Februari 18, 2017

Dataran Tinggi Gayo

Hi semua, sudah satu minggu nggak posting blog karena saya sibuk sekali, dua kali, tiga kali, hahaha. Seminggu kemarin saya seolah-olah masuk kantor lagi dari Senin sampai Jumat dan pulang ke rumah hampir selalu jam 10 malam lebih. Capek sih, tapi saya nikmati saja. Kerja keras tidak akan mengkhianati hasilnya. Alhamdulillah saya nggak sakit. Mungkin karena udah vaksin flu juga ya. Cuma jadi sering ngantuk dan menyiasati dengan tidur di kereta dan di mobil.

Kali ini saya akan membahas sebuah kabupaten yang berada di tengah-tengan provinsi Aceh dengan ibukotanya bernama Takengon. Sejak dulu saya pengen banget ke Takengon tapi nggak pernah sempat. Kebetulan sepulang umroh saya menghabiskan banyak waktu (hampir tiga minggu) di kota Matang Glumpang Dua Kabupaten Bireuen dan kata Mama udah ada jalan baru ke Takengon. Ya sudah, daripada terus diam di rumah karena pemulihan sakit batuk dan hanya sekali-sekali saja keluar rumah, akhirnya kami sekeluarga memutuskan pergi ke Takengon, yeay! 

Kami memulai perjalanan pukul 7 pagi dari rumah dengan mengendarai mobil. Kami masuk ke jalan PT KKA yang baru saja dibuka untuk umum. Jalannya hanya lurusss saja dan udaranya dinginnn!! Suhu di jalan sekitar 18 derajat dan membuat kita jadi sering kebelet pipis. Perjalanan dari Aceh Utara ke Aceh Tengah hanya 3 jam dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Nggak terasa kami sudah sampai ke kota Takengon hanya dengan mengandalkan GPS. Oh ya, kalian akan menemukan beberapa pertigaan yang membuat kita harus bertanya pada masyarakat sekitar atau mengikuti arah GPS. Kalau kalian salah jalan, nanti malah balik lagi ke Kabupaten Bireuen, hihihi.
Pemandangan di sisi jalan
Saya sangat menikmati pemandangan indah sepanjang jalan menuju kota Takengon. Apalagi kalau kalian melihat Danau Laut Tawar yang Subhanallah indahnya. Pemandangan seperti ini pernah saya lihat di New Zealand, tepatnya Lake Wakatipu yang dikelilingi oleh kota. Kalau melihat pemandangan Lake Wakatipu harus dari helikopter, Danau Laut Tawar bisa dilihat hanya dengan memarkir mobil di pinggir jalan dan pemandangan danau yang spektakuler pun di depan mata. Masya Allah!

Rumah Makan Sahabat Baru
Sesampai di kota Takengon, kami memutuskan untuk makan siang dulu. Sebenarnya nggak lapar-lapar amat sih, tapi ketika saya browsing dan membaca tentang sajian ikan depik yang menjadi menu andalan Rumah Makan Sahabat Baru, duh langsung pengeennn. Lokasi Rumah Makan ini berada di antara Pasar Inpres dan tempatnya agak nyempil ke dalam, Kalian bisa parkir mobil di pinggir jalan karena walaupun kita berada di pasar, tapi suasananya nggak crowded.
Selamat makan
Saya, Mama, dan adik-adik masuk ke Rumah Makan ini. Kami duduk dan beberapa saat kemudian semua makanan dan minuman dihidangkan di atas meja yang bisa kita pilih sendiri. Duh, menggiurkan banget semuanya. Saya makan ayam kampung goreng dan ikan depik (ikan kecil yang jumlahnya banyak dalam satu piring). Ditambah dengan kuah gulai yang rasanya mantap banget. Biar komplit, saya minum es timun khas Aceh yang segerrr. Menulis blog tentang rumah makan ini membuat saya lapar lagi, padahal baru aja makan siang.

Sudah sebanyak itu kami makan, total yang harus dibayar hanya Rp. 100rban. Memang harga makanan dan minuman di Aceh masih murah dan rasanya enak banget. Makanya saya betah di Aceh dan nggak pulang-pulang ke Jakarta, hahaha.

Pantan Terong (1,830 mdpl)
Awalnya saya mengetahui tempat ini dari sepupu saya yang memposting foto-foto ketika dia dan keluarganya berlibur ke tempat ini. Saking kerennya pemandangan disini, saya langsung menjadikan tempat ini adalah destinasi wajib untuk setiap orang yang berlibur ke Takengon. Pantan Terong memiliki ketinggian 1.830 meter di atas permukaan laut (mdpl). Awalnya agak ragu untuk menyetir mobil sampai ke puncak, tapi karena jalanannya mulus, alhamdulillah bisa naik juga. Kalian tetap harus hati-hati karena kiri-kanan jurang yang curam dan pendakian seperti ini agak menyulitkan untuk mobil city car biasa. Pokoknya harus pinter-pinter mainin gear di mobil deh.
Selamat Datang
Posisi Pantan Terong di barat dan Danau Lut Tawar di timur. Di utara kelihatan Kabupaten Bener Meriah beserta Burni Telong (gunung kebanggaan daerah itu) dan Burni Gayo yang tampak kecil di selatan. Kalian bisa melihat seluruh Kota Takengon sejauh mata memandang, Subhanallah indahnya. Karena keindahan ini, Pemda Aceh Tengah menjadikan Pantan Terong sebagai Kawasan Ekowisata sejak 17 Agustus 2002, pada masa Bupati Mustafa M Tamy, sebagaimana tercetak pada prasasti di lokasi tersebut.
Danau Laut Tawar dari 1830 mdpl
Narsis dulu
Saya berencana memasukkan Pantan Terong sebagai salah satu destinasi wajib di RancupidTravel.com, situs e-commerce travel yang akan launch dalam minggu ini Insya Allah. Semoga kedepannya Rancupid Travel bisa bekerja sama dengan Pemda Aceh untuk menyelenggarakan pagelaran bertema wisata lingkungan seperti Jazz Gunung yang biasa digelar di Gunung Bromo. Pasti akan menarik turis lokal dan internasional untuk datang ke tempat ini. Lokasinya juga pas karena ada kursi-kursi amphiteatre yang sepertinya memang diperuntukkan untuk penonton sebuah pertunjukan.

Danau Laut Tawar
Sebenarnya saya salah memilih tempat nongkrong di tepi danau, sehingga keindahan danau kurang dapat diabadikan dalam sebuah foto. Mungkin karena kami memang baru pertama kali kesini juga dan nggak tau tempat nongkrong ala Anak Gaul Takengon di pinggir Danau tuh sebelah mana. Udah malas browsing internet juga karena sinyal agak kurang bagus disini. Jadinya pasrah aja duduk di pinggir danau sambil menunggu pesanan Mie Aceh Lobster yang nggk kunjung terhidang. Mana masaknya lama banget lagi, huff! 
Mie Lobster
Walaupun akhirnya Mie datang dan ternyata bukan Mie Aceh, tapi Indomie dengan lobster, tapi ya sudahlah. Udah malas juga berdebat.

ARB Coffee Shop
Apa jadinya jika mengunjungi daerah tempat lumbung kopi Asia yang terkenal dengan kopi terbaik tanpa mencicipi langsung kopinya? Sebenarnya saya nggak suka kopi, dan saya memang nggak tau mana kopi enak atau mana kopi nggak enak. Walaupun saya sudah pergi sampai ke Vietnam untuk mencicipi kopi, ke Makassar dengan kopi Toraja, dan mencicipi berbagai macam kopi buatan para barista kebanggaan Indonesia yang kebetulan teman saya juga, teteuup aja nggak suka kopi. Maafkan saya.
Menu ARB Coffee Shop
Karena berkesempatan menjelajah Takengon, saya tentu penasaran dengan pengalaman minum kopi langsung di warung kopi di sana. Walaupun kalian bisa melihat kebun kopi dan panen raya hampir di sepanjang jalan, dan juga melihat cherry kopi bergelantungan memerah di kebun kopi, namun belum sah rasanya kalau ke Takengon tapi belum mencicipi Kopi Gayo. Teman adik saya menunggu kami sekeluarga di ARB Coffee, salah satu Cafe paling beken di Takengon yang menyediakan berbagai kopi tradisional manual brewing atau dari mesin esspreso (saya tetap tidak tau mana yang enak).
Sanger (sama-sama ngerti)
Orang yang datang ke ARB Coffee Shop ramai banget, padahal hari itu hujan deras. Saya memesan kopi Sanger, berharap tidak terlalu pahit. Lalu adik-adik saya memesan kopi yang berbeda juga. Ketika pesanan datang, saya minum kopi Sanger sedikit demi sedikit karena tetap aja pahit. Adik ipar saya menawarkan saya untuk minum kopi hitam manual brewing. Saya makan gula merah dulu, baru minum kopi yang pahitnya minta ampun. Duh, saya memang nggak suka kopi.
V60 Drip Kecil
Setelah menikmati berbagai macam kopi, kami pun pulang. Banyak orang menyarankan untuk jangan pulang terlalu malam ke Kabupaten Bireuen karena bakalan turun kabut super tebal di jalan lintas Takengon - Bireuen. Benar saja, sepanjang jalan kabutnya tebal banget dan saya sekeluarga nggak ada yang tidur untuk memantau suasana. Mungkin efek kopi juga jadi seger nggak ngantuk. Saya bertugas memantau jalan melalui GPS karena kalau ada jalan berkelok-kelok dengan tebing yang curam bakalan nggak kelihatan kalau kabut tebal. Untung udah download offline maps karena nggak ada sinyal sama sekali di jalan.

Yang paling seram adalah ketika melewati Tajuk Enang-enang, sebuah tebing patahan yang curam banget. Kita harus klakson panjang agar mobil dari arah berlawanan bisa tau keberadaan mobil kita, lalu menyetir super pelan agar tidak tergelincir. Alhamdulillah kita berhasil melewati Inang-inang dengan mulus tapi kecelakaan yang terjadi di tempat ini sudah tidak terhitung jumlahnya. Banyak-banyak berdoa aja selama di perjalanan agar terus berada di dalam lindungan Allah SWT.

Baiklah, sekian perjalanan ke Tanoh (tanah dalam bahasa Aceh) Gayo. Saya nggak nginap di Takengon karena besoknya saya balik ke Banda Aceh dan naik pesawat menuju Jakarta tercinta.

Februari 11, 2017

Dear Masjidil Haram, Sampai Bertemu Lagi

Selama di Mekkah, saya hanya 2 kali berumroh. Pertama Miqat di Bir Ali, yang kedua di Ji'ranah. Adik saya berumroh sampai tiga kali dan yang ketiga bermiqat di Hudaibiyah. Jarak antara umroh pertama dan kedua agak lumayan lama, tapi dari umroh kedua dan ketiga hanya selang sehari. Belum pulih lelah kemarin dan saya harus berumroh lagi jadi kurang sanggup. Belum lagi bekas operasi di telapak kaki sudah cenat-cenut banget dan saya sudah terserang batuk.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anh, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.”
Masjid Ji'ranah
Sebenarnya yang paling berat untuk saya adalah Tawaf (berkeliling Ka'bah berlawanan arah jarum jam) dan Sa'i (berlari kecil antara bukit Safa Marwah) karena harus menapak kaki di lantai dengan hanya beralaskan kaos kaki. Seandainya boleh pakai sepatu olah raga, mungkin saya bakalan sanggup untuk terus-menerus Tawaf dan Sa'i. Ternyata menahan sakit di telapak kaki itu membuat otot betis gampang keram dan terasa sampai paha. Padahal naik gunung sanggup karena pakai sepatu sih. Tapi nggak apa-apa, alhamdulillah semua selesai dengan baik. Di beberapa Tawaf, saya hanya berdua dengan Mama dan tidak ditemani adik saya lagi. Udah mulai berani dan nggak takut hilang, hihihi.

Pernah suatu kali saya dan Mama Tawaf setelah shalat Ashar dimana hari masih terang dan suhu udara lumayan panas. Ketika kami melewati Hijr Ismail, akan terasa angin dingin seperti hembusan AC, bahkan terkadang berbau harum. Padahal jarak dari dalam mesjid yang ber-AC dan Ka'bah sangat jauh jadi tidak mungkin AC bisa sampai ke daerah Hijr Ismail. Mungkin karena biasanya ber-Tawaf malam hari, agak nggak sadar kalau ada udara dingin di Hijr Ismail karena memang Mekkah di malam hari lumayan dingin udaranya. Hijir Ismail merupakan bagian Ka’bah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Bagian ini pun merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa di bawah talang emas. Dalam buku Fi Rihaabil Baitil Haram dikisahkan, bahwa Nabi Ismail pernah mengeluhkan panasnya udara Makkah. Maka Allah berfirman kepadanya: 

"Sekarang aku buka di Hijirmu salah satu pintu surga yang dari pintu itu keluar hawa dingin untuk kamu sampai hari kiamat nanti". Siapa saja yang beruntung, ia akan merasakan angin surga (hawa dingin) sewaktu berthowaf melintasi Hijir Ismail”.

Semoga kami menjadi orang-orang yang beruntung. Pintu masuk ke Hijir Ismail juga selalu dijaga malaikat yang selalu mendoakan ampunan dan kebaikan bagi siapa saja yang melakukan sholat sunnah mutlak didalamnya. Sayangnya karena terlalu ramai disana, agak tidak mungkin saya berdesakan masuk. Ya sudahlah, berdoa dari luarnya saja. Rasanya setiap mengelilingi Ka'bah, karena semua tempat sangat dikabulkannya doa, maka saya terus berdoa juga mendoakan keluarga dan teman-teman saya. 
Doa of the year
Hari terakhir di Mekkah, sebelum kembali ke Jeddah, kami harus Tawaf Wada' (Tawaf perpisahan) dulu. Ustadz menyarankan kami Tawaf setelah sarapan, sedangkan saya, Mama, dan beberapa saudara langsung melakukan Tawaf setelah shalat Shubuh karena masih dingin udaranya. Selesai Tawaf dan shalat sunnah Tawaf, kami minum air Zam-zam. Saya duduk menghadap Ka'bah dengan tatapan sendu dan berdoa supaya saya bisa sering kemari, dikaruniai rejeki yang banyak, dan tetap bisa kesini dengan orang-orang yang saya cintai. Ah, seandainya Papa masih ada, pasti Papa bakalan senang banget karena saya dan adik akhirnya bisa sampai ke Ka'bah.
Setelah selesai Tawaf Wada'
Dear Papa, I miss you

Setelah Tawaf Wada', kami kembali ke hotel untuk sarapan, mandi, dan berkemas. Koper kami bertiga sudah beranak-pinak tapi akhirnya bisa cukup juga barang-barang masuk ke dalam koper dan tas-tas yang mengiringinya. Hampir 3 minggu di Tanah Haram, dengan pekerjaan hanya beribadah saja itu sangat menenangkan. Walaupun internet seadanya, saya jarang buka laptop juga, tapi saya senang aja. Sangat menikmati waktu-waktu beribadah karena mengingat pahalanya seperti beribadah 80 tahun.
Perbatasan kota Mekkah dan Jeddah
Pemandangan di jalan ke Jeddah
Kami kembali ke Jeddah ketika makan siang. Saya tidur di dalam bus kecuali ketika makan siang dibagikan. Setelah makan, tidur lagi, sampai akhirnya tiba di Balad, dimana kalian bisa belanja juga. Saya tetap tidur saja karena ngantuk banget. Setelah dari Balad, kami mampir ke mesjid terapung untuk shalat jamak Zuhur dan Ashar. Nama sebenarnya mesjid ini adalah Masjid Arrahmah tapi orang Indonesia menyebutnya terapung karena memang berada di pinggir pantai. Pemandangan laut disekitar sini sangat indah tapi juga sangat menyilaukan. Anginnya juga kenceng. 
Lagi sok kece
Masjid Terapung
Kami tiba di bandara King Abdul Azis sebelum magrib. Ustadz Hakam mengurusi semua bagasi, sehingga kami tinggal menunggu saja. Kalau kalian membeli kursi yang biasa dipakai di masjid untuk shalat, harus di wrap dulu baru bisa masuk ke bagasi. Oh ya, karena ini adalah penerbangan langsung, kalian bisa memasukkan beberapa botol air Zam-zam di dalam tas kabin. Lumayan banget 'kan? Saya sampai bawa 3 botol aqua kecil air Zam-zam. Kalau saja penerbangannya transit di Kuala Lumpur, udah pasti air Zam-zamnya dibuang. 
Bus selama di Madinah dan Mekkah
Malam itu pesawat delay sekitar 2 jam dan saya menunggu sambil mengobrol dengan beberapa jamaah yang lain. Banyak sekali yang hotelnya jauh dari Masjid dan alhamdulillah hotel saya sangat dekat. Hampir semua jamaah di dalam ruang boarding sudah terserang batuk. Semua pada sakit nih. Kami akhirnya boarding. Kali ini dapat kursi di bagian depan yang seharusnya untuk kelas bisnis tapi sempit banget jadinya. Nggak ada TV lagi. Berhubung udah ngantuk banget, ya sudahlah terima saja. Yang kasihan Mama karena mulai demam. Untung aja ada jamaah yang punya paracetamol sehingga demam Mama bisa turun.

Kami sampai ke Banda Aceh jam 10 pagi dan jam 1 siang berjalan pulang ke Matang Glumpang Dua, kota dimana saya tinggal. Kami naek mobil L300 ke Matang dan supir travel sampai agak syok melihat barang kami banyak banget, hahaha. Rasanya badan capek banget deh. Pengen tidur aja sepanjang jalan. Sampai di rumah saya agak jetlag, jadi mau tidur agak nggak ngantuk. Jadi bermain saja sama keponakan yang udah lebih gendut padahal baru ditinggal beberapa minggu. Adik saya sudah menyiapkan semua obat mulai dari antibiotik, obat batuk, dan flu untuk menyambut saya Mama yang udah pada tepar semua.

Berumrah ini sangat berbeda dengan semua perjalanan yang saya lakukan ke luar negeri. Kalau liburan menentramkan pikiran, tapi berumrah menenangkan batin. Hal yang seumur hidup belum pernah saya rasakan. Semoga semua doa yang saya ucapkan disana dikabulkan Allah SWT. Semoga dapat kembali lagi secepatnya. Aminnn....

Sesungguhnya berumrah menghapuskan dua: dosa dan kefakiran (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Februari 07, 2017

Keseharian di Masjidil Haram

Berhubung sedang berusaha semaksimal mungkin untuk ngeblog di sela-sela kesibukan yang semakin hari semakin mengerikan. Saya sempat sedih karena bulan ini nggak bisa ke Sapporo, padahal udah beli tiket, hiks. Harus ada yang dikorban salah satu. Ke Jepang, atau Tiyuki Kripet (merk keripik milik saya). Berhubung udah pernah ke Jepang, passpor juga udah mau mati, ke kantor imigrasi nggak sempat, permintaan Tiyuki Kripet membludak, dan saya harus ngeblog sebelum saya lupa. Oh ya, nanti saya akan membagikan tulisan tentang berbisnis karena banyak sekali yang minta postingan yang satu itu. Berhubung ilmu adalah pahala jariyah, insya Allah akan saya tuliskan. Ya Allah, lancarkanlah segala urusan...

Saya akan menulis kegiatan saya selama di Masjidil Haram dan sekitarnya yang saya ingat. Kalau ada yang saya lupa, nanti kalau tiba-tiba teringat akan saya update lagi supaya tetap bisa tertulis di blog.

1. Luasnya Masjid
Hal ini paling mengagumkan untuk saya. Saya penasaran tentang seluk-beluk Masjidil Haram sehingga saya jadi ingin bereksplorasi sendiri. Awalnya mau pergi bareng Mama, tapi kasihan nanti kecapek'an karena memang luas banget mesjidnya. Luas keseluruhan masjid ini mencapai 356,800 mdengan kemampuan menampung jamaah sebanyak 820.000 orang ketika musim Haji dan mampu bertambah menjadi dua juta jamaah ketika salat Ied. Beberapa literatur yang saya baca, Masjid ini bahkan bisa menampung 3 juta jamaah (mungkin setelah perluasan).
Menara mesjid
Pertama kalinya saya ke Masjid sendiri adalah ketika shalat Jumat (nanti saya bahas). Setelah itu ketika menjelang Ashar, saya pergi lagi sendiri karena memang mengincar shalat di depan Ka'bah. Agar tidak terlalu kelihatan orang Asia Tenggara, saya pakai Abaya untuk shalat dan menutup muka seperti cadar dengan menggunakan pashmina. Memang agak aneh kalau cewek jalan sendiri di dalam Masjid, jadi mending pakai cadar deh. Sebenarnya yang saya incar adalah foto Zam-zam Tower dan Ka'bah dibawahnya. Alhamdulillah berhasil. Walaupun cuaca panas terik dan menyilaukan (saya sampai pakai kacamata ketika shalat), akhirnya bisa mengambil foto seperti yang saya inginkan hanya dengan kamera hp. Fyi, di dalam Masjidil Haram sebenarnya nggak boleh membawa masuk kamera. Memang ada beberapa orang yang berhasil memotret tanpa ketahuan, tapi sebaiknya jangan coba-coba deh. Karena polisinya galak dan katanya hukumannya bakalan repot nanti nggak boleh berumroh lagi.
Berhasil memotret view ini
Setelah mendapatkan foto, saya berkeliling lagi. Saya takut banget nyasar jadi sepanjang saya berjalan saya mengucap istighfar dan berdoa supaya nggak nyasar terus-menerus. Karena ada bapak-bapak yang udah biasa umroh tetap nyasar dan dia bilang pikirannya bisa tiba-tiba nge-blank ketika di Masjid. Sebagai tindakan preventif, semua gate saya foto juga supaya kalau tiba-tiba nge-blank bisa melihat foto di hp.  
Salah satu Gate yang saya foto
Saya naik ke lantai Sa'i semuanya, naik ke lantai shalat sampai lantai 3, sampai semua Mataf (tempat Tawaf). Kalau capek, tinggal minum air Zam-zam. Yang susah kalau kebelet pipis, karena harus keluar dari Masjid. Akhirnya daripada pipis di toilet Masjid, saya mendingan ke Mall yang berada di sekitaran Masjid. Saya juga sempat shalat di Masjidil Haram Extension yang memiliki interior sangat indah. Suasana juga agak sepi disini dan nggak crowded, tapi dari pelataran Masjid yang biasa saya datangi menuju tempat ini lumayan jauh.
Interior Masjid Extension
2. Mall Zam-zam dan Bin Dawood
Dua tempat jalan-jalan ini letaknya memang sangat dekat dengan Masjidil Haram. Mungkin hanya beberapa puluh meter saja. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Bin Dawood, mungkin seperti ITC di Jakarta dengan tempat yang lebih mewah saja karena terletak dibawah hotel Inter Continental. Disini kalian bisa menemukan berbagai macam oleh-oleh seperti sajadah, kurma, dan sebagainya. Saya sih hanya melihat-lihat saja berhubung lagi kere, hahaha. Lagian, hal yang saya mau seperti baju Abaya dan sajadah sudah dibeli di Madinah. Jadi disini cuma untuk killing time menunggu shalat selanjutnya.

Selanjutnya adalah Zam-zam Tower. Awalnya saya ke Mall ini untuk mencari tumbler Starbucks yang selalu menjadi titipan teman-teman saya. Saya masuk dengan santai ke Starbucks dan ternyata cowok dan cewek tempat nongkrongnya dipisah. Untung nggak salah masuk. Berhubung tumbler nggak ada, yang ada mug doang, ya sudah saya nggak berlama-lama lagi disitu. Hanya berkeliling doang dan mencari dimana toilet. Khusus untuk perempuan, toilet berada di lantai 3. Kalian bisa naik lift aja biar cepat. Overall, Zam-zam Mall ini yang paling mewah dari semua Mall yang ada dan agak mirip Kota Kasablanka di Jakarta. Kalian juga nggak bisa menawar barang disini karena harganya sudah fixed.

3. Shalat Jumat
Shalat Fardhu di Masjidil Haram itu mungkin jamaahnya 100 kali dari Masjid Nabawi dan ketika shalat Jumat bertambah 3 kali lipat. Saya pergi ke Masjid bersama adik, karena Mama sudah duluan dan shalat di Masjidil Haram Extension. Saya gandeng adik saya karena takut hilang saking ramainya orang kesini. Adik mengantarkan saya sampai shaf perempuan, lalu dia menghilang di lautan manusia. Berhubung waktu shalat masih lama, jadi perbanyaklah berdoa dan shalat sunnah disini karena pahalanya 100,000 kali dari masjid biasa. Sewaktu saya sedang berzikir, ada ibu-ibu datang memberikan tasbih dan saya menolak. Duh, saya lupa kenapa saya menolaknya. Yang paling males kalau harus menahan kentut sih, hahaha. Mau wudhu lagi kan jauh.
Multazam
Shalat Jumat berjalan seperti di Masjid Nabawi dengan khutbah berbahasa Arab dan saya tidak mengerti. Hanya diam saja mendengarkan. Setelah shalat selesai, mulailah perjuangan pulang ke hotel. Kebayang seluruh jamaah bubar shalat? Ramaaiii sekali. Karena saya nggak suka berdesakan, saya sabar-sabar aja menunggu orang-orang jalan duluan. Waktu itu eskalator juga sempat mati, tapi alhamdulillah akhirnya bisa jalan. Memang semua orang-orang pada sabar keluar mesjid, nggak berdesakan juga, cuma kalau melihat kerumunan orang se-ramai itu ya saya agak was-was juga.
Masjidil Haram Extension
Alhamdulillah saya sampai ke hotel dengan selamat dan baru membaca sms kalau sebenarnya adik saya menunggu saya di pintu eskalator karena dia khawatir juga kakaknya hilang, hahaha.

4. Senin dan Kamis
Banyak orang berlomba-lomba berpuasa senin-kamis di Tanah Haram, tapi waktu itu saya nggak. Sewaktu mau shalat Magrib, para jamaah mulai sibuk membagikan kurma dan minuman teh jahe ke seluruh jamaah baik yang berpuasa atau pun yang tidak. Kalian nggak akan kelaparan disini ketika berbuka puasa karena memang banyak banget yang membagikan makanan. Saya jadi suka melihat suasana seperti itu. Rindu....
Baca Qur'an super besar
Oh ya, saya teringat waktu itu pernah bertanya pada Mama apa Mama masih hafal doa panjang ketika shalat jenazah karena hafalan saya mulai kebalik-balik. Mama masih hafal sih dan tiba-tiba ada yang membagikan selebaran doa shalat jenazah, sehingga saya bisa membacanya setiap shalat jenazah. Wah, alhamdulillah sekali. Mungkin niat baik langsung dijawab sama Allah.

5. Sujud Sajadah
Sewaktu di Masjid Nabawi, saya belum pernah sujud Sajadah ketika shalat karena memang imam tidak membaca Surat Sajadah. Sewaktu shalat Shubuh di hari Jumat, setelah membaca Al-Fatihah, imam mulai membaca surat yang saya kenal dan ternyata itu Surah Sajadah. Dan sampai pada pertengahan surah, ketika ayat Sajadah, imam bertakbir dan saya sudah meniatkan untuk sujud. Dan saya bersujud, lalu merasa aneh kok saya doang yang sujud ya. Imam bertakbir lagi, lalu melanjutkan surat Sajadah dan saya yakin saya benar.

Seusai shalat, Mama bilang banyak banget jamaah yang ruku' ketika imam bertakbir (Mama shalat sambil duduk, jadi lebih bisa melihat orang yang sujud atau ruku'). Alhamdulillah saya nggak salah.

6. Makanan untuk orang miskin
Setiap habis shalat Shubuh, Zuhur, dan Ashar, kalian akan melihat antrian panjang orang-orang di depan sebuah gerai makanan. Saya kira makanannya enak banget karena antriannya panjang begini sampai saya pernah berniat untuk ikutan mengantri karena pengen mencoba makanannya. Ternyata, gerai makanan itu membagi-bagikan sarapan, makan siang, dan makan malam khusus untuk orang miskin. Wah, saya baru tau.
Antrian bagi-bagi makanan

7. Belanja setelah shalat
Hampir setelah setiap waktu shalat, kalian akan melihat pedagang dadakan membuka lapak di jalan depan Masjid. Harga barangnya murah-murah sih, sekitar 2-10 riyal. Beberapa kali Mama beli barang sama pedagang dadakan itu. Yang kasihan adalah kalau polisi lewat dan mereka bakalan berlarian pontang-panting agar nggak ditangkap. Sama seperti pedagang asongan yang berlarian ketika Satpol PP datang.
Ada bintang dan bulan
Saya dan Mama lebih suka belanja di toko Serba 3 Riyal dan siang hari berubah menjadi Serba 2 Riyal. Paling enak nyari oleh-oleh di toko ini karena murah banget dan bagus. Saya banyak beli magnet kulkas dan gantungan disini.

8. Mengejar Merpati
Nah, ini adalah hobi saya setiap setelah shalat Zuhur dan Ashar. Kadang-kadang saya bisa main bersama merpati sampai 10 menit hanya untuk mengejar-ngejar mereka sampai pada beterbangan. Seru banget sih, hahaha. Tapi terkadang bulu-bulu burungnya bikin bersin-bersin. Walaupun bersin, teutep aja dikejar, hihihi.

Baiklah, mungkin ini dulu cerita dari saya. Nanti saya update lagi kalau saya teringat lagi. Sampai jumpa :)

Februari 02, 2017

Jalan-Jalan di Kota Mekkah

Suhu udara di kota Mekkah lebih panas daripada di Madinah, walaupun setiap shalat Shubuh saya tetap pakai jaket thermal, tapi ketika matahari mulai terbit, harus buru-buru buka jaket. Kota ini dan Masjidil Haramnya membuat saya sangat rindu. Semoga semua rasa rindu bisa saya tuangkan di dalam blog, sehingga apabila suatu hari saya baca lagi, rasa rindu yang sama itu masih bisa terasa.

Ada beberapa tempat yang saya kunjungi ketika berziarah di kota Mekkah. Walaupun ada juga tempat yang terpaksa hanya bisa dilihat dari dalam bus karena memang ditutup kecuali ketika beribadah haji. Semoga bisa sekalian haji nantinya, aminnnn ya Rabb.

1. Jejak Ibadah Haji
Hari itu ustadz mengajak kami untuk melihat-lihat tempat dilaksanakannya ibadah haji (Ya Allah semoga bisa haji). Kami melewati Padang Arafah, Mina, dan Jabal Rahmah. Padang Arafah tempat dilaksanakannya Wuquf tampak agak sepi. Ustadz bilang, kalau sedang musim haji terlihat seperti hamparan putih karena dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berihram. Duh, jadi pengen ngeliat pemandangan itu.
Kemah-kemah Mina
Kami juga melewati terowongan Mina dan kemah-kemah yang dipakai jemaah haji untuk bermalam. Terdapat banyak banget tenda disana, tapi nggak ada orang. Memang semua tenda hanya aktif ketika pelaksanaan ibadah haji. Kebayang bagaimana sibuknya pemerintah Arab Saudi untuk berkemas-kemas sebelum dan sesudah pelaksanaan ibadah haji.

2. Jabal Rahmah
Jabal Rahmah berjarak 12 Km dari Masjidil Haram di Kota Makkah, bagian timur Padang Arafah. Sesuai dengan namanya, Jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Bukit ini diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari surga oleh Allah SWT selama bertahun-tahun karena melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang.
Tugu Jabal Rahmah
Pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa di Padang Arafah ini dapat disebut sebuah kisah cinta abadi, kisah pencarian kasih sayang yang berujung pada kebahagiaan. Padang Arafah menjadi saksi sejarah bagaimana Nabi Adam AS mencari isterinya setelah diusir dari Surga. Itulah monumen cinta pertama peradaban kemanusiaan yang disimbolkan sebuah tugu yang dibangun oleh pemerintah Arab Saudi di Padang Arafah. Menurut yang saya baca, banyak sekali orang menyalahartikan tempat ini. Ada yang mencoret-coret dengan nama-nama, ada yang berdoa menghadap tugu, bahkan ada yang shalat juga untuk minta jodoh. Saya yakin kalau pemerintah Arab Saudi membatasi tugu dengan pagar jaring-jaring, udah ada gembok cinta disitu, hahaha.
Mobil penjual es karim
Saya di Jabal Rahmah hanya beli es karim (bukan es krim), dan berkeliling nyari tempat untuk naik ke tugu tapi karena rame, nggak jadi deh. Saya rasa berdoa bisa dimana aja kalau mau minta jodoh. Sekalian aja di Multazam atau Raudhah.

3. Peternakan Unta
Saya sudah melihat Panda di China, Sakura di Jepang, Gingseng di Korea, dan burung Kiwi di New Zealand. Belum sah ke Arab Saudi kalau tidak melihat flora atau fauna khas disana. Hewan negara padang pasir ini adalah unta. Dia bisa berjalan berkilo-kilo meter tanpa minum air dan sangat tahan panas. Pantas saja tempat peternakan unta ini yang paling menyilaukan menurut saya. Padahal bukan musim panas. Gimana kalau musim panas ya? 
Itu ada unta
Penjual susu dan pipis unta
Banyak sekali unta di peternakan ini dan bau. Saya hanya berfoto saja dan balik lagi ke bus karena bau banget. Kalian bisa membeli susu unta seharga 10 riyal dan pipis unta 30 riyal. Katanya, pipis unta bisa menyembuhkan penyakit mata, tapi menurut saya sekarang sudah tidak berlaku sejak adanya air zam-zam. Kalian harus ingat kalau pipis itu kan najis ya tapi banyak juga yang beli pipis unta. Kenapa lebih mahal? Karena unta itu jarang pengen pipis (kok agak absurd) dan sedikit pulak pipisnya. Sudahlah, tak usah dibahas lebih lanjut.

4. Abraj Al Bait
Nama lainnya adalah Mekkah Clock Tower atau Zamzam Tower ini adalah landmark dan komplek yang masih termasuk baru di kota Mekkah. Bangunan yang paling tinggi di kompleks Abraj Al Bait (Hotel Tower) menjadi struktur tertinggi di Arab Saudi dan kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, terhitung pada tahun 2011 (bertepatan dengan selesainya bagian menara Hotel Tower). Dengan luas area lantai sebesar 1.500.000 m2, bangunan ini merupakan bangunan dengan area lantai yang paling luas didunia. Pada Juli 2013, rekor ini pecah bertepatan dengan selesainya New Century Global Centre, suatu bangunan multifungsi yang ada di Chengdu, China.
Abraj Al-Bait
Ada beberapa alasan dibangunnya Zamzam Tower ini, salah satunya sebagai upaya pemerintah Arab Saudi dalam menetapkan MMT (Mekkah Mean Time). Sebagai umat islam, diyakini bahwa Ka'bah adalah pusat epicentrum dunia (0 derajat) sehingga patokan waktu dunia paling cocok adalah dari Mekkah. Oleh sebab itu, Menara Jam ini dibangun jauh lebih besar dari Big Ben di London, dan juga lebih tinggi, sehingga dapat kita lihat dari jarak 25 km. Sebagai warna negara Indonesia, wacana perpindahan waktu yang dipindah dari Greenwich (GMT) ke Mekkah hanya menggeser waktu di Indonesia saja. Yang tadinya +7 jam GMT untuk WIB, berubah jadi +4 jam MMT.

Bagaimana dengan dunia? Perubahan waktu ini akan berdampak besar pada aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari kegiatan ekonomi, telekomunikasi, hingga penerbangan internasional, karena harus mengubah paradigma dunia internasional yang sudah 126 tahun menggunakan standar waktu GMT. Walaupun demikian, saya sangat mendukung wacana ini. Kalau memang GMT sebenarnya bukan epicentrum dunia, kenapa harus tetap dipertahankan? Semoga suatu hari saya bisa berkontribusi di wacana MMT ini.

5. Exhibition Of The Two Holy Mosque Architecture Museum
Tempat ini disebut juga sebagai Museum Haramain atau Museum Dua Tanah Haram, yang terletak di perbukitan Ummul Joud, Makkah. Museum ini dibangun oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk memamerkan banyak hal tentang Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dari dulu sampai sekarang, bahkan di masa yang akan datang. 
Maqam Ibrahim
Sumur Zam-zam tempo dulu
Tempatnya memang tidak terlalu besar tapi orang yang datang kesini penuh banget. Saya hanya berkeliling, melihat-lihat hal-hal unik dan membaca sejarahnya. Ada sumur Zam-zam tempo dulu, foto-foto Masjid dan perubahannya, pintu Ka'bah, dan berbagai macam lainnya. Setelah puas berfoto, saya keluar. Oh ya, abang sepupu saya sempat membeli buat Tin disini. Ini pertama kalinya saya makan buah yang disebutkan dalam Al-Quran yang rasanya manis banget. Enak sih, cuma tidak disarankan apabila kita sedang batuk.
Alat pemintal kiswah (penutup Ka'bah)
Baiklah, nanti saya akan bercerita kegiatan saya selama di Masjidil Haram. Stay tuned!

Januari 28, 2017

Pertama Kali Berumroh

Saya akan bercerita sedikit sejarah. Sesaat setelah Nabi Ibrahim membangun Ka’bah, maka Allah berfirman:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”. (QS. Al-Hajj: 27) 

Ada yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim AS ketika ayat tersebut turun, beliau sedang berdiri di atas Maqam (Maqam Ibrahim), ada pula yang mengatakan beliau sedang berada di Bukit Shafa, dan ada pula yang mengatakan ketika itu beliau sedang berada di Jabal Abi Qubais (kini menjadi istana tamu-tamu kerajaan).
Ka'bah
Ketika mendapatkan perintah ini, Nabi Ibrahim pun kebingungan, bagaimana cara untuk menyeru agar manusia dapat menunaikan ibadah haji? Beliau pun mengeluhkan kepada Allah, “Wahai Rabb, bagaimana saya dapat menyerukan sementara suara saya tidak dapat didengar mereka?”
Maka dikatakan (Allah) kepada Ibrahim “Berserulah, selebihnya Aku yang akan menyampaikannya". 
Nabi Ibrahim pun menyeru, “Hai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah membangun Baitullah dan Dia telah mewajibkan kalian untuk melakukan haji, maka sambutlah seruan Rabb kalian ini”.
Seketika itu, seruan Nabi Ibrahim didengar oleh penduduk langit dan bumi. Dan mereka menjawab dengan mengucap Talbiyah: 

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
“Labbaik allahumma labbaik - Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah."

Mungkin ucapan Talbiyah ini yang paling menggetarkan hati saya. Bayangkan, ketika kita datang memenuhi panggil Tuhan? Bagaimana rasanya? Menjawab panggilan atasan aja rasanya gimana 'gitu, apalagi menjawab panggil Tuhan.

Semenjak setelah  sarapan, saya sudah antuasias karena hari ini kami akan melakukan umroh dan ini pertama kalinya dalam hidup saya. Mama dan saya sudah pakai baju putih, sedangkan Achmad adik saya sudah memakai ihram. Duh, jadi kagum melihat adik dengan ihramnya. Akhirnya kita bisa umroh juga ya dek. Kami berangkat ke kota Mekkah di waktu Dhuha. Beberapa travel memang memberangkatkan jamaah setelah shalat Zuhur, tapi ustadz ingin lebih cepat lagi supaya umrohnya nggak kemaleman. Kami hanya ikut saja. Saya sudah berencana untuk tidur saja di dalam bus sampai Masjid Bir Ali (tempat kami melakukan Miqat) karena memang ngantuk banget. Ternyata dari hotel di Madinah ke Bir Ali hanya 30 menit. Belum tidur sama sekali, eh udah sampai.
Adik dan Mama
Miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji (batas-batas yang telah ditetapkan) atau umroh. Apabila melintasi Miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji/umroh perlu mengenakan kain ihram dan berniat. Rombongan saya sempat shalat sunnah ihram di Masjid Bir Ali, baru kemudian niat ihram. Oh ya, kalau sudah berihram, kalian sudah nggak boleh pakai makeup lagi dan tidak boleh pakai wewangian. Untuk laki-laki, nggak boleh pakai yang berjahit dan nggak boleh menutup kepala juga. Jadi sebelum berihram, saya udah pakai parfum dan makeup seperlunya supaya muka nggak kusam.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً 
 Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah.
Pintu Masjid Bir Ali
Kami semua di dalam bus mulai berniat untuk umrah. Kalimat Talbiyah pun diserukan sepanjang jalan di dalam bus. Disitu perasaan saya membuncah terharu, hati pikiran saya seperti tertarik jauh ke Masjidil Haram, bahkan sampai meneteskan air mata. Biar nggak begitu malu nangis di bus, saya pakai kacamata hitam dan melihat keluar jendela terus. Sesekali mengusap mata sampai akhirnya tertidur juga. 

Di tengah jalan, kami berhenti sebentar di Wadi Qudaid. Sejarah mengatakan tentang Ummu Makbad, wanita penduduk Wadi Qudaid yang terkenal sangat dermawan dan selalu memberikan makanan atau minuman kepada setiap musafir yang lewat daerah ini. Kalian bisa membaca lengkap tentang Wadi Qudaid di internet ya. Disini saya hanya shalat jamak Zuhur dan Ashar, lalu nongkrong sebentar bersama adik, Oji, dan Mama Oji. Sama sekali nggak ada pohon disini dan sangat gersang. Pernah saya buka kacamata, langsung mata saya berair banget seperti orang nangis karena silau.
Mekkah Clock Tower
Setelah sejam di rest area, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Seperti biasa, saya tidur sepanjang jalan sehingga perjalanan terasa sangat singkat. Mana tidurnya nyenyak banget. Tidak lama kemudian, terlihatlah dari kejauhan menara jam Abraj Al-Bait atau Zam-Zam Tower atau Mekkah Clock Tower, salah satu menara jam tertinggi di dunia mengalahkan Big Ben di London dan bangunan tertinggi kedua di dunia setelah Burj Al-Khalifa di Dubai (saya akan membahas tentang jam ini di postingan terpisah). Saya terdiam, terkagum, dan tidak bisa berkata-kata. Sampai akhirnya kami sampai ke depan Hotel Ar-Reej Al Falah menjelang magrib.
Kota Mekkah
Saya sempat bingung ketika sampai di depan hotel, bertanya-tanya dimana posisi Masjidil Haram. Berbeda dengan Masjid Nabawi yang langsung terlihat menaranya, kok Masjidil Haram nggak ada. Yang terlihat hanya Zam-zam Tower saja. Berhubung harus bersiap untuk umroh, saya tidak terlalu mikirin lagi dimana Masjidil Haram karena nanti kami pasti kesana. Ustadz membagikan kunci kamar dan saya beserta keluarga mendapatkan kamar 805-806. Sewaktu masuk kamar, saya syok melihat kamar yang kecil bangettt. Mana kasurnya ada 3. Duh, masukin koper aja nggak bisa. Mau protes ke ustadz juga nggak keburu karena kita harus shalat dan makan. Akhirnya untuk sementara saya minta petugas hotel mengeluarkan kasur dan kami memutuskan untuk tidur bertiga di dua kasur. Nggak nyaman banget sih, tapi besok aja deh protesnya. Sekarang fokus dulu mau umroh. Kami turun ke ruang makan tanpa mengantri sama sekali di lift dan nggak nganti makan juga. Akhirnya bisa makan agak lebih santai. Setelah makan, kami berwudhu, lalu turun ke lobi. Kali ini Mama memakai tongkat untuk mengantisipasi kalau-kalau nanti kecapek'an.

Rombongan Belangi susah siap di lobi hotel. Saya merasa kami seolah-olah akan masuk ke medan perang. Ustadz mengingatkan untuk jangan takabur karena orang sering nyasar di Masjidil Haram saking luasnya. Kalau bisa nanti pas Tawaf (berkeliling ka'bah 7 kali) selalu bersama-sama supaya nggak hilang karena orang yang Tawaf pasti sangat ramai. Setelah semua rombongan paham, maka kami berjalan memasuki Masjidil Haram. Ada perasaan tak menentu ketika memasuki pelataran Masjid paling mulia di dunia itu untuk pertama kalinya. Dalam sekejap, hilanglah rasa penat di kepala, hilanglah beban pikiran, seolah permasalahan hidup tidak ada sebelumnya. Perasaan ngantuk yang semula mengusik juga hilang dan jantung berdegup kencang. Dan yang menariknya, belum pun masuk ke dalam masjid, ada salah satu orang dari rombongan kami hilang (nyasar). Duh, ada-ada saja. Sampai ustadz harus nyari bapak itu dulu.

Setelah rombongan komplit lagi, kami berjalan memasuki Masjidil Haram, melepas sendal dan memasukkannya ke dalam plastik, lalu melangkah terus mengikuti ustadz sampai akhirnya terlihatlah Ka'bah. Mungkin, inilah perasaan kagum dan haru yang memuncak yang belum pernah saya rasakan sama sekali seumur hidup. Saya melihat Ka'bah, lambang pemersatu umat islam, pusat bumi, arah kiblat, dan semua hal-hal indah memenuhi otak dan membuat air mata saya mengalir.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah.
Ketika melihat Ka'bah
Ustadz memberi aba-aba untuk berpegangan erat pada keluarga masing-masing, lalu kami memulai Tawaf dengan mengangkat tangan kanan dan mengucapkan Bismillahi Allahuakbar, lalu mengecup tangan (sebenarnya mengecup Hajar Aswad, tapi diperbolehkan dengan isyarat kecupan saja). Tawaf dimulai dari Hajar Aswad dan mengelilingi Ka'bah 7 kali. Selama Tawaf, saya berpegang di tangan kiri adik saya dan Mama di tangan kanannya. Enak juga punya adik bertubuh tinggi karena dia bisa memastikan kami tidak keluar dari rombongan. Tawaf adalah ibadah fi'liyah (perbuatan) jadi tidak ada bacaan wajib ketika kita berkeliling Ka'bah. Hanya ketika kita melwati rukun Yamani (sisi Ka'bah berwarna kuning), kita mengangkat tangan dan membaca doa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201).

Terkadang saya dan adik sering tertukar, ketika di rukun Yamani saya malah mengangkat tangan dan mengecup tangan padahal seharusnya tidak usah mengecup. Adik saya pun begitu. Kami berdua saling mengingatkan, karena ini merupakan ibadah pertama kami. Berbeda dengan Mama yang udah nggak salah dan lupa lagi. Saya juga membawa buku panduan doa ketika Tawaf dan saya baca semua, mulai dari tawaf pertama sampai terakhir. Nah, setelah Tawaf terakhir, kami harus minggir ke pintu dimana kami memulai Tawaf dengan perlahan. Adik menggandeng saya dan Mama lebih erat karena orang-orang di pintu ini sangat ramai dan berdesakan, lalu kami berjalan menyerong keluar barisan Tawaf. Setelah keluar dari lingkaran Tawaf, ustadz menyuruh kami shalat sunnah Tawaf 2 rakaat terlebih dahulu.

Selesai shalat, saya minum air Zam-zam dulu karena haus, baru berjalan menuju tempat Sa'i (salah satu rukun umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya). Disini kita boleh batal wudhu. Kami berdoa, lalu memulai Sa'i. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. Ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak di antara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama'ah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama'ah wanita berjalan cepat. Saya kagum melihat banyak orang berlari-lari di lampu neon hijau ini, Gaya larinya juga lucu-lucu, bahkan ada anak kecil yang berlari seperti Naruto, hahaha. Karena nggak sepadat ketika Tawaf, saya jadi bisa memperhatikan orang-orang yang sedang Sa'i. Ada anak balita sudah dipakaikan ihram dan jadi terlihat sangat menggemaskan.

Disini telapak kaki saya mulai sakit (karena ada bekas operasi). Sebenarnya saya nggak bisa jalan langsung menapak lantai terlalu lama. Di Sa'i pertama, telapak kaki dan betis langsung keram karena menahan rasa sakit bekas operasi. Seandainya boleh pakai sepatu, pasti bakal lebih baik. Saya fokus menahan sakit selama Sa'i. Saya jadi sering istirahat ,lalu memijat-mijat betis dan pergelangan kaki. Saya nggak mau memaksakan diri. Biar lambat asal selamat. Alhamdulillah sampai juga 7 kali bolak-balik dan kami lanjut bertahallul (memotong rambut). Awalnya saya mau ambil rambut beberapa helai, eh malah jadi banyak. Ya sudah deh nggak apa-apa. Selesai bertahalull, selesai pula ibadah umroh saya dan keluarga. Alhamdulillah.

Saya balik ke hotel dengan sedikit tertatih-tatih. Rasanya malam itu lelah sekali. Mungkin karena perjalanan dari Madinah ke Mekkah, semalam sebelumnya saya juga demam, dan sekarang sakit kaki. Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibanding melihat Ka'bah yang sungguh mengagumkan. Malam ini kami tidur sempit-sempitan dulu dengan AC yang tiba-tiba dingin banget, tiba-tiba panas. Ya sudahlah, dinikmati saja....

Januari 26, 2017

Keseharian di Masjid Nabawi

Saya akan merangkum keseharian saya selama di Masjid Nabawi dan beberapa foto di sekitar Masjid. Mungkin bisa jadi inspirasi kalian, atau mungkin juga menjadi catatan untuk diingat kalau nanti saya berkunjung lagi (amin) ke Mesjid yang indah ini. Situasi seolah mengajarkan saya banyak hal disini. Duh, betapa kangennya balik lagi.
Ada bulan
Antrian Lift
Mungkin kalian sempat baca postingan saya tentang antrian lift hotel yang membuat saya mengurut dada. Hari kedua atau ketiga di Madinah, saya bilang sama Mama kalau setiap setelah shalat Shubuh, Zuhur, dan Isya, kita buru-buru pulang dari masjid ke hotel. Alhamdulillah saya dan Mama jadi orang-orang yang pertama kali makan. Selain menunya masih banyak, bisa bebas duduk dimana aja dan yang terpenting adalah langsung dapat lift. Kalau memang malas buru-buru balik ke hotel, ya sudah kita paling terakhir makan aja sekalian. Walaupun menu udah banyak yang habis, yang penting bisa makan. Kalau pun kami sudah buru-buru pulang dan ternyata antrian lift masih panjang banget, kami memilih naik tangga. Dari lantai dasar ke Restaurant kita harus menaiki 6 barisan anak tangga, sedangkan dari Restaurant ke kamar harus naik 4 barisan anak tangga. Kalau saya sih nggak masalah, tapi Mama lumayan terasa jadi harus pelan-pelan. Alhamdulillah semua bisa teratasi.
Qubbatul Khadhra’ (kubah hijau)
Waqaf
Istilah yang satu ini sudah lama tak terdengar di telinga saya. Mungkin sejak tinggal di kota besar dan sudah jarang menambah pengetahuan agama, saya jadi lupa kalau waqaf adalah salah satu hal yang paling besar pahalanya dan bisa menjadi amal jariyah. Ketika di Masjid Nabawi, hampir semua orang berlomba-lomba untuk Waqaf. Kalau di Indonesia, setiap mesjid pasti punya kotak amal. Berbeda dengan Madinah dimana kursi lipat dan Al-Quran adalah hasil waqaf dari para jamaah di seluruh dunia. Mungkin kita bisa melihat langsung bagaimana kursi sangat memudahkan jamaah yang sakit untuk shalat dan Al-Quran yang dibaca dan dipelajari oleh para jamaah yang berkunjung ke mesjid.
Pintu Nabawi
Mewaqafkan Al-Qur'an di Masjid Nabawi nggak bisa sembarangan. Kalau kita mau membawa Al-Quran yang persis sama seperti yang ada di Masjid Nabawi tapi bukan cetakan Madinah, pengurus Masjid pasti tahu. Madinah mencetak Al-Qur'an dengan kualitas terbaik, jadi bisa tahan lama walaupun sudah dibaca berulang-ulang oleh ribuan orang.

Zam-zam
Air dengan struktur terbaik di dunia ini adalah favorit saya. Setiap hari minimal harus minum air zam-zam 4 gelas tapi yang nggak dingin. Kalau dingin, gigi saya ngilu. Pernah sampai 10 gelas juga sehari. Biasanya setiap habis shalat Shubuh, saya minum 2 gelas dan berdoa supaya semoga seluruh penyakit sembuh, otak bertambah pintar, anti aging biar awet muda terus, kulit halus, dan supaya tetap cantik atau lebih cantik lagi (doanya agak narsis ya, hahaha).
Galon zam-zam
Rasulullah  bersabda : “Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail.”

Membawa anak-anak ke Masjid
Saya paling suka melihat anak-anak yang bermain di mesjid. Kebanyakan dari mereka pada gendut-gendut, montok, lucu, dan menggemaskan. Kadang-kadang saya bingung dimana orang tuanya karena mereka dibiarkan saja bermain. Mungkin Mamanya mengawasi dari jauh kali ya, tapi walaupun saya toel-toel pipi anaknya yang memerah, nggak ada yang marah. Emaknya anak ini juga cuek aja mungkin.
Anak-anak
Saya suka ngeliat anak-anak orang Arab, Turki, atau negara kulit putih lainnya apalagi yang berambut hitam. Lucu-lucu banget!!! Ada anak kecil (mungkin umurnya baru satu tahun) saya suruh minggir sedikit karena kakak sepupu saya mau mendorong kursi roda. Anak itu hanya senyum-senyum tapi nggak mau pindah. Saya udah pakai bahasa Inggris, "Oh baby please move darling," di jawab juga dengan senyum. Pakai bahasa Arab cuma bisa bilang, "Ya Humaira," (wahai pemilik pipi kemerah-merahan), disenyumin lagi. Mau digendong, duh berat karena montok banget. Akhirnya dia pindah sendiri. Heee, untung lucu banget anaknya. Nggak bisa bete deh jadinya. 
Tempat wudhu di Masjid Nabawi
Para orang tua sengaja mengenalkan anak-anak dari kecil ke Masjid Nabawi agar mereka mencintai Masjid. Sayangnya negara kita terlalu jauh dari Tanah Haram, jadi kalau mau membawa anak-anak harus mikir-mikir dulu duitnya. Sungguh beruntung ya negara-negara yang dekat dengan Arab Saudi. Mereka mengajarkan anak-anak untuk betaqwa kepada Allah langsung di 2 Masjid paling suci di dunia. Mari cari duit banyak-banyak supaya bisa bawa anak-anak bersujud di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram agar mereka bertaqwa dan rendah hati.

Shalat Jumat
Ini pertama kalinya saya shalat Jumat. Seumur hidup belum pernah shalat Jumat dan saya agak lupa tata cara shalatnya. Yang pasti, nggak boleh ngobrol kalau sedang mendengarkan khutbah dan nggak boleh main hp (karena saya suka tiba-tiba merekam video). Jamaah Masjid Nabawi ketika shalat Jumat bisa bertambah 3 kali lipat dari biasanya. Untung saya dan keluarga cepat datang ke Masjid (karena hotel deket banget) dan bisa mendapatkan tempat di dalam Masjid.
Kayak pake mahkota
Sewaktu khutbah Jumat, karena Mama duduk di saf belakang saya, saya menoleh ke Mama dan Mama langsung menaruh jari di bibir tanda menyuruh diam. Saya langsung diam bahkan setengah menahan napas, hahaha. Sampai berpikir boleh bergerak nggak ya? Karena kan kalau shalat biasa nggak boleh gerak-gerak. Saya mendengarkan khutbah dengan bahasa Arab tapi beberapa ada kata-kata yang saya tahu maksudnya. Ada juga penggalan hadist yang pernah saya dengar juga.
Pilar-pilar Nabawi
Enaknya shalat Jumat adalah cowok-cowok seluruh Madinah pada datang ke Masjid. Nah, bisa sekalian cuci mata karena ganteng-ganteng banget deh. Kalian juga bisa melihat mobil yang keluar dari parkiran Masjid mewah-mewah banget dan pemandangan ini nggak bisa dilihat di hari biasa. Oh ya, baru di Masjid Nabawi saya baca surah Al-Kahfi di hari Jumat dan saya baru tahu kalau keutamaannya sangat besar. Mungkin karena biasanya kita dengar di Indonesia pada baca Yasin di malam Jumat.

“Siapa yang membaca dari Surah Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya dan siapa yang membaca keseluruhannya, maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi,” (HR Ahmad).
"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (HR Al-Hakim) 

Setoran Hafalan Al-Qur'an
Setiap shalat Shubuh, saya dan Mama pasti mengambil saf di pojokan yang berbatasan dengan saf laki-laki karena pasti sepi. Memang sih 15 menit sebelum adzan Shubuh tiba-tiba saf langsung penuh dan saya bingung sendiri melihat seketika banyak orang. Saya dan Mama biasanya datang ke Masjid untuk Shalat Shubuh di adzan pertama (Masjid Nabawi ada 2 adzan ketika Shubuh) agar bisa shalat Tahajjud dulu atau mengaji sampai adzan Shubuh beneran. Kalau nggak ngaji, saya bersandar di kaki Mama (karena Mama duduk di kursi untuk Shalat) dan tidur. Shubuh adalah waktu paling ngantuk sedunia deh, tapi harus ditahan karena pahalanya besar. 
Barisan shalat Shubuh di pojokan
“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Nah, setelah shalat Shubuh, pasti ada para wanita berbaju hitam mulai membentuk lingkaran. Ada satu guru di tengah dan murid-murid mulai secara bergantian mengaji lalu menyetor hafalan Al-Qur'an. Terkadang saya sengaja duduk di dekat mereka untuk merekam video. Jangan sampai ketahuan ya, karena gurunya galak. Kalian bisa melihat pemandangan ini setiap pagi setelah shalat Shubuh. Kalau bukan karena buru-buru mau sarapan, rasanya mau diam aja di dalam Masjid sampai waktu Dhuha. Kalau beruntung, kalian bisa melihat kubah mesjid otomatis terbuka dan masuklah udara dingin ke dalam masjid. Seketika udara di dalam Masjid jadi fresh yang sebelumnya agak pengab karena ramainya orang dan aliran udara hanya dari pintu Masjid.
Yeay, kubah terbuka
Shalat Sunnah
Shalat Sunnah yang biasa saya lakukan hanya shalat Fajar dan Dhuha. Selain itu jarang banget kecuali memang sedang berada masjid. Di Masjid Nabawi, saya sampai menghafal semua shalat sunnah muakad karena memang semua jamaah mengerjakannya. Masa' mereka pada shalat, saya diem doang?! Kan aneh. Akhirnya bertanya pada Mama shalat sunnah mana saja yang Muakad. Kalau ragu, kami buka hadist lagi. Ada beberapa hadist tentang shalat rawatib, tapi kalian bisa memilih yang mana saja karena semuanya benar.
Pose sebelum shalat
“Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya“. Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya” (HR. Muslim no. 725)
“Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka“. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

Selain shalat rawatib, shalat yg jarang saya tinggalkan adalah shalat jenazah. Awal tiba di Masjid Nabawi, saya nggak shalat jenazah karena lupa bacaannya. Setelah menghafal lagi, jadi shalat terus deh. Lagian, masa semua jamah pada shalat dan saya nggak? (Nggak mau kalah).

Saf Shalat
Sebenarnya, shalat harus dengan saf rapat dan lurus. Tapi karena ramainya jamaah, berbeda cara shalat, nggak kenal satu sama lain, perbedaan bahasa, agak susah menyuruh orang di kiri dan kanan untuk merapatkan saf. Alhasil, kami lebih sering shalat di dekat jamaah dari Indonesia, Malaysia, atau Singapura. Situasi seperti ini kalau shalat di pelataran Masjid.
Saf agak amburadul
Saf diatas karpet
Lain halnya kalau shalat di dalam Masjid yang safnya rapaaaat banget. Kadang udah sempit, masih aja di sela sama orang. Kalau nggak mau geser atau maju ke depan, nanti petugas (polisi) masjid mulai teriak-teriak pakai bahasa Arab. Kalau kita cuekin aja karena nggak ngerti dia bilang apa, pasti petugasnya ngucap, "La Haula wa la Quwwata illa billah" tapi sambil marah-marah. Tambah bingung 'kan? Kenapa mengucap itu sambil marah ya?

Berikut catatan keseharian saya yang lain supaya saya nggak lupa:
  • Saya hampir selalu pakai kacamata hitam kalau shalat Zuhur dan Ashar di luar mesjid. Awalnya agak aneh shalat pakai kacamata, tapi memang mata saya gampang berair kalau silau sedikit saja.
  • Saya suka shalat gaya orang Turki dengan pakai abaya dan nggak begitu suka pakai mukenah. Semula karena mau ikut-ikutan gaya shalat orang-orang dari negara-negara selain Asia Tenggara yang nggak pakai mukenah. Lama-lama jadi keterusan.
  • Semalam sebelum ke Mekkah, saya demam dan tenggorokan gatel banget.  Alhasil, suara serak dan dilanda batuk sampai pulang ke Indonesia.
  • Paling suka melihat matahari terbit di Masjid Nabawi dan merekamnya untuk dibagikan di Instagram Story. Sebenarnya waktu matahari tenggelam bagus juga, tapi saya lebih suka sunrise.
  • Seharusnya saya membawa banyak baju yang berwarna gelap.
  • Payung-payung Masjid Nabawi sama sekali nggak terbuka selama saya disana. Sedih banget deh, padahal itu hal yang paling ditunggu. Ketika saya baca kabar di internet, ada sedikit kerusakan di payung dan teknisinya yang dari Jerman belum bisa didatangkan. Ustadzah yang membawa saya ke Raudhah sih bilang payung nggak terbuka karena musim dingin. Hmmm semoga cepat terbuka lagi payungnya. 
Minum dulu ya, haus! Tapi ini bukan zam-zam
Menurut saya, semua hal yang terjadi di Masjid Nabawi seperti pesantren kilat buat saya yang kebanyakan udah lupa tentang hal-hal yang mendukung ibadah. Situasi disini semua bisa diambil pelajaran untuk orang-orang yang berpikir. Mungkin hal ini juga menjadi bekal saya untuk menuju Masjidil Haram, tempat paling mulia di dunia. Sebelum ke Mekkah, saya agak bingung ketika beberes karena koper mulai terasa kecil dan barang saya lumayan berantakan diatas kasur. Untung adik saya cowok dan biasanya cowok kan barangnya sedikit. Jadi masih bisa nitip barang di koper dia. Itu pun bawaan kami mulai beranak-pinak.

Di postingan berikutnya akan saya tuliskan tentang umrah. 

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً 

"Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah."

Categories

adventure (269) Living (236) Restaurant (146) Cafe (139) Hang Out (132) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (81) Movie (73) Lifestyle (64) Jakarta (63) Aceh (49) Event (48) Islam (36) Hotel (34) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Consultant (16) Malaysia (16) Technology (16) Family (15) Jawa Timur (15) Warung Tenda (15) Semarang (14) Vietnam (14) Kuala Lumpur (13) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Bali (8) Birthday (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Singapore (7) Wedding (7) Karimun Jawa (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) CEO (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) giveaway (4) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) BBLive (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)