik (ini nasihat Mama saya).
Depan
Samping
Kamar Mandi
Ngajak sekampung untuk lihat rumah
Dapur
Hari Sabtu tanggal 13 Juni 2015, saya datang lagi ke rumah dan bersikeras untuk masuk. Karena saya suka rumahnya, saya harus masuk dulu, baru saya mau kasih uang DP. Akhirnya kunci rumah ketemu, saya masuk deh kedalam. Semuanya bagus, sesuai dengan ekspektasi saya. Walaupun tampaknya harus ada yang di renovasi sedikit. Akhirnya tanggal 14 Juni 2015 saya kasih uang DP. Pelunasannya nanti ketika mau ke notaris.

Sekarang sih lagi menghitung uang supaya cukup untuk beli AC, kasur, lemari, meja makan, kompor dan gas, mesin cuci, dan lainnya. Ahhh, banyak juga ya yang harus dibeli. Insya Allah rumahnya baik. Nanti saya update lagi deh. Oh ya, besok udah masuk bulan suci Ramadhan. Ini pertama kalinya Ramadhan tanpa seorang Ayah. It's so sad tough. Tapi mau bagaimana lagi, semoga amalan saya di bulan Ramadhan bisa menjadi amal jariyah untuk Ayah. Aminnn..

Marhaban Yaa Ramadhan 1436 H

Juni 06, 2015

100 Hari Ayah

Dear Ayah,
Nggak terasa udah 100 hari kepergianmu. Bayangan-bayangan tentang Ayah di kepala saya terus datang sampai tadi malam. Teringat sebentar lagi Ramadhan, dan untuk pertama kalinya saya harus melaluinya tanpa kehadiran seorang Ayah. Biasanya saya selalu antusias ketika mau pulang mudik ke Aceh, menelepon Ayah untuk minta dijemput ke bandara. Teringat kalau Ayah selalu shalat taraweh di Mesjid atau di rumah dan nggak pernah tertinggal semalam pun. Teringat juga kalau Ayah selalu khatam Al-Qur'an setiap Ramadhan. 

Semoga amalan-amalan baik Ayah menjadi teman yang indah disana. Semoga membaca Al-Qur'an menjadi penerang di alam kubur.
Marhaban Yaa Ramadhan teman-teman. Maaf saya jarang update blog dulu karena memang kehidupan sehari-hari saya sedang disibukkan dengan pekerjaan kantor dan mencari rumah di Depok. Insya Allah dapat rumah yang bagus. Kalau belum dapat ya berarti belum rejeki, hehehe.

Mei 24, 2015

My Manager

Cerita ini terinspirasi dari kegiatan sehari-hari ketika di kantor, ditambah bumbu penyedap yang membuat rasanya udah nggak karuan lagi gimana. Udah lama nggak menulis cerita pendek. Semoga kali ini bisa menyenangkan hari kalian, haahaha.

***

Aku duduk di meja kerja seperti biasa setiap hari. Bosan dengan pekerjaan yang nggak kelar-kelar dan bertambah terus dari hari ke hari. Hari itu, aku melihat seorang cewek masuk ke ruang HRD. Sepertinya bakalan ada karyawan baru di divisi saya. Cuma saya nggak terlalu tertarik untuk mencari tau. Setiap hari juga ada karyawan baru yang datang ke kantor.

Bapak Manajer HRD mengantar cewek itu duduk di dekat saya. Bapak itu bilang, "Nanti saya kenalin sama mereka ya. Saya meeting dulu, udah dipanggil dari tadi." Cewek itu mengangguk mengiyakan. Aku tersenyum padanya dan dia menyodorkan tangannya, "Nama saya Tara." Aku menyebutkan namaku dan kami kembali ke laptop masing-masing.

Tiba-tiba temanku Vino yang baru balik dari toilet langsung heboh melihat Tara, "Wah ada anak baru. Kenalan dong!" Tara tersenyum dan menyalaminya. Vino mulai sok cakep di depan Tara dengan mengajaknya ngobrol. Karena pekerjaanku banyak, aku tidak terlalu memperhatikan obrolan mereka. Tapi sempat melihat Vino mempreteli laptop Tara. "Ngapain lo?" tanyaku. "Tara minta ajarin gimana caranya konek ke server. Ya gw ajarin lah." Aku manggut-manggut. Tara memang cantik sih, wajahnya imut, seperti kebanyakan karyawan yang baru lulus kuliah dan masih polos. Pasti menjadi sasaran empuk untuk dikecengin Vino.

Tara bertanya, "Toilet dimana ya?" Sewaktu aku mau menjawab, Vino langsung menyambar. "Yuk gw anterin. Sekalian gw juga kebelet." Aku hanya melongo. Kayaknya si Vino naksir Tara deh. Pas waktunya makan siang juga Vino mengajak Tara terlebih dahulu untuk makan, baru ngajakin aku dan yang lain. Aku masih keheranan tapi ya sudahlah. Mungkin dia memang naksir Tara, hahaha.

Dan selama seharian Vino ngobrol terus dengan Tara. Emangnya Tara nggak terganggu gitu ya? Emangnya Vino nggak ada kerjaan apa? Huft! Ya sudahlah. Ngomong begini malah terkesan aku cemburu, hahaha.

Jam 4 sore, Bapak Manager HRD datang ke deretan meja saya. Beliau bilang, "Maaf ya saya belum memperkenalkan karyawan baru di perusahaan kita." Tara langsung bangun dan berdiri di dekat Bapak itu. Manager HRD bilang, "Namanya Ibu Tara. Beliau menempati posisi Division Manager disini. Jangan macam-macam ya kalian!" Tara tertawa. Aku melongo. Berarti Tara adalah bosnya para manager. Aku melirik Vino. Dia langsung mati gaya sendiri dan merasa kikuk. Mana mungkin dia bisa 'ngecengin Manager Divisi, mana ternyata Ibu Tara udah punya anak dan anaknya udah SMP. 

Aku tertawa terkikik sambil melihat Vino yang mulai lemas. Makanya Vin, jangan sok kenal!

Mei 16, 2015

Lemongrass

Seminggu yang lalu saya berpetualang ke Bogor. Walaupun Bogor dari Jakarta bisa naik apa aja, tapi saya memutuskan untuk naik kereta. Naik busway ke Dukuh Atas, lalu naik kereta di stasiun Sudirman. Mumpung weekend kereta agak sepi, nggak sepenuh pas weekdays, jadinya naik kereta menjadi alternatif favorit saya kalau mau ke Depok atau Bogor. Sewaktu baru naik sih memang belum dapat tempat duduk, tapi pas sampai Stasiun Manggarai, orang-orang pada turun dan saya bisa duduk manis di kereta.

Ternyata dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Bogor itu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Saya agak terkejut melihat stasiun Bogor udah bagus banget. Dulu saya agak seram kalau harus menunggu di stasiun sendiri karena memang suasana stasiunnya gelap dan serem. Sejak dibangun baru, jadi mirip stasiun-stasiun di luar negeri. Maunya dibikin bertingkat sekalian. Agar semakin banyak bisa orang keangkut. Enaknya lagi, ada parkiran besar untuk motor di sebelah stasiun. Jadinya kalau punya rumah di bogor, tinggal parkir motor di stasiun, terus naik kereta deh ke kantor.

Berhubung tujuan saya adalah Resto Lemongrass yang berada di jalan Padjajaran, dari stasiun saya naik angkot 03 Bubulak – Baranang Siang sesuai dengan saran abang-abang yang mencari penumpang untuk angkot. Awalnya mau naik taksi tapi nggak ada satu pun yang melewati stasiun. Pernah dengar kalau Bogor adalah kota 1000 angkot, jadi semua jalan udah pasti dilewati angkot. Udah lama nggak naik angkot dan berasa panaaas banget di dalamnya. Duh, sampai keringetan. Baru kali ini mau pergi nongkrong, tapi badan udah keringetan. Yang anehnya lagi, sewaktu udah sampai jalan Padjajaran, kok nggak kelihatan dimana Lemongrass. Bahkan udah sampai Botani Square, putar balik mau ke stasiun lagi, saya nggak ngeliat dimana Resto itu.

Akhirnya nanya ke sopir angkot. Katanya ntar di depan diturunin, trus ganti angkot 05. Saya membayar Rp. 5000 untuk angkot 03. Memang sih jalan Padjajaran itu panjaaaang banget, jadi ada beberapa angkot yang lewat jalan itu. Nah, sewaktu naik angkot 05, supirnya malah bingung sewaktu kami bertanya dimana Lemongrass. Duh, ntar diturunin dimana lagi nih. Akhirnya buka Google Maps dan bilang ke supir kalau kami mau ke RS Azra. Baru deh dia tau dan menurunkan kami di jalan Padjajaran untuk selanjutnya naik angkot 08 dengan tarif Rp. 2,500 karena menurut saya dekat. Angkot 08 memang melintas pas di depan Resto yang satu ini. Alhamdulillah sampai juga akhirnya walaupun udah keringatan banget deh. Sewaktu mengeluarkan uang Rp. 2,500 karena dekat juga, eh si abang supir nggak mau dan minta Rp. 3,500. Ya udah deh, yang penting udah sampai. Mana pengen ke toilet lagi. Alamat Lemongrass di Jl. Padjajaran No. 21, Bogor (0251-8328800).
Tampak depan
Menuju pintu masuk
Ternyata Resto yang satu ini sangat ramai pengunjungnya. Saya terpaksa harus waiting list terlebih dahulu. Untungnya hanya menunggu sekitar 10 menit, saya langsung mendapat kursi. Rasanya lapar banget, pengen pipis, belum shalat Zuhur lagi. Buku menu pun datang dan saya jadi buru-buru memesan makanan. Sepenglihatan saya, rata-rata menu yang disajikan hampir sama dengan menu di Kopitiam. Banyak cemilan dan minuman. Untuk makanan berat juga standar, nggak ada menu yang terlalu spektakuler, hehehe.
Buku Menu tampak depan
Menu 1
Menu 2
Menu yang saya pesan :
Calamari Rp. 25,900
Chicken Wings Spicy Rp. 26,900
Nasi Hainam Bebek Rp. 45,900
Nasi Lemak Rendang Rp. 36,900
Homemade Watermelon Lemon Tea Rp. 28,900
Honey Lemon Tea Rp. 25,900
Lychee Iced Tea Rp. 28,900
Strawberry Iced Tea Rp. 28,900
Karyawan Resto
Setelah memesan makanan dan minuman, saya shalat Zuhur dulu baru balik ke kursi. Makanan yang saya pesan belum datang. Beberapa menit setelahnya, baru Watermelon Lemon Tea dan Honey Lemon Tea datang duluan. Harga minuman disini agak mahal menurut saya. Padahal hanya Lemon Tea tapi harganya bisa 25rb keatas. Ternyata memang ada harga ada rasa. Watermelon Lemon Tea tuh enaaak banget. Segar banget deh. Campuran jus semangka dengan Lemon tea. Unik dan enak banget rasanya. Apalagi baru aja kepanasan di angkot, terus minum minuman segar begini lagi. Aaahh segar banget deh! Kalau Honey Lemon Tea standar aja rasanya.
Watermelon dan Honey Lemon Tea
Menu makanan pun datang. Saya menyantap Nasi Hainan Bebek. Udah lama nggak makan Nasi Hainan deh. Bahkan udah lupa kapan terakhir kali makan. Bebek di Nasi Hainan lembut banget, tapi porsinya agak sedikit. Berhubung baru berpetualang ya, jadi lapar banget. Untungnya Chicken Wings juga datang. Jadi bisa menambahkan ayam ke menu nasi saya. Menu Nasi Lemak punya teman saya juga enak. Tapi standar aja sih.
Chicken Wings
Nasi Lemak
Nasi Hainan Bebek
Lampu-lampu
Selesai makan, ternyata Lemon Tea yang saya pesan tampaknya kurang banyak. Akhirnya saya pesan lagi Strawberry Iced Tea. Minuman yang satu ini juga enaaak. Ada potongan stroberi utuh dicampurkan dengan teh sehingga rasa minumannya benar-benar teh stoberi deh. Segar banget juga. Apalagi ditambah dengan cemilan Calamari untuk memuaskan perut saya dan teman saya yang udah kelaparan dari tadi.
Strawberry Iced Tea dan Calamari
Antrian waiting list
Orang-orang di tempat waiting list semakin banyak dan saya belum berencana pulang. Mungkin Resto ini memang laris banget. Karyawannya juga rame. Pengennya sih setelah shalat Ashar baru pulang. Selagi menunggu adzan Ashar, saya pesan lagi Lychee Iced Tea yang segaar banget juga. Ada leci utuh juga di dalam minumannya. Sebenarnya memang Lychee Iced Tea adalah minuman favorit saya. Hampir setiap makan di Cafe atau Resto, saya sering banget memesan minuman ini. Akhirnya saya dan teman saya menghabiskan 4 gelas Iced Tea dengan berbagai macam rasa.
Lychee Iced Tea
Minum 4 gelas
 Fyi, saya tau Resto ini dari Qraved.com sebagai salah satu dari 16 Restoran paling keren di Bogor. Berhubung udah bosan makan di Jakarta terus, akhirnya resto yang satu ini menjadi pilihan tempat nongkrong saya berikutnya.
Suasana Resto
Pose dulu
Dimalam hari, kalian bisa menikmati berbagai minuman dari Bar. Tempat duduk di sekitar Bar juga unik-unik. Bahkan ada kasurnya yang pas untuk leyeh-leyeh dan bersantai ria. Kayaknya seru banget kalau merayakan ulang tahun di Resto ini karena ada lantai dua juga yang lebih private. Tapi karena saya tinggal di Jakarta, mau merayakan ulang tahun di Bogor kayaknya kejauhan deh, hahaha.
Sekitar bar
Meja dan kursi
Tempat Leyeh-leyeh
Setelah shalat Ashar, saya pulang. Awalnya jalan kaki dulu menelusuri jalan Padjajaran sambil menikmati bunga-bunga dan tanaman hias yang dijual di pinggir jalan. Karena Bogor banyak pohon besar, jadi lebih teduh dan banyak angin. Saya jalan kaki sampai ketemu angkot 03, lalu naik menuju Botani Square. Malah main lagi di Mall, hehehe. Sekitar jam 5.30 sore, saya kembali ke Stasiun Bogor. Paling repot karena jalan menuju pintu masuk stasiun harus naik tangga dulu. Kasian banget kalau ada orang tua yang mau naik kereta. Apa saya yang nggak tau ya dimana pintu masuk/keluar yang lain.

Saya shalat Magrib dulu di stasiun. Duh, Mushallanya nggak ada AC. Mana pas Magrib yang shalat rameeee banget, jadi tambah keringetan deh saya. Trus diluar tiba-tiba hujan super deraaasss. Karena kereta udah datang, tanpa melipat mukenah, saya berlari menuju kereta supaya nggak ketinggalan. Alhamdulillah dapat tempat duduk juga untuk perjalanan satu jam kedepan. Ah, pulang ke kosan harus segera mandi nih, hufff!

Mei 09, 2015

Kangen Ayah

Sampai tanggal hari ini, sudah 72 hari kepergian Ayah. Sudah 72 hari juga saya tidak pernah mendengarkan suara Ayah lagi, tidak bisa bercerita banyak hal, tidak bisa mengirimi oleh-oleh, atau tidak bisa lagi memaksa Ayah untuk datang menjenguk anaknya di Jakarta.  Rasanya sangat sedih harus menerima kenyataan kalau tidak akan melihat Ayah lagi selama-lamanya. Tidak akan pernah lagi…

Kalian tau, postingan seperti ini adalah hal yang paling berat buat saya. Menulisnya pun dengan hampir nggak kuat menahan sedih. Udah 2 bulan lebih rasanya hati saya terlalu hampa. Kayaknya kalau putus dari pacar nggak sesakit ini deh, padahal dulu nangis juga 2 hari. Sewaktu tsunami Aceh juga nggak sesedih ini, padahal dulu sangat banyak orang meninggal. Mungkin ini rasanya separuh jiwa hilang. Dimana biasanya ada Ayah tempat saya berbagi urusan kerjaan, tempat minta ijin kalau mau ke luar kota bahkan keluar negri, tempat merasa sangat terlindungi dan nggak akan pernah mengkhianati saya, sekarang udah nggak ada lagi. Apalagi, bulan depan udah bulan Ramadhan. Teringat Ayah selalu minta dibikinin Es Timun Serut dan Onde-onde untuk buka puasa. Kangen suara  Ayah ketika mengaji atau memimpin kami shalat berjamaah, kangen senyumnya, kangen nasehatnya, semuanya...

Rasanya selama 72 hari ini otak saya agak nge-hang. Malas ngapa-ngapain, malas mikir, malas kerja, malas juga buka toko makeup, malas nge-blog (walaupun tetap posting), malas mikirin tujuan liburan saya selanjutnya, bahkan malas memikirkan hidup saya sendiri. Tapi semenjak Mama datang sebulan yang lalu dan menginap lama di Jakarta, barulah semangat mulai datang lagi. Jadi pengen beli modem internet baru untuk ngeblog lagi (untuk melengkapi cerita postingan sebelumnya yang saya tulis alakadarnya karena masih malas.) Dapat rejeki juga karena teman baik saya meminjamkan modem Bolt.

Karena internet kenceng (walaupun sering banget putus), saya jadi mulai buka toko lagi dan mulai browsing destinasi jalan-jalan lagi. Sebenarnya rencana saya dan keluarga mau ke Shanghai bulan November (sudah beli tiket) dan Ayah ikut. Nah, setiap melihat nama Ayah tertera di tiket pesawat, saya jadi malas lagi. Langsung nggak mau browsing lagi dan terdiam larut dalam kesedihan. Seharusnya nggak boleh seperti ini, tapi memang hati nggak bisa dibohongin. Selalu sedih mengingat Ayah. Jalan kaki ke kantor teringat Ayah, pulang dari Bandung di dalam travel teringat Ayah, ke RS Jakarta teringat Ayah yang menemani saya berobat, apalagi kalau ke kosan abang saya tempat Ayah di sebelum di opname.

Yang nomor satu paling sedih kalau melihat RS Dharmais. Rasa sedih pas Ayah meninggal seolah langsung datang ketika melihat RS ini.  Memang semua dokter sudah bekerja sangat maksimal tapi tidak ada yang mungkin menghindar dari maut. Ayah seolah pergi begitu cepat. Padahal baru saja pemeriksaan menyeluruh ke seluruh tubuh selesai dilakukan, belum sampai tahap pengobatan, tapi Ayah sudah pergi. Pengen menulis suasana Rumah Sakit hebat ini, hanya saja saya masih sedih. Masih teringat kamar 409 tempat Ayah dirawat. Masih teringat juga sama pasien-pasien disana. Ya Allah, sembuhkan mereka.
Miss U
Sudah cukup deh nulisnya. Menulis hal ini membuat air mata terus mengalir. “Papa…. Tia kangen!”

Categories

Living (191) adventure (155) Restaurant (112) Cafe (102) Hang Out (98) Jawa Barat (93) Bandung (84) Movie (71) Story (65) Jakarta (59) Lifestyle (56) Event (39) Aceh (33) China (31) Jawa Tengah (24) Islam (21) Hotel (20) Japan (20) Hong Kong (19) Science (18) South Korea (18) Book (17) Technology (16) Semarang (14) Warung Tenda (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Macau (11) Crush (10) Dokter (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Consultant (9) Malaysia (9) Family (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Birthday (7) Jeju Island (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Karimun Jawa (6) Kuala Lumpur (6) Bangkok (5) Dieng (5) Manila (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Bali (4) Bogor (4) Busan (4) Wedding (4) giveaway (4) Kalibo Island (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) 2PM (2) BBLive (2) Baby (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Etude House (2) Hakone (2) Medan (2) Nami Island (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) The Face Shop (2) Brunei Darussalam (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Festival BLOG 2010 (1) Makassar (1) Solo (1) Vampire Diaries (1)

Iklan

Iklan